Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kecurigaan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Bu Nancy dan Carren telah menunggu di teras, yang telah menjadi tempat penyimpanan perlengkapan dekorasi. Karena Carren sudah mengunci pintu rumah, agar ketika sopir Parry datang mereka tinggal berangkat ke rumah duka.


Tidak lama kemudian, Carren keluar karena melihat mobil Parry telah  berhenti di depan rumahnya. "Ayoo, Ma. Itu mobilnya Parry." Ucap Carren, sambil mengambil salah satu keranjang bunga. Karena Mamanya telah memegang keranjang bunga yang satunya lagi.


Semua bawaan mereka diletakan oleh sopir Parry di bagasi mobil, lalu Carren membuka pintu mobil untuk Mamanya. Dia kembali untuk mengunci pintu pagar. Setelah mereka telah naik ke dalam mobil, sopir Parry menengok ke belakang.


"Nona Carren, tujuan kita ke mana?" Tanya sopir Parry, karena Parry hanya menyuruhnya menjemput Carren di rumahnya dan mengantarnya ke tempat makam.


"Ooh iya, Pak. Maaf, saya lupa." Ucap Carren sambil menepok dahinya, lalu menyampaikan tujuan mereka serta alamat rumah duka. Sopir Parry mengangguk mengerti, kemudian menjalankan mobilnya ke tempat tujuan.


Setelah keluar di jalan raya, sopir Parry merasa curiga ada mobil yang memgikutinya. Karena dia merasa mobil hitam yang ada di belakangnya, sepertinya pernah dilihat saat hendak berhenti di rumah Carren.


Pak Husin, sopir Parry mengabaikan mobil tersebut dan fokus pada jalan yang agak padat dengan kendaraan. Karena ke rumah duka, mereka harus lewati daerah yang terkenal dengan macet tanpa melihat jam sibuk.


Saat tiba di rumah duka, sudah banyak mobil yang parkir dan Pak Husin tidak mendapat parkir yang dekat dengan rumah duka. Hal itu membuat Pak Husin agak bingung mencari tempat parkir yang baik dan aman.


"Ngga papa, Pak. Kami turun di sini saja, biar kami jalan kaki ke rumah duka." Ucap Carren, saat melihat sopir Parry masih mau mencari parkir yang terdekat dengan rumah duka.


"Baik, Nona. Nanti hubungi saya saja jika sudah selesai acaranya. Saya mau cari tempat parkir yang lebih aman." Ucap Pak Husin, lalu turun untuk membuka pintu mobil untuk Carren dan Bu Nancy.


"Makasih, Pak. Lain kali kalau sama kami, bapak tidak usah membuka pintu mobil, ya. Biar kami sendiri saja yang buka." Ucap Carren, karena dia merasa tidak enak diperlakukan demikian. Pak Husin memgangguk mengerti, tetapi dalam hatinya akan melapor kepada bossnya. Pak Husin khawatir, bossnya tidak terima dan marah padanya.


Karena selama menjadi sopir Parry, baru pertama kali Pak Husin diminta untuk mengantar atau menjemput Carren, selain keluarganya. Oleh sebab itu, Pak Husin sangat berhati-hati dan menjaga sikap terhadap Carren.

__ADS_1


Saat hendak mencari parkir, Pak Husin melihat lagi mobil hitam yang pernah dilihat sebelumnya, sedang mencari parkir juga. Hal itu membuatnya curiga dan terus melihat ke dalam mobil tersebut.


Setelah melihat ada tempat parkir yang baik, Pak Husin memarkir mobilnya. Karena Parry sudah mengatakan kepada Pak Husin untuk mengantar juga ke makam, sehingga Pak Husin memarkir mobil di tempat yang aman untuk bisa keluar dengan mudah.


Pak Husin kembali memperhatikan mobil hitam yang dicurigainya, untuk melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut. Karena bisa saja yang dipikirkannya keliru, mungkin mobil orang yang akan melayat juga.


Tetapi sekian lama menunggu, tidak ada orang yang keluar dari mobil tersebut, Pak Husin kembali merasa curiga. Beliau jadi berpikir, apakah akan disampaikan kepada bossnya tentang kecurigaannya.


.***.


Di sisi yang lain ; Carren dan Bu Nancy telah sampai di rumah duka dan sudah penuh dengan para pelayat. Karena Bu Florens memiliki keluarga besar dan juga ada pelayat dari teman anak-anak serta suaminya.


Carren bersyukur, melihat Rosna, Ichad dan Akri sudah datang dan telah menyiapkan tempat duduk untuk dia dan Mamanya. Karena mereka sudah membicarakan di grup WA, kalau mau datang ke rumah duka bersama-sama.


Carren berjalan mendekati tempat duduk mereka untuk memberikan keranjang bunga tabur, agar dipegang oleh Rosna dan Ichad. Sedangkn Bu Nancy berdiri menunggu Carren sambil memegang rangkaian bunga krisan yang dibuat Carren untuk diletakan dekat peti jenasah Bu Florens.


Ketika melihat buket bunga yang dibawa Carren diletakan dekat peti, anak Bu Florens mengambilnya dan meletakannya dalam peti jenasah. Dia mengucapkan terima kasih untuk Carren dan Bu Nancy yg telah memberikan rangkaian bunga yang indah kesukaan Mamanya.


Bu Nancy dan Carren menyalami Anak-anak dan suami Bu Florens dengan mata berkaca-kaca. Setelah menyalami keluarga yang sedang berduka, Carren dan Bu Nancy keluar dan duduk di dekat Rosna, Ichad dan Akri


Carren mengabaikan pandangan Sisil yang tidak suka kepadanya, saat dia menyalaminya untuk menyatakan turut berduka cita. Apalagi saat anak Bu Florens mengambil buket bunga yang dibawahnya, Sisil langsung melengos dengan wajah yang tidak suka.


"Kak Ichad, Kak Akri dan Ros mau ikut ke makam juga?" Tanya Carren setelah duduk bersama mereka. Lalu mereka bertiga mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu, ikut dengan kami saja, ya. Kita naik mobil bersama-sama ke makam." Ucap Carren, karena ingin naik mobil bersama mereka.

__ADS_1


"Aku naik motor saja, Carren. Biar sekalian dari makam langsung pulang ke rumah." Ucap Ichad. Hal yang sama juga dikatakan oleh Akri, karena mereka memakai motor ke rumah duka.


"Kalau begitu, Ros ikut kami saja naik mobil." Ucap Carren, dan Rosna mengangguk mengiyakan.


"Aku ikut Kak Carren ke makam, tapi nanti pulangnya aku ikut Kak Akri, ya." Ucap Rosna, karena tadinya dia sudah janjian akan ikut Akri ke makam dan juga langsung pulang dengannya.


Akri dan Carren mengangguk mengerti, karena Rosna dan Akri searah kalau pulang. Mereka sama-sama satu jalur, Akri akan melewati daerah tempat tinggal Rosna.


Tidak berapa lama, mereka melihat Sisil dan ketiga karyawan Bu Florens sedang sibuk mengatur para pelayat yang datang. Mereka juga membantu merapikan karangan bunga yang berdatangan, dikirim oleh kolega dan keluarga. Ichad, Akri dan Rosna tidak diajak oleh Sisil, sehingga mereka tetap duduk bersama Carren.


"Kak Ichad, ternyata Sisil itu keponakan Tante Florens dari suaminya, toh. Aku kira keponakan Tante Florens sendiri." Ucap Carren, setelah melihat kemiripan wajah Sisil dengan wajah suaminya Bu Florens.


"Iya, Carren. Pantesan Tante Florens ngga bisa berbuat apa-apa terhadapnya, kalau dia berbuat salah. Tante Florens hanya bisa ngedumel dan marah-marah sendiri." Ucap Ichad mengingat apa yang terjadi saat mereka masih bekerja bersama Bu Florens.


Ichad dan Rosna memperhatikan wajah Sisil dan suami Florens setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Carren. Menyadari kemiripannya, mereka mengangguk mengiyakan.


"Iya, ya. Tetapi kenapa dia sangat tidak suka sama Kak Carren? Emang Kak Carren sebelumnya ada bikin apa sama dia?" Tanya Rosna, yang memperhatikan wajah dan sikap Sisil terhadap Carren.


"Memang Carren tidak melakukan sesuatu kepadanya. Tetapi wajah dan hati Carren yang melakukannya. Coba ingat lagi, hatinya selalu gatal pingin digaruk kalau ada Carren di dekatnya." Ucap Ichad pelan, membuat mereka tersenyum. Carren langsung memukul pundak Ichad.


"Iya, Kak Ichad. Kalau ingat itu semua, aku pingin garuk orangnya pake cangkul." Ucap Rosna pelan, mengingat wajah dan ucapan Sisil yang selalu sinis jika berdekatan dengan Carren. Ucapan Rosna membuat mereka kembali tersenyum.


"Kau pikir, Sisil kebon?" Tanya Akri, membuat Rosna memukul tangan Akri, karena pelayat yang duduk di depan mereka menengok sambil tersenyum. Carren dan Bu Nancy hanya tersenyum dan bersyukur, mereka duduk di deretan kursi yang paling belakang. Jika di tengah, banyak orang akan tersenyum mendengar celetukan mereka.


Setelah selesai Ibadah, Carren menghubungi Pak Husin untuk menanyakan tempat parkirnya, karena mereka akan ke makam. Saat selesai telponan dengan Carren, Pak Husin melihat mobil yang dicurigainya sudah tidak ada di tempat parkirnya. Hal itu membuat hatinya sedikit lega dan berkurang rasa curiganya.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2