
~•Happy Reading•~
Keesokan harinya, Carren masuk kerja seperti biasanya. Menjelang sore, Carren minta ijin pulang lebih awal, karena dia akan menghadiri acara ulang tahun Parry. Untuk itu, dia mampir ke salon untuk creambath, agar bisa menghilangkan sedikit kelelahannya.
Dia berusaha tampil baik, karena tidak mau mempermalukan Parry di depan keluarga besarnya. Jangan sampai terjadi pembicaraan yang tidak mengenakan. Parry memiliki seorang teman yang berbeda, bagaikan bumi dan langit. Kalau dulu masih remaja dan muda dia tidak terlalu memikirkannya. Memang dia dari keluarga yang tidak mampu.
Sekarang dia telah miliki penghasilan yang baik. Sehingga dia tidak mau mempermalukan dirinya dan temannya ditengah-tengah orang banyak dengan tampil seadanya. Dia mengerti, ketika Parry memintanya untuk berpakaian bagus. Sebelumnya, hal itu tidak pernah Parry memintanya. Apalagi sekarang Parry telah bekerja dan memiliki jabatan di perusahaannya. Carren sangat mengerti setelah berhubungan dengan banyak orang dalam mengembangkan usahanya.
Sebuah penampilan dapat memberikan kesan tersendiri untuk orang lain menilai siapa kita. Hal itu membuat beberapa waktu lalu, Carren membeli sebuah gaun. Walaupun tidak bermerek, tetapi dia sangat menyukai modelnya yang simple, selutut dan warna yang cocok dengan hatinya.
Sehingga ketika dikenakan oleh Carren, baju tersebut terlihat seperti dari butik ternama. Terutama, orang akan fokus pada dirinya yang terlihat sangat elegan. Baju tersebut saat dikenakan Carren, menjadikan dirinya berkelas.
Setelah waktunya tiba, Carren pesan mobil online untuk mengantarnya ke restoran yang telah dikirim oleh Parry. Restoran itu sangat terkenal, sehingga banyak orang mengadakan acara di restoran tersebut.
Ketika Parry mengirim tempat acara perayaan ulang tahunnya, Carren telah browsing untuk mengecek seperti apa tempatnya. Goropaku Restaurant adalah restoran mewah yang hanya bisa dikunjungi orang-orang berduit dan para pejabat.
Sehingga jika mendengar orang mengadakan makan siang, makan malam atau acara di Goropaku Restaurant, kita bisa mengetahui seperti apa kondisi keuangan orang tersebut. Atau dari kalangan mana, mereka berasal.
Sebelum tiba di depan restoran, Carren menghubungi Parry untuk menanyakan posisinya. Dia tidak mau turun dan masuk, sebelum ada Parry dan keluarganya tiba di restoran tersebut.
Ketika tahu Parry telah ada di restoran dan memintanya masuk, Carren langsung turun dari mobil. Parry sudah menunggunya di dalam restoran, membuat Carren merasa sedikit lega. Dia turun dari mobil sambil menjinjing tas pemberian Parry untuknya. Itulah satu-satunya barang yang paling berharga diantara semua yang ada padanya saat itu.
Carren sengaja memakai tas tersebut untuk mengimbangi penampilannya yang sederhana, menurutnya. Jadi jika ada yang mau menilai dari barang yang dia kenakan, ada tas yang berharga miliknya. Orang tidak akan tahu, itu adalah pemberian Parry.
__ADS_1
Carren melangkah masuk restoran dan Parry menyambutnya dengan wajah tersenyum. Melihat senyum diwajah Parry, Carren merasa sedikit lega. "Keluargamu belum pada datang?" Tanya Carren saat telah dipersilahkan duduk oleh Parry dengan menarik kursi untuknya.
"Keluargaku tidak akan datang, karena kami sudah merayakannya di rumah. Saat ini aku mau merayakan ulang tahunku berdua saja denganmu. Tidak mengapa, bukan?" Tanya Parry, melihat wajah Carren yang berubah.
"Kau tidak bilang akan merayakan berdua saja, jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkan penampilanku. Lihat nih, aku sampai harus membawa tas ini." Ucap Carren sambil mengangkat tas pemberian Parry.
"Aku memang sengaja melakukannya, agar kau bisa tampil berbeda malam ini. Kau terlihat berbeda dan sangat cantik. Semoga tadi kau berkaca yang lama. Supaya tau, kau akan sangat cantik jika kau berikan waktu untuk memanjakan dirimu." Parry berkata serius, tapi wajahnya tersenyum.
"Ngga usah ngegombal. Aku memaafkanmu saat ini, karena sedang berulang tahun. Kau juga sangat berbeda malam ini. Ternyata ulang tahun bisa merubah penampilan seseorang, ya." Ucap Carren tersenyum senang melihat penampilan Parry yang keren di matanya.
"Heiii, aku berkata benar. Baguslah, ulang tahunku hanya merubah kita berdua, bukan orang lain. Mari kita makan dulu, baru membicarakan perubahannya." Ucap Parry dengan wajah tersenyum, lalu memberikan isyarat kepada waiters untuk menyediakan menu yang sudah dipesannya.
Carren menikmati makan malam dengan hati senang, karena menu yang dipesan oleh Parry benar-benar lezat. Menu laut yang diolah dengan cara khusus, membuat rasanya sangat berbeda dan nikmat. Carren menyantap habis semua menu yang disediakan. Dia sedikit lebih bebas makan, karena tidak makan bersama keluarga Parry.
"Ngga, cukup. Perutku bisa meledak. Masih ada dessert lagi kan? Ini aku tinggalin sedikit tempat di sisi perutku." Ucap Carren, sambil menepuk pelan perutnya di sebelah kanan. Dia mencoba bercanda karena ketahuan makan dengan lahap.
Sambil menikmati dessert, Parry melihat Carren dengan wajah yang berubah-ubah. Melihat cara pandang Parry, Carren teringat dengan kado ulang tahun yang disediakan untuk Parry.
"Parry, ini kado ulang tahun dariku yang pertama untukmu. Selama ini aku kau tidak mau aku memberikan kado untukmu. Tetapi malam ini aku berharap kau bisa menerimanya. Sekarang aku sudah punya uang untuk membeli kado untukmu. Jadi jangan lihat harganya, ya. Aku cuma sanggup beli yang begitu." Carren mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas dan memberikan kepada Parry. Wajah Parry langsung berubah. Bukan karena kadonya, tetapi karena ucapan Carren.
"Aku tidak berpikir akan mendapat kado darimu malam ini. Terima kasih. Apakah aku bisa membukanya?" Tanya Parry dan membukanya setelah melihat Carren mengangguk. Dia tersenyum senang melihat sebuah dasi sesuai dengan warna kesukuan dan garisnya. Dia melihat wajah Carren dan dasi bergantian, sambil mengucapkan 'TQ'.
"Sebenarnya aku tidak berpikir akan menerima kado. Tetapi aku sudah menyiapkan ini untukmu dan kau harus menerimanya." Parry mengambil kotak kecil dari kantong jasnya dan memberikannya kepada Carren.
__ADS_1
"Waah, makasih Parry. Kau yang ulang tahun, tapi aku dapat kado juga. Apakah aku bisa membukanya?" Tanya Carren dan membukanya setelah melihat Parry menganggukan kepala. Ketika melihat sebuah kalung dan liontin yang cantik, Carren terpaku lalu menatap Parry seakan tidak percaya.
"Aku mencintaimu dan sangat berharap kau menjadi kekasihku." Parry merasa sangat lega setelah bisa mengucapkan kalimat itu, setelah dipikirnya berbulan-bulan bahkan bertahun. Carren melihat wajah Parry dengan mata berembun karena terharu.
"Parry, terima kasih kau telah mengatakan itu malam ini. Kau adalah pria spesial di hatiku. Karena kau selalu ada disetiap waktu sulitku. Aku menyayangimu sebagaimana aku menyayangi Kak Naina. Kalian adalah saudara yang kumiliki. Kalian membuatku merasa menjadi pribadi yang berharga."
Parry menatap mata Carren yang sudah tergenang air mata dengan perasasn yang tidak mementu. "Aku tau Carren. Oleh sebab itu aku membutuhkan waktu lama, baru bisa mengatakan ini padamu. Apakah kau tidak bisa mengubah kasih sayang itu, dan menjadikan aku kekasihmu?" Tanya Parry masih berharap. Hatinya sangat sedih melihat mata Carren yang mulai berlinang air mata.
"Maafkan aku Parry. Biarkanlah kau tetap seperti ini bagiku. Saudara lelaki yang tidak aku punya, yang dengan sangat berlapang dada datang meminta kasih sayangmu dan perhatianmu seperti yang Kak Naina lakukan padamu."
"Aku percaya Tuhan akan menyediakan seorang wanita spesial, yang sepadan denganmu. Sebelum kau katakan ini aku selalu berdoa, memohon agar kau bisa mendapat pendamping hidup yang dapat mendukungmu. Karena kau baik, bahkan sangat baik. Kau memiliki hati yang spesial. Kelak, wanita yang bisa memiliki hatimu adalah wanita yang sangat berbahagia." Ucap Carren yang sudah berurai air mata.
Parry mengeluarkan saputangan dan memberikannya kepada Carren. "Sudah, hapus air matamu. Jangan membuatku makin sedih, karena mengucapkan yang tadi. Aku menahan semuanya begitu lama, karena tidak mau melihatmu sedih seperti ini." Parry berkata dengan mata berembun.
"Tenanglah. Aku akan berusaha mengimbangi perasaanmu dengan menganggapmu sebagai pengganti Kak Naina. Jadi berhentilah menangis, karena aku belum bisa menghiburmu sebagai saudaraku. Yang ada di hatiku saat ini, kau adalah kekasihku." Ucap Parry, sambil mengelus tangan Carren yang sedang memegang kotak hadiah darinya.
"Maafkan aku, Parry." Ucap Carren dan air matanya kembali mengalir. Dia mengambil saputangan yang diberikan Parry untuk menghapus air matanya, karena mereka ada di restoran. Dia khawatir ada yang melihat mereka.
"Kau sudah menolak cintaku, jangan lagi menolak kadoku. Itu memang aku belikan untukmu sebagai Carren. Apapun statusmu bagiku, saudara atau kekasihku. Jadi jangan merasa terbeban untuk mengenakan itu." Ucap Parry serius, dan Carren mengangguk mengiyakan lalu memasukannya ke dalam tas.
.***.
Bersamaan dengan itu, di sisi lain restoran ada empat mata yang memperhatikan mereka. "Bukankankah itu Parry dan Carren?"
__ADS_1
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡