Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Lamaran.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Keesokan harinya, menjelang waktu yang ditentukan Aaric untuk menjemput Carren dan Bu Nancy, sebuah mobil sedan mewah meerci berhenti di depan rumah Carren. Ketika Carren melihat Jekob turun dan mengetuk pagar rumahnya, dia mendekati Mamanya. "Ayoo, Ma. Kita sudah dijemput, itu asisten Kak Aaric." Ucap Carren kepada Bu Nancy yang sedang duduk menunggu di ruang tamu.


Carren segera keluar menemui Jekob disusul oleh Bu Nancy setelah mengunci pintu rumah kemudian mengunci pintu pagar. Jekob terkejut melihat Carren yang keluar menemuinya. Begitu juga dengan Sapta yang sudah turun membukakan pintu mobil untuk Carren dan Bu Nancy. Jekob benar-benar terkesima melihat Carren yang tampil sangat berbeda dari biasanya.


Jika Carren tidak menyapa Jekob, dia tidak akan mengetahui itu adalah Carren. Jekob segera naik ke mobil duduk di depan samping Sapta, tetapi matanya kembali melihat mobil ciirrv black yang parkir di teras rumah Carren. 'Sepertinya mobil itu pernah aku lihat, tapi dimana, ya?' Jekob bertanya dalam hati. Dia terus berpikir, karena mobil yang ada di teras Carren sangat familier baginya.


Dia hanya melihat mobilnya, tanpa memperhatikan plat nomornya. Setelah di jalan raya dan terjadi kesibukan karena agak macet, dia melupakan mobil yang ada di teras Carren. Dia fokus berkomunikasi dengan bossnya untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami di jalan.


Setelah tiba di apartemen, Sapta menurunkan mereka di lobby, sedangkan dia ke tempat parkir. Saat mereka bertiga masuk ke lobby apartemen menuju lift, Carren dan Bu Nancy menjadi pusat perhatian para penghuni apartemen yang sedang berada di lobby. Terutama Carren yang tampil sangat ayu dan cantik.


Saat tiba di unit apartemen Aaric di lantai atas yang hanya ada tiga unit apartemen di lantai itu, Jekob membuka pintu milik apartemen Aaric dan mengajak mereka masuk. Carren menunggu di belakang Jekob dengan hati berdebar, karena walaupun sudah pernah datang tapi ini dalam suasana yang berbeda. Dia akan bertunangan dengan Aaric.


Dia merasa auranya sudah berbeda, saat melihat Jekob yang datang menjemputnya mengenakan jas. Begitu juga dengan sopirnya, karena Carren belum pernah bertemu Sapta sebelumnya. Dia mengira Sapta adalah sopir Jekob.

__ADS_1


Ketika pintu apartemen terbuka dan Carren melangkah masuk, dia sangat terkejut. Dalam apartemen Aaric sudah didekor dengan rangkaian bunga mawar beraneka warna yang sangat cantik. Bukan saja rangkaian bunga yang beraneka warna, tetapi juga lampu. Sehingga apartemen Aaric menjadi tempat yang indah dan sangat romantis.


Carren hampir menangis melihat semua yang ada di depannya. Begitu juga dengan Bu Nancy yang berdiri di belakangnya sudah sangat terharu melihat semua yang dipersiapkan Aaric. Suatu yang tidak dipikirkan atau dibayangkan jika lakukan acara ini di rumahnya.


Aaric yang sudah menunggu, langsung berjalan mendekati Carren dengan wajah tersenyum karena menelihat Carren yang terkesima. Melihat cara Aaric mendekatinya, Carren memberikan isyarat agar jangan memeluknya. Tetapi Aaric mengabaikan isyaratnya, langsung memeluknya dengan hati yang lega dan sangat senang.


Aaric yang sudah mengenakan jas hitam lenggam dengan kemeja berwarna broken white tanpa dasi, membuatnya makin tampan dan rupawan. Penampilannya sangat menawan hati, termasuk Bu Nancy yang masih berdiri di belakang Carren sangat mengagumi calon mantunya.


Aaric tidak sabar ingin memeluk Carren, karena dia sangat menyukai pilihan pakaian yang dikenakan Carren. Dia tidak menyangka Carren akan mengenakan kebaya moderen dan kain, serta menata rambutnya yang lebat di tengkuk. (Penata rambut di salon tidak membuat konde, tetapi hanya menggulung membentuk rangkaian yang indah di tengkuknya).


"Kakak juga sangat tampan. Ko' bisa ya, warna kemeja kakak bisa sama dengan kebayaku." Ucap Carren lebih santai, melihat sikap Aaric. Dia tidak menyangka Aaric akan memakai kemeja senada dengan kebayanya. Mamanya memilih kebaya brokat berwarna broken white yang sangat serasi dengan kain tenunan berwarna toska. Mamanya mengenakan kebaya moderen warna toska muda dan kain berwarna gelap.


"Aaric, sabar. Ini ada orang tua, belum waktunya." Ucap Pak Biantra mengingatkan Aaric, karena melihat Aaric langsung memeluk Carren sedangkan ada Mama Carren di belakangnya. "Maaf, Tante. Khilaf, karena baru melihat Carren mengenakan kebaya dan kain." Ucap Aaric sambil tersenyum. Bu Nancy tersenyum, memaklumi, karena hatinya sedang terharu. Pak Biantra hanya bisa menggelekan kepalanya.


Pak Biantra menyambut Bu Nancy dan memperkenalkan dirinya sebagai Papa Aaric. Bu Nancy juga melakukan hal yang sama, sambil memperhatikan Pak Biantra. Walaupun mengenakan jas, tetap terlihat seperti yang digambarkan Carren kepadanya. Agak kurus dan kurang segar.

__ADS_1


Aaric menggenggam tangam Carren dan mengajaknya ke ruang tamu dimana Jekob dan Sapta sudah menunggu di sana sambil memeggang camera untuk membuat photo dan video acara pertunangan mereka.


Setelah Pak Biantra dan Bu Nancy telah berada di ruang tamu, Aaric berbicara sambil terus menggengam tangan Carren. "Terima kasih Tante, sudah mengerti kami dalam banyak hal, terutama untuk saat. Tante menginjinkan acara pertunangan kami dilakukan di sini. Sebagaimana saya sudah meminta ijin sebelumnya untuk bisa bersama Carren, hari ini di depan Papa dan juga kedua orang kepercayaan saya sebagai saksi, sekali lagi saya meminta Carren dari Tante." Bu Nancy tidak bisa berkata-kata, beliau hanya bisa mengangguk mengiyakan dengan mata berlinang.


Aaric melepaskan tangan Carren lalu mengambil kotak dari kantong jasnya dan membukanya perlahan. Tiba-tiba Aaric berlutut di depan Carren. "You marry me?" Ucap Aaric sambil mengangkat kotak kecil di tangannya ke arah Carren.


Carren terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Aaric, secara refleks dia ikut mensejajarkan tubuhnya dengan Aaric. "Apa yang kakak lakukan. Ada yang melihat. Ayooo, berdiri." Carren berbisik dengan wajah sudah memerah karena malu diperhatikan oleh yang lain.


"Jawab dulu, supaya aku bisa berdiri." Bisik Aaric, tetap pada posisinya. Tetapi yang lain bisa mendengar yang dikatakan Aaric, karena semua sedang menunggu dalam diam.


"Aku mau jawab apa, Kak?" Carren balik bertanya, karena malu, grogi dan merasa sudah menjawab Aaric sebelumnya. "Yaaa, mau menikah denganku atau tidak?" Ucap Aaric lagi.


"Yaaa, mau." Ucap Carren pelan dan malu. Dia mengangkat kedua tangannya untuk mengipasi wajahnya yang sudah memerah dan panas.


~●○♡○●~

__ADS_1


__ADS_2