
~โขHappy Readingโข~
Jekob kembali ke kamar, bossnya sedang memeriksa tempat infusnya. "Jekob, ini sudah jam berapa?" Tanya Aaric lalu merebahkan tubuhnya kembali ke tempat tidur dan menarik badcover/selimutnya. Melihat itu, Jekob segera membantu merapikan selimut untuk menutupi tubuh bossnya.
"Sudah mau Subuh, Pak. Bapak istirahat dulu, sampai sebangunnya saja. Tidak usah pikirkan yang lain, nanti besok baru kita bicara." Ucap Jekob mengingatkan.
"Baik, kau tidur di situ saja. Ambil selimut di lemari untukmu." Ucap Aaric, agar Jekob tidur di sofa panjang yang ada di kamarnya. Dia ingin ditemani setelah melewati fase yang mengkhawatirkannya. Jekob mengerti yang dimaksudkan oleh bossnya, lalu berdiri ke lemari bossnya untuk mengambil selimut.
Dia membuka semua lemari untuk mencari selimut, sambil berharap, bossnya tidak meminta ponselnya. Karena akan melihat misscall dari adiknya. Jekob tidak mau membicarakannya sekarang, karena kondisi bossnya belum stabil.
Dia berharap bossnya istirahat dulu, besok pagi baru dibicarakan tentang Recky. Biar bagaimanapun semua hal yang menyangkut Recky tetap mengganggu bossnya, sehingga pasti akan dibereskan. Oleh sebab itu, Jekob berharap mereka membicarakan Recky saat kondisi bossnya sudah stabil.
Setelah menemukan selimut, Jekob letakan di sofa. "Jekob, ambil bantal ini supaya bisa tidur dengam nyaman." Ucap Aaric, sambil memberikan salah satu bantalnya.
"Tidak usah, Pak. Saya akan mengambil bantal yang dikamar tamu." Ucap Jekob lalu berjalan keluar menuju kamar tamu untuk mengambil bantal dan guling untuknya.
Setelah kembali, dia sedikit lega karena melihat bossnya sudah tertidur. Dia berdoa bersyukur lalu merebakan dirinya di sofa untuk ikut tidur juga, karena selain ngantuk juga lelah.
.***.
Keesokan harinya, Jekob dibangunkan karena rasa lapar. Ketika melihat ke tempat tidur, dia melihat bossnya masih tidur nyenyak. Dia bangun dengan perlahan, lalu merapikan selimut dan bantalnya, lalu dikembalikan ke kamar tamu. Setelah bersihin wajah dan sikat gigi, dia menuju dapur untuk melihat apa yang bisa dijadikan sarapan.
__ADS_1
Ketika melihat ada roti, dia meletakan di atas meja makan dan mencari perangkat pendukung sebelum bossnya bangun. Kemudian dia memanaskan air, agar bisa buat minuman panas untuk mereka berdua. Setelah itu, dia membuat roti bakar kesukaan bossnya.
Tidak lama kemudian, Aaric bangun dan berjalan pelan ke ruang makan. Wajahnya masih kuyu, wajah baru bangun tidur, belum cuci muka apalagi mandi. "Tolong bakar rotinya agak lebih Jekob, aku sangat lapar. Jangan pakai peanut, tapi selai jeruk saja." Ucap Aaric, karena sakit kepalanya belum hilang sepenuhnya.
Sambil duduk di meja makan, Aaric mengambil roti yang sudah dibakar oleh Jekob, lalu memakannya perlahan. "Pak, tunggu sebentar, saya oleskan selainya." Ucap Jekob, melihat Aaric telah mengambil roti yang baru dipanggang dan dimakan tanpa apapun.
"Saya mencoba saja. Panggang saja dulu." Ucap Aaric, lalu mengambil air mineral untuknya.
"Jekob, hari ini kita tidak ke kantor. Kau bekerja dari sini saja. Tunda semua meeting yang sudah kau shcedule kan untuk beberapa hari ke depan. Saya belum bisa berkonsentrasi." Ucap Aaric setelah menyelesaikan sarapannya.
"Bicarakan dengan Sapta, agar orang-orang yang ditahan diberi makan dan pakaian. Biarkan mereka di sana sampai kita datang." Aaric mengingat anggota keamanan keluarga Mamanya yang di tahan di Sero.
"Ooh, iya Jekob. Ponsel saya kau letakan di mana?" Tanya Aaric setelah menyadari Ponselnya tidak ada bersamanya.
"Saya tidak letakan dimana-mana, Pak. Kalau bapak letakan di saku jacket, masih ada di sana. Oooh, iya Pak. Tadi malam tuan muda telpon. Tapi saya tidak mengatakan tentang kondisi bapak. Saya khawatir tuan muda akan terbang ke sini. Jadi nanti kalau bicara dengannya, katakan saja bapak tadi malam istirahat seperti yang saya katakan. Dan ...." Jekob menceritakan kronologisnya berbicara dengan Recky. Aaric mengangguk mengerti lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Setelah ditinggal bossnya, Jekob segera ke kamar tamu untuk mandi air hangat. Perubahan shcedule yang baru disampaikan bossnya membuat dia harus mengatur ulang dan bekerja keras. Ada banyak hal yang akan dikerjakan sebelum bossnya kembali fit.
Aaric yang sudah di kamarnya, segera mengambil jacket yang diletakan Jekob di atas kursi. Dia mengeluarkan ponsel pribadinya untuk melihat siapa saja yang menghubunginya. Ketika melihat adiknya telpon berulangkali, termasuk pagi ini, Aaric segera menghubungi Recky.
๐ฑ"Allooo, Kak. Kakak baru bangun?" Tanya Recky saat merespon panggilan Aaric. Dia sereta merespon, karena dia telah menunggu telpon dari kakaknya sepanjang pagi.
__ADS_1
๐ฑ"Iya, Recky. Ini aku baru bangun, lalu sarapan. Jadi baru lihat ponsel. Bagaimana?" Aaric mencoba bersikap biasa, karena dia menyadari adiknya sedang cemas.
๐ฑ"Ngga ada apa-apa, Kak. Hanya belum tenang, kalau belum bicara dengan kakak. Aku sudah telpon dari malam sampai pagi ini, kakak tidak respon. Aku ngga bisa kerja, Kak." Recky menyampaikan apa yang menjadi kecemasannya.
๐ฑ"Ooh, iya. Kemaren ada banyak hal yang terjadi. Banyak yang diurusin, jadi sangat lelah. Jadinya bangun siang hari ini, itu juga karena rasa lapar. Tadi lagi sarapan dan Jekob bilang tadi malam kau menghubunginya. Jadi aku ambil ponsel untuk melihat. Kalau ngga, masih duduk sarapan." Aaric menjelaskan.
๐ฑ"Ooh, iya Kak. Tadi malam, sebenarnya bukan malam lagi karena di sini sudah hampir pagi. Aku mimpi buruk tentang kakak, jadi terbangun dan menghubungi kakak. Kakak ngga respon, makin panik jadi telpon Pak Jekob." Recky mulai menceritakan, kenapa dia menghubungi Aaric dini hari.
๐ฑ"Ooh, itu mungkin hanya bunga tidur, atau kau mengingatku. Tidak usah pikirkan." Aaric mengalihkan Recky dari rasa khawatir akan dirinya. Karena dia sendiri tau apa yang terjadi tadi malam.
๐ฑ"Kalau bunga tidur, sepertinya tidak Kak. Itu seperti kejadian nyata yang kualami. Karena saat kaget bangun, aku berkeringat, sangat lelah dan suaraku serak." Recky merasa mimpinya bukan hanya bunga tidur, tetapi sangat nyata.
๐ฑ"Kau mimpi apa, sampai begitu?" Tanya Aaric, yang jadi penasaran ingin mendengar cerita Recky tentang mimpinya.
๐ฑ"Aku mimpi, melihat kakak berjalan sendiri ke tepi jurang dan kakak hampir jatuh. Aku berlari dan masih bisa memegang tangan kakak dan menariknya. Sambil menarik tangan kakak, aku berteriak minta tolong. Syukur ada Pak Jekob datang membantu dengan menarik badan kakak ke atas. Yang membuat aku teriak, kakak hanya diam tidak merespon kami. Aku berlari mencari apa saja untuk membangunkan kakak. Aku mematahkan ranting-ranting pohon untuk mengipasi kakak. Pak Jekob terus membangunkan kakak dengan memijit tangan dan kaki. Aku berteriak memanggil nama kakak, lalu terbangun." Recky memceritakan mimpinya. Aaric yang mendengar mimpi Recky, terdiam. Karena hal itulah yang dialaminya tadi malam.
๐ฑ"Semoga itu tidak terjadi. Tidak usah dipikirkan lagi mimpinya. Aku akan lebih berhati-hati, karena itu mungkin peringatan untukku." Ucap Aaric, setelah menarik nafas pajang dan pelan.
๐ฑ"Iyaa, Kak. Aku tidak pernah mimpi seperti itu, sebelumnya. Jadi Kakak harus berhati-hati, jangan sendiri lagi. Kalau sudah selesai di situ, kembalilah ke sini." Ucap Recky, karena dia sangat merindukan kakaknya.
๐ฑ"Bilang saja, kalau kangen." Ucapan Aaric, membuat mereka berdua tertawa.
__ADS_1