Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kenyamanan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Carren tiba di rumah setelah Magrib. Itu juga atas bantuan Ichad yang mengantarnya ke stasiun terdekat. Jadi dia harus berdesak-desakan di dalam commuterline dengan orang yang baru pulang kerja. Karena ada janji dengan Parry, membuat dia buru-buru pulang ke rumah.


Tiba di rumah, Mamanya sedang memasak makan malam untuk mereka berdua. "Malam, Ma. Arra pulang." Ucap Carren, saat masuk rumah dan menyapa Mamanya yang sedang masak di dapur.


"Malam, Arra. Syukur sudah pulang. Ayooo, langsung mandi, agar bisa bantu Mama siapkan alat makan di meja. Karena sebentar lagi masakan ini sudah matang." Ucap Bu Nancy senang, melihat putrinya sudah pulang. Jadi mereka bisa makan makanan yang masih panas, tidak perlu dihangatkan lagi.


Carren segera mandi dan bantu Mamanya menata perlengkapan makan di meja makan. Dia bersyukur Mamanya sudah menyiapkan makan malam mereka, karena ada banyak hal yang akan dibicarakan dengan Mamanya.


Selesai makan, seperti biasanya Carren membersihkan semua perangkat yang digunakan untuk memasak dan makan. Lalu dia mengupas pepaya yang dibawa dari rumah Rosna. Orang tuanya menitipkan pepaya yang baru mereka panen di belakang rumahnya untuk dibawa pulang.


Dia meletakan sepiring pepaya matang di meja makan dan duduk di depan Mamanya. "Ma, tadi Arra sudah melihat gedung yang akan dipakai untuk acara resepsi dan juga ke tempat catering. Jadi sekarang Arra sudah punya gambaran untuk menekuni pekerjaan ini." Ucap Carren, memberitahukan apa yang dikerjakannya sepanjang hari.


"Apakah Arra bisa menghandel semuanya? Karena ini bukan pekerjaan seperti sebelumnya. Arra harus mengkoordinir beberapa orang dengan karakter yang berbeda-beda. Arra juga harus berhadapan dengan keinginan client dan juga protes atas ketidakpuasan mereka." Ucap Bu Nancy mengingatkan apa yang akan dihadapi oleh putrinya.


"Iya, Ma. Arra tadi sudah bicara juga dengan Kak Ichad, Kak Akri dan Ros. Mereka sudah berjanji akan mendukung Arra dalam pekerjaan ini. Mereka juga sudah menganggap Arra sebagai pemimpin mereka. Jadi akan menuruti semua yang Arra katakan." Ucap Carren, menceritakan hasil pembicaraannya bersama rekan-rakannya.


"Baik, jika mereka bisa mengerti dan mau bekerja keras bersamamu. Mama akan mendukung semua yang kau rencanakan." Ucap Bu Nancy, menyemangati rencana putrinya.


"Apakah Arra sudah membicarakan tentang penghasilan yang akan mereka terima, jika bekerja bersama Arra?" Tanya Bu Nancy, mengingat mereka tidak memiliki modal yang banyak untuk memulai suatu usaha.


"Sudah, Ma. Mereka bisa memgerti dan mau menerima pembayaran awal kerja kami walau tidak sebesar bekerja bersama Tante Florens." Ucap Carren, menjelaskan. Bu Nancy mengangguk dengan hati lega dan bersyukur.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu Arra istirahat dulu. Mama masih mau melanjutkan pekerjaan yang belum selesai." Ucap Bu Nancy, saat mereka telah selesai makan pepaya yang disiapkan Carren.


"Baik, Ma. Jangan terlalu larut tidurnya, karena besok mau bangun pagi." Ucap Carren mengingatkan Mamanya, sambil mengelus pundak Mamanya dengan sayang. Lalu meninggalkannya untuk masuk ke kamar.


Saat di kamar, dia teringat Parry akan menelponnya. Dia segera mengambil ponselnya. Ternyata sudah ada misscall dari Parry. Carren langsung mengirim pesan kepadanya. "Malam, Parry. Tadi aku lagi makan malam dengan Mama. Bagaimana?" Isi pesan Carren, karena mau menelpon khawatir Parry telah tidur.


Tidak lama kemudian, Parry menelponnya tanpa membalas pesannya.


📱"Malam, Carren. Sibuk sekali hari ini?" Tanya Parry, saat Carren merespon panggilannya.


📱"Malam, Parry. Iya, lumayan sibuk hari ini. Bagaimana?" Tanya Caren, karena Parry telah menghubunginya dari siang.


📱"Aku ada perlu denganmu. Apakah besok kita bisa bertemu? Ada yang mau aku bicarakan denganmu." Jawab Parry, berusaha meyakinkan Carren agar mau bertemu dengannya.


📱"Mau bertemu jam berapa?" Tanya Carren, ragu-ragu. Karena sekarang banyak kerjaan yang sedang dikerjakan dan akan bertemu banyak orang. Tetapi saat mendengar suara Parry, Carren menyadari Parry ada perlu dengannya.


📱"Ooh, ok. Bagaimana jam sebelas kita bertemu di stasiun Gondangdia? Ada tempat minum enak, aku akan mentraktirmu sekalian bisa berbicara di sana." Ucap Carren, dia memang ingin mentraktir Parry minum karena telah membantunya.


📱"Baik. Apakah aku harus masuk ke stasiun atau menunggumu di luar?" Tanya Parry, karena Carren hanya katakan bertemu di stasiun.


📱"Kau tunggu di depan pintu keluar stasiun saja. Jangan lupa pakai baju santai, dan juga pakai masker, ya. Kau jangan bawa mobil, biar sopirmu antar dan tinggalkan kau di sana saja. Nanti aku keluar menjemputmu." Ucap Carren, beruntun. Karena dia berencana membawa Parry ke tempat biasa dia minum.


📱Carren, yang kau maksudkan dengan pakai baju biasa itu seperti apa? Apa selama ini, saat bertemu denganmu aku pakai baju luar biasa?" Tanya Parry, tidak mengerti yang dimaksudkan Carren.

__ADS_1


📱Ngga juga. Aku ngga bisa mendefenisikannya. Yaa, sudah. Ngga usah pikirkan lagi. Sampai bertemu besok, ya." Ucap Carren, jadi tidak enak hati mendengar pertanyaan Parry.


📱"Baik. Sampai bertemu besok." Ucap Parry, kemudian mengakhiri pembicaraan mereka. Carren merasa menyesal mengingat permintaannya pada Parry. Dia tadi hanya berpikir agar bisa tenang saat bertemu dengannya, karena Parry suka menjadi perhatian.


Tiba-tiba, bunyi ketukan di pintu kamarnya. "Masuk, Ma." Ucap Carren, dia tahu Mamanya yang mengetuk, karena hanya mereka berdua tinggal di rumah.


"Arra, tadi Mama mau masuk ke kamarmu, tetapi mendengar kau sedang telepon. Jadi bukan Mama menguping pembicaraanmu dengan Parry. Mendengar yang kau katakan, ada hal yang mau Mama bicarakan denganmu selain maksud Mama tadi." Ucap Bu Nancy, saat sudah di dalam kamar.


"Kenapa Arra minta seperti itu untuk Parry? Apakah dia berpakaian berlebihan saat bertemu dengan Arra?" Tanya Bu Nancy, tidak memgerti ketika tadi hendak masuk ke kamar Carren, beliau mendengar apa yang dikatakan Carren.


"Ngga juga, Ma. Cuma tadi teringat kalau Parry suka menjadi perhatian, jadi Arra bilang seperti itu tadi. Sekarang Arra merasa menyesal mengatakannya." Ucap Carren pelan, karena berucap tanpa berpikir dengan baik.


"Mama ngga tau seperti apa Parry sekarang, jadi ngga bisa komentar untuk hal itu. Karena Mama melihatnya saat kalian masih sekolah dan bagi Mama, kalian semua hampir sama dalam pakaian seragam sekolah." Ucap Bu Nancy pelan, namun serius.


"Sekarang Carren harus berhati-hati dalam bersikap dan berucap. Jika seorang terlalu banyak menuntut, ada hal yang tidak pas. Apakah Parry merasa ngga nyaman ketika berjalan bersamamu?" Tanya Bu Nancy, merasa khawatir dengan putrinya.


"Ngga, sih Ma. Hanya dia sering merasa terganggu dengan orang yang suka usil padanya. Jadi tadi Arra mengatakan itu, untuk kenyamanannya saja. Tapi nanti besok Arra akan lihat dan membicarakan lagi dengan Parry, agar dia bisa mengerti." Ucap Carren menjelaskan, agar Mamanya tidak memarahinya.


"Iya, Arra. Jika dia tidak berusaha mengubahmu, jangan Arra berusaha mengubahnya juga. Jadilah sebagaimana dirimu, dan biarkan dia sebagaimana dirinya. Jika ngga bisa saling menerima, jangan dipaksakan. Karena itu adalah sesuatu yang mendasar. Suatu saat akan muncul ke permukaan, dan itu dapat merusak apa yang telah dibangun." Ucap Bu Nancy, menasehati putrinya.


"Mama ngga bicara tentang suatu hubungan yang serius ya, Na'. Dalam pertemanan juga seperti itu, harus bisa saling menerima kondisi masing-masing. Jangan mengharapkan dia seperti maumu, agar dia juga ngga mengharapkan kau seperti maunya." Ucap Bu Nancy melanjutkan nasehatnya.


"Iya, Ma. Arra mengerti maksud Mama. Makasih sudah ingatin Arra, Ma." Ucap Carren, pelan.

__ADS_1


"Baik. Jangan lupa pasang alaram, karena kita mau bangun pagi." Ucap Bu Nancy, lalu keluar kamar meninggalkan Carren yang tertunduk diam. Hal itulah yang akan dikatakan oleh Bu Nancy saat mau masuk ke kamar putrinya, sehingga bisa mendengar pembicaraannya dengan Parry.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2