Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Surprise 3.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


'Pantas Kak Aaric tidak menceritakan kedatangannya yang mendadak ke Jakarta, karena permasalahannya begitu besar dan berat.' Carren membatin dan ingin sekali memeluk Aaric untuk menghiburnya.


Carren berdiri lalu berjalan kebelakang Aaric dan memeluknya dari belakang seperti yang sering dilakukan untuk Mamanya. Dia meletakan dagunya di bahu kanan Aaric. "Aku selalu ada untuk kakak. Selalu bersedia mendengar, jika kakak mau berbagi. Apa pun yang terjadi, aku selalu bersama kakak." Carren berkata pelan.


Aaric mengusap pelan, kepala Carren yang ada di bahunya dengan tangan kanannya sambil menempel pipinya ke pelipis Carren. Kemudian mengambil tangan Carren yang sedang memeluknya dengan tangan kirinya lalu mencium tangan Carren, dalam. Ucapan Carren mampu mengobati semua luka dan cemas yang dialami beberapa hari ini. Dengan hati lega, Aaric  melepaskan ciumannya dan mengucapkan 'thank you' sambil terus mengacak rambut Carren dengan sayang.


Carren kembali duduk di depan Aaric, saat pelayan membawa dessert mereka. Dia duduk dengan hati yang berat, mengingat apa yang dialami oleh Aaric, terutama dengan Mamanya. Pasti masalah yang berat, sehingga bisa ditahan di kantor Polisi.


Wajah Mama Aaric pertama kali bertemu dengannya kembali terbayang di matanya. 'Apakah mungkin orang yang berpenampilan seperti itu melakukan sesuatu yang jahat?' Tanya Carren dalam hati. Tapi mengingat ucapan dan sorot matanya saat memperingatinya, Carren sadar. 'Mungkin saja Mamanya bisa melakukan sesuatu yang jahat.' Carren kembali membatin.


Carren tidak mau menanyakan atau membahas Mama Aaric sesuai permintaan Aaric. Semuanya akan dibicarakan pada waktu yang tepat dan tenang. Carren percaya, Aaric akan menceritakan jika sudah tiba waktunya. Dia harus belajar menunggu dan sabar. Harus mengerti dan pahami kondisi Aaric saat ini.


"Arra, untuk sementara kita lupakan apa yang baru terjadi denganku. Nanti kita bicarakan lagi dilain waktu. Yang mau aku tanyakan, kenapa kau dan Mama tidak jadi tinggal di apartemen saat merapikan rumah?" Tanya Aaric, baru sempat menanyakan karena melihat tidak ada jejak Carren tinggal di apartemennya.


"Ooh iya, Kak. Maafin. Aku lupa kasih tau kakak. Mama tidak mau tinggal di apartemen, karena tidak ada orang di sana. Mama merasa tidak sopan, tinggal dan acak-acak rumah saat kakak tidak ada." Ucap Carren pelan, khawatir Aaric marah karena suasana hatinya yang kurang baik.


"Lalu kenapa tidak menggunakan kartu yang aku tinggalkan untuk merapikan rumah? Bukankah aku sudah bilang, kau boleh memakainya saat merapikan rumah?" Tanya Aaric mengingat tidak ada transaksi dengan kartu yang diberikan kepada Carren.


"Ooh, itu juga, Kak. Kami tidak jadi perbaiki rumah dalam skala besar. Saat aku sampaikan usul kakak agar rumah dijadikan tempat kerja, Mama setuju dengan usul kakak. Jadi rumah tidak perlu diperbaiki atau dibongkar. Cukup diganti yang bocor dan perbaiki langit-langit yang agak rusak dan dicat saja. Semua itu bisa dibayar dengan uang yang sudah kami siapkan." Carren menjelaskan dengan hati-hati dan pelan.

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu yang terjadi. Aku kira kalian membongkar rumah, tapi tidak pindah dan kau tidak mempergunakan kartu yang aku berikan untuk biayai perbaikan rumah." Ucap Aaric bisa mengerti apa yang disampaikan Carren.


"Iya, Kak. Ini aku kembalikan kartunya, ya." Ucap Carren lalu mengeluarkan dompet dari dalam tas dan mengeluarkan dua kartu yang diberikan Aaric padanya sebelum berangkat ke Swiss.


"Kau tetap pegang kartu ini, mungkin ada keperluan pekerjaan atau apa saja, silahkan dipergunakan. Kau coba belajar menyesuaikan diri dengan semua ini." Ucap Aaric tetap memberikan Carren memegang black card yang sudah diberikan kepadanya.


"Sedangkan ini, aku mengambilnya. Jika mau ke apartemen, kau kasih tau saja. Aku jarang di apartemen, karena sering bepergian atau ada dengan Jekob dan Sapta." Ucap Aaric sambil mengambil kartu akses apartemen dari tangan Carren.


Dia memberikan kartu akses apartemen kepada Carren, karena berpikir mereka akan menggunakan apartemennya saat mereka memperbaiki rumah dan butuh tempat tinggal sementara. Tetapi dengan penjelasan Carren, dia makin mengenal dan mengerti Mama Carren.


"Ooh iya, Kak. Mobil tetap aku titip di tempat parkir apartemen, ya. Karena saat perbaikan, mengganggu pekerjaan tukang dan khawatir tergores. Jadi aku sudah minta tolong dibawa untuk dititipkan di tempat parkir apartemen." Carren menjelaslan, lalu memghabiskan dessertnya. Aaric mengangguk, karena sudah tahu dari laporan anggota keamanan yang menjaga Carren.


"Maaf, ya, Kak. Alangka baiknya kakak tidak usah ke rumah. Kakak kasih tau saja kapan waktunya mau bertemu, kami akan ke apartemen atau ke restoran yang kakak tentukan." Ucap Carren pelan.


"Kenapa aku tidak boleh ke rumahmu? Apa ada sesuatu yang tidak sesuai?" Tanya Aaric heran dengan permintaan Carren.


"Tidak ada sesuatu, Kak. Hanya mencegah pembicaraan di lingkungan saja. Penampilan kakak terlalu menarik perhatian orang sekitar tempat tinggal kami. Dan juga supaya Mama tidak lelah menjawab pertanyaan ingin tahu tetangga." Ucap Carren sambil tersenyum dalam hati, mengingat keseruan ibu-ibu dan tukang sayur di lapak, jika Aaric datang ke rumahnya.


"Baiklah. Nanti kita bicarakan. Sekarang aku akan mengantarmu ke kantor, karena aku akan balik ke kantor lagi. Ada yang harus aku selesaikan dengan Jekob." Ucap Aaric lalu memberikan isyarat kepada waiters untuk membawa bill.


Setelah mengantar Carren dan menyelesaikan semua urusan traktiran dengan Rosna, Aaric kembali ke Gedung Biantra. Saat tiba di ruang kerja, asisten dan sekretarisnya telah menunggu untuk menyerahkan laporan tentang berapa karyawan bermasalah yang masih tertinggal dan minta bertemu dengan Aaric.

__ADS_1


"Mereka tidak usah bertemu dengan saya. Serahkan mereka kepada Pak Jekob, jika masih mau kerja di sini." Ucap Aaric, lalu mengambil laporan dari tangan asistennya. Mereka mengangguk mengerti, lalu keluar dari ruang kerja Aaric.


Aaric memeriksa satu persatu semua laporan yang diberikan asisten Papanya, yang sekarang telah menjadi asistennya. Tanpa terasa waktu berlalu karena kesibukan dan keruwetan kinerja bagian keuangan. Hal itu membuat Aaric emosi. 'Orang ini lakukan apa saja, selama jadi Direktur keuangan?' Aaric membatin dengan kesal melihat pekerjaan bagian keuangan yang amburadul.


Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ketika melihat siapa yang menghubunginya, Aaric merespon dengan wajah tersenyum.


📱"Kakaaaaaaa...!" Teriak Recky, saat Aaric merespon panggilannya.


📱"Astagaaa, Recky. Kenapa kau teriak? Telingaku bisa sunyi." Ucap Aaric sambil menjauhkan ponsel dari telinganya.


📱"Hahaha ... Kakak, tolong shareloc rumah, ya." Ucap Recky tertawa dengan suara yang riang, bisa mengganggu kakaknya.


📱"Untuk apa aku shareloc rumah? Apa kau sudah mulai amnesia, hingga tidak tau jalan pulang ke rumah?" Tanya Aaric heran dengan permintaan Recky.


📱"Aku kan, belum tau tempat tinggal kakak di sini." Ucap Recky tetap dengan riang sambil membayangkan wajah bingung kakaknya.


📱"Apa maksudmu dengan di sini?" Tanya Aaric yang belum mengerti maksud Recky.


📱"Aku sekarang ada di Bandara Soeta." Ucap Recky riang, karena bisa membuat surprise untuk kakaknya.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2