Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Percaya.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Carren melihat Aaric dengan bingung  karena tidak mengerti maksudnya. Dia mau pakai sepatu, karena tidak mungkin berjalan kembali ke hotelnya dengan tidak memakai sepatu di kaki sebelahnya. Aaric sedang menunggu Carren mengambil kartu akses ke kamarnya.


"Kak Aaric, tidak usah mengantarku. Kakak bisa bantu memanggil taksi untuk aku kembali ke hotel?" Tanya Carren, sambil memandang Aaric. Mendengar yang dikatakan Carren, alis Aaric bertaut. Dia berpikir, Carren tinggal di resort sama dengan dirinya. Dia tidak berpikir, Carren hanya pengunjung di resort.


"Arra tidak tinggal di sini?" Tanya Aaric yang mulai mengerti yang dikatakan Carren. "Tidak, Kak. Arra ke sini hanya untuk bekerja. Arra tinggal di hotel Nusa dua." Ucap Carren, sambil menyebut salah satu hotel di Nusa Dua kepada Aaric. Aaric menatapnya dengan terkesima lalu berpikir cepat.


"Kalau begitu, kau tinggal di sini. Berikan kartu akses kamar hotelmu padaku. Nanti ada yang pergi ambil kopermu untuk dibawa ke sini." Ucap Aaric serius. Dia tidak menyangka Carren tidak tinggal di resort. Carren melihat Aaric dengan wajah bingung. Dia masih ingin tinggal bersama Aaric, tapi dia merasa tidak pantas untuk bermalam berdua di kamar bersama seorang pria yang belum resmi dalam suatu ikatan pernikahan.


Walaupun Aaric telah melamarnya, dia tetap merasa tidak nyaman bersama seorang pria yang belum terikat dengannya. 'Mama akan pingsan jika mengetahuinya.' Carren teringat kepada Mamanya. Melihat keraguan Carren, Aaric mengerti. Dia memegang kedua pipi Carren dengan kedua tangannya agar Carren fokus melihatnya.


"Arraa... Walaupun aku sudah melamarmu, aku tahu batasannya. Kau tidak usah khawatir untuk tidur di sini. Aku bisa saja pesan kamar yang lain untukmu. Tetapi sekarang semua kamar sedang penuh. Kau akan tinggal berapa lama di sini?" Tanya Aaric serius, karena kondisi yang tidak sesuai dengan yang dipikirkannya. Aaric berkata demikian, karena kemarin untuk tinggal di resort dia harus menggunakan jalur khusus.


Carren memandang Aaric dengan terkejut, karena dia belum memutuskan akan tinggal berapa lama di Bali. Melihat tatapan Carren, Aaric melepaskan tangannya dari kedua pipi Carren. "Sebenarnya, aku belum putuskan untuk berapa lama di sini, Kak. Mungkin dua hari lagi, karena tadi belum selesai bekerja." Carren berpikir cepat, melihat Aaric sedang menanti jawabannya.

__ADS_1


"Baik. Mana kartu akses kamar hotelmu?" Aaric berkata sambil nengulurkan tangannya. Carren segera mengambil kartu akses dari dalam kantong tas yang dibawanya. Dia memberikan kepada Aaric dengan ragu-ragu mengingat kondisi kamar hotelnya yang berantakan.


Aaric mengambil kartu akses kamar hotel Carren, lalu telpon anggota keamannan untuk datang ke kamarnya. Ketika anggota keamanan mengetok pintu, Aaric membuka pintu. "Arra, aku keluar sebentar." Ucap Aaric, mengambil kartu akses kamarnya lalu keluar. Dia berjalan keluar resort kearah tempat parkir sambil berbicara dengan anggota keamanannya. Dia memberikan instruksi untuk pergi ke hotel tempat tinggal Carren sekalian check out dari hotel tersebut.


Beberapa waktu kemudian, anggota keamanan telah kembali dengan koper dan semua bawaan Carren. Aaric membawa koper tersebut ke kamar. "Arra, ini kopermu. Nanti besok baru diperiksa. Kalau sekarang mau bersihkan badanmu, silahkan. Tapi jaga jangan sampai kaki yang sakit basah." Ucap Aaric. Carren mengagguk mengerti, dan perlahan turun dari tempat tidur.


"Kalau mau mandi, hati-hati dan tidak usah buru-buru. Aku mau keluar dan membawa kartu akses." Ucap Aaric. "Iya, Kak." Ucap Carren mengerti. Aaric keluar meninggalkan Carren yang sedang mengambil baju ganti untuk mandi.


Sementara Carren mandi, Aaric mememui manager resort. Dia hendak memperpanjang kamar yang ditinggalnya untuk tempat tinggal Carren. Jadi dia berbicara secara pribadi dengan manager resort.


Setelah kembali ke kamar, Carren sudah selesai mandi dan duduk di tempat tidur. Aaric merasa lega saat melihat Carren lebih segar. "Kakimu basah?" Tanya Aaric saat melihat Carren sedang mengeringkan perbeban di kakinya.


"Sekarang kau istirahat dulu. Aku mau mandi, nanti kita akan bicara setelah aku selesai mandi." Ucap Aaric, lalu membuka lemari pakaian untuk mengambil baju gantinya. Carren hanya bisa mengangguk mendengar apa yang dikatakan Aaric.


Dia seakan-akan tidak percaya akan bermalam dengan seorang pria dalam satu kamar. Sambil memikirkan itu, Carren berbaring dan menyelimuti tubuhnya. Dia hanya bisa berdoa dalam hati, karena ada bagian dalam hatinya yang merasa nyaman berada di dekat Aaric, walau belum terlalu mengenalnya.

__ADS_1


Setelah Aaric selesai mandi dan merapikan pakiannya, pintu kamar tiba-tiba di ketuk. Aaric melihat siapa yang datang, lalu membuka pintu untuknya. Ternyata pelayan resort membawa dua bad cover dan bantal. Aaric memintanya untuk meletakan semua yang dibawa di atas sofa yang ada dalam kamar tersebut.


"Arra, kita bisa bicara sebentar?" Tanya Aaric, melihat Carren telah duduk bersandar di tempat tidur saat pelayan masuk ke dalam kamar. Dia merasa tidak enak hati dan malu, ada orang yang datang dan melihatnya sekamar dengan seorang pria. Walaupun Carren tidak mengenalnya dan sebaliknya, dia tetap menunduk saat pelayan masih berada dalam kamar.


"Iyaa... Bisa, Kak." Jawab Carren lalu menegakan punggungnya.


"Mari, duduk di sini. Agar bisa berbicara lebih baik." Ucap Aaric, sambil menunjuk sofa yang didudukinya. Carren mengangguk mengerti, lalu menyibakan selimut yang menutupi kakinya. Melihat Carren turun dan berjalan agak pincang, Aaric berdiri dan memegang lengannya. Dia membantu Carren berjalan ke sofa yang akan diduduki mereka.


"Arra, kita perlu bicara beberapa hal, agar kau bisa tidur nyenyak malam ini." Ucap Aaric setelah Carren duduk di sofa. Dia memindahkan bad cover dan bantal ke atas tempat tidur, agar mereka bisa duduk dengan nyaman di sofa saat berbicara.


"Aku akan tidur di sofa malam ini, agar kau bisa tidur dengan tenang di sana." Ucap Aaric sambil menunjuk tempat tidur. Carren menatapnya dengan rasa bersalah, telah membuat Aaric tidur di sofa yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang tinggi.


"Jangan melihatku dengan wajah seperti itu. Ini kita berada dalam keadaan darurat dan hanya ini solusinya. Sekarang kau jawab dengan jujur, sebelum aku berbicara selanjutnya." Aaric berbicara dengan nada serius, sambil menatap mata Carren.


Iya, Kak." Jawab Carren pelan, karena tahu Aaric sedang serius. Dia memang mengakui dan menyetujui dalam hati, solusi yang dikatakan Aaric.

__ADS_1


"Kau percaya padaku? Aku bertanya begini karena tau, selain aku belum mengenalmu dengan baik, mungkin kau juga belum mengenalmu dengan baik. Kita baru bertemu empat kali dan ini pertemuan yang paling lama. Jadi tolong jawab aku dengan jujur. Kau percaya padaku?" Aaric kembali mengulang pertanyaan yang sama.


~●○♡○●~


__ADS_2