
...~•Happy Reading•~...
Pak Biantra jadi mengingat apa yang sudah mau dilupakannya. "Papa hanya bisa memastikan apa yang Papa pikirkan adalah benar, agar tidak terjadi fitnah. Sedangkan untuk kalian, Papa sangat malu membicarakannya sebagai seorang lelaki dan juga sebagai suami." Pak Biantra berkata pelan sambil menunduk.
"Papa hanya menyiapkan bukti, jika terjadi sesuatu dengan dia, agar keluarganya tidak bisa menuduh Papa mengarang bebas." Ucap Pak Biantra pelan, berharap Aaric mengerti dan tidak bertanya lagi karena beliau sudah tidak mau mengingatnya lagi. Membicarakannya saja, membuatnya malu dan hatinya kembali terluka.
"Siapa lelaki baj***an dan kurang asem itu? Papa pasti tau dengan jelas siapa dia, katakan padaku." Ucap Aaric yang sudah naik level emosi dan marahnya.
"Kau tidak usah menyentuhnya. Jangan merusak hidupmu dengan berurusan dengan mereka. Biarkan saja mereka menjalani apa yang diinginkan." Pak Biantra berusaha mencegah Aaric melakukan sesuatu yang dapat merugikannya.
"Siapa yang mau mengotori tangan dengan menyentu lelaki bia***p itu? Aku hanya ingin menggaruk dia dengan laras untuk hilangin gatalnya. Lelaki seperti itu harusnya dijadiin umpan cacing. Gatal, tapi minta digaruk sama istri orang. Jika perempuannya yang gatal, dia tidak pergunakan kesempatan untuk menggaruknya."
"Benar-benar tidak tau malu. Aku akan mengirim mereka ke pulau yang banyak pohon gatalnya, supaya mereka puas saling garuk." Ucap Aaric serius, tapi Pak Biantra jadi tersenyum mendengar ucapan Aaric.
"Mengapa Papa tersenyum? Papa senang mereka saling garuk?" Ucap Aaric tetap serius dan tidak mengerti arti senyuman Pak Biantra.
"Kau itu kalau bicara, asal. Mana ada pulau yang ada banyak pohon gatalnya?" Pak Biantra jadi tersenyum sendiri dengan ucapannya.
__ADS_1
"Ada pohon yang daunnya sangat gatal. Jika tidak ada pulaunya minimal aku akan taman pohon itu. Aku akan membiarkan Sapta puk puk mereka dengan daunnya. Supaya mereka puas saling garuk. Kalau tidak, aku akan minta Sapta mengikat mereka di bawah pohonnya, lalu mentaburi mereka dengan gula seperti donat, supaya mereka digaruk sama semut." Aaric berbicara tanpa ekspresi.
"Astaga, Aaric. Bukankah itu sudah kelewatan? Pemikiran dari mana itu?" Pak Biantra terkejut, tetapi merasa geli dengan ucapan Aaric.
"Segala sesuatu itu ada batasnya, Papa. Begitu juga dengan kesabaran. Orang yang melakukan kesalahan jangan dibiarkan begitu saja tanpa teguran. Nanti mereka akan merasa apa yang dilakukannya benar. Seperti iblis di rumah itu, dibiarkan bukanya sadar diri, malah makin tidak tau diri." Ucap Aaric serius dan kembali emosi.
Membicarakan Mamanya, membuat emosinya turun naik. "Sayang sekali, kami sebagai anak tidak bisa memilih orang tua. Jika bisa, kami akan minta pada Tuhan, agar tidak dilahirkan oleh wanita gatal itu." Ucap Aaric dengan berbagai perasaan di dada.
"Sudah berapa lama mereka gatal?" Tanya Aaric serius sambil menatap Papanya. Dia tidak memperhatikan Papanya sudah tidak mau membicarakannya lagi. Karena selain memalukan, tetapi juga menyakitkan.
"Walaupun Papa tidak memberitahukan siapa sebenarnya lelaki itu, aku akan tau dari Sapta siapa dia. Lihat saja nanti, aku akan siapkan kado untuk pernikahan mereka." Ucap Aaric dengan geram.
"Aku sudah katakan sebelumnya, Papa tidak sendiri di dunia ini. Ada kami berdua dan kami bukan anak kecil lagi. Sudah cukup Papa menyimpan sendiri dan membiarkan mereka bersikap kurang ajar pada Papa. Termasuk iblis di rumah itu. Aku akan membawa dia diatas nampan berduri dan menyerahkan kepada lelaki gatal itu." Ucap Aaric yang tidak surut emosinya.
Sekarang Papa tidak usah pikirkan yang lain. Fokuskan untuk kesehatan Papa, agar Papa tetap sehat. Para cacing tanah dan cacing pita itu bagianku setelah aku mengantarkan Papa ke Swiss. Sementara ini, aku akan berikan kesempatan untuk mereka berselancar dan saling garuk di tempat yang mereka pilih. Setelah itu mereka akan menderita di tempat yang aku pilih, karena kegatalan mereka."
Pak Biantra menatap putranya dengan sayang. Kesabarannya selama ini, bisa menghentarkannya kepada kedua putranya. Apa yang diharapkannya selama ini, Tuhan berikan. Walaupun baru bertemu dengan putra tertuanya, tapi telah mendengar suara putra bungsunya, hatinya menjadi tenang untuk menata hidupnya ke depan yang lebih baik.
__ADS_1
Melihat dan merasakan kasih sayang kedua putranya hatinya membuncah. Mungkin orang lain tidak menganggapnya berarti, tetapi ada kedua putranya yang menyayanginya dan menganggapnya berarti itu sudah cukup baginya.
"Aaric, memang kesabaran ada batasnya, tapi kesabaran juga ada buahnya. Setelah Papa sampai pada titik ini, hidup dan bekerja dengan berbagai orang sampai usia yang Tuhan berikan, Papa menyadari arti kata cukup. 'Hidup mengajarkan Papa untuk tidak serakah. Jika seseorang tidak mengerti kata cukup, kehidupan akan memperlihatkan apa itu keserahkan."
"Mungkin Papa kehilangan di sana, tetapi Papa mendapatkan di sini. Papa tidak kehilangan semuanya. Tuhan berikan cinta dan kasih sayang lain, yang lebih berarti dan berharga untuk Papa di usia yang sekarang. Papa sangat bersyukur untuk semua yang Papa terima saat ini. Ternyata Tuhan mendengar dan menjawab doa Papa selama ini."
"Walaupun pernah terlintas dibenak Papa, seakan Tuhan tidak mendengar semua keluhan Papa, tetapi sekarang Tuhan memperlihatkan kepada Papa, Dia selalu mendengar dan akan menjawab tepat pada waktu-Nya." Pak Biantra berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Boleh kau marah, tapi jangan berbuat dosa dengan menyentuh orang yang sedang melakukan dosa. Papa hampir melakukan itu, saat mengetahui mereka melakukannya dibelakang Papa. Tetapi kakekmu mengingatkan Papa, dengan kalimat itu. Tuhan meluputkan Papa untuk tidak melakukan hal yang jahat lewat kakekmu." Pak Biantra berkata sambil merenung hari-hari kelam yang hampir menjerumuskannya.
"Sekarang Papa katakan itu juga padamu. Pembalasan Tuhan tidak bisa diukur oleh akal pikiran kita yang sempit. Berikan ruang untuk pembalasan Tuhan, dengan begitu, kita tidak perlu mengotori tangan kita dengan melakukan sesuatu yang jahat." Ucap Pak Biantra panjang, karena melihat dirinya dan amarahnya saat itu dalan diri putra tertuanya. Beliau tidak menginginkan Aaric melakukan sesuatu yang dapat berakibat fatal bagi dirinya.
Pak Biantra berani mengatakan semua itu, karena melihat Aaric yang sudah mulai surut amarahnya. Sebelum semuanya terlambat, beliau mempergunakan kesempatan yang ada untuk mengingatkan putra.
"Iya, Pa. Apa yang Papa pernah katakan untukku dan Recky saat menemani kami tidur, selalu aku ingat dan aku tau, Recky juga mengingatnya. 'Kita tidak bisa bersembunyi dari Tuhan, karena tidak ada tempat yang tersembunyi bagi Tuhan. Dia tetap mengawasi setiap langkah dan tindakan kita. Jadi berhati-hatilah.' Yang Papa katakan itu, menjadi pagar pengaman dalam aku mengambil keputusan agar tidak melewati batas." Ucap Aaric pelan, mengingat semua yang pernah dilaluinya.
...~●○♡○●~...
__ADS_1