
...~•Happy Reading•~...
Pak Haiman tidak menyangka Aaric akan melakukan itu padanya. Beliau tidak bisa menolak ketika polisi yang mendekatinya memborgol kedua tangannya. Begitu juga dengan Pak Lepart dan kedua anaknya. Aaric hanya melihat kepergian mereka dengan berbagai rasa di dada. Dia langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memejamkan matanya, setelah pintu di belakang mereka tertutup.
Jekob memberikan isyarat kepada sekretarisnya untuk mencatat semua yang masih ada dalam ruangan. "Jika apa yang terjadi di sini, tersebar di luar sana, kalian sudah tahu akibatnya. Serahkan semua alat komunikasi kalian sebelum tinggalkan ruangan ini." Ucap Jekob tegas. Dia khawatir ada yang diam-diam merekam. Sekretarisnya langsung mendata semua alat komunikasi yang dikumpulkan untuk diperiksa dan nanti dikembalikan.
Setelah semuanya telah selesai, Jekob memberikan isyarat kepada sekretarisnya untuk meninggalkan ruangan, ketika melihat bossnya memijit pelipisnya dalam diam. Dia tahu bossnya ingin sendiri atau ingin berbicara hal pribadi dengannya.
"Jekob, hubungi Sapta. Kita akan pulang ke Sero. Huuuuu... Bagaimana caranya Papa bisa bertahan dan menghadapi para begundal itu puluhan tahun? Saya yang baru sebentar dengan mereka, sudah membuat lelah dan muak." Aaric berkata pelan, mengungkapkan keluhan yang dirasakannya. Kemudian berdiri dan meninggalkan ruang rapat.
Biar bagaimanapun ada perasaan sedih dan malu. Apalagi dengan sikap dan perilaku Mama dan Opanya sendiri. Jekob hanya mendengar dan berjalan di belakang Aaric dalam diam. Dia mengerti apa yang dirasakan bossnya. Segarang-garangn bossnya, dia memiliki hati yang baik. Jadi tetap membawa dampak yang tidak baik baginya, setelah melakukan semuanya.
Di dalam mobil, Aaric hanya melepaskan jasnya lalu menyandarkan punggungnya. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan, Jekob dan Sapta tidak berani bertanya atau bersuara untuk bercakap-cakap. Ketika tiba di Sero, hati Jekob sedikit tenang saat melihat perubahan wajah bossnya yang lebih tenang setelah beristirahat selama perjalanan.
"Sapta, tolong tindak lanjuti kejadian tadi saat kau sudah tidak ada di ruang rapat. Nanti berbicara dengan Pak Jekob, sepertinya masih ada cecurut-cecurut yang berkeliaran di Biantra." Ucap Aaric setelah mereka duduk di ruangan pribadinya.
__ADS_1
"Siap, Pak. Saya akan bicarakan itu dengan Pak Jekob setelah makan siang." Ucap Sapta sigap dan mengerti yang dimaksud oleh bossnya.
"Semua ditangkap saja dan jika masih bisa dimanusiakan, biarkan mereka bekerja di Biantra. Tetapi jika sudah tidak bisa diselamatkan, keluarin tanpa pesangon atau dipenjarakan bersama tikus-tikus itu." Ucap Aaric, saat menunggu pelayan Sero menyiapkan makan siang untuk mereka. Sapta telah meminta pelayan menyiapkan makan siang, karena tadi mereka tidak sempat makan siang setelah rapat.
"Baik, Pak. Lalu bagaimana dengan Ibu di rumah dan Pak Sunijaya? Tadi Pak Hutama sempat bertanya di luar sebelum meninggalkan gedung Biantra. Saya katakan, nanti akan menghubungi beliau setelah berbicara dengan Pak Aaric." Sapta melapor dengan suara pelan, karena mengkhawatirkan kondisi bossnya.
"Tetap diteruskan. Kita akan berbicara itu setelah makan, karena butuh tenaga eksra untuk membicarakannya. Jangan sampai tidak bisa berpikir dan salah mengambil keputusan karena perut tidak konsentrasi." Ucap Aaric, membuat Jekob tersenyum.
"Iya, Pak. Dalam kondisi tertentu, perut juga harus berpikir." Ucap Sapta, lalu meninggalkan ruangan bossnya sambil tersenyum dalam hati. Aaric dan Jekob melihat punggung Sapta dengan tersenyum. Kemudian mengikuti Sapta, setelah diberitahukan makan siang telah siap.
"Mereka semua saya pekerjakan di kebun buah, Pak. Saya belum bisa melibatkan mereka untuk ikut mengamankan, walaupun mereka sudah berjanji setia mengikuti bapak. Saya juga belum ikut sertakan mereka berlatih dengan yang lain. Mungkin setelah kasus ini selesai, baru saya memberikan kesempatan untuk mereka berlatih." Sapta melapor kondisi Gungun dan anak buahnya.
"Saya serahkan padamu. Apakah Gungun bisa bekerja di kebun buah? Sedangkan selama ini dia hanya bekerja mengamankan keluarga Sunijaya." Aaric ingin tahu, karena yang dia tahu Gungun adalah anggota keamanan tertinggi dan orang kepercayaan keluarga Sunijaya.
"Bisa, Pak. Ternyata, Gungun sangat cekatan lebih dari yang lain saat bekerja di kebun buah. Dia berterima kasih ketika saya menempatkan dia dan anak buahnya bekerja di kebun buah. Saat panen melon atau semanggka, mereka bekerja dengan baik dan rapi sampai pada pengepakan dan pemgiriman. Saya belum mengijinkan mereka keluar untuk mengirim hasil kebun ke Swalayan." Sapta melapor lagi.
__ADS_1
"Mereka semua kau berikan upah seperti yang lain?" Tanya Aaric, karena belum ada laporan keuangan dari pihak Sero kepada Aaric.
"Iya, Pak. Mereka semua menerima upah sesuai standar upah yang berlaku di Sero. Mereka sangat berterima kasih, terutama Gungun. Dia sangat terharu saat menerima upah untuk pertama kali. Walaupun upah yang diterima tidak sebesar yang diberikan Pak Sunijaya, tetapi mereka katakan itu adalah upah halal pertama yang mereka terima dari pekerjaan halal." Sapta menjelaskan semua yang terjadi dengan Gungun dan anak buahnya, setelah melihat bossnya sudah lebih santai.
"Gungun sangat terharu saat meminta saya mengirimkan upahnya kepada ibunya di kampung. Dia mengatakan untuk pertama kali dalam hidupnya, dia bisa memberikan uang halal kepada ibunya dari hasil keringatnya. Karena selama ini, dia mengirimkan uang kepada Ibunya dari melakukan banyak pekerjaan kotor untuk Pak Sunijaya dan keluarga." Sapta meneruskan laporannya.
"Ooh... Apakah Gungun masih ada keluarga di kampung?" Tanya Aaric terkejut, karena baru memikirkannya. Dia tidak berpikir, bahwa Gungun masih memiliki keluarga dan masih berhubungan dengan keluarga, mengingat pekerjaannya.
"Masih ada Ibunya dan seorang adik laki-laki yang sudah menjadi guru di Madrasah, Pak. Saya suka mengajaknya bicara setelah selesai bekerja, karena melihat dia sangat terpukul dengan situasi ini. Saya sempat bertanya, apakah dia ingin bertemu Ibunya sebelum perkara ini diproses. Tetapi dia tidak mau membuat Ibunya sedih setelah bertemu dengannya. Jadi dia memilih, menjalaninya tanpa memberitahukan Ibu dan adiknya." Ucap Sapta pelan, mengingat pembicaraannya dengan Gungun. Aaric mendengar laporan Sapta dengan serius.
"Jekob, beritahukan pengacara agar usahakan Gungun bisa menerima hukuman yang paling ringan. Nanti saya akan bicara dengan Pak Hutama, agar bisa menerimanya." Jekob hanya bisa mengangguk dalam diam dan sedih. Karena jika Gungun menerima hukuman yang ringan, Bu Biantra atau Pak Sunijaya akan menerima hukuman yang berat sebagai perencana pembunuhan.
"Usahakan proses peradilan berlangsung tidak terlalu diekspos. Semoga Ibunya di kampung tidak mengetahui pekerjaan Gungun sebelum ini." Aaric jadi berpikir kondisi yang akan dihadapi keluarga Gungun.
"Sapta, tetap kirimkan upah Gungun kepada Ibunya selama Gungun dipenjara. Katakan kepadanya, setelah keluar dari penjara, baru dia membayar semua upah itu dengan keringatnya. Agar dia bisa tetap berpikir menjadi anak yang baik dan berbakti kepada Ibunya." Ucap Aaric lagi. Karena saat penangkapan dan berbicara dengan Gungun pertama kali, Aaric tahu Gungun orang yang baik. Hanya berada di lingkungan yang salah dan dituntun untuk melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan, termasuk membunuh.
__ADS_1
...~●○♡○●~...