
~•Happy Reading•~
Jakob langsung menatap Aaric, saat mendengar keseriusan bossnya mengamankan Carren. Dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh bossnya dan berharap ini adalah pertanda baik. "Baik, Pak. Akan saya bicarakan dengan Sapta agar mengamankan Nona Carren." Jekob berkata sambil terus melihat bossnya yang sedang berpikir serius.
"Sekarang mereka pasti sedang panik, karena belum mengetahui keberadaan Gungun. Jika sudah menemukan jenasah Gungun, mungkin itu lebih baik bagi mereka. Tetapi jika hidup atau matinya Gungun belum diketahui, itu akan mengancam kehidupan mereka." Aaric terus berpikir, karena tahu apa yang sedang terjadi dengan keluarganya.
"Iya, Pak. Nyonya di rumah pasti sangat khawatir dan panik, belum menemukan Gungun dan yang lainnya. Belum lagi kondisi perusahaan mereka yang sudah tidak bisa mereka kendalikan. Banyak hal bisa membuat mereka panik, karena semua yang biasa dalam kendali mereka, kini tiba-tiba tidak terkendali." Ucap Jekob yang mengetahui semua tentang perusahaan Biantra dan keluarga bossnya.
"Iya, saya setuju denganmu. Mereka saat ini pasti mengunakan segala cara untuk mengetahui keberadaan Gungun. Saya selama ini mencari di luar sana, padahal orangnya ada dalam keluarga saya sendiri." Ucap Aaric lalu mengambil air mineral untuknya.
"Jekob, sementara ini saya tidak ke kantor, karena mereka pasti sedang menyelidikimu dan Elimus Corp. yang telah membeli sebagian besar saham perusahaan mereka." Aaric jadi berpikir soal saham perusahaan, setelah Jekob membicarakannya.
"Baik, Pak. Bapak kerja dari sini saja, nanti saya lebih berhati-hati saat ke sini. Besok saya akan bicara secara pribadi dengan para Direktur. Kita bersyukur, semua ini terjadi setelah masalah di tambang batubara telah dibereskan." Jekob berbicara sambil menarik nafas lega.
"Baik. Besok saya mau keluar sampai siang. Kalau ada apa-apa, hubungi di nomor pribadi saya, karena hanya ponsel pribadi yang saya bawa." Aaric berkata tegas, karena dia berencana melakukan hal pribadi.
"Apakah bapak perlu pengaman berapa orang? Biar saya bicarakan dengan Sapta untuk mengaturnya." Jekob merasa heran, bossnya tiba-tiba mau pergi tanpa ada schedulenya dan tidak memberitahukan tujuannya.
__ADS_1
"Tidak usah, saya akan pergi sendiri. Saya akan menyamarkan penampilan, agar tidak menyolok. Saya hanya ingin sendiri sejenak." Aaric berkata tegas untuk meyakinkan Jekob, dia baik-baik saja.
"Kalau begitu, saya pamit pulang setelah makan malam ya, Pak. Besok saya akan hubungi bapak untuk membericarakan apa yang telah saya lakukan." Ucap Jekob mencoba mengerti, walau tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh bossnya. Dia berdiri untuk menyiapkan makan malam yang telah dimasak oleh Bibi, setelah melihat bossnya mengangguk.
.***.
Di tempat yang lain ; Bapak dan Ibu Biantra sedang berada di mansion keluarga Sunijaya, orang tua Bu Biantra untuk makan malam. Mereka diminta datang ke mansion untuk makan malam bersama keluarga besar.
Setelah selesai makan malam, mereka semua duduk di ruang keluarga untuk membicarakan masalah perusahaan yang sedang di hadapi. Terutama Pak Biantra menyampaikan kondisi perusahaan Biantra. "Biantra, tolong tinggalkan kami. Saya mau bicara dengan istrimu." Ucap Pak Sunijaya, yang telah duduk di kursi kebesarannya.
"Baik, Pak." Ucap Pak Biantra, lalu meninggalkan ruang keluarga Sunijaya dengan hati yang tidak tenang. Beliau berjalan keluar ke halaman dan langsung naik mobilnya lalu pergi meninggalkan mansion.
"Apa yang sedang kau lakukan, Suni. Kenapa kau bisa salah perhitungan hingga lakukan kesalahan seperti ini? Lalu kemana anakmu yang kurang ajar itu? Apa kau sudah menemukannya?" Tanya Pak Sunijaya dengan geram, mengingat Recky yang lolos dari penjagaan mereka.
"Kami sedang mencarinya di Sydney, Papah. Dia tidak mungkin pergi ke tempat lain, karena apartemennya ada di sana dan pekerjaannya lebih banyak di sana." Ucap Bu Biantra pelan, mencoba menjelasakan dengan tenang agar Papahnya tidak makin marah.
"Jangan berandai-andai atau memperkirakan. Apa kau tidak bisa mendobrak masuk ke apartemen untuk memeriksanya?" Tanya Pak Sunijaya yang sudah kesal dengan kondisi yang ada.
__ADS_1
"Tidak bisa, Papah. Recky telah pasang cctv di sekitar unit apartemennya, sehingga akan bermasalah dengan aparat hukum di sana jika ada yang mencoba masuk ke dalam apartemennya." Bu Biantra menjelaskan, masalah yang mereka hadapi sehingga belum bisa tahu Recky ada di mana.
"Anakmu itu sudah mempersiapkan semua rupanya. Jadi apa yang kau katakan, anakmu itu baik dan penurut adalah omong kosong. Dia bisa mengerjaimu di saat-saat terakhir dan menghilang tanpa jejak." Pak Sunijaya berkata dengan emosi. Bu Biantra tidak tahu, sebenarnya yang memasang cctv di luar dan dalam apartemen Recky adalah atas perintah Aaric.
Karena semenjak kembali ke Sydney, Recky di rumah sakit dan selanjutnya tinggal di rumah kakaknya. Dia tidak tahu lagi dengan kondisi apartemennya. Asistennya saja yang beberapa kali datang mengambil keperluan Recky.
"Jangan kau katakan dia melakukan hal yang sama dengan kakaknya yang pembetontak dan tidak tahu diri itu. Sampai sekarang kau tidak tau keberadaannya, apa masih hidup atau sudah mati bunuh diri ikut orang yang sudah mati itu." Pak Sunijaya emosi dan berkata kasar, melihat putrinya tidak bisa mengendalikan anak-anaknya.
Pak Sunijaya tidak menghadiri pernikahan Recky, sehingga tidak tahu kehadiran Aaric saat acara resepsi pernikahan. Bu Biantra juga tidak menceritakan kepada Papahnya, bahwa Aaric ada datang saat pesta resepsi malam itu.
Bu Biantra tidak menceritakan itu, selain untuk menjaga, agar tekanan darah Papahnya agar tidak naik dan mengganggu kesehatannya. Tetapi juga, Bu Biantra tidak tahu keberadaan Aaric setelah acara pernikahan Recky. Dia kembali bagaikan ditelan bumi. Sehingga tadi malam melihatnya di Goropaku Restaurant, bagaikan menemukan durian runtuh.
Bu Biantra segera memerintahkan orang kepercayaan keluarganya untuk mengikuti Aaric, agar bisa mengetahui tempat tinggal atau menginap selama di Jakarta. Karena pikirnya, mungkin saja Recky ada di Jakarta bersama dengan kakaknya.
Baginya, saat ini Recky mungkin bisa menyelamatkannya dari amukan Papahnya. Sedangkan kehadiran Aaric akan memperuncing persoalan yang pernah terjadi belasan tahun lalu. Mendengar apa yang disampaikan oleh Papahnya tentang Aaric sebagai anak pemberontak, Bu Biantra yakin Papahnya masih menyimpan amarah terhadap Aaric.
"Kenapa kau diam? Semua ini aku serahkan pada pengelohanmu walaupun kau perempuan, karena melihat suamimu itu bisa bekerja. Apa kau tidak bisa mengendalikan anak-anakmu sebagaimana yang kau lakukan kepada suamimu? Mengapa kau membiarkan mereka tubuh liar di luar sana, tidak seperti yang aku inginkan?" Pak Sunijaya bertanya dengan suara lantang tapi bergetar, sambil menepuk kuat lengan kursi kebesarannya.
__ADS_1
~●○♡○●~