Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Terlambat.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Bu Nancy masih menatap Carren untuk menanti jawabannya. Bagi Bu Nancy, hubungan putrinya dengan pria yang baru ditemuinya, adalah serius. Karena belum pernah Carren membicarakan tentang seorang pria yang menjadi pacarnya. Oleh sebab itu, Bu Nancy serius dan lebih berhati-hati menyeleksi pria yang dibicarakan putrinya.


Pembicaraan di setiap pertemuan dengan para ibu, mulai terngiang dibenaknya. Selalu ada saja yang dibicarakan di antara para ibu atau keluh kesah orang tua tentang menantu laki-lakinya. Sekarang lagi ngetrend, ada banyak pria mulai bersikap terbalik. Lebih suka tinggal di rumah mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga dan membiarkan istrinya bekerja di luar rumah.


Bu Nancy tidak mau itu terjadi dengan putrinya, apalagi sekarang dia seorang pekerja. Bagaimana jika dia hamil dan harus bekerja juga. Bu Nancy tidak rela itu terjadi dengan putri semata wayangnya. Beliau berharap jika sudah bersuami, dia bisa istirahat sejenak dan bekerja di luar rumah bukan suatu keharusan untuk mencari nafkah bagi keluarganya.


"Namanya, Aaric, Ma. Kak Aaric bekerja, dan punya pekerjaan tetap." Ucap Carren yakin untuk meyakinkan Mamanya. Padahal dia sendiri belum tahu pasti, pekerjaan Aaric seperti apa. Tapi dia yakin, Aaric memiliki pejerjaan yang baik. Dari sikap dan gaya hidupnya, Carren yakin akan hal itu.


"Arra yakin hal itu? Mama tidak akan setuju, jika pekerjaannya tidak jelas. Mama tidak meminta dia harus berpangkat atau jabatan tinggi di kantor. Yang penting punya pekerjaan baik, yang halal untuk menghidupi keluarganya." Ucap Bu Nancy tegas dan serius.


"Iyaa, Ma. Arra yakin itu. Yang mau Arra bicarakan dengan Mama saat ini, Kak Aaric mau bertemu dengan Mama besok. Tadi Kak Aaric telpon dan kasih tau, besok sudah tiba di Jakarta. Kak Aaric mau bertemu dengan Mama dan Arra." Ucap Carren pelan dan berharap Mamanya mengerti dan tidak menanyakan banyak hal lagi tentang Aaric.


Bu Nancy melihat Carren dengan tatapan yang serius. Jika pria yang bernama Aaric mau bertemu dengannya, berarti dia serius terhadap Carren. Ada satu nilai tambah buat Aaric di mata Bu Nancy. Karena dia tidak hanya pacaran dengan putrinya di luar sana, tetapi mau memperkenalkan diri kepadanya. Berarti dia serius menjalin hubungan dan menghargai putrinya.

__ADS_1


"Baik, kalau begitu. Apakah dia mau datang ke sini?" Tanya Bu Nancy, mulai menanggapi serius, agar besok pagi mau menyiapkan apa untuk pria itu saat datang bertamu. Beliau tidak bertanya lagi tentang Aaric, karena besok akan bertemu dengannya. Jadi bisa tanya langsung kepada orangnya.


"Tidak, Ma. Tadi Kak Aaric minta Arra reservasi tempat untuk kita bertiga bertemu. Jadi besok kita akan bertemu dengannya di restoran yang nanti Arra pilih." Carren berkata pelan, tetapi serius meyakinkan Mamanya. Bu Nancy mengangguk lega. 'Berarti besok tidak perlu menyiapkan sesuatu untuk menyambutnya.' Bu Nancy membatin.


"Baik. Kalau begitu, sekarang kita istirahat. Nanti Arra siapkan apa yang harus disiapkan. Mama tunggu dan ikuti yang Arra rencanakan. Mama percaya kau tau yang terbaik. Mama akan berdoa untuk semua yang kalian rencanakan besok." Ucap Bu Nancy, berdiri dari meja makan lalu mengusap kepala putrinya dengan sayang. Dengan hati yang lega, Bu Nancy berjalan menuju kamarnya.


Carren masih di dapur untuk merapikan meja makan dan membersihkan semua perangkat makan dengan hati lega. Mamanya tidak menanyakan lebih lanjut lagi tentang Aaric. Setelah semua di dapur rapi, dia ke kamar untuk melihat tempat yang sesuai dengan permintaan Aaric agar besok pagi bisa lakukan reservasi.


.***.


Keesokan harinya, Carren pergi ke kantor seperti biasanya. Dia melakukan reservasi di tempat yang sudah dipilihnya sebagai tempat pertemuan, sekaligus untuk makan malam. Kemudian dia mengirim pesan untuk memberitahukan tempat pertemuan mereka kepada Aaric. Tetapi Aaric tidak membalas chatnya. Carren tertegun sejenak, ketika melihat pesannya belum dibaca dan tidak bisa menghubungi Aaric. 'Apakah Kak Aaric sedang dalam pernerbangan?' Carren membatin. Dia berpikir demikian sambil bekerja.


Setelah mengetehui, Carren pulang ke rumah, anggota keamanan yang ditugaskan untuk mengawal Carren langsung kembali ke Sero dan melaporkan semua yang telah dilakukan Carren hari ini kepada pimpinan mereka, Sapta.


Menjelang sore, Carren telah mandi dan berganti baju yang lumayan bagus. Dia tidak mau mengecewakan Aaric saat melihatnya nanti. Dia telah membeli baju untuknya dan juga Mamanya setelah kembali dari Bali. Dia percaya, apa yang dikatakan Aaric, mau bertemu dengan Mamanya. Jadi dia menyiapkan bajunya, jika diperlukan.

__ADS_1


Bu Nancy terkejut, saat Carren memberikan baju yang bagus untuk dikenakan." Mama pakai ini, karena Arra pilih tempat yang lumayan bagus sebagai tempat pertemuan. Jadi kita juga harus pakai baju yang lumayan bagus, agar tidak kebanting." Ucap Carren tersenyum, menjawab tatapan Mamanya yang mau bertanya.


Bu Nancy mengangguk mengerti maksud putrinya. Karena beliau tahu, Carren tidak mengeluarkan uang sembarang untuk sesuatu yang tidak penting. Melihat yang dilakukan Carren, berarti ini adalah sesuatu yang penting baginya.


Menjelang waktu yang ditentukan, mereka telah siap begitu juga dengan sopir yang telah diminta oleh Carren untuk mengantar mereka ke restoran. Carren reservasi tempat yang nyaman dan private seperti ysng diminta Aaric. Dia memilih Goropaku Restaurant dan memilih ruangan yang pernah mereka berdua makan malam untuk pertama kali.


Mereka tiba sebelum waktu yang dikatakan kepada Aaric. Carren tidak mau Aaric yang menunggu mereka. Dia mempergunakan waktu sambil menunggu Aaric dengan menjelaskan jenis menu yang bisa dimakan oleh Mamanya.


"Mama ikut, Aara saja. Jika Arra bisa makan, Mama pasti bisa makan." Ucap Bu Nancy pelan, setelah Carren menjelaskan berbagai menu yang bisa dipilih Mamanya. Bu Nancy takjub dengan restoran yang dipilih putrinya, karena baru pertama kali ke tempat semewah ini. Tadi saat hendak masuk ke restoran dan melihat orang-orang yang datang ke restoran tersebut, Bu Nancy menyadari kenapa putrinya membeli baju baru untuk mereka. Kelasnya sangat berbeda, bagaikan bumi dan langit.


Setelah menunggu beberapa lama, Carren mulai gelisah. Dia melihat jam di ponselnya dan memeriksa chatnya dengan Aaric. Ketika melihat chatnya belum dibaca dan sudah hampir jam tujuh seperti yang disampaikan kepada Aaric, Carren mulai cemas karena belum ada kabar dari Aaric.


"Kenapa Arra? Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Bu Nancy, melihat kegelisahan putrinya.


"Tidak sih, Ma. Hanya belum ada kabar dari Kak Aaric. Mungkin macet, jadi agak terlambat." Ucap Carren untuk menghibur hati dan mencoba tenang agar Mamanya tidak bertanya lagi.

__ADS_1


"Tidak usah gelisah seperti itu. Berdoa, agar perjalanannya lancar dan tidak ada halangan. Dengan tidak tenang seperti itu, apakah bisa membuat jalanan lancar? Berdoa dalam hatimu, agar semua bisa berjalan dengan baik." Bu Nancy menasehati, agar bisa menenangkan putrinya yang mulai gelisah.


~●○♡○●~


__ADS_2