
...~•Happy Reading•~...
Leon berjalan ke pelaminan dengan percaya diri. Dia tahu sedang menjadi pusat perhatian, karena dia melihat hampir semua tamu undangan yang hadir, dikenalnya. Dia jadi mengerti, Aaric hanya mengundang rekan bisnis. Sehingga sejauh mata memandang, banyak diantara mereka sudah pernah bertemu dengannya. Apalagi yang masuk dalam perkumpulan pengusaha muda bersamanya dan Aaric.
Para ibu yang ada memiliki anak gadis, pasti sedang memperhatikannya. Ibunya sering bercerita padanya dan Riri, ada teman-teman Ibunya ingin menjodohkan anak gadis mereka dengannya. Dia menyesal tidak minta Riri, agar menunggunya untuk menemaninya bersalaman dengan mempelai.
Ketika telah berdiri di depan mempelai wanita untuk memberikan ucapan selamat, Leon tertegun melihat tatapan Carren. Dia tidak pernah lupa mata dan wajah itu saat bertemu pertama kali dengannya di Bandara Soeta. Semenjak itu, Leon tidak pernah berhenti mencarinya. Bahkan pernah beberapa kali ke Bali, agar bisa bertemu dengannya. Karena dia berpikir, Carren tinggal atau bekerja di Bali.
Walaupun penampilannya berubah, Leon tahu mempelai wanita adalah gadis yang sama yang dicarinya selama ini. Sekarang hal yang sama terjadi, Carren sedang mengatakan terima kasih untuk kehadirannya. Leon makin yakin setelah mendengar suaranya.
"Allooo, Bro... Kenapa baru datang sekarang?" Tanya Aaric membuyarkan apa yang ada dalam pikiran Leon dan rasa terkejutnya, saat melihat istri Aaric adalah wanita yang sedang dicarinya selama ini.
"Sorry, Bro... Aku terlambat landing. Ini langsung dari bandara, tapi lumayan macet." Ucap Leon mendekati Aaric yang sedang menunggunya. Aaric tahu, Leon sedang ke Amerika, saat mengirimkan email kepadanya. Leon tidak jadi berpelukan dengan Aaric, karena jantungnya sedang berdegup kencang. Dia hanya bersalaman dan menepuk pelan lengan Aaric dengan tangan kirinya.
Carren juga tertegun dan berpikir, sepertinya pernah bertemu dengan pria yang baru menyalaminya saat melihat wajah dan mendengar suaranya. Tetapi dia lupa, pernah lihat atau bertemu di mana. Aaric yang tidak menyadari perubahan sikap Leon, tetap berbicara dengan santai dan hangat sambil mengucapkan terima kasih telah berusaha hadir di acara pernikahannya.
Leon melihat ke arah Carren sekali lagi untuk pamit, lalu berpamitan dengan Aaric. Dia turun dari pelaminan dan berjalan kembali ke meja yang diperuntuhkan untuk kuarganya dengan berbagai rasa di hati. Pencariannya selama ini berakhir di Ballroom Shigaralla Hotel. Gadis yang dicarinya selama ini telah menjadi istri temannya.
__ADS_1
Saat duduk di samping adiknya, Leon langsung minum air mineral yang tersedia sekali teguk dalam satu tarikan nafas. "Mas, haus? Biar Riri minta lagi." Ucap Riri yang melihat perubahan wajah dan sikap kakaknya. Leon hanya mengangguk karena sedang menenangkan hati dan degup jantungnya. 'Ini namanya cinta tak sampai, dan mungkin juga, cinta bertepuk sebelah tangan.' Bantinnya.
Leon kembali memperhatikan Carren yang sedang berbicara dengan Aaric. Dia kembali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan degup jantungnya. Riri kembali dengan seorang waiters untuk melayani minuman di meja mereka. Leon kembali minum, karena sudah tidak berselerah lagi untuk makan.
"Riri, kau kenal dengan mempelai wanitanya?" Bisik Leon pelan, saat Riri telah duduk lagi di sampingnya. Riri melihat kakaknya, karena mendengar kakaknya bertanya dengan serius.
"Iya, Mas. Mempelai wanitanya, teman dekat Parry. Oooh, iya Mas. Itu abstraknya yang Riri maksudkan waktu itu." Ucap Riri pelan, agar Ibu Linna tidak dengar dan bertanya kepada mereka.
"Dia abstrakmu?" Tanya Leon terkejut dan melihat Riri dengan serius.
Seketika, Leon mengusap wajahnya dengan berbagai perasaan di hati. "Dia juga absrak, Mas." Ucap Leon pelan. Mendengar yang dikatakan kakaknya, Riri sangat terkejut dan secara refleks mengelus pungung kakaknya dengan sayang. Pantas wajah kakaknya berubah saat kembali dari tempat pelaminan.
"Siapa jodoh kita, tak ada yang tahu. Saat itu kau mendesakku untuk bertemu dengannya tetapi aku tidak mau, karena kupikir dia salah satu temanmu. Sedangkan aku mencari orang yang sama begitu lama diberbagai kesempatan, tetapi bertemunya di sini. Dalam suasana seperti ini." Ucap Leon sambil menarik nafas panjang.
Riri terus mengusap punggung kakaknya dengan sayang. Dia bisa mengerti apa yang dirasakan kakaknya. Jika dia tahu abstrak kakaknya adalah Carren, dia akan berusaha pertemukan mereka. Tetapi apa daya, dia baru tahu saat Carren telah duduk di pelaminan bersama pria lain.
"Iyaa, ya, Kak. Padahal betapa dekatnya kakak dengannya. Tetapi kakak tidak bisa bertemu dengannya. Jodoh seseorang memang sangat unik dan ajaib. Pak Elimus adalah jodohnya Carren, jadi mereka bisa sampai di pelaminan." Ucap Riri pelan, cendrung berbisik.
__ADS_1
"Iyaa... Aku juga tidak menyangka Aaric bisa menikah begitu cepat, padahal selama ini dia tidak terlihat punya kekasih dan sangat dingin dengan setiap wanita yang ingin mendekatinya. Ketika kami sedang adakan pertemuan, dia selalu tidak ikut bersantai dengan kami." Ucap Leon mengingat kebiasaan Aaric.
"Mungkin karena sudah punya kekasih, jadi bersikap begitu, Mas. Berati Carren adalah wanita yang sangat diberkati, bisa mendapatkan suami Pak Elimus." Riri jadi mengagumi Aaric setelah mendengar yang dikatakan kakaknya.
"Aku tidak menyangka dia masih memperhatikan kehidupan cintanya selain bisnisnya." Ucap Leon sambil melihat Aaric yang sedang berbicara dengan Carren sambil tersenyum. Leon tahu, Aaric sangat mencintai istrinya. Dia sangat menyadarinya karena memang istrinya adalah wanita yang istimewa. Sikap dan keramahannya tidak berubah. Pakaiannya saja yang berubah, tetapi sikapnya yang apa adanya tetap seperti pertama kali Leon bertemu dengannya.
Semua mata memandang ke tempat pelaminan, karena Aaric memeluk sayang istrinya lalu tiba-tiba berdiri menuju ke panggung tempat pemain musik. Leon langsung melihatnya dan wajahnya berubah. Hatinya jadi sedikit terhibur karena dia tahu, Aaric pasti akan bernyanyi. Dia sangat suka dan senang jika Aaric telah bersikap demikian. Sudah lama tidak melihatnya bernyanyi dan mendengar suara merdunya.
Ketika Aaric telah selesai berbicara dengan pemusik, dia berdiri di panggung dengan mike di tangan. Tiba-tiba semua mata memandang ke arah pintu masuk Ballroom, karena melihat Aaric tidak jadi berbicara tapi melihat ke arah pintu masuk.
Mata Aaric makin berbinar melihat siapa yang datang. Recky masuk ke ruang repsesi dengan santai dan cuek bak peragawan. Tanpa melihat kiri dan kanan, dia hanya melihat kakaknya dipanggung. Padahal semua mata sedang memandangnya.
Dia sangat tampan dan keren dengan berbalutkan jas hitam legam seperti kakaknya dengan kemeja broken white tanpa dasi. Dia melangkah dengan percaya diri melewati meja tamu para undangan. Carren yang melihatnya dari jauh, langsung berdiri. Sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang dadanya.
Begitu juga dengan Liana dan Ayunna yang sudah melihat Recky masuk dan hampir mendekati tempat mereka. Liana bagaikan duduk di atas bara api, ketika melihat Recky makin mendekati tempat duduknya. Demikian juga dengan Ayunna yang refleks memegang perutnya, karena terkejut melihat kehadiran Recky.
...~●○♡○●~...
__ADS_1