
~•Happy Reading•~
Di tempat yang lain ; Keesokan harinya, Carren belum bangun walau hari sudah beranjak siang. Ichad yang telah datang menjemput, ditemui oleh Bu Nancy dan berbicara dengan suara pelan. Bu Nancy tidak mau membangunkan Carren, karena tahu tadi malam pulangnya sudah larut.
"Ichad, Carren masih tidur jadi kau berangkat saja dulu. Nanti kalau dia mau ke kantor, biar naik ojol atau mobil online saja." Bu Nancy berbicara dengan Ichad, meminta pengertiannya.
"Iya, Tante. Ngga papa, saya berangkat saja. Mungkin Carren cape', karena tadi malam kami banyak kerjaan." Ichad menyetujui permintaan Mama Carren, karena tahu apa yang mereka semua lalukan di kantor tadi malam.
Setelah sekian lama Ichad pergi dan Carren belum bangun, Bu Nancy masuk ke kamar Carren dan melihatnya masih tidur. Dari wajahnya, Bu Nancy tahu, Carren tidak tidur dengan nyenyak. Wajahnya tidak segar dan kuyu. Bu Nancy menepuk pelan lengan Carren untuk membangunkannya, karena hari beranjak siang. Sebentar lagi akan lewat waktu sarapan.
"Arra, bangun. Ini sudah siang. Bangun lalu sarapan. Kalau mau tidur lagi, nanti tidur lagi." Bu Nancy membangunkannya. Carren membuka matanya perlaharan dan menggerakan tubuhnya dengan malas. Hal itu membuat Bu Nancy terkejut. Carren tidak biasanya seperti itu.
Bu Nancy berjalan keluar kamar dengan wajah heran. Beliau baru pernah melihat Carren bangun pagi dengan wajah dan gerakan seperti itu. "Ma, kalau Kak Ichad datang, tolong bilang aku tidak masuk kantor hari ini, ya." Ucap Carren yang belum menyadari waktu.
Bu Nancy tidak jadi keluar kamar, tetapi berjalan kembali mendekati tempat tidur Carren dan membukak jendela kamarnya. Hal itu membuat Carren terkejut melihat cahaya matahari yang menyilaukan mata memasuki kamarnya.
"Ichad sudah datang jemput dari tadi dan Mama sudah memintanya berangkat ke kantor. Nanti kalau kau mau berangkat kerja, biar pakai ojol atau mobil online." Bu Nancy menjelaskan dengan serius. Carren langsung bangun dan duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1
"Sekarang bangun sarapan, lalu mandi biar segar." Ucap Bu Nancy, lalu keluar kamar meninggalkan Carren yang masih duduk diam. Setelah bersyukur, dia turun dari tempat tidur dan berjalan dengan tubuh yang pegal dan tidak segar karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ada yang memberati hati dan pikirannya, sehingga dia gelisah dan tidak bisa tidur. Hampir Subuh, baru bisa tertidur. Hal itu membuat seluruh tubuhnya tidak enak dan terasa pegal.
Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan sikat gigi, lalu keluar menuju dapur untuk sarapan. "Arra ngga mandi?" Tanya Bu Nancy melihat Carren telah keluar dari kamar mandi.
"Ngga mandi dulu, Ma. Agak siangan saja. Arra semalam ngga bisa tidur dengan nyenyak, nanti masuk angin." Carren menjelaskan, kenapa tidak langsung mandi tetapi mau sarapan dulu.
"Baik. Kalau begitu sarapan dulu, ini Mama sudah siapkan. Sebentar lagi Mama mau masak, karena kau ada di rumah." Ucap Bu Nancy, sambil meletakan minuman panas di atas meja makan dengan lontong sayur yang dibelinya.
Melihat tidak semangatnya Carren melakukan sesuatu, Bu Nancy tidak jadi menyiapkan yang akan dimasaknya. Beliau kembali dan duduk menemani Carren sarapan. Ada hal yang ingin ditanyakan, ketika melihat perubahan sikap Carren.
"Arra, apa sebenarnya yang sedang terjadi. Selama ini, walaupun lebih cape' dari ini, kau tidak seperti ini. Ada sesuatu yang mengganggu, sampai tidak bisa tidur? Sarapanmu ini juga sangat berat untuk kau habiskan." Tanya Bu Nancy setelah melihat Carren selesai makan dan sedang minum. Bu Nancy tahu, Carren berusaha keras untuk menghabiskan sarapannya. Sesuatu yang baru pernah terjadi, karena lontong sayur adalah kesukaannya.
"Apakah dia menyukai Arra juga?" Tanya Bu Nancy, karena ini bukan masalah pekerjaan yang sedang mengganggu putrinya. Ini adalah masalah hati. Jika salah menyelesaikannya akan makin rumit dan sakit.
"Sebelumnya, Arra menyukai seseorang dan dia menyukai Arra juga. Dia telah melakukan banyak hal baik untuk usaha Arra. Sekarang dia sudah menikah untuk menyelamatkan usaha Arra. Hal itu sering membuat Arra merasa bersalah dan sedih." Carren bercerita tentang yang sedang dialaminya.
"Arra, Mama tidak tahu seberapa banyak kau menyukainya. Tetapi jika kau membiarkan dia menikah dengan orang lain untuk alasan apapun, kau tidak mencintainya. Cinta itu berbeda dengan rasa sayang karena pernah menerima kebaikan dari seseorang." Bu Nancy berbicara tegas, beliau pikir Carren sedang bicara tentang Parry.
__ADS_1
"Jika sekarang kau masih mengharapkannya, apakah kau berharap dia bercerai dengan istrinya? Mama tidak menyukai pemikiran seperti itu. Jika dia jodohmu, tidak akan terjadi seperti ini. Pasti ada jalan keluarnya sebelum dia menikah. Sekarang kau cukup mendoakan untuk kebahagiaannya, tanpa berpikir apalagi mengharapkan sesuatu yang akan menyakitimu." Bu Nancy berkata tegas, karena tidak terima putrinya mengganggu suami orang.
"Apakah dia sudah lama menikah atau baru tadi malam?" Tanya Bu Nancy, karena perubahan Carren baru pagi ini, jadi beliau berpikir Parry baru menikah.
"Sudah beberapa waktu yang lalu, Ma." Jawab Carren pelan, tetapi mengejutkan Bu Nancy. Sudah menikah beberapa waktu yang lalu, bersedih dan kacaunya sekarang. Hal itu membuat Bu Nancy heran dan melihat Carren yang sedang menunduk.
"Arra, lihat Mama dan jawab pertanyaan Mama dengan jujur. Apa saat ini, Arra sedang menyukai seseorang? Bukan orang yang sudah menikah itu." Tiba-tiba mata Carren kembali berkaca-kaca. Dia hanya mengangguk dan anggukan Carren memberitahukan semua yang sedang terjadi.
Dia sedang kacau dan bersedih pagi ini bukan karena perpisahan dengan orang yang menikah, tetapi dengan orang lain yang baru ditemui. Bu Nancy ikut bersedih, karena berpikir putrinya sedang mencintai seseorang dan tidak mendapat balasan yang sama atau sedang merasa bersalah terhadap orang yang sudah menikah.
"Arra, Mama berharap kau bisa berpikir dengan baik dan jernih. Jika kau mencintai orang yang baru kau jumpai, berjuanglah. Jangan terbebani dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya." Bu Nancy merasa ada yang mengganjal di hati Carren untuk bebas mencintai.
"Ini hidupmu, hatimu dan cintamu. Kaulah yang harus putuskan yang baik untuk masa depanmu. Jika orang yang baru Arra sukai, sama menyukaimu, sama mencintaimu, jangan bersedih. Jalanilah dengan hati yang lapang dan bersyukur."
"Jika Arra sangat menyukainya tanpa mengetahui dia menyukaimu, jangan bersedih. Tetapi berdoalah, Arra. Bukankah Tuhan yang menguasai semua hati? Dia akan memberikan cinta di hatinya, agar orang itu akan mencintaimu sebagaimana kau mencintainya." Bu Nancy berkata dengan hati yang sangat terharu, karema baru pernah melihat putrinya seperti ini.
"Semuanya tergantung hati Arra terhadapnya. Jika kau hanya sebatas suka tanpa mencintai, jangan mengharapkan apapun darinya. Jangan menambah beban berat hatimu dengan sesuatu yang kau sendiri belum bisa memastikannya." Carren tertunduk sedih, mendengar yang dikatakan Mamanya. Dia makin sedih, karena sangat ingin menghubungi Aaric untuk bisa mengetahui keadaannya.
__ADS_1
~●○♡○●~