
~•Happy Reading•~
Carren bersama rekan-rekannya sedang sibuk mempersiapkan dekorasi untuk Ijab Kabul dan resepsi tetangga Akri. Sehingga hampir setiap hari Ichad, Akri dan Rosna datang ke rumah Carren untuk bekerja.
Mereka hanya libur di akhir pekan. Dalam hari tertentu hanya Ichad dan Akri yang datang bekerja, karena Rosna sedang latihan silat untuk ikut perlombaan pencak silat antar padepokan se-DKI Jakarta.
Begitupun dengan Pak Ariand dan Parry yang teleh kembali dari Bandung mulai sibuk bekerja di kantor pusat Hutama N & P Corp, Hutama Building. Seperti hari ini, lebih pagi dari biasanya mereka sudah tiba kantor. Parry menggunakan lift khusus yang dipakai oleh Pak Ariand, walaupun mereka ke kantor dengan mobil yang berbeda.
Saat Pak Ariand hendak masuk ke ruangannya, Asisten dan Sekretarisnya mengikuti dari belakang dengan langkah cepat. Karena Pak Ariand telah memberikan isyarat kepada mereka untuk masuk ke ruangannya.
Pak Arian duduk di kursi kerjanya dan mempersilahkan Sekretaris menyampaikan semua yang akan dilakukan dan dikerjakan hari ini. Setelah semua agenda kerja Pak Ariand disampaikan, Agra meminta sekretaris untuk keluar ruangan. Ada beberapa hal penting yang akan dibicarakan secara pribadi dengan Pak Ariand.
"Bagaimana pertemuan kalian dengan Piltharet. Apakah berjalan lancar?" Tanya Pak Ariand kepada Agra yang mewakilinya meeting bersama Parry, sebelum Agra menyampaikan apa yang hendak dibicarakan dengannya.
"Lancar tuan. Tuan muda Parry sudah bisa dibiarkan sendiri bersama Asistennya. Saat itu, saya perkenalkan tuan muda sebagai staf dari kantor ini dan presentasinya sangat memuaskan. Sehingga pihak Piltharet yang diwakili oleh Direkturnya langsung setuju untuk bekerja sama." Agra menjelaskan hasil pertemuannya dengan pihak Piltharet Corp.
"Hari ini saya berencana akan bertemu dengan beliau untuk menyerahkan dokumen ini. Jadi nanti rapat direksi, tuan, dan tuan muda akan hadir bersama Sekretaris dan Asisten tuan muda. Saya sudah bicarakan dengan mereka." Agra menjelaskan kepada Pak Ariand lagi.
"Ini semua dokumen yang perlu ditanda tangani, tuan. Salah satunya, kontrak kerja sama dengan Piltharet Corp. Tuan silahkan tanda tangan, agar saya bisa bertemu dengan beliau untuk membicarakan langka berikutnya." Agra menyerahkan beberapa dokumen yang ada di tangannya kepada Pak Ariand. Beliau melihat semuanya sekilas dan menanda tanganginya.
"Baik. Kau bisa mengurus yang ini, saya akan berbicara juga dengan Sekretaris, tuan muda dan Asistennya untuk rapat nanti. Ooh iya, bagaimana dengan Sekretaris tuan muda? Apakah sudah datang interview?" Tanya Pak Ariand, mengingat sebentar lagi Jabatan Parry akan diumumkan secara resmi.
"Belum tuan, kami sedang mencarinya. Saya akan usahakan secepatnya mencari orang yang tepat." Agra menjelaskan perkembangan pekerjaannya.
__ADS_1
"Kau tidak usah mencari, karena tuan muda sudah punya orang yang bisa bekerja dengannya. Kau bisa tanyakan langsung padanya sebelum mencari." Pak Ariand mengingat pembicaraannya dengan Parry tentang usulan untuk mempekerjakan temannya.
"Sudah, tuan. Tuan muda meminta tolong saya untuk mencari, karena teman tuan muda tidak bersedia menjadi sekretarisnya. Teman tuan muda sudah bekerja sesuai dengan kebisaan yang disukainya." Agra kembali menjelaskan apa yang dikatakan Parry kepadanya saat selesai meeting dengan pihak Piltharet Corp.
Pak Ariand melihat Agra dengan tercengang saat mendengar teman Parry menolak menjadi sekretarisnya. "Ooh, begitu. Banyak masalah di cabang Bandung membuat saya tidak sempat berbicara dengannya. Untung tuan muda datang membantu, sehingga kami bisa cepat kembali ke Jakarta." Pak Ariand menjelaskan, kenapa tidak mengetahui perkembangan yang terjadi .
"Iya, tuan. Itu laporan saya mengenai pekerjaan kantor. Saya juga mau melapor, pembicaraan saya dengan Pak Aria Prakasa dari kepolisian." Ucap Agra dengan mengecilkan volume suaranya.
"Ooh, ada berita apa dari beliau? Kalau begitu, duduk dan katakan kepada saya." Pak Ariand menjadi antusias dan mempersilahkan Agra duduk di kursi depan mejanya.
"Begini, tuan. Pihak kepolisian mencurigai, kecelakaan Nona Naina bukan murni kecelakaan lalu lintas. Ada yang sengaja membuat Nona mengalami kecelakaan. Pihak kepolisian sedang mencari salah satu mobil yang tiba-tiba menyalip mobil Nona." Agra menjelaskan dengan serius.
"Apa maksudmu, Agra? Coba jelaskan perlahan kepada saya." Pak Ariand terkejut dan kurang mengerti maksud ucapan Agra.
"Saat mobil Nona mengalami kecelakaan, mobil yang di depan itu tidak berhenti tetapi langsung menambah kecepatan dan meninggalkan lokasi kecelakaan." Agra menjelaskan apa yang disampaikan oleh pihak kepolisian kepadanya.
"Kenapa lama sekali baru mereka mengatakannya kepada kita?" Pak Ariand terhenyak dan berbicara dengan nada sedih. Beliau kembali mengingat putrinya yang telah tiada.
"Maaf, tuan. Mereka agak kesulitan karena Nona dikremasi, jadi tidak bisa diautopsi ulang. Ada beberapa hal yang perlu di periksa dengan perkembangan baru ini, jadi tidak bisa. Pada waktu itu, mereka berpikir hanya kecelakaan lalu lintas murni. Mungkin Nona kecapean, jadi kurang berhati-hati." Agra kembali menjelaskan dugaan polisi.
"Iyaa. Saat itu kami juga berpikir demikian, mungkin dia kecapean. Istri saya juga tidak tahan melihat jenasahnya yang sangat rusak, jadi minta lekas dikremasi." Pak Ariand berbicara sambil mengingat kembali peristiwa kecelekaan yang dialami oleh putrinya.
"Bagaimana, tuan. Apakah kita akan membantu penyelidikan kecelekaan Nona, untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya?" Tanya Agra, sebelum anggota keamanan mereka bertindak atau bekerja sama dengan Polisi.
__ADS_1
"Karena ada perkembangan baru seperti ini, kita tunggu saja. Kalian tidak usaha membantu Polisi, biarkan mereka bekerja untuk menyelesaikan kasus ini. Kalau benar bukan kecelakaan lalu lintas murni, kita akan bantu sebisanya. Jadi tetap jalin komunikasi dengan kepolisian. Mungkin kita bisa tau siapa di balik kecelakaan Naina." Ucap Pak Ariand dengan wajah sedih dan cemas.
"Sekarang saya belum bisa menerka atau menarik kesimpulan siapa dibalik ini. Ada banyak kemungkinan di luar sana, apalagi Naina baru pulang dari Bandung. Di sana banyak persoalan yang terjadi, sehingga bisa saja ada tersangkut di sana." Pak Ariand mulai berpikir dengan serius.
"Tetapi saya tidak mau terlalu memikirkannya, toh Naina sudah meninggal. Yang perlu kalian lakukan sekarang adalah melindungi yang masih hidup, terutama tuan muda. Jadi terus jalin hubungan baik dengan kepolisian, agar kita bisa tahu kearah mana. Saat ini saya belum bisa menebak, karena ini adalah dunia bisnis. Terjadi banyak persaingan, bisa saling menyenggol dan bahkan bisa mencelakai." Pak Ariand berucap sambil merenung.
"Baik, tuan. Saya akan berbicara dengan anggota keamanan, agar mereka lebih hati-hati dan waspada." Agra mengerti yang dimaksud oleh pimpinannya.
"Dengan perkembangan kejadian Naina ini, kita tunda dulu pengumuman dan memperkenalkan tuan muda. Biarkan dia tetap bekerja seperti sekarang dengan jabatannya. Kita tidak usah umumkan kepada publik siapa dia. Biarkan dia seperti pegawai pada umumnya di perusahaan ini." Pak Ariand berpikir cepat dan mengambil keputusan untuk mengamankan putranya.
"Nanti pulang baru saya berbicara dengan Maminya. Tolong panggil tuan muda dan asistennya ke sini, ya. Saya akan bicara secara pribadi dengan mereka. Supaya jangan sampai mereka terkejut, saat rapat nanti tuan muda tidak diperkenalkan secara resmi." Ucap Pak Ariand makin serius, memikirkan keselamatan putranya.
"Baik tuan, saya mengerti. Saya akan menyiapkan perubahan ini secepatnya sebelum rapat di mulai." Ucap Agra, lalu berdiri hendak pamit dari pimpinannya.
"Agra, tolong cari sekretarisnya yang baik dan bisa dipercaya, ya. Bukan hanya pendidikannya yang dilihat tetapi attitudenya. Saya mau orang yang ada di sekitar tuan muda, bisa dipercaya." Ucap Pak Ariand sebelum Agra keluar dari ruangannya.
"Apakah sekretaris Nona Naina tidak bisa dijadikan sebagai sekretaris tuan muda, tuan? Dia telah bekerja dengan Nona beberapa bulan." Agra teringat dengan sekretaris Naina yang saat ini masih dipindahkan ke bagian lain.
"Jangan. Biarkan Asisten Naina saja bersama tuan muda. Kalau sekretaris, tidak usah. Karena waktu Naina masih hidup, dia tidak terlalu percaya dengan sekretarisnya. Dia lebih senang bekerja dengan Asistennya." Pak Ariand menyatakan ketidak setujuannya.
"Baik, tuan. Saya akan usahakan secepatnya, agar tuan muda bisa memiliki sekretaris yang dapat membantu pekerjaannya." Lalu Agra permisi meninggalkan ruangan pimpinanannya menuju ruangan Parry.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡
__ADS_1