
...~•Happy Reading•~...
Di sisi yang lain ; Riri telah bangun tidur dengan hati yang senang. Hari ini dia libur bekerja, sehingga dia bangun agak santai dan lebih siang dari biasanya. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia turun untuk sarapan. Kedua orang tuanya masih duduk di meja makan, walau sudah selesai sarapan.
"Pagi, Ayah, Ibu, Mas Leooon..." Sapa Riri dengan hati yang riang melihat wajah kedua orang tuanya dan juga kakak yang sangat dirindukannya. "Pagiii..." Kedua orang tuanya balas menyapa dan juga kakaknya bersaman.
"Katanya, nanti siang baru tiba. Riri sudah siap-siap mau pergi jemput, Mas Leon. Kalau tau begitu, Riri bangun lebih siang saja." Ucap Riri dengan wajah yang ditekuk.
"Ayoo, sarapan. Mas kangen rumah, jadi selesai pertemuan langsung kembali. Untuk apa lama-lama di sana, toh, pernah tinggal lama di sana." Leon menjelaskan alasannya, kenapa pagi-pagi sudah ada di rumah. Riri duduk sarapan di samping kakaknya dengan hati riang.
"Ooh, iya Ayah. Aku mau tanya, apakah ada terjadi sesuatu di pesta pernikahan tadi malam?" Leon bertanya kepada Pak Piltharen dengan wajah serius. Pak Piltharen langsung menatapnya, tidak mengerti.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" Pak Piltharen balik bertanya, karena terkejut mendengar pertanyaan Leon.
"Ngga, Ayah. Hanya perkiraanku saja ada berhubungan dengan pernikahan tadi malam. Tadi saat melihat penurunan harga saham Biantra dan Tarikalla pagi ini, aku jadi berpikir ke arah itu. Turunnya lumayan signifikan, semoga tidak mengkhawatirkan.
"Benarkah demikian?" Tanya Pak Piltharen makin terkejut mendengar yang dikatakan Leon.
"Benar, Ayah. Aku tadi melihatnya saat dalam perjalanan dari bandara. Ayah bisa melihatnya sendiri." Leon menyerahkan ipad nya kepada Pak Piltharen.
"Iya, benar yang kau katakan. Ada apa, yaa... Kenapa tiba-tiba bisa turun seperti ini? Ibu, apa kau mendengar sesuatu?" Pak Piltharen menanyakan istrinya. Karena menurut beliau, perguncingan itu bisa tersebar lebih cepat di kalangan para wanita.
"Ibu kurang tau, karena kita pulang lebih cepat. Tapi memang ada perbincangan yang simpang siur. Ada terjadi sesuatu di pesta pernikahan tadi malam." Ucap Bu Linna mengingat chat yang masuk kepadanya pagi ini.
"Riri, tadi malam kau pulang jam berapa? Apakah kalian pulang setelah selesai acara resepsi?" Tanya Bu Linna, jadi penasaran dengan pemberitaan yang didengar pagi ini tentang pernikahan Recky dan Liana.
"Ngga sampai selesai banget, Bu. Ada sedikit masalah yang membuat keluarga pengantin agak panik. Jadi Riri langsung pulang, karena tidak enak melihatnya." Jawab Riri pelan, sambil mengingat kondisi akhir acara resepsi pernikahan Recky dan Liana.
__ADS_1
"Oooh, jadi yang sedang dibicarakan itu benar adanya? Tadi malam ada sedikit kekacauan di pesta penikahan Recky dan Liana?" Tanya Bu Linna lagi, sedangkan Pak Piltharen dan Leon menyimak, sambil menyeruput minuman mereka.
"Kalau kekacauan, Riri ngga tahu. Tapi ada terjadi kepanikan, iya benar. Karena tadi malam Recky tidak kembali ke ruang resepsi setelah keluar dari ballroom. Riri ngga tau, Recky ke mana, tapi Liana terlihat sedih dan tertekan setelah Recky lama pergi dan tidak kembali." Riri coba menceritakan yang diketahuinya.
"Sebenarnya, Ibu sudah curiga saat melihat mereka masuk ke ruang resepsi. Walaupun Recky berusaha tersenyum, tetapi dia tidak bisa menghilangkan rasa tidak happynya. Apalagi saat bersalaman, dia tidak mengucapkan apapun ketika orang memberikan ucapan selamat kepadanya. Dia hanya mengangguk hormat kepada kami, tanpa menyalami. Padahal kalau dia mau, bisa menerima salaman kami dengan tangan kirinya." Bu Linna menceritakan kecurigaan yang dirasakan saat mengucapkan selamat kepada pengantin.
"Ibu lihat sikap Recky terhadap Liana itu, seperti apa yaaa... Benci, mungkin tidak. Tapi apa ya, Ayah?" Tanya Bu Linna kepada suaminya. "Jijik..." Jawab Pak Piltharen singkat, mengenai rasa yang dirasakan Recky terhadap Liana. Pak Piltharen bisa merasakan itu dari sikap Recky.
"Iyaa. Dia sepertinya tidak mau bersentuhan dengan Liana. Itu bisa dilihat saat mereka masuk ruangan, sangat janggal dan aneh, menurut Ibu. Padahal ini yang belum menikah saja, menempel seperti prangko." Ucap Bu Linna, sambil menunjuk Riri dengan wajahnya.
"Siapa yang seperti prangko, Bu? Ririalle?" Tanya Leon lalu melihat Bu Linna dan Riri bergantian.
"Kau sudah tau, tapi pura-pura berlagak tidak tau." Ucap Bu Linna, dengan wajah serius.
"Benar, Bu. Aku ngga tau, soal prangko dan amplop. Apakah tadi malam ada yang bawa gandengan?" Tanya Leon sambil melihat wajah Riri dengan serius. Dia jadi teringat, Riri tadi malam pinjam mobilnya untuk ke acara pesta pernikahan. Riri langsung mengangkat dua jarinya, sebagai isyarat peace.
"Benar ngga tau, Bu. Waaah, berarti tadi malam ada yang dibombardir, dong." Leon berkata dengan wajah tersenyum, mengingat sifat Ibunya.
"Kalau Ayah ngga cegah, adikmu sudah berantakan di lantai karena malu dibombardir Ibumu di depan gebetannya." Ucap Pak Piltharen dengan wajah tersenyum mengingat ucapan Riri, Parry adalah gebetannya.
"Bagaimana ngga emosi, selama ini ngga ada signal dia sudah punya pacar. Tiba-tiba datang bawa gandengan sambil pegangan tangan. Apalagi tidak menjawab pertanyaan Ibu, malah berbisik-bisik di depan kami." Bu Linna mengeluarkan yang dirasakannya malam itu.
"Waaah, siapa dia yang telah menjinakan Bu Linna?" Tanya Leon penasaran, karena pagi ini Ibunya bisa dengan santai membicarakan gandengan Riri.
"Kau mengenalnya. Dia Direktur pengembangan Hutama." Jawab Pak Piltharen, karena Leon pernah bertemu dengan Parry beberapa kali.
"Waaah... Ternyata dia yang membuatmu lupa dengan niatmu. Aku jadi penasaran dengan pertemuanmu dengan Bu Linna. Pasti jantungmu bukan berajojing ria lagi." Ucap Leon membayangkan pertemuan Riri dengan orang tuanya dan dia tidak bersamanya.
__ADS_1
"Ngga bisa dibayangkan, Mas. Saat masuk dan melihat Ayah dan tatapan Ibu kepada kami. Tanpa sadar, Riri bilang padanya. Kau harus menolongku, karena Masku ngga ada. Dia baru bertanya mau tolong apa? Ibu sudah membordirku dengan berbagai pertanyaan."
"Mungkin karena bingung, dia berbisik menanyakan ini siapa. Saat Riri bilang orang tuaku, dia makin terkejut. Karena dia mengenal Ayah."
"Astagaaa, jantungnya pasti disko. Lalu bagaimana kalian bisa lolos dari semua bom Bu Linna?" Tanya Leon penasaran.
"Untung orang tuanya datang, jadi kami bisa menyikir dari arena perang. Hehehe..." Ucap Riri, sambil tertawa mengingat mereka disuruh pindah.
"Orang tuanya ada datang di pesta juga?" Tanya Leon belum mengerti.
"Iyaa. Dia putra Pak Hutama." Jawab Pak Piltharen singkat.
"Jadi Direktur pengembangan itu, putra Pak Hutama? Pantesan Bu Linna merasa putrinya aman terkendali." Leon berkata dengan wajah tersenyum dan juga lega. Sedikit banyak, saat ini adiknya berada dalam lingkungan orang yang dikenalnya. Untuk yang selanjutnya, hanya Tuhan yang tahu dan mengaturnya.
"Ibu bukan tenang karena dia putra dari keluarga Hutama saja. Tetapi sikapnya yang hampir menyerupai putraku, itu lebih melegakan hatiku." Bu Linna memberikan penilainnya terhadap Parry.
"Eeeh, apa maksud Bu Linna? Emang Bu Linna ada berapa orang putra? Jangan membawa-bawaku dalam gandengannya?" Leon protes.
"Saat melihat dia tidak melepaskan tangan Riri saat Ibu memarahinya, Ibu jadi teringat putra Ibu yang tidak ada tadi malam. Hanya dia lebih tenang, tidak seperti putraku." Lanjut Bu Linna tanpa menghiraukan protes Leon.
"Mungkin masih baru mengenal kami, dia membela Riri dengan caranya yang diam, tanpa melepaskan tangannya. Walau dia sendiri sedang bingung mau bersikap bagaimana, karena ada Ayah. Kalau putraku, pasti sudah mengirim rudal ke arahku." Bu Linna berkata, lalu tersenyum sendiri dengan ucapannya.
"Wuuuuaaah... Sekarang Bu Linna sudah mulai membanding-bandingkan, ya. Selamat menemukan yang tenang, aku mau tidur agar bisa membuat rudal yang lebih canggih." Leon berkata, sambil menggerakan kedua tangannya.
"Ririalle. Cepat atur waktu, agar aku bisa bertemu dengan kembaranku itu." Ucap Leon, lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Melihat sikap Leon, Riri dan kedua orang tuanya tertawa.
...~●○♡○●~...
__ADS_1