
~•Happy Reading•~
Mendengar yang dikatakan Liana, Ayunna memperhatikan arah yang ditunjuk oleh Liana dengan wajahnya. Dia sangat terkejut ketika melihat bahwa benar, itu adalah Recky teman sekolah mereka.
"Astagaaa, lu benar. Dia terlihat sangat... sangat... berbeda, Liana. Gantengnya makin naik level lagi." Ucap Ayunna, tidak bisa mendefenisikan penampilan Recky yang baru dilihatnya sejak lulus dari SMU. Recky terlihat lebih tampan dan cool.
Sikapnya juga lebih dewasa, walaupun cueknya tetap kelihatan. Dia berjalan tenang, masuk ke ruang tempat jenasah disemayamkan bersama kedua orang tuanya.
"Katup mulutmu, Ayunna. Ini kita lagi di tempat duka. Jangan kau membuat hebo di tempat ini. Kau ngga lihat, semua orang tua kita lagi pada ngumpul?" Ucap Liana mengingatkan.
"Iyaa, gue tau. Tetapi kalau tau Recky akan datang, gue sudah nyiapin tempat untuknya agar bisa duduk bersama kita." Ucap Ayunna, menyesal tidak tahu Recky ada pulang ke Indonesia.
"Lu ngga tau dia lagi pulang dari Aussie?" Tanya Liana, curiga dengan ucapan Ayunna. Melihat Ayunna mengangguk, Liana membantin. 'Berarti mereka tidak ada hubungan apa-apa.' Ucap Liana menarik kesimpulan dalam hatinya.
Recky bersama orang tuanya sedang mengucapkan turut berduka untuk semua keluarga Parry yang ada dalam ruangan mengelilingi peti jenasah. Sebelum sampai kepada Parry, Recky terkejut melihat Carren sedang menyalami orang tuanya yang berjalan di depannya.
Ketika Recky berdiri dan mengulurkan tangannya di depan Carren untuk menyatakan turut berduka, Carren menyambut tangan Recky. Seketika itu juga dia tertegun dan tidak bisa berkata-kata. Karena Carren tidak menyangka, akan bertemu lagi dengan Recky.
Recky menyalami Carren dengan rahang mengeras, tanpa mengucapkan sepata kata pun. Kemudian dia menyalami Parry di samping Carren dan berjalan mengikuti kedua orang tuanya dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan.
Recky tidak menyangka akan bertemu dengan Carren dalam suasana yang seperti ini. Dia juga tidak menyangka, Carren berpacaran dengan Parry. Itu yang ada dalam pikirannya, saat melihat Carren duduk bersama Parry.
"Masa putih abu-abu sudah berlalu, Carren. Ngga usah dipikirkan lagi, dia tidak akan mengganggumu." Ucap Parry, berusaha menenangkan Carren yang sangat tegang.
"Iya Parry, Maaf. Tadi aku hanya terkejut melihat Recky lagi setelah sekian lama tidak pernah melihat dan mendengar tentangnya." Ucap Carren, merasa tidak enak dengan Parry.
"Iyaa, aku tau. Aku juga tadi ngga nyangka kalau Recky akan datang. Mungkin dia ada pulang liburan, karena dia kuliah di Aussie." Ucap Parry, menjelaskan. Carren hanya mendengar, karena dia tidak mengetahui, Recky kuliah di Australia.
__ADS_1
"Ooh, iya Carren. Nanti saat mau berangkat ke tempat kremasi, kau ikut dengan sopir duluan ya. Karena aku mau bantu kedua orangtuaku. Aku akan meminta sopir menjemputmu di sini." Ucap Parry, menjelaskan.
"Iya, fokus urus yang lain saja, nanti aku akan ikut sopirmu. Tolong kirim nomor telpon sopirmu, ya. Biar aku gampang menghubunginya." Ucap Carren, Parry mengangguk mengerti dan mengirim nomor telpon sopirnya kepada Carren.
.***.
Di sisi yang lain ; Recky tidak duduk dengan kedua orang tuanya. Dia berdiri agak jauh dari tempat duka, sambil memperhatikan Carren yang sedang berbicara dengan Parry. Dia menjadi sangat penasaran, melihat Carren ada duduk bersama Parry.
Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Carren di tempat duka. Tadi dia diajak orang tuanya untuk ikut ke tempat duka, karena kenal baik dengan orang tua Parry. Dan Parry juga pernah satu sekolah dengannya, jadi dia mau ikut walaupun baru tiba dari Australia.
Dia terus memandang Carren yang sekarang makin berbeda, tetapi tetap cantik dalam kesederhanaan sikapnya. Sikapnya yang apa adanya, tanpa dibuat-buat membuatnya makin cantik dan mensrik. Hal itu membuat Recky tidak bisa berhenti memandangnya.
Hatinya belum percaya, kalau Carren berpacaran dengan Parry. Bukan dia tidak tahu kalau Parry sering menolongnya dulu, tetapi Parry adalah anak Mami yang terlalu lemah sebagai laki-laki. Sehingga di sekolah dulu, teman-teman lelaki suka mengganggunya.
Mengingat hal itu, Recky jadi memperhatikan Parry juga. Sekarang Parry sudah berubah seperti laki-laki pada umumnya. Hal itu membuat Recky berpikir, Parry bisa menjadi saingannya untuk mendapatkan Carren.
Dia pernah berpacaran beberapa kali dengan mahasiswi Indonesia di Australia, tetapi dia tidak bisa melupakan Carren. Karena baginya, Carren adalah cinta pertama yang tidak kesampaian.
Dia tidak pernah tau kabar Carren, walaupun dia ada di grup WA sekolah. Dia tetap berada di grup itu, walau tidak aktif hanya untuk mengetahui kabar Carren. Tetapi dia tidak pernah melihat Carren masuk dan ngobrol dengan teman yang lain.
Walaupun dia harus sering menghapus pesan yang masuk di grup berjumlah ratusan, dia tetap bertahan di grup. Dia tidak membacanya, karena dia hanya menunggu ada notif dari Carren.
Dia pernah ingin memghubungi Carren beberapa kali, tetapi dia membatalkannya. Karena semasa sekolah, mereka tidak pernah berbicara dengan baik. Carren juga sepertinya takut padanya, sehingga dia ragu-ragu untuk menghubunginya.
Setelah selesai Ibadah, jenasah hendak dibawa ke tempat kremasi. Semua pelayat mulai berdiri untuk menghantar peti jenasah dikeluarkan dari ruang duka. Recky melihat Carren juga ikut berdiri dan keluar tanpa Parry.
Dia berpikir, ini adalah kesempatan baginya untuk mendekati Carren. Oleh sebab itu, matanya tidak beranjak dari Carren. Kamana dia berjalan, matanya terus mengikuti dan mengawasinya.
__ADS_1
Ketika hendak mendekati Carren, Ayunna dan Liana mendekatinya dan mengahalangi pandanganya dari Carren. "Recky, apa kabar? Kapan tiba di sini?" Tanya Ayunna saat berdiri di depan Recky dan bermanis ria. Hal itu membuat Recky terkejut dan sekaligus kesal.
Dari tadi dia memperhatikan Carren, sehingga tidak mengetahui kalau ada Ayunna dan Liana juga di tempat duka. Dia makin kesal melihat kehadiran mereka di dekatnya.
"Kalian bedua seperti laron yang menutupi cahaya. Cepat minggir sebelum gue ambil pembasmi serangga. Selalu saja ada, pada waktu yang tidak tepat." Gerutu Recky, sambil mencari keberadaan Carren.
Dia menjadi marah, saat melihat Carren telah melewatinya sambil berjalan cepat. Padahal dia sudah berdiri di jalan kaluar agar mudah bertemu dengannya.
Carren jadi berjalan cepat sambil menghubungi sopir Parry, saat melihat Recky sedang berdiri dengan Ayunna dan Liana. Dia tidak menyangka mereka semua ada datang dan berkumpul.
Recky tidak memperdulikan Ayunna dan Liana yang sedang mengajaknya berbicara. Dia berjalan cepat untuk mengejar Carren yang sedang berjalan cepat di depannya. Ayunna dan Liana terkejut dengan sikap Recky.
Tetapi saat melihat Recky sedang mengikuti Carren, Ayunna dan Liana kesal dan mengikutinya dengan hati yang makin berduri. Mereka ikut berjalan cepat, agar bisa menghalangi Recky berbicara dengan Carren.
Carren makin mempercepat langkahnya, sambil menghubungi sopir Parry untuk mengetahui keberadaannya.
📱"Alloo, Pak. Saya temannya Parry. Bapak ada di mana?" Tanya Carren saat sopir Parry merespon panggilannya.
📱"Alloo, Nona Carren. Saya sedang di belakang Nona." Ucap sopir Parry, lalu mengangkat tangannya saat Carren berbalik mencarinya. Carren langsung mengakhiri pembicaraan dan menurunkan tangannya.
Tetapi dia juga terkejut melihat Recky berjalan cepat di belakang sopir Parry. Carren sudah tidak bisa menghindar lagi, karena tidak enak dengan sopir Parry. Dia juga melihat Ayunna dan Liana berjalan cepat di belakang Recky.
"Nona Carren, maaf. Tadi saya terlambat masuk, karena terhalang pelayat." Ucap sopir Parry, setelah berada di dekat Carren
"Ngga papa, Pak. Maaf juga, tadi saya berjalan terlalu cepat." Ucap Carren, merasa bersalah melihat sopir Parry yang masih ngos-ngosan.
"Carren, tunggu. Kita bisa bicara sebentar?" Tanya Recky, saat hampir mendekati Carren sebelum dia beranjak meninggalkannya. Mendengar yang dikatakan Recky, Sopir Parry segera berhenti dan melihat ke arah Recky.
__ADS_1
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡