
~•Happy Reading•~
Keesokan harinya, Aaric berbicara dengan Carren agar mengatur pertemuan lagi dengan Mamanya untuk makan malam. Dua hari kemudian, Aaric bertemu kembali dengan Carren dan Mamanya di tempat yang sama, Goropaku Restaurant. Aaric menyampaikan maksud hati dan rencananya untuk datang melamar Carren di rumah.
Carren telah berbicara dengan Mamanya saat pulang dari apartemen Aaric dan juga rencana Aaric yang disampaikan lewat telpon, agar Mamanya tidak terkejut. Sehingga Bu Nancy menyetujui, ketika Aaric berbicara dengannya. Aaric merasa lega Mama Carren menyambut baik maksud hatinya untuk datang melamar Carren secara resmi.
Jadi sebelum menentukan tanggal pasti lamarannya, Aaric, Jekob dan Sapta terbang ke Surabaya. Jekob telah mengatur semuanya, sehingga saat tiba di bandara Juanda, mereka dijemput oleh karyawan perusahaan Elimus cabang Surabaya.
"Kalian boleh kembali ke kantor, nanti saya hubungi setelah tiba di Surabaya lagi untuk ambil mobil." Ucap Jekob kepada salah satu karyawan yang diminta untuk bawa mobil ke bandara. Jadi dia akan kembali ke kantor dengan temannya yang membawa mobil lainnya.
Aaric telah katakan kepada Jekob, dia ingin ke Malang hanya bersama Sapta dan Jekob. Jadi mereka tidak perlu sopir. Sapta yang akan membawa mobil untuk mengantar mereka ke Malang. Aaric tidak mengijinkan orang lain ke tempat Papanya.
Saat tiba di rumah kakek dan neneknya, Aaric terkejut. Rumah yang pernah didatanginya pada saat kakek dan neneknya meninggal, sekarang sudah sangat rapi dan bagus. Tidak terlihat kumuh lagi seperti dulu. Sekarang lebih asri dan terawat. Aaric langsung masuk ke halaman rumah yang sedang terbuka pintunya. Orang yang ada dalam rumah terkejut mengetahui ada tamu yang datang dan belum pernah dilihatnya.
"Selamat siang, Pak. Maaf, kami mengganggu. Kami mau bertemu dengan Pak Biantra. Apakah beliau ada di sini?" Tanya Jekob melihat seorang bapak keluar dari dalam rumah ke teras.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Bapak-bapak ini dari mana?" Tanya orang tersebut, menyelidiki. "Kami dari Surabaya." Jawab Jekob cepat sebelum bossnya mengatakan siapa mereka. Jekob hanya berjaga-jaga, karena belum tahu pasti apakah Pak Biantra tinggal di tempat itu.
"Bapak sedang ada pertemuan dengan para petani, Pak. Bapak-bapak silahkan duduk dulu di teras, nanti saya pergi panggil bapak. Maaf, jika ditanya, saya akan katakan dengan bapak siapa?" Tanya orang itu lagi sambil menutup pintu rumah.
"Katakan saja, kami dari Surabaya dan mau bertemu dengan Pak Biantra." Ucap Jekob sambil melihat bossnya. Dia mau mengatakan dari Jakarta, tapi nanti Pak Biantra berpikir lain mungkin dikira mereka dari perusahaan Biantra dan tidak mau bertemu dengan mereka. Aaric mengangguk mengerti maksud Jekob.
Penjaga rumah segera pergi dengan berjalan cepat. Aaric berjalan di halaman rumah sambil melihat rumah dan halaman di sekitarnya. Dia jadi mengingat masa kecil bersama Recky dan Papanya datang mengunjungi kakek dan neneknya.
Tidak lama kemudian, Pak Biantra datang bersama penjaga rumah dengan tergesa-gesa. Beliau ingin tahu, siapa tamu yang datang mengunjunginya. Beliau sangat penasaran dan was-was, jika ada yang mengunjunginya. Beliau berpikir sepanjang jalan, berarti ada yang tahu keberadaannya di Malang. Beliau tidak berpikir tentang kedatangan anak-anaknya yang sudah tahu tempat tinggalnya.
"Selamat siang, Pak. Saya Sapta." Sapta yang telah berdiri, menyapa sambil memperkenalkan diri. Pak Biantra menyambut uluran tangannya dengan hati bertanya-tanya, siapa pria kekar yang datang menemuinya.
"Selamat siang, Pak Biantra. Saya Jekob." Ucap Jekob sambil menyalami Pak Biantra. Mendengar suara dan nama Jekob, Pak Biantra tertegun. Beliau mengingat suara Jekob saat telpon dengannya. Beliau juga mengingat nama Jekob yang tidak umum, dimana pernah kirim pesan padanya sebagai orang kepercayaan Aaric. Beliau langsung menyalami Jekob dengan hangat, dan hati lega. Kedua tamunya berhubungan dengan putranya, bukan dengan keluarga istrinya.
Saat hendak mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam rumah, Pak Biantra terkejut melihat Aaric berjalan keluar dari halaman samping rumah. Beliau melihatnya dengan mata berkaca-kaca dan hendak beranjak untuk memeluknya. Tetapi beliau ragu-ragu dan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Aaric yang mengerti keraguan Papanya, segera berjalan dengan langkah panjangnya untuk mendekati Papanya. "Maafkan Aaric, Pa." Aaric berkata sambil memeluk Papanya. Pak Biantra langsung membalas pelukan putranya dengan hati yang membuncah kebahagian. Momen yang sangat dirindukan dan tidak berani membayangkannya.
Sapta dan Jekob segera masuk ke dalam rumah mengikuti penjaga rumah. Mereka memberikan kesempatan kepada bossnya untuk bersama Papanya. Mereka juga menjelaskan kepada penjaga rumah, siapa yang sedang memeluk Pak Biantra. Penjaga rumah langsung memegang dadanya dengan mata berembun. Dia mengerti perasaan tuannya yang selalu merindukan anak-anaknya, sehingga selalu menceritakan mereka. Tuannya selalu mengatakan, anak-anaknya ada di luar negeri jadi belum bisa mengunjunginya.
Dia tidak menyangka, anak tuannya sangat tinggi dan tampan, seperti orang bule. Penampilannya bagaikan orang gedongan, seperti tuannya saat pertama kali pulang ke rumahnya. Sekarang tuannya sudah menyesuaikan diri dengan hidup sederhana seperti lingkungannya. Karena setiap hari bertemu dengan para petani dan buruh kasar untuk mengajari mereka bagaimana bercocok tanam dan menjual hasil sawah dan hasil ladang mereka.
Pak Biantra tetap memeluk Aaric dengan erat karena sangat merindukan putranya yang belasan tahun tidak bisa seperti ini, sebagai Ayah dan anak. "Papa yang harus minta maaf padamu. Membiarkanmu berjuang sendiri untuk hidupmu. Maafkan Papa, Aaric. Terima kasih sudah kunjungi Papa di sini." Ucap Pak Biantra dengan suara bergetar menahan haru, sambil menepuk pelan punggung Aaric yang sedang memeluknya.
Aaric hanya diam, sambil terus memeluk Papanya, karena hatinya sudah sangat terharu menyadari tubuh Papanya yang makin ringkih dan kurus dalam pelukannya. "Sekarang, Papa harus mendengarku dan mengikuti semua yang aku katakan. Sudah cukup Papa menyediri di sini, karena Papa tidak sendiri di dunia ini. Ada kami berdua, anak-anak Papa." Aaric berkata pelan dengan suara bergetar, menahan perasaannya. Dia terus mengusap punggung Papanya dengan sayang saat menyentuh tulang belakang Papanya yang terasa di tangannya.
"Papa tidak akan mengganggu hidupmu. Papa sudah sangat bahagia jika kau sesekali datang mengunjungi Papa di sini." Ucap Pak Biantra pelan, lalu melepaskan pelukannya dengan mata yang makin berkaca-kaca. Beliau tidak mau kembali lagi ke Jakarta.
Aaric juga melepaskan pelukannya dan melihat Papanya dengan mata berkaca-kaca. Dia semakin terharu melihat wajah Papanya yang kurus dan warna kulit lebih gelap. "Jika Papa terus tinggal di sini, berarti Papa tidak mau bertemu dengan Recky. Aku tidak akan menginjinkan Recky datang ke sini." Aaric berkata serius dan tegas. Dia sedikit mengancam, agar Papanya mau mengikutinya.
~●○♡○●~
__ADS_1