
~β’Happy Readingβ’~
Keesokan harinya, Carren telah bangun pagi-pagi dan langsung bantu Mamanya membersihkan rumah. Dia juga bantu membuat minuman panas, sedangkan Mamanya sedang membuat sarapan untuk mereka berdua.
Hari ini mereka berdua sama-sama sibuk, karena Bu Nancy akan keluar membeli keperluan bahan untuk menjahit pesanan yang telah diterimanya. Sedangkan Carren akan mulai sibuk bekerja, dengan pergi ke tempat print untuk ngeprint surat kontrak kerja yang telah dibuatnya.
Setelah sarapan, Carren segera mandi dan mempersiapkan semua keperluan pekerjaannya untuk bertemu dengan calon pengantin. Dia mengeluarkan laptop dari tas yang diberikan Parry dan masukan ke dalam tasnya yang lama. Karena dia belum merasa nyaman mempergunakan tas tersebut.
Saat menyalahkan ponselnya, dia melihat ada pesan dan Misscall dari Parry. Carren mengirim pesan kepada Parry. "Pagi, Parry. Tadi malam aku sangat lelah dan mengantuk, jadi langsung tidur." Isi pesan Carren.
Parry tidak membalas pesannya, tetapi langsung menghubunginya.
π±"Pagi, Carren. Kau sibuk sekali hari ini?" Tanya Parry saat Carren merespon panggilannya.
π±"Iya, Parry. Ini aku sudah siap-siap mau keluar." Jawab Carren, agar Parry tidak berbicara lama dengannya.
π±"Kalau kau mau, Pak Husin bisa mengantarmu, karena aku ngga ada di Jakarta. Selesai meeting kemaren, aku langsung ke Bandung. Jadi mobilnya bisa kau pakai." Ucap Parry, berharap Carren mau diantar sopirnya.
π±"Makasih, Parry. Ada beberapa tempat yang akan aku datangi, jadi aku mau naik kereta dan ojol saja. Kau konsent sama kerjaanmu disitu, biar lancar semuanya." Carren merasa tidak enak, telah banyak merepotkan Parry.
π±"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati." Parry menyerah, karena mengerti Carren. Kalau sudah bilang begitu, percuma dirayu atau dipaksa.
π±"Kau juga, hati-hati." Ucap Carren dengan hati lega, karena Parry tidak memaksanya. Lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
.***.
Beberapa waktu kemudian, sesuai waktu yang disepakati, Carren tiba di tempat pertemuan. Saat masuk ke dalam restoran, calon pengantin telah duduk menunggunya.
"Mba' Carren, mari kita makan siang dulu baru kita bicarakan rencananya." Calon pengantin pria berdiri lalu menyalami Carren. Begitu juga dengan calon pengantin wanitanya.
"Baik, makasih." Ucap Carren, lalu duduk di depan calon pengantin. Kemudian mengambil daftar menu yang diberikan oleh calon pengantin wanita untuk memilih menu makan siangnya.
Setelah makan siang, Carren mengeluarkan tiga lembar surat kontrak kerja rangkap satu yang telah dibuatnya. Dia menyerahkan satu rangkap untuk calon pengantin membacaranya.
__ADS_1
"Karena rencana acara resepsinya mendadak, jadi surat kontraknya juga disesuaikan. Tidak seperti pada umumnya." Ucap Carren, menjelaskan isi kontrak kerja yang sedang dibaca oleh calon pengantin pria.
"Baik, Mba'. Kami mengerti dan menyetujui semua isi surat kontrak kerja ini. Hari ini kami akan membayar uang muka 50 %, nanti bulan depan 25 % lagi. Sepuluh hari kerja sebelum hari H, kami akan melunasi semuanya." Ucap calon pengantin pria, lalu menanda tangani surat kontraknya. Demikian juga, Carren menanda tanganinya. Setelah ditanda tangani oleh kedua pihak, Carren menyerahkan satu rangkap kepada calon pengantin dan dia menyimpan satu untuknya.
"Kalau begitu, Mba' Carren tolong berikan nomor rekeningnya dan kami akan transfer sekarang." Ucap calon pengantin pria dan Carren memberikan nomor rekeningnya.
Setelah selesai transfer, mereka berpisah karena Carren akan segera ke gedung Hirakku untuk membayar uang muka. Sekalian juga ke tempat catering, agar semua yang akan bekerja bersamanya telah terikat perjanjian kerja sama.
Carren mampir di bank untuk mengecek semua dana yang dimilikinya. Termasuk tambahan dana dari tabungan Mamanya. Dia ingin mengecek kesiapan dananya, apakah cukup sesuai dengan budget yang diperlukan.
Saat sedang duduk di bank, Carren merasa tasnya bergetar. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya.
π±"Alloo, Kak Carren. Maaf, mengganggu. Kakak tolong lihat pembicaraan di grup WA, ya." Ucap Rosna saat Carren merespon panggilannya.
π±"Alloo, Ros. Ada apa? Bisa bicarakan saja dulu? Karena aku lagi di luar, jadi belum bisa menanggapi pembicaraan di grup." Ucap Carren, saat mendengar yang dikatakan oleh Rosna.
π±"Ooh, iya Kak Carren. Tadi Kak Ichad ada tanya, apakah diantara kita ada yang dihubungi oleh Kak Sisil. Karena Kak Ichad dihubungi oleh Kak Sisil." Ucap Rosna menjelaskan, yang disampaikan Ichad.
π±"Nanti Kak Carren tanya Kak Ichad atau lihat di grup saja, ya. Mungkin mengenai pekerjaan mendekor." Ucap Rosna pelan.
π±"Ooh, ok Ros. Nanti kalau sudah pulang baru aku hubungi. Ini lagi buru-buru nyelesain kerjaan, agar bisa pulang sebelum bubar kantor." Carren berharap Rosna akan mengakhiri pembicaraan mereka, walaupun hatinya mulai bertanya-tanya.
π±"Baik, Kak Carren. Hati-hati." Ucap Rosna dan Carren mengakhiri pembicaraan mereka. Dia jadi tidak tenang setelah berbicara dengan Rosna. Setelah selesai dengan urusan di bank, Carren segera pulang. Dia sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Sisil.
"Sore, Ma. Arra pulang." Ucap Carren saat masuk ke dalam rumah, tanpa melihat Mamanya. Bu Nancy yang mendengar suara sapaan putrinya, membalas sapaan sambil mencari keberadaan putrinya.
Saat mendengar Carren sedang bericara di telpon, Bu Nancy segera kembali ke ruang kerja. Mungkin sesuatu yang serius sedang terjadi, sehingga membuat putrinya tidak berbicara lama dengannya.
Di dalam kamar; Carren sedang menghubungi Ichad, tanpa membaca perbincangan di WA grup. Karena dia ingin berbicara langsung dengan Ichad tentang apa yang disampaikan Rosna kepadanya.
π±"Selamat sore, Kak Ichad. Apakah aku mengganggu?" Tanya Carren, saat Ichad merespon panggilannya.
π±"Sore, Carren. Ngga juga, aku sedang menunggu jawabanmu di grup. Karena Rosna bilang kau lagi sibuk, jadi belum bisa baca dan jawab." Jawab Ichad, menjelaskan.
__ADS_1
π±"Iya, Kak Ichad. Ini baru sampai rumah dan langsung hubungi Kakak. Aku jadi penasaran dengan apa yang dikatakan Rosna, jadi lebih baik bicara langsung dengan Kakak." Carren, menjelaskan dan berharap Ichad mau menjelaskan.
π±"Iya, Carren. Tadi malam aku dihubungi sama Sisil. Aku sudah tanya digrup, Akri dan Rosna bilang mereka ngga dihubungi. Sisil minta aku datang ke rumah Almh Bu Florens." Ucap Ichad, menceritakan.
π±"Apakah ada terjadi sesuatu, sehingga dia tiba-tiba menghubungi Kak Ichad?" Tanya Carren, makin penasaran dengan yang dikatakan Ichad.
π±"Sepertinya ada hubungan dengan dekor mendekor, Carren. Dari suara dan ucapannya yang sopan saat berbicara denganku, mungkin dia ngga sendiri. Mungkin ada orang disekitarnya yang sedang mendengar." Ucap Ichad, menyampaikan dugaannya. Karena Sisil tidak pernah berbicara sopan dengannya selama ini.
π±"Oooh. Mungkin, Kak. Mengingat sikap dan ucapannya selama ini, bisa saja terjadi. Mungkin keluarganya atau keluarga Almh ada bersamanya." Carren juga ikut menebak.
π±"Iya, itu yang kami pikirkan dan bahas di grup bersama Akri dan Rosna." Ucap Ichad, sambil berpikir lagi.
π±"Kalau begitu, semuanya aku serahkan pada keputusan Kak Ichad. Bagaimana baiknya menurut Kak Ichad saat bertemu dengan Sisil dan juga keluarga Almh Tante." Ucap Carren, berserah. Karena dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada orang lain. Jika Ichad mau kembali bekerja untuk keluarga Almh, dia tidak bisa memaksa untuk tetap bekerja bersamanya.
π±"Sebenarnya, aku berencana mau sampaikan di grup bahwa tadi aku sudah bertemu dengan calon pengantin dan mereka telah bayar uang muka untuk kerja samanya. Nanti info selanjutnya, aku sampaikan di grup ya, Kak." Ucap Carren pelan, dan berusaha tenang.
π±"Kalau untuk Kak Sisil, aku serahkan kepada Kak Ichad. Karena Kak Sisil hanya menghubungi Kak Ichad, jadi baiknya Kakak ngga usah sampaikan di grup. Nanti Kakak sampaikan hasil pembicaraannya kepada aku saja." Ucap Carren, tetap tenang.
π±"Baik, aku mengerti. Nanti aku hubungi lagi kalau sudah bertemu dan mendengar apa yang diinginkannya. Aku mau siap-siap dulu." Ucap Ichad dan Carren mengakhiri pembicaraan mereka.
Setelah itu, Carren membuat pengunguman di Grup WA Florens. "Selamat sore semua. Info, ya. Tadi aku sudah bertemu dengan calon pengantin dan mereka telah tanda tangan kerja sama. Mereka juga sudah membayar uang muka. Jadi mulai besok, tunggu info selanjutnya untuk detail pekerjaannya." Isi pesan Carren.
"Setelah ini, aku mau istirahat dulu. Jadi mohon maaf ngga bisa jawab pertanyaan, jika ada yang bertanya." Sambung pesan Carren di grup WA.
Carren langsung meletakan ponselnya di atas tempat tidur dan duduk terhenyak. Dia sedang memikirkan pembicaraannya dengan Ichad dan juga kekurangan dana yang sedang dihadapi untuk memulai pekerjaan barunya.
'Selamat datang di dunia kerja dan romantikanya, Carren.' Ucapnya dalam hati, sambil mengelus dadanya. 'Mempunyai sebuah usaha tidaklah mudah seperti dibicarakan.' Batin Carren lagi.
Dari dua kendala yang sedang dihadapi, dia lebih memikirkan kekurangan dana untuk pekerjaannya, daripada persoalan Sisil dan Ichad. Dia tidak enak hati dan merasa malu jika mau meminta tolong pada Parry, setelah menolak menjadi sekretarisnya. Apalagi Parry baru saja memberikan tas mahal untuknya.
Dia tidak tahu lagi, siapa yang harus dimintain tolong. Dia memegang dada dan menengadakan wajahnya. 'Ya, Tuhan. Aku sangat membutuhkan pertolongan-Mu. Aku percaya, Engkau akan menolongku dengan cara-Mu. Jika ada yang menghubungiku setelah ini, aku tahu dialah yang Engkau kirim untuk membantu kekurangan danaku."
β‘β’~Jangan lupa like, komen, vote danΒ favorit, yaa... ππ» Makasih~β’β‘
__ADS_1