
~•Happy Reading•~
Carren mendengar yang dikatakan Aaric, jadi memukul pelan belakang Aaric yang sedang memeluknya. Dia yang lagi terkejut, jadi tersenyum. "Kak Aaric sedang ledekin aku?" Tanya Carren. Aaric melepaskan pelukannya, lalu tersenyum melihat wajah Carren yang memerah, karena malu.
"Aku tidak sedang ledekin, hanya ketelepasan ngomong. Masa dua kali melamarmu dengan cara seperti itu. Sangat tidak romantis. Nanti kalau sudah bisa berpikir dengan baik, baru aku akan melamarmu untuk menikah denganku. Untung kau sendiri yang tau, jika ada yang mengetahuinya, mereka akan mengatakan aku pria yang tidak ada romantis-romantisnya." Ucap Aaric serius, tapi matanya tersenyum membuat Carren jadi ikut tersenyum.
"Memangnya yang romantis itu yang bagaimana, Kak? Bukankah yang tadi siang dan barusan itu sudah romantis, karena sukses membuatku terkejut?" Tanya Carren, karena menurutnya, cara melamar Aaric sangat unik dan menyentuh hati.
"Kalau kau bertanya begitu, aku terpaksa akan memikirkannya. Jangan pikirkan itu lagi, biar aku saja yang pikirkan itu. Karena aku yang akan melamarmu." Ucap Aaric untuk memghindari pembahasan yang belum perlu.
"Sekarang kita sepakat dulu. Kau mau pacaran dulu baru menikah, atau menikah dulu baru pacaran." Aaric berkata dengan wajah serius, membuat Carren kelagapan karena tidak siap dengan permintaan Aaric.
"Aku terserah Kak Aaric saja. Bagaimana baik menurut kakak, aku akan ikut." Jawab Carren, karena dia percaya pada keputusan Aaric. Apapun pilihannya, dia akan bersama Aaric.
"Kalau aku, masih seperti yang tadi. Menikah dulu, baru pacaran. Karena kalau belum menikah, kau tidak bisa diajak bepergian. Sedangkan aku sering bepergian. Jika pacaran dulu, kita akan lebih sering berpacaran lewat ini." Aaric kembali mengambil ponselnya dan menunjukannya kepada Carren.
__ADS_1
Carren jadi tersenyum melihat gerakan tangan dan binar di mata Aaric. "Aku ikut, bagaimana baiknya menurut Kak Aaric." Carren sudah bisa berbicara santai, melihat sikap Aaric kepadanya yang sudah santai.
"Arra, kau sudah mengantuk?" Tanya Aaric saat melihat waktu diponselnya sudah hampir tengah malam. Dia berpikir akan berbicara lagi di lain waktu jika Carren mau istirahat. Carren menggeleng, karena dia masih ingin bersama dengan Aaric. Mau menanyakan banyak hal tentang Aaric.
"Baiklah. Kalau begitu, tunggu. Kau mau minum sesuatu yang hangat? Aku mau pesan minuman panas, karena jam segini, aku sudah tidak bisa tidur lagi." Ucap Aaric, mengingat dia akan pergi jam tiga dini hari ke bandara untuk terbang menjelang Subuh.
"Aku minta hot chocolate saja, Kak. Terima kasih." Ucap Carren, mengingat minuman kesukaan yang dibuat Mamanya jika dia harus kerja hingga larut malam. Kadang bergantian dengan susu murni. Tetapi di tempat begini, lebih baik hot chocolate dari pada susu yang tidak murni.
Aaric memandang Carren, saat mendengar permintaanya. "Kau suka minum hot chocolate?" Tanya Aaric, karena dia sediri sangat menyukainya. Dia selalu siapkan persediaan dimana dia akan tinggal lama di tempat itu.
"Iya, Kak. Bisa dibilang suka, karena sering minum jika harus bekerja sampai larut malam. Gantian dengan susu murni." Jawab Carren lagi. Tanpa sadar, mereka sedang belajar saling mengenal kesukaan masing-masing.
"Kau duduk bersandar di situ sambil minum hot chocolatenya, aku akan mengepak barang bawaanku." Ucap Aaric, karena tidak mungkin keamanan datang merapikan barang bawaannya saat Carren ada bersamanya. Walaupun tidak bamyak barang yang dibawa, tetap harus dirapikan. Semua baju santai dan perlengkapan mandi dia masukam ke dalam tas kecil, sedangkan kedua jas yang dipakai untuk acara pertemuan tinggal dibawa.
Setelah semuanya selasai dirapikan, Aaric kembali duduk di sofa di samping Carren yang sedang memegang cangkir hot chocolate dengan kedua tangannya. "Arra, kita ini sudah bicara sangat jauh ke depan. Tetapi kau dan aku belum saling mengenal. Aku baru saja mengetehui, kau suka hot chocolate atau susu murni." Aaric tersentak saat mengetahui kesukaan Carren yang dia belum tahu sebelumnya.
__ADS_1
"Jika aku sibuk, tolong hubungi agar kita bisa menjaga komunikasi dan lebih mengenal. Jadi kalau ada sesuatu yang negatif dari luar, kita bisa hadapi. Hubungan kita serius, bukan seperti anak remaja yang baru belajar pacaran. Pasti akan banyak hal serius yang akan kita hadapi. Jadi kita harus lebih saling mengenal, agar lebih kuat menghadapinya." Aaric berbicara serius, karena beberapa waktu ke depan akan banyak hal yang terjadi dengan keluarganya. Sehingga dia berharap, Carren tetap percaya padanya dan mendukungnya.
"Karena sekarang aku sudah melamarmu secara pribadi, kau orang terpenting bagiku. Aku ingin kau tau itu, agar jika mendengar sesuatu tentangku, bicarakan denganku. Jangan menarik kesimpulan sendiri, tanpa menanyakannya padaku." Ucap Aaric serius. Melihat itu, Carren meletakan cangkir di tangannya ke atas meja.
Aaric merasa lega, karena Carren bisa mengerti. Dengan cara dia meletakan cangkir, Aaric tau Carren memyimak yang diucapkannya. Tidsk bersikap cuek atau mengabaikan ucapannya.
"Hal pertama yang harus aku bicarakan denganmu, agar tidak menjadi ganjalan atau terjadi salah paham di antara kita. Kau bukan wanita pertama dalam hidupku. Sebelumnya ada seseorang yang pernah kucintai. Tapi kau tidak usah memikirkannya, karena dia sudah tidak ada di dunia ini bersama kita. Aku sudah melepas kepergiannya, jadi sekarang hanya kau yang ada di hatiku." Ucap Aaric, lalu menggenggam tangan Carren.
"Bagaimana denganmu? Karena tidak mungkin aku pria pertama dalam hidupmu." Itu yang dipikirkan Aaric, karena tidak mungkin Carren tidak memiliki pacar sebelumnya. Dilihat dari sikap dan parasnya, pasti ada yang tertarik denganya.
"Aku bertanya begini, karena aku tidak menyukai, tepatnya tidak bisa menerima kejutan. Jika lebih awal kau sudah mengatakannya, aku tidak akan terganggu jika tiba-tiba mendengar atau berhadapan." Ucap Aaric untuk meyakinkan Carren, agar bisa bicara terbuka dengannya.
Carren memandang Aaric, lalu menundukan wajahnya. Dia tidak sanggup berbicara tentang masa lalunya sambil melihat wajah Aaric. Walaupun pandangannya meneduhkan, tapi ada keseriusan di sana. "Aku juga, Kak. Pernah menyayangi seseorang, tapi kami sudah berpisah." Ucap Carren sambil mengingat Recky.
"Kenapa kalian berpisah?" Tanya Aaric serius, karena ucapan Carren menguatkan dugaannya. "Karena dia sudah menikah, Kak." Ucap Carren pelan. Aaric menatap Carren dengan serius, saat mendengar yang dikatakannya. Dipikirannya, ada pria yang melepas Carren untuk menikah dengan wanita lain, berarti wanita itu luar biasa menakjubkan. Baginya Aaric, Carren adalah wanita yang menakjubkan.
__ADS_1
"Apa kalian masih berkomunikasi?" Tanya Aaric lagi, karena kasus Carren berbeda dengannya. Mereka masih sama-sama hidup dan masih bisa berkomunikasi. Apalagi di jaman seperti sekarang ini, alat untuk berkomunikasi ada dalam genggaman.
~●○♡○●~