
~•Happy Reading•~
Sebagaimana Carren sedang mengembangkan usahanya. Demikian juga dengan Sainy yang sedang melaksanakan rencananya untuk menyediakan busana pria. Dia telah kerja sama dengan salah seorang desainer busana pria terkenal, agar bisa memasok busana pria di butiknya.
Ketika tiba waktu peluncuran produk baru di butiknya, bukan saja ada busana wanita tetapi juga ada untuk pria. Selain model wanita, Sainy menyewa beberapa model pria untuk memperagakan busana pria tersebut. Dia juga telah melakulan sesi pemotretan untuk promosi.
Semua itu dicantumkan dalam undangan, agar para Ibu sosialita bisa hadir membawa suami atau anaknya. Dia melihat semua persiapan yang dilakukan untuk peluncuran produk baru dengan hati senang.
Sainy sangat bersemangat, saat hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Semua tamu yang diundang telah confirm akan hadir. Diantara yang akan hadir orang yang diincarnya. Oleh sebab itu dia mempersiapkan semuanya dengan baik dan cermat.
Selain ibu-ibu sosialita, ada beberapa artis pria dan wanita juga akan hadir. Sehingga dia berdandan secantik mungkin. Sainy mengenakan baju terbaik dari butiknya. Dia juga akan ikut dalam peragaan busana, dengan mengenakan busana yang didesain khusus untuknya.
Ketika melihat Riri dan Ibunya sudah datang, Sainy tersenyum senang. Begitu juga yang lain, hampir semua undangan telah hadir. Tetapi hatinya belum tenang, karena yang ditunggu belum juga hadir, sedangkan acara sudah hampir mulai.
Saat acara akan dimulai, dia melihat Bu Hutama masuk ke tempat pagelaran bersama asistennya. Hatinya sedikit terhibur, tetapi sampai acara selesai, dia tidak melihat kedatangan Parry. Hal itu membuat hatinya sangat kecewa. Dia melayani para pembeli tidak dengan sepenuh hati, karena kegundahan hatinya.
Para Ibu sosialita berkumpul dan membicarakan banyak hal, sambil memilih produk yang mereka sukai ditemani oleh Mommy Sainy. Sedangkan Sainy melayani para artis yang hadir. Riri bersama teman-teman Sainy yang telah hadir, melihat-lihat baju yang disukai.
Riri memilih baju yang cocok dengan profesinya sekarang. Mungkin ada satu atau dua yang cocok, sehingga dia bisa meminta Ibu atau kakaknya membeli untuknya.
Mengingat kakaknya, dia melihat ke pintu masuk butik. 'Apakah Mas Leon tidak jadi masuk ke butik?' Tanya Riri dalam hati. Tadi mereka datang bersama-sama, tetapi kakaknya meminta mereka masuk terlebih dahulu, karena sedang menerima telpon.
Tidak lama kemudian, dia kembali melihat ke pintu. Ketika kakaknya telah masuk, dia senyum sumbringa. Riri mendekati kakaknya dan menggadengnya dengan senang dan bangga. Dia perkenalkan Leon kepada teman-temannya dengan wajah tersenyum, senang.
Leon tersenyum sambil menyalami teman Riri satu persatu. Ketika mengulurkan tangan ke arah Sainy, tidak disambut dengan hangat tetapi hanya berupa sapuan yang tipis. Hal itu membuat alis Leon dan Riri bertaut.
"Siapa temanmu tadi, yang salaman denganku seperti capung?" Tanya Leon tidak mengerti dengan tindakan temannya Riri. Riri mengusap lengan kakaknya perlahan untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Dia itu namanya Sainy, yang punya butik ini." Riri menjelaskan dengan hati yang tidak enak dan rasa bersalah.
"Punya butik, tapi melayani konsumen dengan cara seperti itu? Tunggu waktunya gulung tikar." Leon berkata sambil menarik Riri menjauh dari teman-temannya.
"Dia tidak biasanya begitu, Mas. Apakah Mas pernah bertemu dengannya dan berbuat salah padanya?" Riri bertanya sambil berpikir, tentang sikap Sainy. Dia coba berpikir positif, walaupun hatinya tidak terima.
"Pernah bertemu dengannya? Mungkin. Di mimpi, Mas tarik-tarik kakinya." Leon berkata asal, karena tidak mengerti dengan sikap Sainy yang tidak menganggapnya. Leon sangat yakin belum pernah bertemu dengannya.
"Yaaa, kenapa Mas tarik kakinya. Seharusnya, tarik hatinya. Mungkin dia bisa senang, jadi hatinya tidak garuk-garuk seperti tadi." Riri mencoba bercanda.
"Ngapain tarik hati orang yang produksi lahar? Bisa kebakar, atau rambutku seperti Don King. Mau pingin lihat Mas seperti itu?" Leon bertanya dengan wajah serius, menangapi sikap Sainy.
"Kenapa seperti Don King? Yaa, kasihan Mas ku." Riri mengelus lengan kakaknya dengan sayang untuk menenangkannya.
"Kalau Mas melihat wajah orang seperti itu tiap hari, di dalam sini ikut panas. Kalau ngga kebakar ya, rambut langsung melambai ke langit." Leon mengucapkan dan tangannya ikut melambai di atas kepalanya.
"Mas bisa aja." Riri memukul lengan kakaknya pelan dan mengusapnya, untuk terus menenangkan kakaknya yang sudah tidak nyaman berada di tempat itu.
"Teman Riri? Teman yang mana, Mas." Riri menahan langkah kakaknya sambil berpikir. Sikap Sainy membuatnya terkejut, hingga tidak bisa berpikir dan lupa.
"Abstrak. Kalau benar iya, abstraknya absrud." Ucap Leon, yang kembali menghadapkan wajahnya ke arah Riri dengan wajah tidak menyenangkan.
"Eeehh, Mas masih ingat sama abstrak, ya. Ternyata, ooh ternyata. Bukan dia, Mas. Abstrak tetap dua jempol. Ngga bisa dibandingkan dengan dia. Kalau cantik, sembilan sepuluhlah." Riri jadi teringat Carren.
"Sepuluhnya siapa?" Tanya Leon penasaran, karena menurut pandangan seorang pria, Sainy masuk dalam kategori cantik.
"Kalau dandan seprti dia, abstrak sebelas." Ucap Riri yakin, karena saat melihat Carren pertama kali dalam keadaan tanpa dandan saja sudah cantik. Apalagi kalau didandani seperti Sainy.
__ADS_1
"Waah, abstrakmu benar-benar abstrak. Sudah lihat yang mau kau beli? Itu Bu Linna sudah melihat kita dari jauh, sebentar lagi akan ke sini menjewer kita, karena asyik sendiri." Leon mencoba bercanda, agar bisa menurunkan emosinya.
"Kalian berdua ngapain saja mojok di sini? Ayoo, Ibu mau kenalin kalian pada Ibu-ibu itu." Ucap Bu Linna yang telah datang mendekati mereka.
"Benar kan, Mas bilang. Bu Linna tidak akan kasih spasi untuk kita. Ayo, ke sana biar cepat selesai." Leon mengajak Riri mengikuti Ibunya.
"Ibu-ibu, perkenalkan, ini anak-anak kami." Ucap Bu Linna dengan bangga kepada Ibu-ibu yang sedang asyik bercengkrama.
"Astaga, Bu Linna. Aku punya seorang putri, tapi ngga hadir di sini. Aku daftar untuk jadi besanmu, ya." Ibu tersebut, terpesona dengan Leon sehingga tidak malu melamar Leon dari antara ibu-ibu yang hadir.
"Kalau ada Ibu yang mau lagi, daftar saja sama Bu Linna, ya. Nanti Bu Linna seleksi untuk jadi besannya. Kalau saya, sudah tutup pendaftaran. Kecil sedang menunggu di ladang." Ucap Leon asal, karena jengah dengan kelakuan dan pandangan ibu-ibu tersebut.
Leon juga perhatikan ibunya Sainy yang terus memperhatikan saat Ibunya memperkenalkan dirinya. Beliau memberikan isyarat kepada Sainy untuk mendekat. Tetapi dicuekin oleh Sainy dengan pura-pura berbicara dengan para artis. Semuanya itu tidak luput dari perhatian Leon.
Dia menarik tangan Riri menjauh dari perkumpulan Ibu-ibu saat melihat Sainy berjalan mendekat. Mommy Sainy sudah mendelik kepadanya secara terang-terangan, membuat dia berdiri dan datang mendekati Leon dan Riri.
Sainy kesal dan tidak suka kepada Leon semenjak mendengar dia terlalu menurut sama Ibunya. Dia tidak bisa mempertahankan pacarnya. Jadi menurutnya, Leon laki-laki yang tidak punya pendirian atau tidak punya prinsip yang teguh. Lelaki yang tidak mampu memperjuangkan cintanya, tidak masuk dalam daftar sukanya.
Melihat Sainy makin mendekat ke arah mereka, Leon memegang tangan Riri dan menariknya makin menjauh. "De', pilih satu kemeja saja untuk Mas, karena Mas sudah punya desainer sendiri. Kau juga pilih satu dan biarkan Ibu yang bayar. Cepat, Mas tunggu di mobil." Ucap Leon, lalu berjalan keluar dari butik.
Riri melihat punggung kakaknya dengan hati yang tidak happy. Setelah Leon keluar, Sainy mendekati Riri dan mau berbicara manis dengannya. "Sorry, Sainy. Aku mau pilih baju untuk kakakku, karena kami mau pergi." Riri berjalan menjauh dari Sainy, tanpa memberikan kesempatan baginya untuk berbicara.
'Emang kakakku ada bikin apa padamu, sampai berlaku tidak sopan padanya. Kenal saja ngga, tapi bersikap seakan-akan kakakku menjijikan.' Riri berkata dalam hati, masih kesal. Tadi dia tetap bersikap baik di depan kakaknya, agar kakaknya tidak kecewa dengan teman-temannya dan melarang bertemu dengan mereka.
Riri mengambil satu blouse dan satu kemeja untuk kakaknya lalu memberikan itu kepada Ibunya yang sedang melihat-lihat. "Ini punya Riri dan Mas Leon ya, Bu. Kami tunggu Ibu di mobil." Bu Linna hanya mengangguk dan mengambil salah satu blouse juga. Kemudian menuju ke kasir.
Riri hanya mengangkat tangan dari jauh kepada teman-temannya. Termasuk Sainy, lalu berjalan keluar meninggalkan butik. Sainy melihat kepergian Riri dengan wajah terheran-heran, karena Riri tidak pernah seperti itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, dia melihat Ibu Riri pamit dari Mommynya dan keluar dengan hanya satu paperbag di tangannya. Sainy tidak menyadari, Bu Linna memperhatikan sikapnya terhadap Leon saat mereka akan bersalaman. Hal itu membuatnya geram, karena putra kesayangannya diperlakukan seperti kuman.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡