
~•Happy Reading•~
Keesokan harinya Carren membuka matanya perlahan dan melihat sekelilingnya. Ketika menyadari sedang berada dimana, Carren langsung bangun dan duduk. Dia memperhatikan kamar yang ditempatinya. Saat melihat bed cover di atas sofa, Carren tertunduk. Dia tahu, Aaric telah berangkat seperti yang dikatakannya.
Carren teringat janjinya tadi malam pada Aaric, untuk mendoakan penerbangannya. Dia menundukan kepala sambil memegang dadanya, dia bersyukur untuk hari baru, penerbangan Arric, rencana kerjanya sepanjang hari dan kesehatan orang-orang yang dikasihinya.
Perlahan dia turun dari tempat tidur, dan dengan tertati-tati, dia berjalan menuju sofa dan berbaring di atas bed cover yang digunakan oleh Aaric. Baru bertemu tadi malam, tapi pagi ini dia sudah sangat merindukannya. Suasana kamar jadi berbeda, tanpa kehadiran Aaric.
Dia berbaring sejenak sambil meringkuk, mencium wangi tubuh Aaric yang masih menempel pada bad cover. Hatinya membuncah dengan rasa rindu dan sayang yang berbeda, sebelum bertemu dengannya kemarin. Sebelumnya ada keraguan dan banyak tanya, apakah Aaric memiliki perasaan yang sama. Tetapi sekarang dia tahu, Aaric mrncintainya.
Mengingat semua yang dikatakan Aaric padanya, dia tidak mau berlama-lama di tempat itu. Semua kemewahan yang tersedia dalam kamar tersebut tidak bisa menghibur hatinya. Dia melipat kembali bad cover yang digunakan Aaric lalu masuk ke kamar mandi.
Agar kakinya yang sakit tidak basah, dia membersihkan tubuhnya dengan hati-hati. Setelah keluar dari kamar mandi, dia membuka koper dan memeriksa semua bawaannya. Ternyata tidak ada yang tertinggal. Semua dibawa oleh orang yang pergi mengambil kopernya.
Carren memilih baju yang pantas untuk bertemu dengan manager resort seperti yang sudah diatur oleh Aaric. Dia bersyukur, Aaric telah mempermudah jalannya, sehingga dengan cepat bisa bertemu dengan manager resort tanpa berliku-liku.
Sebelum bertemu manager, dia menuju restoran untuk sarapan sambil menunggu waktu pertemuan. Carren terkejut, saat dia menyebutkan nama kamar yang digunakan seperti kata Aaric. Para pelayan melayaninya dengan baik dan hormat, walaupun dia hanya mengenakan sandal kamar.
Sambil sarapan, dia menikmati pemandangan laut luas dengan cahaya matahari yang mulai bersinar cerah. 'Andaikan Mama dan Kak Aaric ada di sini, lengkap sudah kebahagian pagi ini. Memulai hari dengan sarapan enak di tempat yang indah dan mewah. Semua yang tidak pernah terlintas dipikirannya.
__ADS_1
Dia merasa sangat diberkati, hatinya membuncah dengan rasa syukur. Kemaren dia berpikir untuk merogo kantongnya agak dalam agar bisa makan siang di tempat ini. Tetapi sekarang dia bisa menikmatinya dengan cuma-cuma, karena kehadiran Aaric.
Sambil memandang deburan ombak menyentuh tepian pantai berkarang, Carren tersentak. Dia teringat ucapan Aaric, jika nanti sudah pasti waktu kembali ke Jakarta, dia akan memberitahukan kedatangannya supaya Carren bisa mengatur pertemuan dengan orang tuanya. 'Apakah Kak Aaric tadi pagi tidak terbang ke Jakarta? Apakah Kak Aaric terbang kembali Aussie seperti yang dikatakannya? Carren membatin dan menyesal lupa menanyakan itu.
Menjelang tiba waktu pertemuan, Carren menyiapkan semua yang diperlukan untuk pekerjaannya. Dia tidak mengenakan sneakersnya, agar kakinya bisa lekas sembuh. Sehingga pulang nanti, dia sudah bisa kenakan sepatunya. 'Melihat kakinya yang masih diperband, manager dan sekertarisnya pasti mengerti. Bukan tidak sopan, tetapi kondisi yang tidak memungkinkan.' Itu yang ada dalam pemikiran Carren.
Saat bertemu dengan mansger, dia dilayani dengan baik dan ramah. Semua yang ditanyakan dijawab dengan sopan oleh manager, bahkan yang tidak ditanyakanpun dijelaskan oleh manager. Mereka dengan senang hati akan membantu Carren pada saat persiapan acara dan juga hari H.
Carren merasa takjub dengan perlakuan baik pihak resort kepadanya. Carren langsung menghubungi clientnya untuk memastikan tanggal pernikahannya. Agar dia bisa langsung membooking tanggal dan tempat itu. Dia merasa bagaikan mendapat durian runtuh, saat manager mengatakan akan mengosongkan tanggal itu untuk Carren. Kemudian memberikan nomor telepon pribadi manager, agar sewaktu-waktu Carren bisa menghubunginya.
Carren meninggalkan ruang kerja manager, diantar oleh salah seorang karyawan untuk melihat dan memeriksa tempat yang akan dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan acara resepsi pernikahan.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Carren segera mengambil ponselnya dari dalam tas, karena berpikir Aaric yang menghubunginya. Tapi saat melihat nama di ponsel, Carren menepuk dahinya.
📱"Siang Carren. Jadi datang nanti malam?" Tanya Parry, saat Carren merespon panggilannya.
📱"Siang, Parry. Aku minta maaf, ngga bisa datang karena masih di luar kota. Besok baru balik ke Jakarta. Ada masalah sedikit, jadi tadi ngga bisa balik. Maafin, ya." Ucap Carren pelan, karena merasa tidak enak hati, dia lupa memberitahukannya lebih awal.
📱"Ngga papa. Nanti kalau sudah kembali, kasih kabar, ya. Hati-hati." Ucap Parry, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah ucapan terima kasih dari Carren.
__ADS_1
Hari ini, tepatnya nanti malam Parry dan Riri akan melangsungkan acara pertunangan, setelah Parry dan keluarga telah melamarnya beberapa waktu lalu. Sehingga Parry mengundang Carren untuk hadir dalam acara pertunangannya. Carren merasa tidak enak hati untuk hadir di acara private kedua keluarga besar itu. Parry telah katakan, tidak mengundang orang lain, hanya keluarga terdekat karena statusnya belum diumumkan oleh orang tuanya.
.***.
Di tempat yang lain ; Keluarga Piltharen sedang sibuk, mempersiapkan acara pertunangan Riri dan Parry. Mereka hanya menyelenggarakannya di rumah, atas permintaan keluarga Hutama. Leon sudah tiba dari Bali, menemui Riri yang sedang mencoba santai dengan duduk di balkon.
"Yang mau bertunangan, hati-hati. Jangan sampai jantungnya salto." Ucap Leon, mengajak bercanda adiknya yang sedang tegang.
"Aaah, Mas Leon. Bikin kaget saja. Mas yang bikin jantungku salto. Syukur deh, Mas Leon sudah kembali. Kata Ayah, Mas mungkin terlambat, karena ada pertemuan lanjutan setelah pertemuan utamanya." Ucap Riri dengan hati senang.
"Memang ada pertemuan lanjutan, tapi aku tidak ikut. Minta ijin, karena ada yang mau bertunangan." Ucap Leon, sambil tersenyum, menganggu adiknya.
"Oooh iya, Mas. Nanti aku kenalin dengan abstrak, ya." Ucap Riri dengan wajah sumbringa, karena Parry telah katakan padanya akan mengundang Carren ke acara pertunangan mereka.
"Tidak usah. Mas tidak berminat berkenalan dengan abstrakmu. Mas sudah punya abstrak sendiri." Ucap Leon tersenyum mengingat pertemuannya dengan seorang gadis di bandara. Sekarang dia menyebutnya dengan abstrak, karena belum tahu siapa dirinya.
Riri langsung melihat kakaknya dengan wajah terkejut. "Mas sudah punya abstrak? Mas akan mengajaknya ke sini malam ini?" Tanya Riri, seakan tidak percaya.
"Kalau bisa mengajaknya ke sini malam ini, aku tidak akan menyebutnya abstrak. Tapi langsung menyebut namanya. Sudaaa... abstraknya. Mas mau istirahat, biar segar nanti malam. Capeeeee..." Ucap Leon, sambil berjalan agak membungkuk meninggalkan Riri yang tertawa. Dia melempar bantal ke arah kakaknya yang sedang berjalan membungkuk sambil tertawa. Kehadiran kakaknya mengurangi rasa tegangnya.
__ADS_1
~●○♡○●~