Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Tempur.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Pada waktu yang sudah ditentukan untuk rapat pemegang saham, Pak Sunijaya bersama para pemegang saham yang ada dipihaknya telah hadir di ruang rapat. Mereka penasaran ingin mengetahui siapa sebenarnya yang bernama Elimus. Karena menjelang rapat pemegang saham, orang yang diperintahkan untuk menyelidikinya tidak dapat memastikan siapa sebenarnya pemilik Elimus Corp. Mereka hanya mengetahui pemiliknya masih muda dan berasal dari Eropa. Kantor pusatnya berada di Belanda.


Sedangkan mereka sudah mengetahui siapa sebenarnya Komisaris baru Biantra Group dan merekapun penasaran dengan sang Komisaris. Karena tidak banyak data yang diperoreh, selain pernah menjadi Manager di salah satu perusahan tambang terbesar di Indonesia. Mereka juga sangat penasaran, sang Komisaris tidak mudah didekati dan terdeteksi. Hanya sesekali datang ke kantor pusat Biantra Group untuk bertemu dengan Direktur yang baru ditempatkan. Setelah itu, menghilang entah kemana.


Orang suruhan Pak Sunijaya sudah beberapa kali mengikutinya, tetapi tidak pernah melihatnya ada di rumahnya. Mobil yang mereka ikuti, tiba-tiba meninggalkan mereka tanpa jejak. Mereka pernah bertanya kepada tetangga di rumahnya, tetapi karena tinggal di perumahan mewah, tetangganya tidak mengetahui keberadaan tetangga di sebelahnya.


Oleh sebab itu, menjelang waktu rapat pemegang saham, semua orang dari pihak Bu Biantra telah hadir, termasuk Pak Sunijaya yang biasanya hadir di menit-menit terakhir, sekarang sudah hadir. Begitu juga dengan Bu Biantra telah hadir dan duduk di antara Pak Sunijaya dan Pak Haiman. Sedangkan sepupuh dan ponakan-ponakannya duduk di samping Pak Sunijaya. Para pemegang saham kecil juga sudah hadir dan duduk di posisi yang menunjukan mereka berada di pihak Bu Biantra.


Sapta juga sudah hadir dan duduk bersebrangan dengan Pak Sunijaya. Baru dia sendiri dari pihak Elimus yang sudah datang. Ketika melihatnya, Pak Sunijaya berbisik kepada Bu Biantra. "Siapa dia? Apa dia yang mewakili pihak Hutama?" Tanya Pak Sunijaya penasaran, karena melihat kehadiran para pemegang saham, hanya pihak Hutama dan yang memegang saham Yogi belum hadir. 'Sedangkan Komisari, pasti akan hadir dimenit-menit terakhir bersama pemegang saham mayoritas.' Pikirnya.


"Bisa jadi yang mewakili pihak Hutama atau dari pihak Yogi, Pah." Jawab Bu Biantra sambil berbisik kepada Pak Sunijaya yang terus memperhatikan Sapta.

__ADS_1


Ketika Pak Sunijaya sedang berbicara kasak kusuk dengan orang yang dari pihaknya langsung terdiam, saat melihat Pak Hutama masuk ke ruang rapat dengan tenang di antar oleh seorang petugas yang melayani rapat pemegang saham. Tanpa eksepresi, Pak Hutama mengambil tempat duduk di samping Sapta.


Bukan saja Pak Sunijaya yang terdiam, tetapi Bu Biantra yang tadinya berbisik-bisik dengan Pak Haiman di sampingnya langsung diam terpaku. Mereka tidak menyangka seorang Hutama akan hadir sendiri dalam rapat pemegang saham di Biantra Group. Bu Biantra langsung menurunkan tangannya yang di atas meja dan meletakan di pahanya, karena mulai berkeringat.


Apalagi melihat Pak Hutama menatap mereka satu per satu tanpa ekspresi dan terhenti lalu menatapnya dengan tajam. Melihat tatapan Pak Hutama ke arah Bu Biantra yang lama dan tajam, Pak Haiman yang ada di sampingnya jadi melirik kearah Bu Biantra yang terdiam, dan tidak tenang. Hanya mengusap tangan di pahanya berulang kali.


"Ada apa denganmu, Ni? Mengapa Pak Hutama melihatmu seperti itu? Kau ada sesuatu dengan Pak Hutama?" Tanya Pak Haiman, curiga melihat tatapan Pak Hutama ke arah Bu Biantra dan melihat kegelisahan Bu Biantra.


"Kau masih memgharapkan Pak Hutama membantu kita dengan tatapannya ke arah kita seperti itu? Bukankah tatapannya itu merupakan alaram bahaya untuk kita? Pak Hutama dan siapa itu yang duduk di sampingnya mampu membuatmu berkeringat di ruang sedingin ini? Ada yang kau sembunyikan dariku?" Bisik Pak Haiman, karena curiga melihat apa yang dilakukan oleh Bu Biantra.


"Nanti setelah rapat baru kita bicara." Ucap Bu Biantra untuk meredam emosi Pak Haiman dan juga mengalihkan pertanyaan Pak Haiman tentang dirinya dan Pak Hutama. Pak Haiman makin curiga dengan sikap Bu Biantra, tetapi tidak bisa berkata-kata lagi, karena pintu ruang rapat terbuka.


Jekob masuk ke ruang rapat bersama sekretarisnya. Dia meminta sekretarisnya membantu saat rapat berlangsung. Untuk mencatatat semua yang akan diputuskan dalam rapat. Tanpa melihat ke arah Pak Sunijaya dan keluarganya, Jekob duduk di samping Pak Hutama. Melihat itu, Pak Sunijaya mulai meradang dan detak jantungnya makin cepat. Mereka telah mengetahui Jekoblah yang memegang saham Pak Biantra. Jadi jika Jekob sudah bergabung dengan Pak Hutama, pertanda bahaya bagi mereka. Sedangkan mereka belum mengetahui siapa pemegang saham Pak Yogi yang diincarnya.

__ADS_1


"Apakah seperti ini, arogansi seorang pemegang saham mayoritas? Membiarkan kami harus menunggunya?" Tanya Pak Sunijaya, saat melihat jam di tangannya menunjukan waktu telah lewat beberapa menit dari waktu yang dicantumkan dalam undangan rapat. Apalagi melihat situasi yang tidak menguntungkannya, beliau makin emosi dan perlu disalurkan. Alasan yang tepat untuk bisa marah adalah pemegang saham mayoritas terlambat datang. Hatinya makin meradang melihat Pak Hutama sedang berbicara santai dengan Sapta di sampingnya.


"Bapak dan Ibu yang telah hadir, kami minta maaf dan mohon bersabar. Pak Elimus agak terlambat, karena beliau terbang langsung dari Eropa untuk mengikuti rapat pemegang saham ini. Sebagaimana kita tau, hari ini cuaca agak buruk, jadi pesawatnya terlambat landing. Sekarang beliau sudah di jalan, sebentar lagi akan tiba. Jadi mohon bersabar." Jekob berkata sambil menatap peserta rapat satu persatu untuk meminta pengertian mereka.


"Ini rapat pemegang saham pertamanya, tapi sudah menunjukan sikap yang tidak profesional dan arogan. Sudah mengadakan rapat sesukanya, sekarang datang terlambat. Apa tidak menghargai kami yang sudah datang tepat waktu, bahkan sebelum waktunya? Mau dibawa kemana perusahaan sebesar ini, jika tidak bisa menghargai waktu?" Pak Sunijaya menyerang Jekob dengan pertanyaan beruntun, karena hendak menunjukan kepada Pak Hutama dan Sapta ketidak becusan pemegang saham mayoritas bekerja. Dengan demikian, beliau berharap bisa menarik simpati Pak Hutama dan Sapta. Beliau sudah kalkulasi besaran saham yang dimiliki oleh Pak Hutama dan Sapta, ketika Jekob masuk ke ruang rapat.


Hatinya belum puas menyerang Jekob, dan makin tidak bisa mengendalikan emosinya saat melihat Pak Hutama sebagai seorang petinggi Hutama hanya duduk tenang dan berbicara santai dengan orang yang disampingnya. Pak Hutama tidak merasa terganggu dengan keterlambatan pemegang saham mayoritas.


Bu Biantra segera mengelus lengan Pak Sunijaya pelan untuk menenangkannya, karena khawatir dengan kesehatan Papah nya. Dan juga ucapan Papah nya bisa mengancam kelangsungan posisi mereka di Biantra Group.


Rapat belum juga mulai, Papah nya sudah emosi dan menyerang pemegang saham mayoritas. Sedangkan mereka belum mengetahui siapa orangnya dan bisa saja memiliki akses ke ruang rapat. Apalagi Pak Haiman telah memberikan note kepadanya untuk memperhatikan orang yang diajak bicara oleh Pak Hutama. Bu Biantra memperhatikan seperti yang diminta Pak Haiman dan melihat sebuah alat kecil di telinga orang tersebut, terus berkedap kedip.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2