
~•Happy Reading•~
Recky melihat kakaknya dengan serius, karena memang itu sering terpikirkan saat melihat apa yang dilakukan Mamanya kepada mereka. Tapi ketika melihat wajahnya di cermin, keraguannya pupus. Wajah, terutama mata dan hidungnya mirip dengan Mamanya.
"Habis dia jahat begitu. Aku saja cuma berani pukul tembok. Eeh.., dia bisa tega rencanain untuk celakain orang, sampai meninggal, lagi. Aku waktu itu pernah tanya sama Papa, aku ini anak mereka atau bukan. Terutama, apa betul anak iblis itu. Jangan-jangan aku dipungut di pinggir jalan. Tega sekali memberikanku pada wanita iblis yang satunya itu." Recky berkata masih serius sambil mengingat pembicaraannya dengan Papanya di pinggir danau saat dia diminta menikahi Liana.
"Yaaa, mungkin karena darah Biantra lebih kental mengalir di tubuh kita. Mungkin juga, karena sering diasuh oleh pelayan atau kita tidak bermain dan berkumpul dengan keluarga besar Opa. Biasanya, lingkungan dimana kita sering berkumpul, bisa mempengaruhi sikap dan perilaku kita." Aaric berkata sambil mencerna apa yang diucapkannya dan Recky.
Recky mengingat masa-masa di saat mereka kecil dan remaja. Jika dia tidak senang kumpul dengan keluarga Mamanya, kakaknya juga tidak ikut. Mereka lebih sering di rumah bersama para pelayan, sedangkan Mama dan Papanya pergi kumpul dengan keluarga Opanya.
"Iya, Kak. Aku sadari itu. Aku bersyukur, bisa berkumpul dan berteman dengan orang baik. Mungkin itu yang membuatku bisa berpikir dari sisi yang baik." Ucap Recky, sambil mengingat Carren. Tanpa disadari dialah yang membuatnya bisa melakukan banyak hal baik untuk bisa bersamanya.
"Kau tidak usah pikirkan persoalan Kak Naina. Biarkan keluarga Hutama yang memutuskan, mau diapakan iblis itu dan keluarga besarnya. Aku bicara denganmu, karena jika hal terburuk yang terjadi, pasti akan berdampak paling besar padamu. Nama Biantra menempel padamu. Kau belajar menutup telinga dari hal buruk yang akan ditujukan padamu."
"Aku tidak tahu, sebesar apa marahnya keluarga Hutama ketika mengetahui kebenarannya." Ucap Aaric berserah. Karena dia yang mengetahuinya untuk pertama kali sangat marah. Apalagi dengan keluarga besar Hutama.
"Apakah kakak tidak apa-apa mengetahui itu?" Tanya Recky pelan, karena dia tahu hubungan kakaknya dengan Naina.
"Tidak apa-apa, katamu? Aku hampir menembak mati orang yang melakukannya. Ya, bersyukur, Tuhan masih mengingatkanku untuk tidak melakukan itu. Karena aku akan sama jahatnya dengan dia. Aku sudah mengiklaskan kepergiannya. Mungkin jalan hidupnya seprti itu."
"Biarlah keluarga Hutama yang memutuskan. Jika mau dituntut dan penjarakan mereka, kita harus siap. Biarlah keadilan Tuhan yang berlaku untuk mereka. Yang sekarang sedang aku urus adalah masalah perusahaan." Ucap Aaric serius. Setelah bertemu Carren, dia menyadari semenjak meninggalnya Naina, dia jauh dari Tuhan. Dia mulai memikirkannya saat melihat sikap Carren.
__ADS_1
Kemudian Aaric menceritakan apa yang sedang terjadi dengan Biantra Group dan sahamnya kepada Recky. Apa yang akan dilakukan oleh Aaric untuk menyelamatkannya dan juga menyikirkan Mamanya dan keluarga besarnya dari sana.
Recky mendengar semua yang dikatakan Aaric dengan serius. Dia tidak menyangka, begitu banyak kekacauan yang ditimbulkan oleh karena kepergiannya. Terutama untuk perusahaan keluarga Biantra dan Tarikalla.
"Dengan kepergian Papa ke Malang, bagaimana dengan kantor, Kak? Siapa yang gantikan Papa, atau iblis itu sendiri yang mengelolahnya?" Tanya Recky setelah Aaric menjelaslan semua yang terjadi.
"Menurut penyelidikan Jekob, sepertinya Om Hans dan anak-anaknya akan menggantikan Papa. Karena iblis itu sedang tidak berkonsetrasi untuk urus perusahaan." Aaric menyampaikan hasil penyelidikan Jekob.
Recky terkejut mendengarnya, karena dia mengetahui kerja keras Papanya membuat perusahan itu stabil dan berkembang. Sekarang harus dipegang oleh orang lain. Dia makin menyadari, keruwetan yang sedang dihadapi kakaknya mengurus perusahaan dan permasalahan pernikahannya.
"Kak, apakah keputusanku untuk menikah membuat perusahaan kacau balau seperti ini?" Tanya Recky ragu-ragu dengan pemikirannya.
"Kalau pihak Tarikalla, aku tidak mau pusing. Aku akan memgurusnya karena berani memanfaatkanmu. Mereka sengaja mau memanfaatkan pernikahan kalian untuk mengamankan perusahaannya. Iblis itu berpikir, seperti kejatuhan durian runtuh. Jika kau menikah dengan putri Tarikalla, bisa membantu mengamankan Biantra."
"Tidak tahunya kedua perusahaan ini sedang sakit. Sama2 membutuhkan dana segar untuk membuat kedua perusahaan itu tetap stabil. Betapa bodohnya iblis itu, sudah menjual anaknya tapi tidak ada manfaat bagi perusahaannya."
"Sama-sama mau saling menfaatkan, tapi tidak menyelidiki kesehatan perusahaan masing-masing. Mungkin Tarikalla melihat nama besar Sunijaya. Padahal sekarang, Sunijaya tetap kokoh karena keberadaan Biantra Group." Aaric menyampaikan informasi yang diperoleh oleh Jekob.
"Menurut Papa, perusahaan baik-baik saja waktu aku ke sana membantunya. Apakah ada kebocoran di dalam yang membuat perusahaan sakit?" Tanya Recky mulai berpikir tentang apa yang disampaikan oleh kakaknya.
"Jekob sedang menyelidikinya. Mungkin ada terjadi perpindahan dana perusahaan akhir-akhir ini. Nanti setelah rapat pemegang saham, baru kita akan tahu ada kebocoran di mana."
__ADS_1
"Iblis itu sudah menjual banyak properti untuk bisa membeli saham perusahaan kembali, supaya mereka masih memegang kendali atas Biantra. Salah satu yang dijual, adalah villa di Sentul." Ucap Aaric, sebagaimana yang diketahuinya.
Recky terkejut mendengar itu dan juga merasa sedih kehilangan villa yang sangat disukainya sebagai tempat istirahat dan juga tempat persembunyiannya. Tetapi dia bisa memaklumi, Mamanya menjual itu umtuk menyelamatkan sumber kekuasaan keluarganya.
"Kak, apakah Papa tidak terlibat dalam permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan Biantra?" Tanya Recky, karena tiba-tiba teringat pembicaraan dengan Papanya di villa saat Aaric berbicara tentang villa di Sentul.
"Apa maksudmu dengan bertanya begitu? Apa kau tau sesuatu yang tidak aku ketahui?" Tanya Aaric sambil melihat Recky dengan serius.
"Begini, Kak. Tadi saat kakak bilang iblis itu menjual villa di Sentul, aku teringat pembicaraan Papa saat datang menyusulku ke villa malam itu. Saat aku marah dijebak untuk melamar iblis yang satu itu dan memukul tembok." Recky berbicara pelan, karena sedang mengingat apa yang dikatakan Papanya.
"Papa katakan apa untukmu?" Tanya Aaric, penasaran.
"Papa katakan, Papa bertahan selama ini tinggal dan bekerja di perusahaan Biantra karena ingin hidup kita berdua baik dan berhasil. Tetapi setelah kepergian Kakak, Papa mulai berpikir yang lain. Papa masih bertahan karena aku, tetapi setelah tau aku bisa bekerja dengan baik di luar perusahaan Biantra dan keluarga Opa, Papa mulai mengambil keputusan dan sedang mengaturnya." Ucap Recky, terus mengingat yang dikatakan Papanya. Aaric memperhatikan Recky dengan serius.
"Papa katakan, sekarang sedang berusaha mengambil keputusan penting bagi kehidupan Papa. Setelah puluhan tahun menjalani kehidupan orang lain. Papa sudah pada titik harus menentukan apa yang terbaik untuk Papa jalani." Ucap Recky yakin dengan yang dikatakan Papanya.
Aaric tersentak mendengar yang dikatakan Recky. "Kau tidak usah berpikir negatif tentang perkataan Papa. Mungkin yang Papa katakan itu, sekarang sudah dilakukan. Pulang ke Malang dan meninggalkan semua kehidupan mewah dan pekerjaannya." Aaric mencegah Recky berpikir yang negatif tentang Papa mereka.
"Menurut informasi saat ini, sepertinya ada dana yang dipakai oleh iblis dan keluaganya untuk membayar orang melakukan pekerjaan kotor dengan menggunakan dana perusahaan. Kau tau sendiri, iblis itu tidak bisa menolak semua keinginan Opa." Aaric menyampaikan informasi dan berusaha meyakinkan Recky. Tetapi dalam hatinya, dia akan meminta Jekob menyelidiki informasi dari Recky tentang Papanya.
~●○♡○●~
__ADS_1