Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Gundahan Hati


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Setelah selesai menjahit bahan satinnya, Bu Nancy menunjukan caranya membuat pita dari kain satin dan tile. Carren memperhatikan dengan serius yang diajarkan Mamanya.


Bu Nancy tahu, putrinya sedang mencari kesibukan untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Oleh sebab itu, beliau membiarkan Carren membantunya.


"Coba kau buat sebisamu saja, Mama mau masak untuk makan malam kita. Kalau sudah merasa cape' tinggalkan saja atau ambil bantal yang ada di ruang tamu untuk duduk." Ucap Bu Nancy, kemudian meninggalkan Carren sendiri di ruangan jahitnya.


Carren mengerjakan seperti yang diajarkan Mamanya. Ketika dia mulai menguasainya, dia membuat sesuai yang dia suka. Dia membuat kreasi yang baru, tetapi tidak berbeda jauh dengan yang diajarkan Mamanya.


Tidak membutuhkan waktu lama, ruang kerja Mamanya telah penuh dengan berbagai macam bentuk pita tile dan satin. Dia membuat dalam berbagai bentuk yang cantik.


Carren memisahkan semua pita-pita yang sudah jadi, agar bisa lebih mudah melihat yang belum dikerjakan. Dia mengangkat semua pita yang sudah jadi, dan meletakannya di kursi ruang tamu.


Kemudian dia menyelesaikan yang belum dikerjakan dan memindahkan semua yang sudah selesai ke kursi ruang tamu. Lalu dia membersihkan ruangan dan merapikan jahitan-jahitan Mamanya yang belum selesai.


Ruang jahit Mamanya sangat berantakan, karena tidak ada yang membantunya untuk merapikan. Karena Bu Nancy kalau sudah cape' menjahit, tidak punya waktu dan tenaga lagi untuk membersihkan ruang kerjanya.


Sedangkan Carren kalau sudah pulang sekolah hanya bantu membersihkan rumah, karena ruang kerja Mamanya terus dipakai untuk menjahit. Sehingga baru dilihatnya, ruang kerja Mamanya sangat berantakan.


Ketika Bu Nancy sudah selesai masak dan kembali ke ruangan jahitnya, beliau sangat terkejut melihat tumpukan pita di kursi ruang tamu.


"Arra, kau membuatnya sangat cepat dan bentuk pitanya lebih bagus dari buatan Mama." Ucap Bu Nancy, takjub melihat yang telah dikerjakan oleh Carren tidak seperti yang dibayangkannya.


"Benarkah, Ma...?" Tanya Carren senang, melihat wajah Mamanya yang ceria.

__ADS_1


"Iyaa, Arra. Buatanmu lebih bagus dan bentuk pitanya sangat cantik. Tante Florens akan senang sekali melihat ini." Ucap Bu Nancy senang, tanpa bisa menyembunyikan rasa kagumnya.


"Ma, apakah keluarga pengantin meminta dekor ruangannya bernuansa putih semua?" Tanya Carren, ingin tahu. Karena satin dan tile yang dibuat menjadi pita hanya berwarna putih.


"Sepertinya bukan bernuansa putih semua. Nanti hari H akan ditambah dengan bunga-bunga yang berwarna lain. Kenapa kau tanyakan itu?" Tanya Bu Nancy melihat wajah Carren.


"Ngga, Ma. Tanya saja, Arra kira semuanya putih. Apakah hari H, Arra bisa bantu Mama dan Tante Florens mendekor ruangannya?" Tanya Carren, karena ingin melihat pita-pita yang telah dibuatnya terpasang di tempatnya.


"Nanti Mama tanyakan kepada Tante Florens. Pasti beliau akan senang sekali jika Arra bisa membantu. Sekarang Arra mandi dulu, sebelum kita makan. Ember Air panasnya sudah Mama letakan di kamar mandi. Mama mau kita makan lebih awal, supaya kau bisa beristirahat lebih awal juga." Ucap Bu Nancy menjelaskan, dan Carren mengangguk mengerti.


Dia tahu, Mamanya masih khawatir dengan kondisinya. Karena walaupun sudah dikuat-kuatkan, dia masih terlihat belum pulih seperti sebelumnya.


Saat Carren sedang mandi, Bu Nancy menghubungi Bu Florens untuk berbicara tentang keinginan Carren yang akan membantu mereka dekorasi.


Ketika mendengar apa yang disampaikan oleh Bu Nancy, Bu Florens setuju dan sangat senang, jika Carren mau membantu mereka mendekor. Bu Nancy juga ikut senang mendengar apa yang diucapkan Bu Florens.


"Arra, mari duduk di sini bersama Mama. Tadi Mama sudah berbicara dengan Tante Florens." Ucap Bu Nancy, sambil menunjuk kursi meja makan.


"Bagaimana, Ma. Apakah Tante Florens mengijinkan Arra membantu?" Tanya Carren, setelah duduk di kursi depan Mamanya, karena dia ingin tahu.


"Iya, Tante Florens mengijinkanmu membantu. Jadi Arra bisa membantu Mama dan Tante Florens kalau Arra tidak punya kesibukan. Tetapi Arra ngga usah paksakan, ya." Ucap Bu Nancy, agar Carren tidak terbebani.


"Iya, Ma. Arra mengerti maksud Mama. Nanti Arra perhatikan yang lain juga, selain membantu Mama dan Tante Florens." Ucap Carren, mengerti maksud Mamanya. Karena mungkin saja Carren masih ingin cari tempat untuk kuliah.


"Sekarang, Arra duluan istirahat. Mama masih mau menyelesaikan jahitan baju yang belum selesai. Karena yang punya mau mengambilnya besok." Ucap Bu Nancy, menjelaskan.

__ADS_1


"Baik, Ma. Kalau yang pita untuk dekor, besok baru Arra bantu selesaikan. Jadi Mama biarkan saja yang masih tersisa." Ucap Carren, dan Bu Nancy mengangguk mengerti.


Setelah selesai berbicara dengan Mamanya, Carren ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan kemudian ke kamar untuk beristirahat. Mengingat apa yang disampaikan oleh Mamanya bahwa Bu Florens mengijinkannya membantu, hatinya lega. Hal itu sedikit menghibur hatinya, karena dia akan punya kesibukan selama belum bisa kuliah.


Karena dia belum bisa menentukan, apa yang akan dilakukannya jika benar-benar tidak bisa kuliah. Dia belum bisa memutuskan apa yang baik untuknya. Sebab yang ada dipikiranya saat ini, membantu Mamanya dan bagaimana bisa kuliah.


Oleh sebab itu, selain dia akan membantu Mamanya, Carren mencoba berusaha mencari cara agar bisa kuliah. Mungkin ada Universitas lain yang menawarkan beasiswa untuk calon mahasiswa baru.


Setelah mencari, dia tidak menemukan Universitas yang memberikan beasiswa masih membuka penerimaan. Semua sudah menutup penerimaan dan telah melakukan ujian masuk.


Karena konsentrasi untuk ujian masuk di Wangsa, Carren tidak memperhatikan Universitas yang lain. Sehingga saat dia membutuhkannya, sudah terlambat untuk mendaftar. Semua sudah menutup penerimaan dan sudah melakukan ujian masuk. Menyadari itu, dia berhenti mencari dan mulai memikirkan cara membantu pekerjaan Mamanya.


Carren menghindari percakapan di grup WA dengan teman-temannya. Karena di sana hanya ada percakapan tentang ujian masuk kuliah. Canda tawa dan kesenangan karena mereka telah ikuti ujian masuk di Universitas yang mereka inginkan. Hal itu tidak sesuai dengan suasana hati Carren. Oleh sebab itu dia tidak nimbrung atau membaca semua postingan yang ada di dalam grup. Karena itu akan menambah luka di hatinya.


Carren belum bisa beristirahat, karena mungkin istirahat siangnya terlalu lama. Dia melihat dan mempelajari tetorial mendekor Gereja atau gedung resepsi. Dia harus mencari kesibukan sebelum menentukan apa yang akan dilakukan setelah tidak bisa kuliah tahun ini.


Dia berpikir untuk membantu Mamanya dan Tante Florens mendekor, sambil mencari-cari pekerjaan untuk anak lulusan SMU. Ketika memikirkan itu, hatinya menjadi sangat sedih. 'Mungkinkah ada pekerjaan yang baik untuk orang yang hanya tamatan SMU?' Carren membatin dengan hati sedih dan cemas.


Sebelumnya dia tidak memikirkan untuk bisa kuliah, yang penting bisa selesaikan SMU nya. Tetapi sekarang memikirkan untuk bekerja, dia menyadari tidak ada banyak pilihan pekerjaan untuk orang yang hanya tamatan SMU. Hal itu membuat matanya berembun. Dalam kegundahan hatinya, dia melihat dan membaca sebuah tulisan yang sangat menyentuh dan juga menyemangatinya.


*Saat hujan badai menerpa, tetaplah teguh melangkah dan teruslah berdoa. Di depan sana ada langit cerah yang menantimu, bahkan ada semburat pelangi 🌈 menjadi pelengkap atas ketabahan dan doamu.*


Kutipan itu seperti ditujukan untuknya. Carren membacanya sekali lagi dan lagi. Dia mengangkat wajahnya yang telah basa oleh air mata. Lalu dia berdoa sambil memeggang dadanya yang sedang gemuruh, karena terharu.


"Kasihanilah aku ya Tuhan, sebab aku merasa sesak; aku tidak tahu apa yang ada di depanku."

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2