
~β’Happy Readingβ’~
Carren telah kembali dari Bali sebagaimana yang dikatakan kepada Aaric. Dia tidak memperpanjang tinggal di Bali untuk liburan, karena perkerjaannya cepat selesai. Dia juga tidak membutuhkan liburan lagi untuk membuatnya lebih santai. Apa yang memberatkan hatinya belakangan ini dudah terangkat, saat bertemu dengan Aaric.
Walaupun berpisah lagi, tetapi sekarang hatinya lebih lega. Aaric sudah menghubunginya dan Carren tahu keberadaannya. Jadi tidak lagi kepikiran, karena sudah tahu tentang keberadaan Aaric. Carren mulai bekerja mempersiapkan berbagai acara pernikahan di berbagai tempat dengan perasaan lebih santai dan ringan.
Tidak terasa waktu berlalu, sudah hampir tiga minggu mereka berpisah. Carren belum berani menceritakan apa yang terjadi di Bali kepada Mamanya. Dia masih menunggu kepastian dari Aaric, baru bicarakan dengan Mamanya. Carren khawatir, Aaric masih lama di luar negeri sehingga percuma bicara dengan Mamanya.
Seperti hari ini, Carren sudah pulang kerja bersama ojol, karena Ichad dan lainnya masih lembur. Dia tidak lagi ikut lembur, karena jika masih lembur, Aaric memaksanya untuk menambah karyawan. Jadi jika di kantor, dia bekerja semaksimal mungkin, agar bisa pulang tepat waktu. Hanya pertemuan dengan client di luar jam kerja tetap dilakukan.
Bu Nancy yang selalu memperhatikan putrinya, mulai curiga. Beliau bersyukur melihat Carren lebih segar semenjak kembali dari Bali, walau masih banyak pekerjaan. "Arra, Mama bersyukur, kau sekarang bisa mengatur waktu kerjamu. Tidak lagi lembur sampai larut malam seperti sebelumnya." Bu Nancy berkata, saat mereka selesai makan malam dan menikmati buah jeruk yang dibeli oleh Carren saat waktu istirahat di kantor.
Tiba-tiba Carren berdiri dari meja makan. "Sebentar ya, Ma. Arra terima telpon dulu." Ucap Carren lalu meninggalkan Mamanya yang diam terpaku. Bu Nancy sudah melihat perubahan putrinya semenjak pulang dari Bali. Dia yang biasanya meletakan ponselnya di kamar atau sembarang tempat, sekarang selalu ada di kantong celananya. 'Apakah dia bertemu dengan seorang pria di Bali? Apakah sekarang dia sudah berpacaran?' Bu Nancy membantin sambil melihat putrinya berjalan masuk ke kamar.
Carren sengaja menerima telpon di kamar, karena Aaric yang menghubunginya. Carren tidak enak, jika tiba-tiba berbicara akrab dengan seorang pria di depan Mamanya.
π±"Allooo, Kak. Apa kabar?" Tanya Carren saat merespon panggilan Aaric.
π±"Arra, bukankah tadi di kantor kau sudah tanyakan kabarku saat chat?" Tanya Aaric tersenyum sendiri, mendemgar pertanyaan Carren.
π±"Ooh, iya, yaa. Padahal baru tadi sore, serasa sudah lama. Hehehe... sudahlah, kakak jangan ledekin lagi." Ucap Carren dengan wajah memerah, merasa malu walau Aaric tidak melihatnya.
__ADS_1
π±"Kau sedang bikin apa? Sudah mau tidur?" Tanya Aaric mengalihkan pembicaraan.
π±"Baru selesai makan dengan Mama, Kak." Jawab Carren pelan, khawatir Mamanya mendengar.
π±"Ooh iya. Kau sudah bicara dengan Mamamu tentang kita?" Tanya Aaric, baru teringat pembicaraan mereka di Bali. Walaupun sering berkomunikasi, tapi hanya sebatas chat atau telpon singkat menanyakan kabar.
Selain kesibukan, juga perbedaan waktu diantara mereka membuat komunikasi tidak lancar. Mereka belum membicarakan hal-hal yang penting untuk kelanjutan hubungan, mereka hanya menjaga komunikasi, agar bisa tahu keadaan masing-masing.
Hal itu sering dilakukan oleh Carren, karena ingin tahu keadaan Aaric. Sangat berbeda dengan Aaric, karena setiap hari dia mendapat laporan dari anggota keamanan yang menjaga Carren di kantor. Kecuali Carren sudah pulang ke rumah. Aaric melarang mereka untuk mengawasi Carren di rumahnya.
π±"Aku belum bicara dengan Mama, Kak. Tunggu kakak sudah di sini saja, baru aku bicara dengan Mama. Nanti Mama tanya banyak hal, aku tidak bisa jawab. Mama akan makin bertanya, kalau aku tidak bisa jawab dengan baik dan benar." Jawab Carren makin pelan.
π±"Benarkah? Besok kakak sudah di sini?" Tanya Carren, riang. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, sehingga volume suaranya agak keras.
π±"Sssssstttt... Bisa didengar Mamamu. Aku bisa bayangkan, kalau ada di situ, pasti sudah dapat pelukan." Aaric tersemyum membayangkan reaksi Carren saat mendengarnya mau ke Jakarta.
π±"Hehehe.... sudah kebaca, ya." Jawab Carren memperkecil volume suaranya.
π±"Sangat jelas." Ucap Aaric, makin tersenyum membayangkan wajah Carren yang memerah.
π±"Kita sudahan dulu, nanti di sana baru ngobrol lagi. Bicara dengan Mamamu, nanti info hasilnya. Aku mau siapa-siap." Ucap Aaric berharap, semua baik-baik saja.
__ADS_1
π±"Iya, Kak. Sampai ketemu, besok. Hati-hati, Kak." Ucap Carren dengan hati yang senang lalu Aaric mengakhiri pembicaraan mereka.
Carren keluar dari kamar dan terkejut melihat Mamanya masih duduk di meja makan, menunggunya. "Adakah yang Arra sembunyikan dari Mama?" Tanya Bu Nancy, saat melihat wajah putrinya yang sumbringa saat keluar dari kamar.
Carren perhalan mendekati Mamanya dan langsung memeluknya dari belakang. "Bukan menyembunyikan, Ma. Hanya menunggu waktu yang pas untuk bicara dengan Mama." Ucap Carren pelan, sambil terus memeluk Mamanya.
"Sampai kapan waktu yang pas menurut Arra? Mama yang melihat, menganggap Arra sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama." Ucap Bu Nancy, serius. Mendengar Mamanya serius, Carren melepaskan pelukannya lalu duduk kembali di depan Mamanya.
"Waktu yang pas itu sekarang, Ma. Arra mau kasih tau Mama, Arra sudah punya pacar. Kami bertemu di Bali, saat Arra ke Bali waktu itu." Ucap Carren pelan, sambil memeggang tangan Mamanya.
"Kau di Bali hanya tiga hari. Dikurangi dengan bekerja, bisa bertemu dengan pria itu dan dia langsung jadi pacarmu?" Ucap Bu Nancy dengan alis bertaut, karena khawatir putrinya salah bertemu orang dan salah menjalin hubungan dengan seseorang dalam pertemuan yang singkat.
"Sebenarnya, kami bukan baru bertemu di Bali itu, Ma. Kami sudah bertemu di Jakarta sebelumnya. Tapi karena kesibukan, kami tidak pernah bertemu lagi. Arra tidak menyangka bertemu dengannya di Bali. Jadi baru bisa berbicara dengan baik. Ternyata dia menyukai Arra dan juga sebaliknya, Ma. Arra menyukainya." Jawab Carren makin pelan, tapi hatinya berharap Mamanya tidak bertanya lebih banyak tentang Aaric, karena dia sendiri belum tahu banyak tentang Aaric.
"Siapa namanya dan apakah dia bekerja? Apakah dia punya pekerjaan tetap?" Tanya Bu Nancy, karena itu yang utama baginya selain pria baik-baik. Beliau tidak akan membiarkan putrinya bekerja keras lagi jika sudah menikah. Jadi sedikit banyak, pria yang akan mendampingi putrinya kelak memiliki pekerjaan yang baik dan tetap.
Putrinya bisa terus bekerja, karena tanggung jawab untuk karyawan-karyawannya. Tetapi bukan menjadi tulang punggung rumah tangganya. Suaminyalah yang harus menjadi tulang punggung keluarganya kelak.
Bu Nancy sangat mengutamakan itu, karena melihat kerja keras putrinya selama ini. Beliau berharap pendamping hidup putrinya bisa memberikan sedikit kelonggaran untuknya dari tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga yang selama ini diemban.
~βββ‘ββ~
__ADS_1