Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Hadiah Pernikahan.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Aaric tersenyum dalam hati, sambil melihat ke sembarang arah. Dia tahu apa yang sedang dilakukan Recky bagian dari kesukaannya yang suka mengganggunya. Tetapi dia tidak bisa tetap diam saja, karena melihat Carren cemas sambil melihatnya. Baru terpikirkan, mungkin Carren tidak mengerti atau belum tahu cara Recky yang suka iseng. Dia teringat hubungan Recky dengan Carren yang lebih banyak lewat signal. Kurang berinteraksi secara langsung, jadi mungkin tidak tahu hal-hal kecil dari sifat Recky.


"Recky, apa yang kau lakukan? Kau mau merusak malam pengantinku?" Tanya Aaric serius, tapi tersenyum dalam hati. Dia ingin Carren makin mengerti cara hidup dan berkomunikasi mereka berdua sebagai kakak beradik. Dia berharap, Carren akan belajar dan mulai terbiasa dengan sikap Recky. Karena dia tahu, Recky hanya suka iseng padanya, tetapi tidak untuk orang lain. Kemudian dia berhenti tersenyum, saat melihat Carren yang melihat mereka bergantian dengan wajah yang makin cemas.


Melihat wajah Carren yang demikian, Recky jadi makin iseng untuk mengganggunya. "Carren, sekarang kau harus lebih sayang padaku. Sebab kau telah jadi kakakku. Ternyata, selama ini aku ditugaskan jadi penjaga jodoh kakakku." Ucap Recky dengan senyum iseng, untuk mengganggu kakaknya. Tetapi dia serius mengucapkannya, karena hal itulah yang disadari, saat berada di ruang resepsi. Membuat dia lebih tenang untuk menerima segala yang terjadi.


Carren mulai mengerti, sepertinya Recky sedang iseng dan ledekin mereka. "Berhenti bicara tentang kami. Kau belum jawab pertanyaanku tadi. Kau kemana saja. Kenapa tidak ada kabar dan kenapa istrimu datang dengan pria lain dan kau biarkan saja?" Tanya Carren yang sudah ingin tahu sejak dari ruang resepsi. Dia juga belajar memposisikan dirinya sebagai kakak seperti yang dikatakan Recky. Sekarang aku telah menjadi kakaknya, karena telah menikah dengan kakaknya.' Carren membatin.


"Kalau aku dimana, hanya suamimu yang tau. Tapi kalau mengenai istriku, GPRS yang dia pasang di kukuku, dipotong sama suamimu. Jadi dia kehilangan jejakku. Karena itu, dia cari pria lain. Kau tau kan, para laron itu." Ucap Recky sambil memainkan alisnya tanpa turun dari tempat tidur. Sedangkan Aaric hanya duduk diam di sofa yang ada dalam kamar itu. Carren melihat Recky dan Aaric bergantian, karena tidak mengerti.


"Carren, dia mau menepel seperti laron padaku, tetapi tidak bisa. Jadi dia menceraikanku. Sekarang aku seorang 'duren'. Gimana, menurutmu... Aku duren, kan?" Tanya Recky sambil meletakan jari telunjuk dan jempol di dagunya. Aaric hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya.


"Iyaaa... Duren Sawit." Ucap Carren yang mulai mengerti, Recky sedang ledekin mereka, saat melihat Aaric tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Iiiiissss... Nanti kau lihat ya. Aku akan tunjukan padamu, jika aku ini seorang duren dan bisa dapat seorang gadis, bukan laron." Ucap Recky seakan-akan kesal.


"Iyaaa... Kau duren, sampai membuat ada yang mengelus perutnya saat mencium baumu." Ucap Carren, karena melihat Ayunna memegang perutnya saat Recky masuk ruang resepsi.


"Waaah... Carren, kau perhatikan juga, rupanya. Pasti baby nya sedang lompat-lompat di dalam perutnya, saat melihatku." Ucap Recky sambil menggaruk kepalanya mengingat Ayunna salah tingkah sambil memegang perutnya.


"Kau kira baby nya seperti Mamanya yang lompat kegirangan saat melihatmu? Di luar sana masih banyak gadis baik-baik. Mau duren, diran, daron, kau adalah Recky Biantra. Kalau salah pilih, bukan suamiku yang di depan untuk acc. Kau harus melewatiku terlebih dulu." Ucap Carren serius. Dia ingin Recky juga berbahagia dengan mendapatkan gadis baik yang menyayanginya dengan tulus. Dari cara Aaric memperlakukan Recky, Carren tahu Aaric sangat menyayangi adiknya.


Mendengar yang dikatakan Carren, Aaric teringat pembicaraan terakhirnya dengan Recky saat dia memberitahukan tanggal pernikahannya dengan Carren. "Kenapa kau tidak datang dengan kekasihmu yang bermata safir itu? Apa kau sedang iseng dan ledekin aku dengan cerita camermu?" Tanya Aaric serius, sebelum Recky lebih lanjut mengganggu Carren.


"Ooh iya, Carren. Tadi serius, aku merasa sebagai penjaga jodoh kakakku. Tapi aku bersyukur bisa mencintaimu. Karena dengan mencintaimu, aku berusaha menjadi pribadi yang pantas untukmu. Ternyata dengan melakukan itu, aku bisa percaya diri untuk jadi calon suami untuk gadis yang sekarang." Ucap Recky, karena dia menyadari, jika tidak berusaha untuk bersama Carren, mungkin dia tidak akan pantas bersama Ace.


Karena mencintai Carren, dia fokus bekerja dan menata hidupnya dengan baik. Supaya bisa memberikan hidup yang baik dan layak untuk Carren. Mengingat itu dan juga sekarang bisa bersama Ace, hatinya sangat bersyukur.


"Seperti katamu, walau aku duren, diran, atau daron, aku seorang Recky Biantra, putra Papaku. Tuhan sayang, aku mempunyai istri yang tidak mengecewakan Papaku, seperti kakakku." Recky berkata dengan serius, sambil melihat Carren dan Aaric bergantian. Sekaligus memuji bahwa Carren adalah istri yang baik.

__ADS_1


"Syukur, kalau kau sudah dapat seseorang yang baik. Aku jadi lebih tenang. Tidak was-was lagi memikirkan kau bersama la .. uupss." Carren tidak meneruskan ucapannya, karena melihat suaminya sedang memperhatikan mereka saling berbicara. Carren menarik nafas lega.


Sebenarnya hati Aaric sangat senang melihat dan mendengar pembicaraan mereka. Carren bisa memposisikan dirinya sebagai kakak yang baik bagi adiknya. Semenjak mengetahui hubungan Carren dengan Recky, dia terus berdoa semoga tidak terjadi pertengkaran atau jurang pemisah diantara mereka, karena dia sangat menyayangi mereka berdua.


"Kakak, Carren sudah capek dan mengantuk. Mariii... Kakak antar aku ke kamar dulu. Jangan sampai ada yang menggangguku malam ini." Ucap Recky serius. Aaric mengerti maksud adiknya lalu berdiri untuk mengikutinya keluar kamar. Namun sebelum keluar kamar, Aaric kembali mendekati Carren yang hanya duduk diam di kursi meja rias. "Arra, aku mau ke kamar Recky sebentar. Kau tolong hubungi Mama, minta Mama ke sini untuk membantumu bereskan semua ini. Jangan kau sendiri yang lakukan itu. Bisa-bisa kau tidak bisa tidur." Ucap Aaric karena melihat Carren kesulitan melepaskan tatanan rambut dan gaun pengantinnya.


Carren mengangguk lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Mamanya yang tidur bersama Rosna. Aaric dan Recky berjalan bersama menuju kamar Recky. "Kak, ini hadiah pernikahan dariku untuk kakak dan Carren. Semuanya sudah aku atur, jadi besok kakak langsung berangkat ke sana." Ucap Recky serius saat mereka telah berada di dalam kamarnya.


"Kali ini, kakak harus mengikuti semua yang aku siapkan, termasuk naik pesawat komersial bersama Carren." Aaric tertegun menerima dan membuka amplop yang diberikan Recky untuknya. Dia tidak pernah berpikir akan mendapat hadiah dari Recky.


Aaric berpikir cepat agar tidak mengecewakan adiknya yang telah memberikan hadiah pernikahan untuk mereka. "Kalau begitu, besok kau juga berangkat bersama Jekob. Tidurlah... Nanti besok pagi Jekob akan menghubungimu. Aku ikut maumu, kau juga harus ikut mauku." Ucap Aaric serius. Dia khawatir Recky ingin cepat kembali ke Australia, karena telah memiliki kekasih di sana.


"Kak, sebenarnya hadiah itu bukan untuk kakak, tetapi untuk Carren. Aku sudah berjanji dalam hati, suatu hari nanti akan membawanya ke sana. Jadi kakak tolong bawa dia ke sana." Ucap Recky pelan dan serius. Aaric mengangguk mengerti lalu meninggalkan kamar Recky.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2