
~β’Happy Readingβ’~
Carren tidak menyangka nama panggilan itu memiliki makna yang luar biasa bagi kedua orang tuanya. Dia memandang Mamanya dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk mengerti. Kemudian dia menghabiskan susunya, lalu berdiri memeluk Mamanya dengan sayang.
"Arra tidak menyaka nama itu begitu berarti bagi Papa. Sekarang Arra mengerti dan bangga jika dipanggil demikian. Makasih telah mengatakannya, Ma." Ucap Carren sambil mencium pipi Mamanya lalu melepaskan pelukannya.
"Selamat tidur, Ma. Arra istirahat duluan, ya." Ucap Carren lagi, kemudian masuk ke kamarnya. Bu Nancy melihat punggung putrinya dengan tatapan heran dan hatinya bertanya-tanya. Ada apa yang terjadi dengan putrinya. Kenapa tiba-tiba bertanya tentang nama itu, setelah puluhan tahun mendengarnya.
Ketika di kamar, dia melihat lampu ponsel pribadinya berkedap kedip. Dia segeta mengambil dan membukanya, mungkin ada yang menghubungi atau kirim pesan untuknya. Ketika melihat ada misscall dari nama Aaric, Carren memegang dadanya dengan tangan kirinya, lalu mengirim pesan untuknya.
"Selamat malam, Pak. Maaf, tadi saya sedang mandi. Bagaimana, Pak?" Isi pesan Carren kepada Aaric. Dia tidak tau mau memanggil Aaric bagaimana. Karena melihat usia, sepertinya lebih tua darinya. Melihat sikap dan caranya berbicara, sepertinya dia bukan orang biasa. Carren berpikir demikian, karena melihat mobil mewah di belakang mobilnya dan juga sopir bisa dengan mudah menuruti permintaannya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, dan nama Aaric muncul di layar ponselnya. Ternyata Aaric tidak membalas pesan Carren, tetapi langsung menghubunginya. Aaric yang tadinya berpikir Carren tidak merespon panggilan seperti yang dimintanya, sedikit merasa lega saat menerima pesan Carren.
π±"Allooo, Arra. Aku mengganggu?" Tanya Aaric, ketika Carren merespon panggilannya. Dia berpikir Carren hendak istirahat seperti yang dikatakan di dalam mobil. Makanya dia telpon setelah dia merasa waktu telah cukup dari waktu tiba Carren di rumah.
π±"Tidak, Pak. Saya baru mau istirahat." Jawab Carren ragu-ragu dengan jawabannya sendiri.
π±"Baik. Kenapa kau memanggilku seperti itu? Apa aku sudah sangat tua, sampai memanggiku begitu?" Aaric merasa tidak nyaman dengan panggilan Carren.
π±"Tidak, Pak. Saya hanya ..." Ucapan Carren terhenti, karena Aaric memotong ucapannya.Β
__ADS_1
π±"Panggil dengan namaku saja, sebagaimana aku memanggilmu." Ucap Aaric tegas, karena panggilan Carren kepadanya membuat jarak yang lebar diantara mereka. Aaric tidak suka akan hal itu.
π±"Baik, Kak. Biarkan aku memanggil begini saja, agar aku bisa nyaman menyapa." Pinta Carren, karena dia bisa merasakan nada tidak suka dalam ucapan Aaric. Ada perasaan khawatir, jika Aaric marah padanya. Oleh sebab itu, dia mulai mencoba tidak bersikap formal. Karena Aaric sendiri tidak bersikap formal kepadanya.
π±"Baik, senyamanmu saja. Apakah kau besok sibuk?" Tanya Aaric melunak, karena dia menyadari ada yang berbeda dalam nada suara Carren.
π±"Iya, Kak." Jawab Carren singkat.
π±"Tapi kau harus makan, kan?" Tanya Aaric lagi.
π±"Iya, Kak." Jawab Carren kembali singkat. Membuat Aaric terhenyak.
π±"Arra, kau ada dengan orang lain?" Tanya Aaric untuk meyakinkan apa yang terlintas di benaknya.
π±"Kau sudah berkeluarga?" Tanya Aaric kembali, karena dia tersadar. Mungkin saja Carren telah menikah dan ada suami di sampingnya. Dia menepuk dahinya pelan, kerena lupa meminta Sapta untuk menyelidiki status Carren.
π±"Ooh, belum Kak." Jawab Carren yang mulai mengerti arah pertanyaan Aaric.
π±"Astaga, Arra. Kau membuatku berpikir sedang berbicara dengan istri orang. Apakah kau tidak punya jawaban yang lain, selain iya atau tidak?" Tanya Aaric dengan hati yang sedikit lega, mengetahui status Carren.
π±"Iya, Kak. Maaf, aku lagi sedang belajar, bagaimana baiknya menjawab pertanyaannya." Jawab Carren pelan, karena dia sendiri merasa otaknya yang bisa dibilang cerdas, tidak bisa berpikir dengan baik saat Aaric memanggil namanya.
__ADS_1
π±"Ooh, ok. Aku lupa, ini pertama kali kita berkomunikasi. Besok malam, luangkan waktu untuk makan malam denganku. Kau mau dijemput jam berapa dan dimana?" Tanya Aaric, tanpa memberikan kesempatan untuk Carren berpikir, apalagi menolak.
π±"Kak Aaric share loc dan kasih tau jam nya saja. Nanti aku ke sana setelah bekerja. Terima kasih telah mengundangku." Jawab Carren, karena dia sendiri merasa itu adalah sebuah hadiah bisa bertemu lagi dengan Aaric. Cara dan sikapnya kepada Carren membuat dia merasa seperti pernah bertemu dengannya.
π±"Baik, setelah ini aku akan share loc dan kirim waktunya untukmu. Sekarang istirahat. Sampai bertemu besok." Aaric berkata dan menarik nafas lega. Karena Carren mau menerima permintaannya. Dia mengakhiri pembicaraan setelah Carren memberikan salam padanya. Tidak lupa dia mengirim pesan kepada Carren setelah meminta Jekob reservasi tempat untuknya.
.***.
Keesokan harinya, setelah bekerja Carren mengganti pakaian kerjanya dengan baju yang telah disiapkan dari rumah. Dia tidak membawa mobil dan tidak mau diantar oleh Ichad. Mereka sedang banyak pekerjaan dan harus lembur. Carren tidak mau membuang waktu mereka dengan mengantarnya.
Setelah rapi dan merasa waktu cukup untuk melakukan perjalanan ke restoran, Carren pesan mobil online untuk mengantarnya ke Goropaku Restaurant. Dia pernah sekali ke restoran itu bersama Parry, jadi sedikit banyak sudah mengenal lingkungan restoran tersebut. Dia mengenakan baju yang pantas, sesuai dengan tempat dan orang yang mengajaknya makan malam.
Saat tiba di restoran, bersamaan dengan Aaric yang telah berjalan dari tempat parkir ke restoran. Dia sengaja membawa mobilnya sendiri dari kantor. Ketika melihat Carren turun dari mobil Avanz hitam, alis Aaric bertaut. Dia berjalan cepat mendekati Carren yang hendak masuk ke restoran.
"Arra, kau diantar siapa?" Tanya Aaric sambil mensejajarkan langkahnya di samping Carren. Aaric tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, karena itu bukan mobil Carren yang tadi malam. Carren langsung memegang dadanya dengan tangan kiri, karena terkejut mengetahui Aaric sudah berdiri di sampingnya.
"Tadi aku pakai mobil online, Kak. Karena aku berangkat langsung dari kantor." Carren berkata pelan, karena melihat Aaric bertanya serius kepadanya.
"Mari kita masuk dulu, nanti baru kita bicarakan di dalam." Ucap Aaric sambil mempersilahkan Carren masuk. Kemudian dia menyebut nama Jekob kepada waiters yang menyambut mereka. Ketika mendengar nama itu, waiters bersikap hormat kepada mereka. Karena Jekob telah reservasi tempat private untuk bossnya.
Setelah duduk, Aaric memberikan isyarat kepada waiters bahwa mereka belum pesan menu, karena Aaric ingin berbicara dengan Carren. Dia hanya meminta dibawah air mineral.
__ADS_1
Setelah ditinggal oleh waiters, Aaric menatap Carren dengan serius. "Arra, kenapa kau tidak membawa mobilmu?" Tanya Aaric tetap menatap Carren. Saat melihat Carren turun dari bukan mobilnya, makin menguatkan dugaannya Carren tidak memakai mobilnya. Dia telah melihat sepanjang jalan, GPRS yang dipasang di mobil Carren tidak bergerak. Aaric sempat berpikir, apakah Carren tidak datang untuk makan malam dengannya.
... ~βββ‘ββ~...