Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Tarikalla Hotel


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Keesokan harinya matahari bersinar cerah, membangunkan semua yang sedang terlelap. Begitupun dengan penghuni salah satu kamar mewah di Tarikalla Hotel.


Recky mulai terjaga dan merasa kepalanya sangat berat dan sakit. Tanpa membuka matanya, perlahan dia mengangkat tangan untuk memegang dan memijit kepalanya yang sakit.


Betapa terkejut Recky, saat tangannya menyentuh seseorang di sampingnya. Dia langsung membuka matanya sambil memegang kepalanya yang sakit untuk melihat siapa yang ada bersamanya.


Ketika melihat dan mengenal orang yang ada di sampingnya, Recky langsung melompat bangun. Dia tidak memikirkan kepalanya yang serasa mau pecah. Dia makin terkejut mendapati dirinya dalam keadaan tanpa busana.


Dengan amarah meluap yang hampir memecahkan kepalanya, Recky menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dengan dibalut selimut, Recky masuk ke kamar mandi untuk merendam kepala dan tubuhnya yang sakit dengan air hangat di dalam bathtub.


Setelah sekian lama merendam tubuhnya di dalam bathtub dan merasa sedikit lebih baik, Recky keluar dan mengeringkan tubuhnya. Dia merasa sedikit berkurang sakit di kepalanya, lalu memakai bathrobe dan minum air di wastafel untuk melegakan tenggorokannya yang kering. Kemudian dia mengisi penuh bathtub dengan air lalu memasukan selimut dan semua handuk ke dalam bathtub.


Dia melangkah keluar kamar mandi untuk mengambil pakaian, sepatunya dan kembali masuk ke kamar mandi untuk mengenakannya. Setelah itu, bathrobenya dia masukan ke dalam bathtub.


Saat keluar dari kamar mandi dan melihat orang yang bersamanya telah bangun, Recky mendekatinya dengan wajah membara. "Apa yang kau lakukan padaku? Aku tanya, apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Recky berulang kali, ketika pertanyaannya tidak dijawab.


"Apa yang harus aku jawab? Kau sudah lihat semuanya ini." Liana berkata sambil membuka tangannya.


Flashback.


Liana yang sedang ada di bar setelah bekerja, duduk menikmati live musik sambil minum softdrink yang disediakan oleh pelayan bar atas permintaannya. Dia sangat terkejut, sekaligus senang, saat melihat kedatangan Recky di bar.


Setelah lulus ujian, dia minta bekerja kepada orang tuanya. Karena teman-teman sekalangannya sudah sibuk bekerja, termasuk Ayunna. Dia dipercayakan untuk mengurus hotel yang merupakan milik keluargannya. Oleh sebab itu, dia duduk santai di bar seusai bekerja sepanjang hari.

__ADS_1


Dia telah melihat Recky dan Sofyan datang ke bar dengan aura yang tidak happy. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Recky dan Sofyan. Tetapi Recky sangat berbeda, karena cueknya kembali terlihat.


Dengan cueknya dia mendekati pemusik dan minta mau bernyanyi. Ketika diijinkan, Recky menyanyikan lagu balad yang sangat menyentuh hati. Liana baru pertama kali melihat Recky bernyanyi, dibuat terkagum-kagum. Saat Recky bernyanyi, semua yang ada pada Recky membuat Liana makin terpesona. Apalagi mendengar suaranya saat bernyanyi, tanpa sadar dia katakan more ... more dan diikuti oleh semua orang yang ada di bar.


Selesai bernyanyi, dengan cuek Recky kembali duduk dengan Sofyan. Liana terus memperhatikan dari jauh, keadaan Recky dan Sofyan. Sehingga dia mengetahui ketika mereka hampir pingsan, atau pingsan karena minum whisky. Dia minta pelayan dan security membawa mereka berdua ke kamar yang telah disediakan atas permintaannya kepada Manager hotel.


Dia memisahkan Sofyan dan Recky di kamar yang berbeda. Karena dia berpikir, ini adalah kesempatan baginya bisa bersama Recky. Jika dalam keadaan sadar, Recky tidak akan menanggapinya seperti yang dilakukannya terhadap Ayunna.


Flash off.


Recky menatap Liana dengan amarah yang meluap-luap. "Lihat apa? Kau dan aku telan***g? Aku tidak bertanya tentang apa yang aku lihat. Aku bertanya, apa yang kau lakukan padaku?" Recky berbicara sambil menahan marah dan sakit kepalanya. Amarahnya membuat seluruh tubuhnya memerah.


"Kenapa kau marah padaku? Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena telah menolongmu." Liana berkata, tapi dengan suara bergetar karena takut melihat tubuh Recky yang memerah.


"Jika mau menolongku, kau harusnya membawaku ke sini dan membiarkan aku tidur sendiri. Bukannya kau membawaku kesini dan melucuti seluruh pakaianku dan membuang dirimu yang bug*l untuk tidur bersamaku. Apakah otakmu tidak bisa membedakan itu?" Recky bertanya sambil mendekati wajahnya yang sangat marah di hadapan wajah Liana.


"Kau mau menjebakku dengan trik gobl*kmu itu?" Recky melepas cengkramannya dan menghentak dagu Liana dengan kuat. Sehingga kepala Liana membentur bagian kepala tempat tidur.


"Kau mau main-main denganku? Heiiii... barangku masih konek dengan otakku. Barangku tidak akan bangun sembarang, apalagi dengan hantu sepertimu." Recky mengambil semua baju Liana, lalu masuk ke kamar mandi dan melemparnya ke dalam bathtub.


"Kau lihat sekarang, melihat kau dalam keadaan bug*il seperti itu, barangku jangankan bangun, bergerak pun tidak. Jadi kau mau menjebakku dengan bilang aku mengerjaimu, ganti kepalamu itu. Jangan mimipi untuk mendapatkanku, karena bagiku kau itu hantu, bukan manusia." Recky berkata tanpa memperdulikan sakit kepalanya.


"Kau senang membuatmu bug*l untuk bisa dilihat orang bukan? Aku akan membantumu, supaya otakmu bisa berfungsi kalau kau manusia." Recky menarik semua bantal yang ada dalam genggaman Liana untuk menutupi tubuhnya. Dia juga mengambil semua bantal di atas tempat tidur. Kemudian dia masuk ke kamar mandi dan meleparnya ke dalam bathtub.


Amarah Recky belum juga surut, melihat Liana mencoba menarik penutup tempat tidur untuk menutupi tubuhnya yang sudah kedingingan. Recky menarik semua penutup tempat tidur dan memasukannya ke dalam bathtub.

__ADS_1


"Silahkan nikmati sepuasnya ketelanj**ganmu dengan ini, karena telah mencoba mengerjaiku dan menyentuh tubuhku." Recky mengambil remote ac dan membuat suhu kamar sangat dingin.


Recky belum puas melampiaskan amarahnya. Dia mencabut telpon hotel dan meleparnya ke dalam bathtub. Kemudian dia mengambil tas Liana dan menuangkan isinya ke lantai. Melihat ponsel Liana jatuh, Recky mengambilnya dan dengan sekuat tenaga dia melempar ponsel tersebut ke lantai hingga pecah berantakan. Belum merasa puas, dia lalu menginjak dengan sepatunya hingga berujud serpihan kecil.


Melihat itu, Liana jadi kesal tapi juga takut. Sehingga dia tidak berkata atau berbuat apa-apa, karena khawatir Recky makin marah dan bisa melakukan sesuatu yang berbahaya kepadanya.


"Kau akan lihat, apa yang akan aku lakukan padamu. Jika kau tidak berhenti sampai di sini, aku akan tunjukan brengs**ku sebagai Recky Biantra." Recky berkata lalu keluar dari kamar hotel sambil membanting pintu dengan kuat. Hal itu menimbulkan suara yang keras dan membuat pintu bergetar hebat. Penghuni kamar di sekitar kamar yang ditempati tersebut jadi keluar untuk melihat apa penyebab bunyi yang begitu keras.


Recky turun ke lobby hotel lalu naik taksi yang ada di depan lobby hotel untuk pulang ke rumah. Sesampai di rumah, dia mengambil tas yang dibawanya dari Jerman, lalu pesan mobil untuk mengantarnya ke bandara. Dia tinggal sementara di hotel bandara untuk menenangkan pikiran dan juga mengobati sakit kepalanya.


Setelah semuanya mereda, dia membeli tiket untuk kembali ke Australia. Saat menunggu penerbangan, dia memeriksa ponselnya. Entah sudah berapa ratus kali, panggilan tidak terjawab dari Sofyan.


Melihat Sofyan yang terus menelponnya, Recky merespon panggilannya.


📱"Ada apa, kau menelponku?"


📱"Kau dimana? Kau baik-baik saja?"


📱"Tidak perlu kau tau, aku ada di mana." Recky langsung menghentikan pembicaraan dan mematikan ponselnya, karena tidak mau berkata kasar lagi kepada Sofyan.


Dia sendiri tidak punya tenaga untuk berbicara baik dan menanyakan apa yang terjadi dengan Sofyan. Melihat Sofyan telah menghubunginya dari Subuh, dia tahu Sofyan baik-baik saja.


Recky termenung dan mengingat semua yang dialaminya tadi malam dan juga tadi pagi. Yang tersisa dari kemarahannya, hanya rasa sedih telah kehilangan orang yang dicintanya.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡

__ADS_1


__ADS_2