Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Pemberian Tak Terduga.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat bagi mereka yang sibuk dan kreatif. Hal itu terjadi bagi Carren dan rekan kerjanya. Mereka telah selesai dekor di acara Ijab Kabul tetangga Akri, begitu juga beberapa permintaan mendadak untuk dekor Gereja untuk acara pemberkatan.


Sekarang mereka sedang mempersiapkan perlengkapan dekor untuk acara resepsi di gedung Hirakku. Hal itu membuat Carren bekerja dengan serius, karena bukan hanya dekor gedung yang di urus, tetapi juga catering. Membuat mereka berempat harus belajar membagi perhatian.


Hari ini mereka berempat sedang libur, karena akhir pekan. Mereka mempergunakan waktu untuk istirahat sejenak. Tetapi tidak bagi Carren, dia tetap membantu Mamanya yang sedang mendapat orderan jahitan yang lumayan banyak.


Carren membantu juga menyiapkan makan siang bagi mereka berdua. Setelah selesai memasak, Carren mengambil laptop dan mulai mendesain kasar ruangan yang akan didekorasi jika tiba-tiba diperlukan. Dia tidak membuang waktu dengan percuma, ada saja yang dikerjakan.


Di sela-sela kesibukannya di depan laptop, ponselnya bergetar. Ketika melihat nomor tidak dikenal menghubunginya, alis Carren bertaut. Mengingat pekerjaannya sekarang, Carren segera menanggapinya.


📱"Alloo, Carren. Ini dengan Maxi. Apa kabarmu dan Tante Nancy?" Tanya Maxi, saat Carren merespon panggilannya.


📱"Ooh. Alloo, Kak Maxi. Carren dan Mama baik-baik saja, Kak. Apa kabar Kak Maxi dan keluarga juga?" Jawab Carren saat mengetahui Maxi yang menghubunginya.


📱"Kami juga baik-baik Carren. Apakah kau sibuk siang ini?" Tanya Maxi lagi.


📱"Ngga, Kak Maxi. Hari ini hanya kerja kecil-kecil di rumah dan bantu Mama." Jawab Carren. Dia mengingat apa yang pernah dikatakan Ichad, bahwa Maxi akan menghubunginya untuk berbicara.


📱"Kalau begitu, kita bisa bertemu siang ini? Aku mau mengajakmu dan Tante makan siang." Karena kesibukan Maxi, sekian lama belum bisa bertemu dengan Carren dan Bu Nancy.


📱"Bisa, Kak Maxi. Kakak bilang tempatnya, nanti Carren dan Mama ke sana menemui Kakak." Ucap Carren senang, bisa bertemu lagi dengan keluarga Bu Florens.

__ADS_1


📱"Baik, nanti aku share loc. Sampai bertemu di sana sebelum waktu makan siang, ya." Kemudian Maxi mengakhiri pembicaraan mereka setelah Carren membalas mengiyakannya.


Carren segera keluar kamar untuk berbicara dengan Mamanya yang sedang sibuk menjahit. "Ma, barusan Kak Maxi menelpon, mau ajak kita makan siang. Mungkin seperti yang dikatakan Kak Ichad, Kak Maxi mau berbicara dengan kita." Carren berkata sambil berdiri di samping Mamanya.


"Mungkin. Kalau begitu, kita siap-siap karena ini sudah hampir jam sebelas. Arra mandi, biar Mama yang masukan ke kulkas semua masakan yang telah dimasak." Bu Nancy meletakan jahitannya di atas mesin dan berdiri menuju dapur.


Carren mengangguk mengerti dan segera mengambil handuk untuk mandi. Walaupun sudah mandi pagi, dia harus mandi lagi karena baru selesai memasak. Begitupun dengan Bu Nancy, segera mandi setelah Carren keluar dari kamar mandi.


.***.


Sebelum waktu makan siang, Carren dan Bu Nancy telah tiba di restoran yang dimaksudkan oleh Maxi sebagai tempat pertemuan mereka. Ketika masuk restoran, mereka merasa lega karena Maxi telah datang dan menunggu mereka.


Setelah bersalaman dan saling menanyakan kabar, Maxi memberikan isyarat kepada pelayan restoran untuk membawa menu yang telah dipesannya. "Tante Nancy, kita makan dulu sebelum berbicara, ya. Biar kalau sudah asyik berbicara, kita ngga terlambat makan siang." Maxi berkata, lalu mempersilahkan pelayan melayani mereka. Bu Nancy dan Carren hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, Maxi. Ichad sudah menceritakan kepada kami tentang yang dilakukan Sisil. Kami sangat sedih mendengarnya. Tetapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Kami kecewa dan sedih, setiap kali mengingat itu." Bu Nancy yang berbicara, Carren hanya diam mendengar dan menunduk. Mereka memang sedih mengingat semua yang dikerjakan bersama Almh rusak dalam waktu yang sikat.


"Iya, Tante. Kami sekeluarga juga terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Oleh sebab itu, siang ini aku mengajak Tante dan Carren berbicara. Di dalam keluarga kami tidak ada yang bisa meneruskan usaha Mama. Mungkin kami kurang rasa seni dan kreatif seperti Mama." Maxi menyampaikan maksudnya.


"Jadi saat ini, Maxi minta Tante dan Carren meneruskannya. Semua perlengkapan dekor Mama, kami serahkan kepada Carren dan Tante. Begitu juga dengan ruko tempat Mama menyimpan perlengkapannya." Maxi berbicara dengan serius.


"Sebentar, Kak Maxi. Kami belum punya uang yang cukup untuk menyewa itu semua, terutama rukonya." Carren langsung memotong pembicaraan Maxi, karena dia tahu kemampuan keuangannya. Jadi percuma kalau mau mereka yang lanjutkan.


"Aku tahu Carren. Makanya tadi aku katakan, akan menyerahkan kepada Tante dan Carren. Tetapi dengan beberapa persyaratan. Aku berharap Carren bisa menerimanya, agar semua yang dilakukan Mama semasa hidupnya tetap berguna bagi orang lain."

__ADS_1


"Begini, ruko dan semua perlengkapan di dalamnya, aku percayakan kepada Carren yang mengelolahnya. Tidak usah berpikir untuk membayar kepada kami. Selama satu tahun, Tante dan Carren silahkan pergunakan itu secara grstis. Nanti setelah satu tahun, baru Carren bayar sewa atau membelinya, silahkan." Maxi berbicara serius.


Kedua mobil Mama yang sering dipakai untuk dekor, silahkan dipakai oleh Carren untuk melakukan pekerjaan itu. Yang perlu Carren lakukan dengan kedua mobil itu, servis dan bayar pajaknya. Setelah satu tahun, akan kita bicarakan lagi." Carren dan Bu Nancy melihat Maxi dengan tertegun, seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Aku yang kurang peka dan tidak gigih melawan Papa saat mau menyerahkan usaha itu kepada Sisil. Seharusnya aku sudah tahu kepada siapa usaha itu akan diserahkan saat Mama menyerahkan ponselnya untuk Carren." Maxi berbicara dengan wajah menyesal.


"Jadi Carren dan Tante Nancy tolong terima ini, demi segala hal baik yang pernah dilakukan Tante dan Mama. Ini juga kartu ATM Mama, Carren pakai ini sebagai tambahan modal. Jangan pikirkan pengembaliannya. Nanti satu tahun kemudian Carren mau lunasin atau cicil, silahkan." Carren tidak bisa berkata-kata, tidak terasa airmatanya mengalir. Begitupun dengan Bu Nancy yang hanya bisa memegang dadanya.


"Ada persyaratan tambahan, Carren tolong ajak kelima karyawan yang bekerja bersama Mama di akhir usianya. Biarkan mereka bekerja denganmu juga bersama Ichad, Akri dan Rosna." Mendengar itu, Carren hanya bisa mengganggukan kepalanya.


"Ini aku sudah buat surat perjanjiannya, tolong Carren baca dan tanda tangan di atas materai. Karena kita manusia, jangan sampai terjadi sesuatu dikemudian hari sehingga merusak hubungan baik diantara keluarga kita." Maxi mengeluarkan bundelan kertas dari dalam tas, lalu menyerahkan kepada Carren. Dibuatnya rangkap satu untuk disimpan mereka masing-masing.


"Aku lakukan ini, karena bulan depan akan menikah. Jangan sampai calon istriku yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi di antara Mama, Tante dan Carren, menjadikan ini masalah. Dan aku mau supaya Carren bisa bekerja mengembangkan usaha ini dengan tenang bersama yang lain." Maxi menjelaskan tentang semua yang dilakukan dan direncanakannya.


Carren membaca dan menanda tangani surat perjanjiannya. Semua poin yang dicantumkan Maxi menguntungkannya untuk memulai usaha yang lebih luas jangkauannya.


"Ini kunci mobil dan pik up, juga kunci ruko. Ini nomor telpon kelima karyawan yang lain itu. Nanti ajak mereka semua ke ruko untuk membersihkan dan merapikannya. Aku belum sempat memeriksanya setelah ditinggal Sisil." Ucap Maxi, lalu memberikan kantong berisi kunci-kunci tersebut.


"Ini ATM dan buku tabungan Mama, password dan saldo terakhir setelah diambil oleh Sisil. Nanti Carren cek lagi semuanya. Mau dipindahkan ke rekening Carren, silahkan." Maxi memberikan amplop coklat kecil kepada Carren. Carren hanya bisa menerimanya dengan deraian air mata. Begitu juga dengan Bu Nancy, yang sudah menangis sesenggukan dengan hati bersyukur tiada henti.


Sambil memegang dadanya untuk meredam rasa haru dan derain air mata, Carren berucap dalam hatinya. 'Ya, Tuhan. Terima kasih untuk kebaikan-Mu yang tidak bisa kuselami ini.'


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡

__ADS_1


__ADS_2