
~•Happy Reading•~
Di sisi yang lain ; Kebekuan yang terjadi di dalam mobil berakhir di D'Sainy Boutigue. Riri dan Sainy turun dari mobil dengan hati tidak tenang, karena banyak rencana dalam pikiran masing-masing untuk mewujudkan niat hati.
"Aku langsung pulang ya, Sainy." Ucap Riri, saat turun dari mobil Sainy dan hendak ke mobilnya yang sedang parkir di tempat parkir butik.
"Masuk dulu, Riri. Ada Mommy di dalam." Sainy ingin Riri bertemu dengan Mommynya, yang sedang ada di butik. Riri mengangguk lalu mengikuti Sainy masuk ke butik. Dia merasa tidak enak, belum pamit dengan Mommynya Sainy, karena tadi sudah bertemu dengannya sebelum berangkat ke GI.
"Selamat siang, Tante. Riri mau pamit, langsung pulang, ya." Riri memberikan salam dan sekalian pamit pada Mommynya Sainy, saat melihatnya mendekati mereka yang baru masuk ke butik.
"Ooh, Riri ngga lihat-lihat dulu? Ada banyak produk baru yang dikeluarkan, nih." Mommy Sainy tersenyum, sambil bantu mempromosikan produk yang sedang dijual di butik putrinya.
"Lain kali ya, Tante, Sainy... Riri sudah keluar dari pagi, ada yang mau dikerjakan di rumah." Riri menolak dengan halus ajakan Mommynya Sainy.
"Ok, hati-hati di jalan. Titip salam untuk Ibu, ya. Lain kali datangnya sama Ibu, biar bisa lama-lama di sini." Ucap Mommy Sainy dengan wajah tetap tersenyum manis.
Sainy mengantar Riri sampai di depan pintu butik dan cipika cipiki sebelum mereka berpisah. Kemudian Sainy kembali masuk ke dalam butik, setelah melihat Riri keluar dari tempat parkir.
"Sainy, ada apa kau minta Mommy tetap tinggal di butik? Padahal Mommy ada janji, mau bertemu dengan teman-teman." Mommy Sainy agak sedikit protes, karena tidak bisa menghadiri pertemuan yang direncanakannya sendiri bersama teman-temannya.
"Oooh, maaf Mom. Sainy ada perlu, mau butuh bantuan Mommy. Mari kita bicarakan di ruang kerjaku." Sainy langsung menggandeng lengan Mommynya dengan manja, agar Mommynya tidak emosi atau kesal padanya.
Dia mengajak Mommynya ke ruang kerjanya, agar pembicaraan mereka tidak didengar oleh karyawan atau pengunjung yang lagi datang berbelanja di butiknya.
"Begini Mom, apakah Mommy kenal baik dengan Bu Hutama?" Tanya Sainy, setelah mereka berada dalam ruang kerja dan duduk di sofa dalam ruangan tersebut.
"Mommy kenal dengan Bu Hutama, tapi ngga akrab. Hanya sebatas kenal dan pernah bertemu beberapa kali. Bukankah kau juga kenal, saat beliau datang ke butik ini?" Mommy Sainy menjawab dan juga balik bertanya kepada Sainy dengan wajah tidak mengerti.
__ADS_1
"Iyaa, Mom. Sainy kenal juga, sih. Tapi hanya sebantas keperluan bisnis, saat beliau datang ke butik ini saja. Sainy kira, Mommy kenal baik dengan beliau." Ucap Sainy, agak sedikit kecewa.
"Ada apa denganmu? Kalau kau butuh Mommy promosi ke beliau, Mommy bisa lakukan. Buktinya waktu itu Mommy undang, beliau datang untuk acara peluncuran produk baru di butikmu." Mommy Sainy heran melihat wajah putrinya yang meredup saat mendengar penjelasannya.
"Sainy ingin mendekati Bu Hutama, bukan karena bisnis butik ini, Mom. Tapi bisnis yang lain, jadi butuh bantuan Mommy." Ucap Sainy pelan dan ragu-ragu melihat Mommynya yang sedang memperhatikannya dengan wajah heran.
"Bisnis apa? Apa sekarang kau sudah punya bisnis yang lain lagi? Kenapa kau ngga cerita sama Mommy?" Tanya Mommy Sainy, terkejut mendengar yang dikatakan putrinya.
"Buka bisnis yang seperti ini, Mom. Ini bisnis yang berurusan dengan hati. Mungkin Mommy bisa bantu Sainy mendekati Bu Hutama supaya bisa mendapatkan anaknya." Ucap Sainy, sambil tersenyum malu mendengar yang dikatakannya.
"Astaga. Apa maksudmu, Sainy? Kau menyukai anaknya Bu Hutama?" Mommy Sainy bertanya dengan wajah yang terkejut, sambil melihat Sainy dengan serius.
Sainy hanya bisa mengangguk, karena dia sendiri terkejut melihat reaksi Mommynya, saat mendengar yang dikatakannya. Dia tidak menyangka Mommynya akan bersikap demikian.
"Mommy ngga setuju, jika kau mau dengan anak Bu Hutama. Apa ngga ada pria lain di antara teman-temanmu, selain dia? Selera fahsionmu lebih bagus dari pada seleramu terhadap pria yang akan mendampingimu." Mommy Sainy beruntun menyatakan rasa tidak setuju dengan perasaan tidak suka.
"Apa maksud Mommy? Apa ada yang salah dengan anaknya Bu Hutama, sampai Mommy berkata begitu?" Tanya Sainy penasaran dan tidak mengerti dengan yang dikatakan Mommynya.
"Pokoknya, Mommy ngga setuju jika kau mau dengannya. Kenapa kau ngga mendekati Kakaknya Riri yang sudah kembali dan sudah bekerja di perusahaan orang tuanya?" Mommy Sainy menyatakan tidak sukanya kepada Parry dan mengusulkan Kakaknya Riri untuk dijadikan pacar oleh putrinya.
"Sainy masih belum mengerti maksud Mommy. Dan Mommy harus tau, Kakaknya Riri sudah punya pacar dan Sainy ngga punya perasaan suka atau manaruh hati padanya." Ucap Sainy, protes dan tidak setuju dengan usulan Mommynya.
"Orang tuanya ngga setuju dengan pacarnya, karena dia dari kalangan biasa. Apakah Riri ngga cerita itu padamu? Sekarang kau mungkin bisa bilang ngga punya perasaan, karena belum bertemu dengannya. Coba dulu ajak Riri, agar bisa bertemu dengannya." Mommy Sainy sudah bertemu dengan Kakaknya Riri, jadi terlintas dipikirannya untuk menjodohkan dengan putrinya.
"Pria seperti apa itu, yang ngga bisa memperjuangkan cintanya. Sainy ngga berminat dengan pria seperti itu. Kalau Mommy ngga mau bantu, ya, sudah. Biar nanti Sainy sendiri yang berusaha." Ucap Sainy, karena merasa percuma berbicara dengan Mommynya. Lebih baik berjuang sendiri saja.
"Jangan coba-coba bertemu dengannya di belakang kami. Mommy akan berbicara dengan Daddymu. Kalau kau ngga mau dengan Kakaknya Riri, kenapa kau ngga nanggapi Bu Biantra? Beliau sudah terang-terangan mempromosikan anak-anaknya kepadamu." Mommy Sainy mengingatkan tentang Bu Biantra yang beberapa kali datang ke butik dan berbicara dengan Sainy tentang anak-anaknya.
__ADS_1
"Astaga, apakah Mommy pernah bertemu dengan anak-anaknya Bu Biantra?" Tanya Sainy terkejut mendengar saran Mommynya.
"Belum. Tapi dari bicaranya Bu Biantra, anak-anaknya baik dan sukses di luar negeri. Sehingga mereka belum mau pulang ke sini. Beliau harap dengan adanya pacar di sini, mereka mau pulang bekerja dan kelolah perusahaan orang tua mereka di sini." Mommy Sainy menjelaskan seperti yang pernah dikatakan Bu Biantra kepadanya.
"Mommy belum bertemu dengan mereka, tetapi bisa bilang mereka lebih baik. Lalu apakah Mommy pernah bertemu dengan anaknya Bu Hutama?" Sainy bertanya dengan nada yang agak kesal, karena mendengar penjelasan Mommynya yang tendesius.
"Mommy belum pernah bertemu dengannya. Tetapi teman-teman Mommy suka menceritakannya. Lelaki begitu, kelak bisa jadi apa? Hanya duduk-duduk topang kaki menikmati jerih payah orang lain? Atau hanya antar dan menjemputmu pulang dari butik?" Ucap Mommy Sainy kesal melihat putrinya tetap kekeh dengan keinginannya.
"Ini Mommy sedang bicara tentang siapa? Dia adalah putra pemilik Hutama N & P Corp. Apakah Mommy ngga tau itu? Kenapa dia harus mengantar atau menjemputku?" Tanya Sainy dengan alis bertaut.
"Mommy tau. Dia hanya anak Mami, yang tidak bisa apa-apa dengan tubuhnya yang hampir mirip wanita itu. Kerjanya hanya tinggal di rumah. Lebih tetapnya, kurung diri dalam kamar. Apalagi setelah Kakaknya meninggal, dia hanya di kamar. Jangan-jangan, sekarang mereka sedang merawatnya di rumah sakit." Dengan emosi, Mommy Sainy menyampaikan apa yang didengar dari teman-temannya.
Dahi Sainy jadi berlipat, mendengar yang dikatakan Mommynya. Parry yang dia lihat tadi bukan seperti itu. Dia bisa berkata sinis dan bersikap garang kepada Ayunna dan Liana.
'Apakah Bu Hutama memiliki putra lebih dari satu?' Tanya Sainy dalam hati. Kemudian dia mengambil ponselnya, mencari profil keluarga Hutama untuk mengetahui dan menunjukan Parry kepada Mommynya.
Tetapi di Profil keluarga Hutama hanya ada Pak Hutama. Tidak ada istri dan anak-anaknya. Hal itu membuat Sainy makin heran dan tidak mengerti.
"Memangnya Bu Hutama memiliki berapa orang anak, Mom?" Tanya Sainy melunak karena penasaran dengan Parry yang katanya Ayunna dan Liana adalah anak pemilik Hutama N & P Corp.
"Dua orang. Yang tua perempuan, yang bungsu laki-laki. Tetapi yang perempuan sudah meninggal karena kecelakaan. Jadi tinggal anak lelaki mereka yang bisa dibilang, lemah lembutnya melebihimu." Mendengar itu, dahi Sainy makin berkerut.
'Apakah tadi Ayunna dan Liana salah menyebut nama orang tua Parry? Apakah Parry yang tadi bukan anak keluarga Hutama?' Sainy terus bertanya dalam hatinya, karena dia telah jatuh hati kepada Parry yang tadi dijumpainya.
'Apakah aku harus bertanya lagi kepada Ayunna atau Liana? Tapi ko', malu sekali.' Sainy terus membantin, mengingat Parry. Dia berdiri mengambil minuman untuk dia dan Mommynya. Dia membutuhkan minuman untuk menenangkan hati dan pikirannya, karena berbicara dengan Mommynya tidak membantu, mala membuatnya makin bingung.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡
__ADS_1