Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Camer dan Camen


__ADS_3

~β€’Happy Readingβ€’~


Melihat waktu Carren belum lama mengirimkan pesan untuknya, Aaric segera menghubunginya.


πŸ“±"Arra, sudah mau tidur?" Tanya Aaric, saat Carren merespon panggilannya.


πŸ“±"Sebentar lagi, Kak. Ini sudah mau berdoa untuk tidur. Kakak masih di Surabaya?" Tanya Carren yang mengira Aaric belum kembali dari perjalanannya ke Jawa Timur.


πŸ“±"Tadi sudah kembali. Hanya agak sibuk dikit, jadi belum sempat kabari. Ooh, iya. Besok bisa bolos kerja ngga?" Tanya Aaric saat mengingat Papanya.


πŸ“±"Yaaa, ngga bisa Kak. Besok ada janji dengan client yang mau datang ke kantor. Ada apa, Kak?" Tanya Carren, pelan sambil berpikir. Kenapa Aaric tiba-tiba memintanya bolos kerja lagi.


πŸ“±"Kira-kira jam berapa selesai pertemuannya?" Tanya Aaric lagi, karena memiliki rencana tiba-tiba untuk mempertemukan Carren dengan Papanya.


πŸ“±"Belum tahu, Kak. Kami janji bertemu jam sembilan, makanya ini mau tidur agar bisa bangun untuk berangkat pagi ke kantor." Ucap Carren menjelasakan.


πŸ“±"Kalau begitu, setelah pertemuan atau bisa delegasikan ke karyawan, hubungi aku. Nanti mereka menjemputmu untuk datang ke tempatku. Aku ada perlu denganmu, tapi ngga bisa jemput." Carren mendengar Aaric yang berkata dengan serius.


πŸ“±"Iya, Kak. Besok aku usahakan, agar bisa cepat selesai. Kak Aaric ngga apa, apa, kan?" Tanya Carren pelan sambil berpikir. 'Apakah terjadi sesuatu dengan Aaric, hingga tiba-tiba memintanya datang? Carren membatin.


πŸ“±"Apa, apa, jika kau ngga bisa tidur nyenyak malam ini. Hhhhhh..." Aaric tertawa mendengar ucapannya. Dia berusaha becanda, agar Carren tidak berpikir sedang terjadi sesuatu dengannya.


πŸ“±"Kakak, kalau ngomong suka benar." Ucap Carren, ikut becanda.


πŸ“±"Hahaha.. Mari kita istirahat, supaya bisa bangun pagi. See you tomorrow." Ucap Aaric, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Carren membalas salamnya.

__ADS_1


.***.


Keesokan harinya, saat sudah tiba di kantor, Carren mulai persiapkan semua yang dibutuhkan untuk bertemu dengan clientnya. Dia berbicara dengan Rosna, agar bisa membantunya jika pertemuannya lebih lama dari yang diperkirakan. Dia menganggap permintaan Aaric tadi malam adalah serius.


Benar saja, sebelum waktu kedatangan clientnya, Aaric kembali menghubunginya.


πŸ“±"Pagi, Arra. Sudah di kantor?" Tanya Aaric, saat Carren merespon panggilannya.


πŸ“±"Pagi juga, Kak. Iya, ini lagi siap-siap sebelum clientnya datang. Gimana, Kak?" Tanya Carren, mulai menanggapi dengan serius permintaan Aaric, karena Aaric menghubunginya lagi sebelum waktu pertemuan dengan client yang disampaikannya tadi malam.


πŸ“±"Aku menelponmu, supaya tidak lupa untuk mendelegasikan kerjaannya untuk karyawaanmu. Aku mau minta tolong. Apa kau bisa membuat soup ayam?" Tanya Aaric serius. Carren yang tadinya mau becanda, jadi terdiam.


πŸ“±"Bisa, Kak. Kakak mau dibuatkan soup ayam?" Tanya Carren, menanggapi pertanyaan Aaric sambil berpikir, ada apa gerangan.


πŸ“±"Kalau begitu, nanti sebelum ke sini, tolong beli ayam dengan semua teman-temannya untuk buat soup, ya. Aku tidak bisa membelinya, karena tidak tahu bumbu-bumbunya." Ucap Aaric lagi dan tetap serius. Selain tidak tahu bumbu, dia belum pernah belanja di swalayan untuk kebutuhan sehari-hari. Semua kebutuhannya sudah disediakan Jekob.


πŸ“±"Aku tidak tahu lagi, lauk yang cocok untuk makan siang berpasangan dengan itu. Kau bantu pilih dan tambahkan saja, ya." Aaric berkata sambil berpikir untuk tambahan menu, tapi tidak terpikirkan. Dia hanya teringat soup ayam untuk dimakan Papanya.


πŸ“±"Ooh. Kakak bisa makan tahu atau tempe?" Tanya Carren lagi, sambil berpikir lauk tambahan yang cocok. Dia makin curiga, Aaric sedang kurang sehat, sehingga memintanya memasak soup ayam.


πŸ“±"Bisa makan dua, duanya. Kau lihat saja setelah di swalayan, mana yang cocok. Kabari aku jika sudah selesai meeting, biar mereka berdua pergi menjemputmu." Aaric berkata serius, agar Carren mau datang membantunya.


πŸ“±"Baik, kak. Nanti aku kabari jika sudah selesai." Ucap Carren, meyakinkan akan datang.


πŸ“±"Ok. Nanti kau bicara dengan mereka saja, mau mampir di swalayan mana yang kau mau. Sampai ketemu." Ucap Aaric, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Carren membalas salamnya.

__ADS_1


Aaric merasa lega, Carren bisa membuatkan soup untuk Papanya, sehingga dia tidak perlu meminta Bibi datang ke apartemen. Dia ingin memperkenalkan Carren kepada Papanya secara pribadi, jadi tidak mengharapkan kehadiran orang lain.


Carren bersyukur, clientnya datang tepat waktu seperti yang dijanjikan. Jadi dia bisa lebih cepat datang ke tempat Aaric. Setelah menyelesaikan presentasinya lengkap dengan desain dan budget, Carren serahkan kepada Rosna dan Akri untuk menjelaskan rinciannya. Dia segera memberi kabar kepada Aaric, bahwa dia sudah selesai meeting dan sudah bisa dijemput.


Setelah dijemput, Carren mampir di swalayan terdekat, searah dengan perjalanan mereka ke apartemen Aaric. Dia memilih semua yang dibutuhkan, ditemani oleh salah seorang anggota keamanan yang turun bersamanya.


Sekarang mereka sudah bisa terang-terangan mendampinginya, jika diminta menjemput. Carren yang sudah berbicara dan meminta maaf kepada mereka, tidak merasa terganggu lagi dengan kehadiran mereka. Dia sudah bisa mengajak mereka ngobrol dengan santai.


Setelah membeli semua yang diperlukan, dia dibantu anggota keamanan untuk membawa semua belanjaannya ke mobil. Carren segera mengirim pesan kepada Aaric, bahwa mereka sudah menuju apartemen. Padahal tanpa Carren kabari, Aaric sudah tahu karena anggota keamanan sedang berkomunikasi dengan Aaric untuk memberitahukan posisi mereka.


Saat tiba di apartemen, Aaric telah menunggunya di lobby. Carren tersenyum senang, melihat Aaric baik-baik saja. Dia berpikir sepanjang pagi, mungkin Aaric sedang kurang sehat.


"Sorry, pagi-pagi sudah repotin." Ucap Aaric sambil mengambil kantong belanjaan dari tangan Carren. "Ngga repotin, ko', Kak. Nanti kakak yang repot, karena akan sesuaikan selerah dengan yang dimasak." Ucap Carren becanda saat mereka berada di lift. Aaric tersenyum mendengar candaan Carren lalu mengacak puncak kepalanya dengan sayang.


Saat Aaric membuka pintu apartemen, Carren terkejut melihat Pak Biantra yang sedang berjalan dari arah ruang makan ke kamar sambil membawa segelas air di tangannya. "Selamat siang." Sapa Carren, sopan. Dia masih terkejut, karena bukan Jekob yang sudah dikenalnya.


Pak Biantra juga terkejut, tapi berjalan mendekati dan menyalami Carren dan tersenyum melihat wajah Carren. "Selamat siang. Saya, Danang." Ucap Pak Biantra memperkenalkan dirinya dengan menyebut nama depannya. Semenjak meninggalkan rumah dan perusahaan, beliau tidak pernah memakai nama belakangnya lagi.


"Saya, Carren, Pak." Ucap Carren tersenyum, sambil menyambut uluran tangan Pak Biantra yang hangat dan ramah.


"Kenalkan, ini Papaku." Aaric berkata pelan, lalu mengelus lengan Carren, karena melihatnya kembali terkejut. Carren secara refleks mengambil tangan Pak Biantra dan memberikan salam dengan meletakan tangan Pak Biantra di dahinya.


"Maaf, Om. Kak Aaric tidak bilang sebelumnya, kalau akan bertemu dengan Papanya." Ucap Carren yang sudah bisa mengendalikan rasa terkejutnya.


"Tidak mengapa. Ayoo, silahkan." Ucap Pak Biantra mempersilahkan Carren masuk dan mengikuti mereka dari belakang. Beliau tidak jadi masuk ke kamar untuk nonton.

__ADS_1


~●○♑○●~


__ADS_2