
...~•Happy Reading•~...
Di sisi yang lain ; Pak Sunijaya memerintahkan keluarga besarnya untuk berkumpul di mansion. Bu Biantra telah tiba sebelum sepupuh dan ponakannya, karena ingin berbicara secara pribadi dengan Papahnya.
"Suni, siapa yang membuat Biantra Group mulai membaik seperti sekarang? Apakah kau dan sepupuhmu sudah bisa mencegah kebocoran-kebocoran yang terjadi selama ini?" Tanya Pak Sunijaya, saat melihat Bu Biantra masuk ke ruang keluarga dimana Pak Sunijaya sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Justru itu, aku datang lebih awal untuk berbicara dengan Papah. Situasi ini seharusnya membuat kita senang, tetapi kondisi ini mengancam posisi kita saat rapat pemegang saham nanti. Sekarang saja kita tidak memiliki kuasa untuk menentukan mau melakukan apa di Biantra Group. Sebagaimana untuk rapat pemegang saham, kita sudah tidak bisa menentukannya lagi." Bu Biantra berkata, lalu duduk di dekat Papahnya
"Sudah berkali-kali pemegang saham terbesar menunda rapat itu, dan kita hanya bisa mengikuti. Beberapa waktu lalu, Komisaris yang ditunjuk oleh pemegang saham sudah mulai mengatur dan merombak susunan Direksi. Mereka menempatkan orang-orang baru di perusahaan membuat mereka mulai mengendalikan perusahaan." Bu Biantra menceritakan apa yang sedang terjadi di perusahaan. Kondisi kesehatan Papahnya yang kurang baik, membuat Pak Sunijaya harus beristirahat. Sehingga tidak bisa mengikuti perkembangan yang terjadi.
"Perusahaan yang mulai membaik ini, selain ada orang baru, mereka juga membuat kebijakan baru. Mau tidak mau, atau suka tidak suka, kita harus mengikutinya. Kondisi ini, memang baik untuk perusahaan, tetapi tidak baik untuk posisi kita." Ucap Bu Biantra menjelaskan apa yang sedang terjadi di perusahaan.
"Siapa komisaris baru yang ditempatkan oleh pemegang saham? Apakah kita mengenalnya?" Tanya Pak Sunijaya mulai cemas mendengar penuturan Bu Biantra. Memang baik untuk perkembangan perusahaan yang sempat oleng. Tetapi situasi sekarang bisa membuat mereka yang oleng.
__ADS_1
"Tidak ada informasi yang bisa dikumpulkan oleh orang kita, selain namanya Pak Wenkly, tepatnya Pak J. Wenkly. Sebelumnya pernah bekerja sebagai Manager di salah satu tambang terbesar di Indonesia." Bu Biantra menjelaskan, kepada Papanya tentang Komisaris baru di perusahaan Biantra.
"Melihat dia bisa membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan perusahaan, kita harus mendekatinya. Jangan sampai kita bersebrangan dengannya. Tetapi yang utama, kita harus mendekati pemegang sahamnya." Ucap Pak Sunijaya sambil berpikir.
"Yang menjadi masalah, beliau tidak mau bertemu dengan kami. Beliau hanya adakan rapat terbatas dengan para direksi yang baru ditempatkan, tanpa mengikut sertakan direksi lama yang ada. Beliau juga tidak mengikut sertakan kita, termasuk sepupuh dan anak-anaknya. Jadi, jangankan pemegang sahamnya, Komisarisnya saja tidak mau bertemu. Bagaimana kita bisa lakukan pendekatan?" Bu Biantra berkata dan bertanya, sekaligus mengeluarkan semua uneg-uneg dan keluhan yang disimpannya.
"Selain itu, aku mau bicara juga dengan Papah. Hari ini mulai ada desas desus di kantor, Mas Himan sebagai Direktur keuangan akan diganti. Jadi Papah tolong, agar posisi itu tetap dipegang oleh Mas Himan." Ucap Bu Biantra memohon, karena hanya Papahnya yang bisa menolongnya.
"Mengapa baru sekarang kau katakan itu kepadaku? Panggil asistenmu, aku mau tau seberapa besar saham yang dimilikinya, sehingga dia bisa merubah struktur dan kebijakan perusahaan." Ucap Pak Sunijaya tegas dan mulai emosi. Beliau sudah lupa dengan perkembangan perusahaan yang membaik. Beliau juga lupa, sudah dilarang oleh dokter untuk tidak mengobral emosinya.
"Coba kau katakan dengan rinci posisi pemegang saham di perusahaan Biantra saat ini. Apakah posisi kami akan terancam?" Tanya Pak Sunijaya kepada asisten Bu Biantra yang baru masuk ke dalam ruangan. Asisten Bu Biantra segera duduk di kursi yang ditunjuk Bu Biantra, lalu membuka tas kerja untuk mengeluarkan laptopnya.
"Baik, Pak. Sebenarnya, belum terancam jika Pak Biantra ada bersama di pihak kita. Karena selisih sahamnya tidak terlalu besar. Yang jadi persoalan, pihak kita tidak memiliki saham yang utuh sahamnya ada di beberapa pihak. Jika pada saat rapat pemegang saham dan ada yang membelot, itu sangat berbahaya. Saya katakan berbahaya, karena pemegang saham terbesar saat ini, memiliki saham yang utuh. Miliknya sendiri jadi tidak perlu khawatir ada yang berbelot." Asisten Bu Biantra menjelaskan dan menyampaikan analisanya.
__ADS_1
"Jika saham Pak Biantra bisa ada di tangan kita, sedikit banyak Nyonya bisa bersuara di rapat pemegang saham nanti. Nyonya bisa menentang pergantian direksi atau kebijakan komisaris baru, didukung oleh Pak Sunijaya." Asisten menjelaskan dan memberikan pendapatnya.
"Berapa banyak saham yang dimilikinya? Dan berapa banyak saham kami, agar saya tau harus melekukan apa. Saya akan menggerakan orang untuk bergerilya, mencari dan menggabungkan saham yang tercecer." Ucap Pak Sunijaya yang mulai cemas.
"Bapak masih pemegang saham terbesar dalam keluarga, karena saham Ibu sudah digabungkan dengan bapak jadi 20%. Bu Biantra 10%, jadi jika digambungjan bisa 30 %. Sedangkan pemegang saham terbesar saat ini, 43%. Jika saham Pak Biantra yang 9% digabungkan dengan Ibu, selisih dengan Pak Elimus tidak terlalu jauh. Bisa ditambah dengan sepupuh atau yang lainnya, jadi tidak terlalu jomplang. Bapak dan Ibu masih berkuasa di Biantra Group." Asisten Bu Biantra meneruskan penjelasan dan analisanya.
"Karena Pak Biantra saat ini tidak bersama dengan kita, jadi perlu diwaspadai. Kita harus waspada terhadap Pak Biantra dan Pak Hutama yang memegang 7 % saham. Jika pihak Elimus bisa mengajak mereka atau salah satu saja di antara mereka untuk berada di pihaknya, itu akan sangat mengancam posisi Nyonya dan Pak Sunijaya di perusahaan. Saham Elimus sudah diatas 50 %." Ucap asisten Bu Biantra menjelaskan dengan rinci dan jelas.
"Berapa % saham Pak Himan, sepupuh dan ponakannya. Apakah jika mereka digabung dengan Pak Biantra, pihak kami bisa melewati Elimus?" Tanya Pak Sunijaya mulai memikirkan strategi untuk mengamankan posisi mereka.
"Pak Hainam 5% sepupuh 1 % dan yang lainnya hanya 0 koma, Pak. Jadi kalau saham Pak Biantra dan Pak Himan digabung, bisa melewati Elimus." Ucap Asisten Bu Biantra, tapi ragu-ragu. 'Mana mungkin Pak Biantra ada di pihak mereka jika Pak Himan bergabung. Kecuali mereka memperoleh saham Pak Biantra dengan cara ilegal.' Asisten Bu Biantra membatin, karena tahu situasi yang terjadi dengan bossnya.
"Yang harus dikejar, saat ini juga, pemegang saham 4 %, Pak Yogi. Jika tau keberadaannya dan bisa diajak bergabung dengan pihak kita, itu akan sangat menguntungkan. Karena pemilikan saham lainnya hanya 0 koma. Hanya itu pihak-pihak pemegang saham di atas 4 %." Ucap asisten Bu Biantra lagi, lalu menutup catatannya.
__ADS_1
...~●○♡○●~...