Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Bertunangan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Aaric langsung berdiri dan memeluk Carren dengan hati membuncah. Yang menyaksikan jadi tepuk tangan dan tertawa mendengar yang dikatakan oleh Aaric dan Carren seperti anak remaja. Terutama Jekob terkesima melihat bossnya bisa lakukan hal itu di hadapan orang lain.


"Kau membuatnya, jadi tidak romantis. Padahal aku sudah latihan sepanjang hari, sudah pasang karpet tebal untuk menjaga kenyaman dengkulku jika harus lama berlutut. Tetap saja, tidak romantis." Protes Aaric, sambil memeluk Carren.


"Aku sudah terbiasa dengan tindakan dan ucapan kakak yang sebelumnya, jadi yang begitu saja. Aku merasa jengah melihat kakak begitu dan dilihat oleh orang lain." Ucap Carren sambil memukul pelan lengan Aaric.


"Itu kan hanya berdua dan spontan. Ini ada orang tua dan yang lain, juga ada persiapan, jadi bisa memikirkan yang sedikit romantis. Tapi kau merusak yang aku siapkan." Ucap Aaric sambil mengusap punggung Carren dengan sayang dan tersenyum, karena mengingat wajah Carren saat dia berlutut.


"Kenapa kalian berdua seperti berada di dunia lain? Apa tidak tahu kami ini sedang melihat dan menunggu kalian?" Pak Biantra protes dengan wajah tersenyum senang melihat kebahagian putranya.


"Papa sangat tidak sabaran dan tidak bisa melihat anaknya senang. Aku sedang menetralkan jantungku dan dengkulku" Aaric membalas ucapan Papanya, lalu melepaskan pelukannya dari Carren.


"Supaya bisa lekas netral, teruskan acaranya agar bisa peluk sepuasnya." Ucap Pak Biantra dengan wajah tersenyum semua yang ada dalam ruangan jadi tertawa.


Aaric teringat dengan kotak perhiasannya. "Karena aku belum sempat ukur jarimu, jadi sebagai tanda pertunangan kita, ini aku berikan untukmu." Ucap Aaric lalu kembali membuka kotak perhiasannya. Dia mengeluarkan seuntai kalung yang sangat indah. Liontinya berbentuk buah kecil dari rangkaian berlian yang berkialau memancarkan warna warni indah.


"Ini aku pesan khusus untukmu, seperti nama panggilanku padamu, Arra. Aku merasa bahagia, hanya dengan melihatmu." Bisik Aaric pelan ke telinga Carren saat mengalungkan kalung itu ke lehernya. Dia tersenyum senang melihat kalungnya sangat cocok di leher Carren. Aaric mengangguk dengan mata berbinar, saat Carren menanyakan dengan isyarat pendapatnya tentang kalung tersebut.

__ADS_1


Secara refleks, Carren memeluk Aaric dengan erat. "Terima kasih, kak." Ucap Carren pelan lalu Aaric kembali balas memeluknya dengan sayang dan rasa senang, karena kalungnya sangat cocok dengan Carren. Bu Nancy dan Pak Biantra bersyukur dengan hati terharu melihat kebahagian anak-anaknya.


Carren melepaskan pelukannya lalu memgambil tangan Aaric. Dia mengajak Aaric berjalan mendekati Mamanya lalu memeluk Mamanya yang sudah berlinang airmata. "Terima kasih, Ma." Carren memeluk Mamanya dengan erat. Bu Nancy balas memeluknya dengan hati membuncah.


"Perjalanannya masih panjang dan ini awal yang baik untukmu. Tetaplah bersyukur, agar Tuhan menjaga milikmu." Bisik Bu Nancy pelan, ke telinga Carren yang sedang memeluknya. Carren mengangguk, mengerti dengan yang dikatakan Mamanya.


Aaric mendekati Bu Nancy, lalu memeluknya setelah Carren melepaskan pelukannya. "Terima kasih, Ma." Ucap Aaric pelan. Bu Nancy makin terharu, karena Aaric telah merubah panggilan terhadapnya. Ketika mendengar itu, Carren makin terharu. Aaric telah memanggil Mamanya dengan sebutan Mama. Biasanya dia selalu mengatakan Mamamu atau Tante di hadapan Mamanya.


Carren mendekati Pak Biantra lalu mengambil tangangnya dan meletakan di pipinya kemudian mencium punggung tangan Pak Biantra dengan hormat. Pak Biantra memegang pundak Carren lalu memeluknya dengan sayang. "Terima kasih, Pa." Ucap Carren juga merubah panggilannya terhadap Papa Aaric.


Pak Biantra mengangguk dan mengusap punggungnya dengan sayang. "Tolong dampingi dan bahagiakan putraku. Dialah kebahagianku. Hormatilah dia selayaknya sebagai pendamping hidupmu." Bisik Pak Biantra pelan di telinga Carren. Mendengar yang dikatakan Pak Biantra, Carren jadi menangis karena sangat terharu. Dia menemukan kasih sayang Papanya dalam diri Pak Biantra.


Aaric melepaskan pelukan Carren dan membawanya ke Bu Nancy untuk ditenangkan. Kemudian dia mendekati Papanya. "Terima kasih, Papa." Aaric memeluk Papanya dengan erat. Hatinya makin terharu merasakan tulang punggung Papanya dibalik jas yang dikenakannya.


Aaric melepaslan pelukannya lalu mendekati Carren yang sudah lebih tenang. "Papa tolong berdoa untuk rencana kami ke depan dan makan malam kita." Ucap Aaric sambil mengusap lengan Carren yang berdiri di sampingnya. Pak Biantra mengangguk lalu mengajak berdoa.


Setelah selesai berdoa dan semua orang hendak berjalan ke ruang makan, Jekob memberikan isyarat kepada bossnya bahwa ada telpon. Aaric berjalan mendekatinya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya. Ketika mengetahui Recky yang menghubungi, Aaric meminta Jekob mengatur dan mengajak yang lain ngobrol.


Aaric berjalan masuk ke kamar lalu menghubungi Recky. Dia khawatir, Papanya mengetahui Recky menghubunginya.

__ADS_1


📱"Aloo Recky. Bagaimana dan kau dimana?" Tanya Aaric saat Recky merespon panggilannya. Dia merasa was-was, Jekob telah membocorkan acaranya kepada Recky. Karena dia sudah melarangnya untuk tidak memberitahukan acara pertunangannya kepada Recky. Dia khawatir Recky tiba-tiba datang, padahal persoalannya hampir selesai dan juga dia akan sangat sedih melihat kondisi Papanya.


📱"Alloo, Kak. Aku masih di rumah. Ini aku mau tanya, apakah persoalan di Jakarta sudah beres?" Tanya Recky dengan suara riang, karena dia mengira masalah yang ditimbulkannya sudah diberesksn kakaknya.


📱"Mengapa kau tanya begitu?" Tanya Aaric sedikit lega, mengetahui Recky masih di Australia.


📱"Selain aku lihat di cctv, aku minta William cek ke apartemen. Orang-orang itu sudah tidak ada di sekitar apartemenku. Makanya aku telpon cek kakak, mungkin kakak tau." Ucap Recky masih dengan suara riang.


📱"Oooh, berarti mungkin akan ada kabar baik. Kau tunggu sebentar lagi, tetap seperti sebelumnya untuk berhati-hati. Aku akan cek perkembangannya dan kabari." Ucap Aaric serius.


📱"Ok, Kak. Semoga benar ada kabar baik, karena aku sudah ingin ke Jakarta untuk bertemu dengan kakak." Recky masih berkata dengan senang.


📱"Mau bertemuku atau bertemu dengan seseorang?" Tanya Aaric memancing informasi dari Recky, mengingat yang dikatakan Papanya, Recky mencintai seorang gadis. Dia ingin tahu, gadis itu di Indonesia atau Australia.


📱"Kakak tau, aja. Nanti kalau persoalannya sudah beres baru aku kasih tau dan kenalkan dia pada kakak." Ucap Recky, senang.


📱"Baik. Aku tunggu. Sementata ini, kau tetap berhati-hati." Ucap Aaric lalu megakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.


Aaric keluar kamar dengan hati lega, karena mengetahui Recky ada di Australia dan juga telah tahu gadis yang dicintai adiknya ada di Jakarta. Jekob yang sedang menunggu di depan kamar dengan was-was, sedikit lega melihat bossnya keluar kamar dengan wajah tenang.

__ADS_1


"Saya kira, kau sudah bocorkan padanya dan sekarang dia sudah ada di bandara Soeta." Ucap Aaric sambil memukul pelan lengan Jekob. Dia menyadari, jika adiknya tahu dia akan bertunangan, adiknya akan terbang pulang tanpa titik atau koma dan tanpa pikirkan persoalan yang sedang dihadapinya.


~●○♡○●~


__ADS_2