
~•Happy Reading•~
Carren mengikuti apa yang dikatalan Bu Nancy, dengan mencoba tenang dan berdoa dalam hati. Dia memegang dadanya dan berucap dalam hati, sambil menundukan kepalanya. 'Ya, Tuhan, tolong tenangkan hatiku. Aku percaya, Engkau mengatur segala sesuatu. Tolong lindungi pernerbangan Kak Aaric.'
Dia mengangkat wajahnya, lalu melihat Mamanya sedang tersenyum kepadanya. "Segala sesuatu yang bisa kita rencanakan, ada dalam pikiran kita. Tetapi jika sesuatu yang terjadi diluar rencana kita, ada dalam kendali-Nya. Tenang dan sabar menerima yang terjadi adalah baik, agar bisa melihat cara-Nya mengatur segala sesuatu dengan lebih baik." Ucap Bu Nancy untuk menenangkan putrinya.
Beliau tahu, Carren sering mengalami ini dalam pekerjaannya. Kadang sesuatu terjadi tidak seperti yang dia rencanakan, dia akan tenang dan berdoa. Tetapi mungkin ini berhubungan dengan hati dan tidak mau mengecewakannya, menjadikan dia tidak bisa tenang.
Carren tidak menyangka pertemuan pertama Aaric dengan Mamanya, bisa jadi seperti ini. Dia mulai berpikir, jika Aaric tidak datang dia tetap akan makan malam berdua dengan Mamanya di restoran yang mewah ini. Dia sudah memiliki uang yang cukup untuk bisa membayar makan malam mereka. Memikirkan dari sisi itu, hatinya makin tenang.
Carren menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan untuk melegakan dadanya sambil melihat Mamanya yang sedang menatapnya. "Ada kuasa yang lebih kuat dari kita yang dapat mengatur segala sesuatu lebih baik, bahkan terbaik, bagi kita." Ucap Bu Nancy lagi, mulai merasa lega melihat Carren lebih tenang.
Setelah melewati waktu yang dikatakan Carren kepada Aaric, tiba-tiba ponsel Carren bergetar. Ada notifikasi pesan masuk, ketika melihatnya hati Carren jadi lega. "Arra, aku baru tiba. Tadi cuaca buruk, jadi terlambat landing. Jika sudah lapar, pilih menu yang bisa kalian makan sambil menunggu. Tolong sampaikan maafku untuk Mamamu." Isi pesan Aaric. Dia tidak enak mau telpon Carren yang ada bersama Mamanya, untuk menyampaikan alasan keterlambatannya.
"Ma, Kak Aaric agak terlambat, karena cuaca buruk. Kalau Mama sudah lapar dan mau makan, Arra bisa pesan menu untuk kita makan." Ucap Carren sesuai dengan pesan Aaric kepadanya.
__ADS_1
"Lihat saja sesuatu yang ringan, mungkin kue untuk kita makan. Tidak baik, kita makan sebelum orangnya datang." Ucap Bu Nancy, merasa tidak sopan jika makan terlebih dahulu. Carren mengerti lalu meminta waiters mendekatinya dan memesan beberapa snack yang disediakan restoran tersebut.
Saat sedang menikmati snack, tiba-tiba Aaric masuk ke ruangan mereka. Kedatangan Aaric membuat wajah Carren sumbringa. Melihat cara dan gerakan tubuh Carren, Aaric memberikan isyarat dengan matanya agar Carren jangan berdiri untuk memeluknya. Dia merasa tidak enak di hadapan Mama Carren, karena belum pernah bertemu dan akan menambah daftar minus setelah keterlambatannya.
Aaric mengusap lengan Carren sambil lewat lalu memberikan salam kepada Bu Nancy. "Selamat malam, Tante. Saya Aaric, mohon maaf, agak terlambat. Tadi cuaca buruk, jadi terlambat landing." Ucap Aaric, sambil menyalami Bu Nancy yang diam terpaku melihat pria yang telah menjadi pacar putrinya.
Sangat berbeda dengan yang ada dipikirannya. Seorang pria yang sangat dewasa, tampan dan berkharisma. 'Wajahnya mau dibilang bule, tapi ada Indonesianya. Mau dibilang Indonesia, tapi lebih banyak ke bulenya. Memiliki hidung mancung dengan mata coklat muda, bening.' Bu Nancy membatin sambil memandang Aaric yang berdiri di samping putrinya. Aaric kembali mengusap lengan Carren, sebagai tanda minta maaf sudah terlambat.
Kemudian dia duduk di depan Carren dan Bu Nancy. Dia tidak mengenakan jas, karena dia berharap pertemuan pertama mereka tidak terlalu formal. Dia sudah melepaskan jasnya di mobil. Dia hanya mengenakan kemeja sutra polos berwarna biru muda, hampir putih kalau dilihat dari jauh. Tetapi apa yang dikenakan membuatnya makin tampan, rupawan dan senang dipandang.
Aaric membiarkan Carren yang pesan menu, agar bisa sesuai selerah mereka. "Kak Aaric mau pesan yang mana?" Tanya Carren, setelah menyembutkan menu untuk Mamanya dan dirinya kepada waiters.
"Aku yang ini, ini, dan minumannya ini." Jawab Aaric cepat, sambil menunjuk daftar menu karena khawatir Carren dan Mamanya sudah lapar. Dia sendiri sudah makan di pesawat, jadi tidak masalah dengan perutnya.
Setelah semua menu pesanan mereka disajikan, Aaric menunduk untuk bersyukur sebelum makan. Setelah bertemu dengan Carren dia sudah mulai terbiasa berdoa sebelum makan. Dia juga menyadari, Mama Carren masih sekali-sekali melihat dan memperhatikannya.
__ADS_1
Bu Nancy berpikir sambil makan, Aaric yang telah menjadi pacar putrinya sangat berbeda level dengan mereka. Bu Nancy memang mengharapkan putrinya memiliki pasangan hidup yang baik. Kalau bisa sudah mapan dalam hidup dan pekerjaannya. Tetapi dari penampilan dan gaya Aaric, dia jauh di atas level yang dibayangkannya. Sehingga berkali-kali Bu Nancy melihatnya.
'Apakah dia bisa menerima kondisinya dan Carren? Walaupun sekarang Carren sudah berpenghasilan lebih dari cukup, tapi masih jauh di bawah level Aaric.' Ada keraguan dan rasa khawatir dalam hati Bu Nancy. 'Apakah keluarga Aaric bisa menerima putrinya dengan baik? Apakah orang tuanya mau berbesanan dengan dirinya yang sederhana?' Pertanyaan itu berkecamuk dalam pikirannya, sehingga makanan yang dipesan Carren dimakan tanpa bisa merasakan nikmatnya.
Carren menyadari, ada yang dipikirkan Mamanya, saat melihat Bu Nancy makan dalam diam tanpa bertanya tentang menunya. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Mamanya. Aaricpun menyadari perubahan wajah Carren saat pertama melihatnya dengan yang sekarang sedang makan. Carren berusaha tidak melihat atau menanyakan sesuatu kepada Aaric. Dia hanya fokus pada makanan di depannya.
Setelah selesai makan, Carren pesan dessert seperti yang diinginkan mereka bertiga. Sambil menikmati dessert, Carren melirik Mamanya yang masih diam. Begitu juga dengan Aaric, melakukan hal yang sama. Setelah mereka selesai makan dessert, Aaric memberikan isyarat kepada waiters untuk membersihkan meja mereka.
'Ternyata mau bicara dengan calon mertua, lebih sulit dari pada bertarung melawan saingan bisnis.' Aaric membatin. 'Jika bicara dengan lawan bisnis dan tidak cocok di hati, bisa pergi meninggalkan mereka. Tetapi ini dengan calon mertua, jika salah berbicara bisa ditinggal pergi oleh calon mertua.' Ucapnya lagi dalam.hati.
Aaric memberanikan diri untuk berbicara tentang maksud hatinya, meminta bertemu. "Maaf, Tante. Kalau saya tiba-tiba minta bertemu seperti ini. Selain saya mau memperkenalkan diri sebagai pacar Carren, saya juga mau minta persetujuan dari Tante untuk ..." Aaric tidak jadi melanjutkan ucapannya, karena Carren tiba-tiba berdiri dan duduk di sampingnya.
Aaric melihatnya dengan alis bertaut, karena tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Carren. Sedangkan Bu Nancy memandang putrinya dengan wajah mulai merona dan mata berembun. Carren tetap duduk di samping Aaric sambil menunduk. Sedangkan Bu Nancy terus melihatnya dengan perasaan yang berkecamuk.
~●○♡○●~
__ADS_1