
...~•Happy Reading•~...
Setelah menghubungi Jekob, Aaric melihat Recky sedang memandangnya dengan wajah tidak mengerti. "Mari kita istirahat sejenak. Nanti baru kita teruskan lagi. Berikan hati dan pikiran kita waktu, untuk istirahat juga." Ucap Aaric karena dia merasa sangat lelah.
Recky mengangguk sambil tersenyum. "Mengapa kau tersenyum?" Tanya Aaric tidak mengerti, karena Recky masih tersenyum sambil memandangnya.
"Kak Aaric. Hati masih terletak di dada. Belum ada pemberitahuan sudah mutasi ke kepala. Lebih baik, kakak yang istirahat, karena kakak sudah terbolak balik." Ucap Recky, karena melihat kakaknya berkata berikan hati dan pikiran istirahat, dengan menunjuk hati di dahi dan pikiran di dada.
"Iya, sepertinya tidak mutasi, tapi hati dan pikiranku sedang akrobat. Aku sarankan kau benar-benar istirahat. Jangan pikirkan apapun, karena nanti setelah makan malam baru kita bicara lagi. Semoga hati dan pikiranmu tidak jungkir balik." Aaric berkata serius, tapi dengan senyum tipis.
Dia ingin mereka istirahat sejenak, karena akan meneruskan bicara tentang Carren dan juga masalah keluarga mereka, terutama Mamanya. Recky masih bisa tersenyum, karena yang dia alami belum seperti yang Aaric alami bertubi-tubi.
Persoalan keluarganya, perusahaan dan juga Carren dan adiknya. Benar-benar memukulnya, hingga Recky melihatnya berbicara dengan gerakan tangan yang terbolak balik. "Inilah keterbatasan manusia menampung semua persoalan hidupnya. Kekayaan tidak bisa membeli alat untuk menampung masalah." Ucap Aaric lalu berdiri meninggalkan Recky yang tertegun.
Dia tahu, kakaknya sedang mengalami sesuatu, bukan saja masalah dengan Carren. Ucapan kakaknya mengisyaratkan kelelahan batinnya. "Kakaaaa..." Teriak Recky, melihat kakaknya berjalan, hendak masuk ke kamarnya.
"Iyaa..." Jawab Aaric, sambil berbalik melihat Recky dengan heran, karena berteriak memanggil namanya dan telah berjalan cepat ke arahnya.
"Bolehkah aku tidur dengan kakak?" Aaric menatap Recky makin heran. "Saat ini jika aku istirahat sendiri, pikiranku bisa berkelana. Aku khawatir, pikiranku tersesat dan tidak tahu jalan pulang." Recky berkata dengan wajah serius, agar kakaknya mau mengijinkan dia istirahat bersama kakaknya.
__ADS_1
Recky ingin menghibur kakaknya, tetapi tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia hanya tahu dan merasakan kakaknya lebih susah dan sedih dari padanya. Jika kakaknya berbicara terbolak balik, ada pergolakan bantin yang kuat sehingga kakaknya tidak bisa berkonsentrasi. Itu yang ada dalam pemikiran Recky.
"Bukankah selama ini kau istirahat sendiri? Pikiranmu sudah hapal semua jalan, tidak akan tersesat. Karena kudamu sudah tinggalkan jejak di mana-mana. Ayooo..." Ucap Aaric mengingat mereka saat kecil, Recky suka nyelonong masuk ke kamarnya untuk tidur dengannya. Alasannya selalu sama dan Aaric selalu katakan, bawa kudanya bisa tahu jalan pulang.
Recky langsung berlari mendahului Aaric dan melepar tubuhnya di tempat tidur kakaknya yang besar sambil tersenyum senang. Aaric hanya bisa gelengkan kepala melihat apa yang dilakukan Recky. Tetapi hatinya sedikit plooong, melihat wajah adiknya mulai ceria.
Dia tahu, adiknya sedang berusaha menghiburnya, tetapi matanya tetap tidak bisa berbohong. Kesedihan dan kecemasan terlihat jelas di matanya. Aaric sedang menenangkan hatinya dan berpikir, bagaimana menyampaikan kabar tentang Mama mereka kepada Recky.
Biar bagaimana pun, itu adalah Mama mereka. Recky akan sangat terpukul dengan tindakannya yang memalukan. Oleh sebab itu dia butuh istirahat sejenak, agar bisa menyampaikan dan juga bisa menghibur adiknya.
Aaric naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Recky yang sudah menutup matanya. Tetapi Aaric tahu, Recky belum tidur melihat senyum nakalnya yang tipis. Aaric mengabaikan, seakan-akan tidak melihatnya. Karena dia memang senang, jika adiknya berlaku demikian. Pasti pikirannya sedang berkelana dan akan diujudkan dalam tindakan.
"Lebih baik, jangan datang ke pikiranku. Kau akan tersesat dan tidak tau jalan pulang. Tiduuurrr..." Ucap Aaric sambil tersenyum. Recky tidak menjawabnya, tapi dahinya tidak bergeser dari punggung kakaknya. Tidak lama kemudian terdengar suara nafas yang teratur. Recky tertidur. Aaric berusaha untuk bisa istirahat mengikuti adiknya.
Setelah sekian lama mereka dalam posisi seperti itu, Recky membuka matanya perlahan, karena merasa lapar. Begitu pun dengan Aaric yang terbangun karena suara perut adiknya. "Kuda yang minta makan, atau tuannya?" Tanya Aaric yang sudah selesai loading.
"Tuannya yang kecapean berkelana. Cepatan bangun, Kak. Sebelum kakak menengar nada sumbang dari perutku." Ucap Recky, sambil memijit pelan pundak kakaknya. "Kakak abis macul dimana, sampai pundak seperti besi begini?" Ucap Recky terkejut saat memegang pundak kakaknya.
"Abis macul kebon cabe untuk tanam tikus. Sudaaa... bangun. Tidak usah diteruskan. Nanti setelah makan baru kita teruskan macul." Ucap Aaric lalu bangun dan duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1
"Seriuuusss, Kak. Pundak kakak kalau dilempar bola, bolanya akan mantul lewati langit-langit kamar ini." Ucap Recky serius, tapi wajahnya tersenyum.
"Aku tidak sempat berolah raga beberapa hari ini, karena sibuk macul kebun cabe." Ucap Aaric asal, kerena tahu Recky sedang tersenyum dan hanya mau mengganggunya.
"Kakak diam, ya. Aku akan kirim tenaga dalam." Ucap Recky, lalu mengambil ancang-ancang.
"Stooop..!" Aaric segera berbalik menghadap Recky sambil mengangkat tangannya. "Kau mau membuatku makan ubin?" Ucap Aaric mengingat apa yang dilakukan Recky kepadanya di Australia.
"Tidak, Kak. Tidak akan seperti itu lagi. Aku sudah tau kekuatan kakak, jadi tidak akan mengirimkan tenaga yang poolll... sekarang level satu saja." Ucap Recky, sambil tetap mengangkat kedua telapak tangannya mengarah kepada kakaknya.
"Yang waktu itu, level berapa?" Tanya Aaric, serius, tapi tersenyum dalam hati. "Eeehhmmm... satu stengah." Jawab Recky dengan wajah tersenyum. "Tidak usah. Sama saja. Satu stengah bisa membuatku makan rumput di halaman. Sekarang aku bisa makan ubin." Ucap Aaric lalu berdiri meninggalkan Recky.
"Kakaaaa... waktu itu aku abis makan enak, jadi tenagaku poolll. Sekarang lagi lapar, jadi hanya seperti hembusan angin. Lagian kakak juga, waktu itu ngga pasang kuda-kuda, jadi salto." Ucap Recky sambil mengingat dia bercanda dengan kakaknya di teras belakang rumah di Australia. Dia membuat kakaknya terjungkal ke halaman, karena kakaknya berpikir dia becanda dan hanya berdiri santai sambil memandang halaman rumput yang luas.
"Kakak duduk dulu, aku ngga kirim tenaga dalam, tapi hanya memotong pundaknya. Seriuusss... Pundak kakak sangat kaku." Ucap Recky, sambil mengangkat kedua jarinya. Dia menyadari, kakaknya sedang tegang dan dia mau membuatnya sedikit rileks.
"Tidak usah. Apapun yang kau lakukan membuatku makin sakit. Mau makan apa? Nanti setelah makan, kita turun ke bawa untuk berenang. Lebih baik berenang, daripada dipotong, ditotok, atau dikirim tenaga dalam olehmu." Ucap Aaric sambil mengambil ponselnya untuk pesan makan malam mereka.
"Masakan pa .... apa saja yang kakak pesan, aku makan." Ucapan Recky terhenti. Dia mau minta masakan padang, tapi teringat makan makanan padang terakhir bersama Carren sebelum mereka berpisah. Aaric melihat Recky dengan heran, karena dia tahu maksud Recky, mau meminta masakan padang.
__ADS_1
...~●○♡○●~...