Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Ruang Kerja Parry.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; Parry baru bangun karena dibangunkan oleh suara ketukan di pintu. Pelayan mengetuk pintu kamar untuk membangunkannya atas perintah Papinya. Dia tidur sangat larut, membuatnya tidak bisa bangun seperti biasanya.


Suasana hatinya masih tidak baik, sehingga dia merasa enggan untuk bangun dan pergi ke kantor. Tadi malam dia bersikap tenang di depan Carren agar tidak memperpanjang persoalan. Sudah tidak berguna dipersoalkan, karena ini bukan tentang pekerjaan atau usaha yang bisa dinego.


Cinta adalah masalah perasaan. Dia bersyukur, Carren bisa bicara terbuka dan tidak membuatnya harus menjadi seorang pengemis cinta. Karena jika Carren membutuhkan waktu untuk berpikir baru menjawab, dia dengan senang hati menerima dan mau menunggu.


Tetapi Carren langsung menolak, jadi tidak ada lagi kesempatan baginya untuk menunggu. Dia memikirkannya sepanjang malam setelah kembali dari rumah Carren. Hal itu membuatnya terlambat tidur dan akhirnya terlambat bangun.


Selesai mandi dan berpakaian, Parry langsung berangkat ke kantor bersama sopirnya. Sedangkan orang tuanya telah berangkat terlebih dahulu. Peristiwa tadi malam membuat dia lupa kalau harus bertemu dengan rekan bisnis Hutama pagi ini.


Karena Parry tidak merespon panggilan Papinya, asisten atau sekeretsrisnya, membuat Papinya menelpon ke rumah untuk menyuruh pelayan membangunkannya. Asistennya telah pergi rapat mewakilinya, karena dia tidak bisa dihubungi.


Parry tidak bersemangat pergi ke kantor, bukan saja karena suasana hatinya yang kurang baik, tetapi juga karena dia kurang beristirahat. Tidur yang kurang, membuatnya agak oleng dan tidak bisa berkonsentrasi.


Saat sudah di dalam ruang kerjanya, dia duduk bersandar untuk menenangkan pikiran dan juga menghilangkan rasa kantuknya. Di saat perutnya mulai memberikan sinyal, dia teringat belum sarapan. Dia langsung berangkat tanpa melihat pelayan yang telah menunggunya untuk sarapan.


Sekarang dia baru teringat setelah mulai merasa tidak enak pada perutnya. Ketika mau mengambil minuman di atas mejanya, dia terkejut. Tidak ada cangkir minumanan di atas meja seperti biasanya. Dia jadi teringat Alle, sekretarisnya. Kenapa belum siapkan minuman untuknya.


Parry memanggil Riri dengan kode seperti biasanya. Beberapa waktu menunggu, tetapi dia tidak merespon. Sedangkan Parry bisa melihat dari ruangannya, Riri sedang duduk sambil menunduk atau menulis sesuatu di mejanya. Kembali dia memanggil, kembali Riri tidak meresponnya


Hal itu membuat Parry heran dan bertanya-tanya. Dia mengambil ponsel dan menyalakannya. Dia lupa menyalakan telpon saat bangun, sehingga semua pekerjaannya menjadi kacau dan berantakan.


Dia mengabaikan semua panggilan dan chat, lalu menelpon Riri.


"📱"Iya, Pak." Jawab Riri singkat dengan suara pelan. Dia sedang bersedih karena saat Parry hendak masuk keruangannya tidak menjawab sapaan atau melihatnya. Sedangkan dia sudah sangat tegang mencarinya dari pagi untuk pergi rapat.

__ADS_1


Saat datang, Riri berusaha tenang dan menyapanya dengan sopan dan riang. Tetapi Parry memgabaikannya, bahkan melihatnya juga tidak. Sehingga keluar putri seorang Piltharen yang tidak biasa diperlakukan demikian.


Kakaknya tidak pernah mengabaikannya. Walaupun kakaknya sedang lelah, akan mengatakan. 'Sebentar ya, De'. Mas istirahat dulu.' Jadi ketika Parry tidak menanggapi sapaannya, Riri duduk terdiam dengan hati sedih.


📱"Ke ruanganku." Parry mengatakan dengan singkat, saat Riri merespon panggilannya. Tidak lama kemudian ada bunyi ketukan di pintu dan Parry mempersilahkan masuk.


Saat Riri telah berada di ruangannya, Parry terkejut melihat tidak ada senyum di wajah Riri seperti biasanya. "Ada apa dengan wajahmu, Alle? Kenapa hujannya di luar, tetapi mendungnya di sini?" Tanya Parry, melihat Riri tetap diam menunduk.


"Alle, aku sedang bertanya padamu. Apakah mulutmu tidak kau bawa?" Kembali Parry bertanya dan sudah mulai kesal melihat diamnya Riri.


"Ooh, bapak bisa melihat saya? Saya kira tadi saya abstrak, jadi bapak tidak bisa melihat saya." Riri berkata dengan berani, dan mata mulai berembun. Dia sudah tidak memikirkan sedang berbicara dengan pimpinannya.


"Apa maksudmu, Alle?" Tanya Parry mulai pelan, karena melihat ujung hidung Riri sudah mulai memerah.


"Tadi bapak masuk, saya sudah menyapa. Tetapi bapak tidak menanggapi, seakan-akan saya tidak ada. Padahal dari pagi kami sangat panik dan cemas, tidak bisa menghubungi bapak." Riri menumpahkan semua yang dirasakan sejak pagi.


"Ooh, iya maaf. Tadi saya lagi tidak bisa berkonsentrasi. Jangan kau pindahkan hujan di luar ke ruanganku. Ambil ini..." Ucap Parry, sambil mengambil permen caramel berbentuk lolipop yang ada di laci meja dan memberikannya kepada Riri untuk menenangkannya.


"Emang bapak pikir saya anak kecil?" Riri berkata seperti itu, tetapi berjalan mendekati meja Parry dan mengambil permen dari tangan Parry. "Terima kasih, Pak." Ucapnya lagi, lalu berjalan keluar meninggalkan Parry yang terbengong dengan sikap Riri yang baru pernah dilihatnya.


Parry sampai lupa meminta Riri menyiapkan minuman untuknya, karena sikap Riri yang tidak seperti biasanya. Dia bukan wanita yang cerdas dan cekatan seperti selama ini, tetapi seorang yang manja dan menggemaskan.


Tidak betapa lama kemudian, pintunya kembali diketuk dan Parry mempersilahkan masuk. "Pak, boleh saya minta permennya lagi? Yang ini sudah mau habis, tapi sedihku masih ada." Ucap Riri dengan santai, seakan dia tidak sedang berbicara dengan pimpinannya.


"Astaga, Alle. Ini, cukup satu saja lagi. Nanti kelamaan wajahmu ditekuk dan tidak enak dilihat." Ucap Parry, lalu mengeluarkan kaleng permen dari lacinya.


"Dua saja lagi, Pak. Karena sedihku agak lama. Nanti saya bolak balik ke ruangan bapak." Ucap Riri, lalu mendekati meja Parry dan hendak mengambil dua buah permen.

__ADS_1


"Sudah, kau bawa saja dengan kaleng-kalengnya." Parry menyodorkan kalengnya ke arah Riri sambil menggelengkan kepalanya.


"Terima kasih, Pak." Dengan santainya Riri mengambil kaleng dari tangan Parry dan memeluknya lalu berjalan keluar ruangan.


Melihat sikap dan tingka Riri seperti anak-anak yang baru bisa dibujuk, Parry menggelengkan kepala lalu tersenyum. "Alle, kau lupakan sesuatu untukku?" Tanya Parry, saat melihat Riri sudah mau membuka pintu ruangannya.


"Saya lupa apa, Pak? Saya tadi sudah bilang terima kasih." Ucap Riri yang telah berbalik sambil berpikir.


"Kau tidak menyediakan minuman untukku?" Tanya Parry, melihat Riri sedang berpikir.


"Oooh, sudah Pak. Ada di tempat saya. Nanti saya ambilkan." Ucap Riri, lalu menepuk dahinya pelan.


"Kau belum meminumnya, bukan?" Tanya Parry curiga.


"Tadi hampir saya minum, Pak. Karena bapak tidak datang, mubazir kalau sampai dibuang." Riri sudah melupakan rasa sedihnya.


"Bawa kemari dan juga tolong cari sesuatu untuk dimakan. Saya belum sempat sarapan, jadi tolomg cepat, ya." Parry sudah bisa lebih santai, demikian juga dengan Riri kembali bersikap seperti seorang sekretaris.


"Baik, Pak. Segera." Riri lalu berjalan keluar dengsn cepat sambil memeluk kaleng permen. Dia meletakan kalengnya di atas meja dan mengambil minuman yang telah dibuat untuk Parry. Dia bersyukur, tadi membawa sandwich lebih, sehingga masih ada setelah dimakan. Dia membawa lebih untuk makan siangnya, karena dia tahu Parry ada rapat. Dia tidak akan bisa keluar dari tempat kerjanya untuk istirahat siang.


Setelah semua ditata di dalam piring, Riri membawanya ke ruangan Parry. "Kau dapat sandwich dari mana?" Tanya Parry, heran melihat Riri bisa mendapatkan sandwich dengan cepat.


"Tenang saja, Pak. Bapak makan ini, aman dan enak." Riri mengatakan lalu memberikan isyarat lezat dengan jari ke bibirnya. Parry mengambil dan menggigitnya, lalu mengangguk. Mengakui yang dikatakan Riri.


Riri segera keluar ruangan Parry dan kembali dengan air mineral di tangan dan kaleng permen di pelukannya. "Ini, Pak. Minum ini saja, karena perut bapak masih kosong. Jangan minum minuman instan itu dulu." Riri menyingkirkan cangkir minum Parry dan meletakan air mineral di dekat piring Parry.


"Dan ini saya kembalikan kaleng permen bapak. Saya sudah tidak memerlukannya lagi." Ucap Riri, sambil meletakan kaleng permen di atas meja, lalu berjalan keluar ruangan Parry dengan hati lega. Parry terkesima dengan apa yang dilakukan Riri.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2