
~•Happy Reading•~
Pak Biantra sudah bekerja dengan keluarga istrinya puluhan tahun, tapi tadi saat di dalam mobil dan melihat cara kerja serta komunikasi putranya dengan berbagai orang, Pak Biantra merasa keluarga istrinya tidak sebanding dengan Aaric, apalagi dirinya.
'Pantes dia bisa mengancam Mamanya saat itu.' Pak Biantra membatin. 'Dia bukan menggertak, tetapi dia bisa melakukan apa yang dikatakannya.' Pak Biantra berkata lagi dalam hati, dan terus mengamati cara kerja putranya dalam diam.
"Papa istirahat saja, karena aku dan Jekob masih bekerja. Nanti mau makan, aku akan bangunkan Papa." Ucap Aaric, saat mereka sudah duduk dalam jet pribadi untuk kembali ke Jakarta. Pak Biantra mengangguk mengerti, lalu memejamkan matanya.
Tetapi beliau tidak bisa tidur, karena dadanya penuh dengan rasa bangga dan syukur melihat keberhasilan putranya. Selama ini beliau terus merasa bersalah kepada putra tertuanya, tapi saat melihatnya sekarang tidak terasa, air mata menetes di pinggiran matanya.
'Terima kasih Tuhan, Engkau tidak pernah meninggalkannya menjalani hidup seorang diri. Terima kasih sudah memberkati pekerjaan tangannya. Biarlah kasih sayang-Mu juga tidak beranjak dari putra bungsuku, Recky. Dimanapun dia berada, tolong hibur dan kuatkan dia.' Pak Biantra membatin dengan hati yang penuh rasa syukur. Hatinya lebih bersyukur, karena meyakini semua yang dimiliki putranya didapatkan dari kerja yang halal.
Setelah tiba di Jakarta, Aaric memberikan masker untuk Papanya sebelum mereka turun dari pesawat. "Sapta, nanti antar kami ke apartemen, baru antar Pak Jekob pulang." Aaric berkata saat mereka berjalan ke tempat parkir mobil Sapta yang ditinggal parkir di bandara.
__ADS_1
"Siap, Pak." Ucap Sapta, sambil membuka pintu mobil untuk bossnya dan Pak Biantra. Kemudian pintu mobil depan untuk Jekob. Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, terutama Aaric dan Pak Biantra. Jekob masih berbicara dengan Sapta tentang rencana pertemuan berikutnya.
Setelah tiba di apartemen, Pak Biantra merasakan sesuatu yang berbeda. Walaupun apartemennya lebih kecil dari rumah mereka sebelumnya, tapi suasana yang dirasakan Pak Biantra sangat berbeda. Sangat nyaman untuk ditinggal berlama-lama. Beliau melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan yang ada dan kembali bersyukur. Putranya memiliki tempat tinggal yang baik. Kembali matanya berembun bisa melihat keberhasilan putranya tanpa bantuan dari keluarga Mamanya.
Aaric membawa koper Papanya dan meletakan di salah satu kamar tamu. "Papa, ini kamarnya. Papa mandi dulu, karena aku juga mau mandi. Selesai mandi baru kita bicara." Ucap Aaric saat keluar dari kamar tamu. Pak Biantra mengangguk mengiyakan, karena memang itu yang diinginkan. Beliau belum sempat mandi saat berangkat dari Malang. Ketika masuk di kamar, beliau memperhatikan seisi kamar yang akan menjadi kamarnya, lengkap sesuai dengan kesukaannya. Dengan hati terharu beliau membuka koper untuk mengambil baju ganti.
Pak Biantra segera masuk ke kamar mandi, karena badannya terasa lengket. Beliau tidak sempat mandi saat kembali dari pertemuan dengan petani, karena sudah diajak untuk langsung berangkat ke Surabaya.
Pak Biantra tertegun di dalam kamar mandi, saat melihat dirinya di cermin. Selain tulang pipinya yang menonjol, kulitnya jadi coklat terbakar sinar matahari. Selama tinggal di Malang, beliau tidak memperhatikan lagi penampilannya atau bercermin. Karena setiap hari berhubungan dengan orang-orang yang tidak memperhatikan penampilan seseorang. Pak Biantra jadi ikut tidak memperdulikan soal penampilan. Jika hendak bercukur, beliau hanya meraba dagu atau bagian yang hendak dicukur lalu mencukur, tanpa bercermin.
Aaric yang telah berada di kamar mandi, menyalakan air lalu berteriak sekuatnya untuk melapangkan dadanya. Dia sudah menahannya sepanjang perjalanan dari Malang sampai ke apartemen, karena melihat kondisi Papanya. Dia menahan dan menutupinya dari Jekob, Sapta dan juga Papanya. Dia tidak menyangka, kondisi Papanya turun sedratis itu.
Sambil merendam tubuhnya di bathtub, dia teringat dengan mimpi yang Recky ceritakan padanya saat itu. Papanya menyibukan diri di tempat yang sepi hanya untuk menghilangkan pikirannya terhadap mereka. Tanpa terasa air matanya menetes, dalam kemarahan dia telah berpikiran negatif dan berkata kasar kepada Papanya.
__ADS_1
Semua kekayaan yang dia miliki, sangat kontras dengan keadaan Papanya saat ini. Hal itu membuat dia tidak bisa menahan rasa sedihnya di kamar mandi. Papanya yang dulu menjadi kebanggannya dan Recky saat duduk di kursi pimpinan Biantra Group tidak bersisah.
Sepanjang perjalanan mereka dari Malang, dia tahu Papanya diam-diam memperhatikannya. Kadang-kadang tangannya yang kasar ingin menyentuh tangannya, tapi tiba-tiba menariknya lagi. Kadang-kadang mau berkata sesuatu, tetapi kembali diam. Hal itu membuat Aaric sadar, ada jarak di antara mereka, sehingga Papanya tidak mudah berinteraksi dengannya.
Selesai mandi, dia memgenakan celana pendek dan kaos oblong lalu berjalan keluar kamar. Dia memanaskan air lalu mengambil sachet hot chocolate untuk membuat minuman hangat, agar bisa membuatnya rileks sejenak sebelum istirahat.
Saat melihat Pak Biantra keluar kamar, Aaric merasa lega melihat Papanya sudah mandi dan bercukur hingga terlihat sedikit lebih segar. "Pa, aku mau buat hot chocolate. Papa mau dibuatkan juga?" Tanya Aaric, saat Pak Biantra berjalan ke ruang makan, mendekatinya.
"Iya, boleh." Pak Biantra berkata sambil duduk di kursi meja makan. Aaric merasa sedikit senang, karena ada bahan untuk bisa berbicara dengan Papanya. Dia sedang berusaha membangun kembali komunikasi yang terputus diantara mereka sebagai Ayah dan Anak.
"Besok Jekob akan bawa apa yang Papa perlukan, jika mau kerja dari rumah. Papa katakan saja, agar tidak bosan di rumah." Aaric berkata, sambil meletakan dua cangkir hot chocolate di meja makan. Satu cangkir dia letakan di depan Papanya. Dia tahu, Papanya seorang pebisnis hebat, tidak mungkin telah kehilangan kemampuannya dalam sekecap. Dia ingin membangun kembali kepercayaan diri Papanya yang mungkin sengaja dipendam dengan menyibukan diri bersama para petani.
"Sementara ini, Papa mau istirahat sambil baca buku atau nonton TV di kamar. Jika kau ada buku atau bacaan di sini, pinjamkan untuk Papa." Pak Biantra mengungkapkan keinginannya, karena sudah lama ingin melakukan hal itu. Di Malang ada banyak waktu luang, tetapi tidak memiliki bacaan yang bagus. Beliau juga tidak menggunakan internet, untuk menghindari mengetahui tentang perkembangan perusahaan, yang dapat menggoyangkan tekadnya. Sehingga beliau tidak mengetahui dunia luar selain seputar tempat tinggalnya.
__ADS_1
~●○♡○●~