Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Penggalan Kebaikan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Aaric masih memeluk Recky dan mengusap punggungnya untuk memenangkannya. "Tidak usah pikirkan lagi yang sudah berlalu. Sekarang kita sudah dewasa, bisa memutuskan yang baik untuk masa depan kita. Jangan biarkan orang lain mengatur jalan hidup kita. Semoga apa yang kau putuskan masih bisa diperbaiki. Ayooo, mari kita pulang." Recky melepaskan pelukannya lalu turun dari tempat tidur. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan merapikan pakaian untuk pulang bersama kakaknya.


Saat tiba di rumah Aaric, Recky tertegun. Rumah kakaknya tidak terlalu besar, tapi memiliki halaman yang luas dengan beberapa pohon yang rimbun di bagian belakang. Recky sangat menyukai rumah mungil kakaknya.


"Ayoo, masuk. Aku akan kenalkan kepada pelayan, agar mereka bisa layani kebutuhkanmu selama di sini." Aaric berkata setelah mereka tiba di rumahnya. Kedua pelayan yang bekerja padanya mengangguk hormat, kepada Recky sama seperti kepada Aaric.


Mereka duduk di halaman belakang yang sejuk, sambil menikmati minuman dan snack yang disediakan oleh pelayan. "Nanti setelah ini, kau telpon asistenmu untuk datang kesini. Kau bisa bicarakan dan mengatur semua dengannya sambil menungguku pulang. Aku akan ke kantor sebentar." Aaric berkata setelah mereka selesai minum.


"Iya, kak. Aku akan menghubungi beberapa orang yang mungkin sedang mencariku. Kakak urusin kerjaan saja, aku sudah ngga papa." Recky berkata tenang, agar kakaknya bisa konsentrasi dan tenang bekerja.


"Baik. Mari aku tunjukan kamarmu. Mungkin nanti kau mau istrirahat. Ini kamarku, kamarmu di lantai atas." Aaric mengajak Recky untuk melihat kamarnya. Recky sangat senang melihat kamar yang sediakan untuknya.


"Terima kasih, kak. Aku suka sekali kamar ini. Nanti aku akan minta asisten membawa semua perlengkapan kerjaku ke sini." Ucap Recky riang, saat melihat kamarnya yang cukup luas. Dia langsung memikirkan apartemen dan semua perlengkapan kerjanya.


"Baik. Kau atur saja dengan asistenmu. Yang penting kau ingat, sebelum semuanya aman jangan keluar dulu. Sementara seperti begini, nanti pulang kantor baru kita bicara lagi." Ucap Aaric lalu keluar meninggalkan Recky.


Setelah ditinggal kakaknya, Recky mulai berkonsentrasi untuk pekerjaannya. Dia menghidupkan ponselnya dan bersyukur, ponselnya dalam kondisi off (flight) jadi tidak ada pesan yg masuk atau misscal. Sehingga bisa mengganggu atau menggodanya untuk membuka dan membacanya, atau melihat siapa yang menghubunginya.


Dia memindahkan nomor penting yang akan dihubunginya. Kemudian dia menghubungi asistennya, untuk diminta datang ke rumah. Dia tahu, kakaknya sudah memberitahukan asistennya tentang sakitnya. Sekarang dia ingin berbicara dan mengatur semuanya, sesuai perkembangan yang sedang terjadi.


"William, tolong ke apartemen dan lihat situasi di sana, ya. Apakah ada orang yang mengawasi apartemenku, atau ada yang tinggal. Kalau ada dan bertanya tentangku, katakan saja kau datang mencariku....." Recky menceritakan semua yang terjadi, kenapa sementara ini dia tidak bisa berhubungan dengan orang lain dan tidak kembali ke apartemen.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya akan lakukan yang terbaik. Sekarang bapak di sini saja, nanti saya pergi lihat situasi dan jika memungkinkan akan mengambil yang diperlukan." Asisten Recky mulai paham dengan apa yang dialami oleh bossnya.


"Terima kasih, William. Sementara ini, kau adalah tangan dan kaki saya untuk melakukan beberapa hal pribadi. Karena hanya kau yang kupercaya. Sedangkan di kantor, kau bisa katakan apa saja, yang tidak membuat karyawan curiga dan bertanya-tanya tentang ketidak hadiran saya." Recky berbicara serius dan berharap William bisa mengerti.


"Baik, Pak. Jika bisa membawa keperluan bapak, saya akan bawa ke rumah saya dulu untuk melihat, apakah ada yang mengikutiku. Jika aman, nanti malam saya baru datang ke sini untuk membawanya." William menyampaikan apa yang akan dilakukannya.


"Baik. Kalau begitu, ini kunci apartemen dan kunci lemari. Jika bisa, kau bawa semua yang ada di daftar ini. Ada tas di atas lemari di kamar, kau tolong isi di situ. Hati-hati dengan semua perlengkapan gambar saya. Kalau tidak bisa membawa pakaian, bawa saja dulu semua dokumen dan perlengkapan yang sudah saya catat di di situ."


"Baik, Pak. Sekarang saya akan ke sana sebelum sore. Saya juga akan menghubungi bapak, jika ada terjadi sesuatu." Dengan pemikiran yang baik dan cepat mengerti, William mau menolong bossnya.


"Ooh, iya William. Sekarang aku memakai nomor yang tadi. Nomor itu jangan kau berikan untuk siapapun tanpa seijinku. Sementara nomor yang lama belum bisa dipakai." Ucap Recky mengingatkan, saat William hendak berdiri. William mengangguk mengerti, lalu keluar meninggalkan bossnya.


Setelah ditinggal William, Recky menghubungi temannya di Indonesia. Hal yang ingin dia lakukan sejak meninggalkan Jalarta.


📱"Astaghfirullah, Bang. Aku sudah menghubungimu ratusan kali di nomormu. Apakah ini nomor barumu?" Tanya Zull dengan perasaan campur aduk. Senang, marah, kesal, semuanya jadi satu.


📱"Maaf, Bang. Ada masalah sedikit, jadi sementara nomorku yang lama tidak bisa dipakai. Jadi sekarang aku pakai nomor ini. Simpan dan tidak boleh diberikan untuk siapapun, ya." Pinta Recky setelah menceritakan sedikit persoalan yang sedang dihadapi.


📱"Iya, Bang. Aku mengerti situasi. Sampai sekarang mereka sedang mengawasi bengkelku. Setelah hari itu, ada beberapa orang datang ke tempatku untuk menanyakan mobil Abang. Aku bilang sesuai yang Abang minta, sudah dijual. Tapi sepertinya mereka tidak percaya, walaupun aku sudah bilang itu urusan Abang mau menjual kepada siapa. Aku hanya dititipin untuk menyerahkan mobil dan kunci." Zull menjelaskan situasi yang terjadi.


📱"Makasih, Bang. Apakah surat-surat mobilnya sudah beres?" Tanya Recky untuk mengamankan mobilnya.


📱"Sedang dalam proses, Bang. Mungkin beberapa hari lagi sudah selesai. Aku akan serahkan kepada Mba' Carren?" Tanya Zull untuk meyakinkannya.

__ADS_1


📱"Iya, tapi Abang menemuinya jangan dari bengkel, ya. Jangan sampai ada yang mengikuti Abang. Aku akan kirim nomor Mba' Carren, bilang saja dari bengkel yang bawa mobil waktu itu, kalau ditanya." Recky berpikir cepat.


📱"Tolong ingatkan Mba' Carren untuk tidak memakai mobil sampai Abang membawa surat-suratnya dan plat nomor baru. Abang jangan berikan nomorku ini padanya. Katakan saja itu permintaanku." Recky mulai cemas memikirkan perkembangan kondisi yang terjadi. Saat itu dia tidak berpikir akan terjadi seperti ini.


📱"Baik, Bang. Aku mengerti. Setelah Abang kirim nomor, aku akan hubumgi Mba' Carren. Apakah tangan Abang baik-baik saja?" Tanya Zull, mengingat kondisi tangan Recky saat terakhir mereka bertemu.


📱"Puji Tuhan. Sudah bisa dibilang sembuh, Bang. Hari ini aku baru keluar dari rumsh sakit dan lqngsung hubungi Abang. Aku khawatir mereka melakukan sesuatu terhadap bengkel Abang." Recky selalu memikirkan itu saat di rumah sakit, mengingat banyak orang mencarinya. Pasti mereka akan tau bengkel itu, karena cvtv Hotel. Keluarga Liana akan mudah melacaknya.


"📱Alhamdulillah, Bang. Mereka hanya datang tanya saat itu dan selanjutnya mereka hanya mengawasi. Aku tau mereka, tapi aku pura-pura tidak tau dengan mengurus bengkel yang lumayan sibuk." Ucap Zull menjelaskan, membuat Recky lega. Bengkel itu adalah bantuannya untuk Zull, agar bisa menghidupi keluarganya.


Zull pernah menolongnya saat terjadi pecah ban mobil lama di jalan. Melihat ketangkasan dan keahlian Zull, Recky menawarkan untuk buka bengkel kecil-kecilan di depan rumah orang tuanya. Karena Zull orang yang cekatan, pintar dan mau kerja keras, bengkelnya bisa berkembang dan bertahan sampai sekarang. Recky selalu mendukungnya, walau ada di luar negeri.


📱"Baik, Bang. Tolong urus mobil itu ya, agar Mba' Carren bisa nyaman memakainya dan tidak masalah dengan orang-orang itu. Kalau Abang mau jelaskan sedikit tentang situasi yang terjadi, boleh. Agar Mba' Carren bisa mengerti. Jadi kalau ada yang menanyakan padanya, walaupun aku berharap tidak, Mba' Carren bisa hadapi mereka dengan tidak ragu-ragu."


📱"Iya, Bang. Nanti aku bicara dengan Mba' Carren. Abang tenang saja, jangan banyak pikiran agar bisa cepat sembuh dan bekerja lagi." Zull mengatakan itu untuk menenangkan Recky, tanpa menceritakan saat itu bengkelnya hampir diporak porandakan oleh orang-orang yang sedang mengawasinya. Untung tetangganya datang dan mengusir mereka.


📱"Nanti setelah ini, aku akan transfer uang untukmu. Agar bisa lebih cepat mengurus semuanya." Ucap Recky, pelan. Dia tahu Zull sedang menutupi sesuatu darinya. Karena melihat kakaknya mengamankan dirinya dari orang-orang itu, persoalannya tidak sepele.


📱"Astaghfirullah... Ngga usah Bang. Yang Abang kasih waktu itu sudah lebih dari cukup. Nanti kalau kurang dan aku perlu sesuatu, aku kasih tau Abang. Cukup Bang, ngga usah." Zull menolaknya, karena dia tidak mau jadi orang yang serakah dan aji mumpung, memanfaatkan situasi.


📱"Baik. Ada apa-apa, lekas kasih tau aku, ya. Titip salam untuk keluarga. Aku minta maaf, saat itu ngga bisa pamit." Recky telah menganggap Zull seperti saudaranya, pengganti kakaknya yang pergi meninggalkannya.


📱"Makasih, Bang. Jaga diri baik-baik. Aku berharap, bisa bertemu dengan Abang lagi." Zull menyampaikan harapannya dan keluarganya, karena Recky telah bilang padanya, mungkin tidak akan kembali ke Indonesia.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2