Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Solusi.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Seperti yang diinginkan Carren, dia pulang diantar oleh kedua anggota keamanan yang dipercayakan Aaric untuk menjaganya. Setelah tiba di rumah, Carren disambut dengan wajah terkejut. Selain pulangnya masih pada jam kerja, dia juga mengenakan kemeja yang bukan miliknya, menutupi bajunya.


"Arra mandi dulu ya, Ma. Setelah mandi baru Arra bicara dengan Mama." Carren berkata saat melihat Mamanya hendak bertanya padanya. Bu Nancy mengangguk, lalu berjalan ke dapur untuk membuat teh panas untuknya.


Selesai mandi dan mengenakan baju rumah, Carren duduk di kursi meja makan untuk minum minuman yang telah dibuat Mamanya. Bu Nancy juga ikut duduk di depannya, karena penasaran dengan penampilan Carren yang tidak biasa saat pulang kantor. Beliau juga ingin tahu, mengapa Carren sudah pulang kerja sebelum jam pulang kantor.


"Begini, Ma. Tadi dari kantor aku ke apartemen Kak Aaric ...... " Carren menceritakan Aaric memintanya untuk datang ke apartemen dan memasak soup untuk makan siang mereka, sehingga bajunya kotor. Bu Nancy mendengar cerita Carren dari santai sampai dengan serius.


"Carreeen... Kau pergi ke apartemennya? Bukankah kau tau, itu belum boleh kau lakukan saat ini? Mengapa kau berani pergi sendiri ke sana? Apakah dia tinggal sendiri di sana atau bersama keluarganya?" Tanya Bu Nancy beruntun, karena khawatir Carren telah melakukan sesuatu yang salah atau terjadi sesuatu dengannya. Walaupun Aaric telah bertemu dengannya dan meminta restunya untuk berhubungan dengan Carren, Bu Nancy tidak mau putrinya gegabah, sehingga dia dinilai negatif oleh keluarga Aaric.


"Ada dengan keluarganya, Ma. Aku minta maaf, tidak bilang ke Mama karena tadi sangat tiba-tiba dan buru-buru pergi belanja untuk pergi ke apartemennya..... " Carren menceritakan rentetan yang dilakukan karena permintaan Aaric saat menghubunginya di kantor. Dia tidak menceritakan itu sudah kedua kalinya ke apartemen Aaric, karena khawatir Mamanya makin marah.


"Jadi kau sudah bertemu dengan Papanya Aaric? Apakah beliau bisa menerimamu dengan baik?" Tanya Bu Nancy agak melunak, saat Carren katakan sudah bertemu dengan Papanya Aaric. Bu Nancy ingin tahu, karena masih khawatir putrinya tidak diterima dengan baik oleh keluarga Aaric. Selama ini, Carren tidak pernah mengatakan padanya sudah bertemu dengan keluarga Aaric.

__ADS_1


"Iya, Ma. Beliau bisa menerimaku dengan baik. Papa Kak Aaric ramah, hangat dan bijak." Carren menyampaikan kesannya terhadap Pak Biantra. "Tetapi bukan mengenai Papa Kak Aaric yang mau aku bicarakan dengan Mama. Aku mau bicarakan rencana Kak Aaric mau datang melamarku besok malam, Ma." Ucap Carren pelan, sambil memandang Mamanya untuk melihat reaksi Mamanya. Bu Nancy kembali terkejut mendengar yang dikatakan Carren.


"Apa tidak salah? Apakah kau tidak katakan kalau besok, kita belum siap? Mama bukan tidak siap menerimanya sebagai calon suamimu. Tetapi Mama sudah katakan padamu, akan merapikan rumah ini, agar bisa menjadi tempat yang layak untuk menerima kedatangan mereka saat melamarmu." Bu Nancy berkata serius, tegas dan agak emosi.


"Bukankah Mama sudah katakan itu padamu, saat pulang dari pertemuan terakhir dengan Aaric? Kita harus rapikan rumah ini, karena sudah lama tidak memperbaikinya dan sudah sangat kusam. Mama kira, kau sudah mengerti maksud Mama." Bu Nancy berkata sambil memandang Carren dengan serius.


"Selain rumah ini perlu perbaikan untuk acara lamaranmu, tapi juga untuk menghentikan guncingan para tetangga yang selalu berkata terang-terangan atau menyindir saat melewati depan rumah kita." Bu Nancy berkata jadi emosi, mengingat semua ucapan miring tetangga.


"Bisa membeli mobil ratusan juta, tapi rumahnya tidak diperbaiki. Mama tidak mengatakan itu kepadamu, karena menurut Mama yang dikatakan mereka ada benarnya. Mungkin pertama-tama mereka berpikir mobil orang yang dititipkan di sini. Tetapi telah sekian lama mobil itu masih ada disini, mereka jadi berpikir ini mobil kita." Bu Nancy mengungkapkan yang selama ini didengar.


"Iya, Ma. Aku mengerti, makanya aku minta tolong Mama untuk mencari tukang untuk melihat rumah ini. Jika diperbaiki dan dicat lagi, berapa biaya yang diperlukan." Carren berbicara pelan dan sabar, karena menyadari Mamanya masih terkejut dengan apa yang dikatakannya dan dampak di lingkungan dengan kehadiran mobil Recky.


"Mama sudah minta tolong, tapi tukangnya belum datang karena masih belum selesai kerjanya di tempat lain. Apakah Aaric tidak bisa menundanya? Saat itu dia katakan dalam waktu dekat akan datang melamar, tapi Mama tidak berpikir secepat ini. Kau juga belum bertemu keluarganya, bagaimana tahu mereka menerimamu atau tidak. Jadi Mama berpikir, secepat, cepatnya, dalam hitungan bulan, bukan dalam hitungan hari seperti ini." Bu Nancy mengungkapkan protesnya.


"Iya, Ma. Aku juga berpikir begitu, tidak secepat ini. Makanya tadi bajuku kotor karena kejatuhan sendok makan karena mendengar yang dikatakan Kak Aaric mau datang melamar besok." Ucap Carren, berusaha menjelaskan agar Mamanya tidak makin emosi.

__ADS_1


"Lalu bagaimana menurutmu? Karena rumah ini tidak mungkin dirapikan dalam satu hari. Bukan satu hari lagi, karena kita juga harus menyiapkan sesuatu untuk menyambut mereka." Ucap Bu Biantra, menurutkan level emosinya karena melihat putrinya juga sedang bingung.


"Tadi Papanya Kak Aaric mungkin mengerti melihatku terkejut. Jadi meminta Kak Aaric membicarakan rencananya denganku. Aku bilang, kami berencana mau cat rumah dan tidak mungkin bisa selesai dalam satu hari." Carren mencoba memenangkan Mamanya dengan menjelaskan apa yang terjadi di apartemen.


"Lalu bagaiman reaksimya? Apakah bisa ditunda?"Tanya Bu Nancy berharap.


"Kak Aaric minta aku bicara dengan Mama. Apakah bisa jika acaranya dilakukan di tempat pertemuan terakhir kita saat itu. Jadi tidak di rumah ini...." Ucapan Carren terhenti, karena dipotong oleh Mamanya.


"Yaaa, Mama mengerti. Kalau Aaric tidak mau menundanya, silahkan saja. Mungkin di tempat itu lebih baik, karena di sini sudah tidak mungkin. Mama tidak mau mempermalukanmu di depan keluarga Aaric saat melihat kondisi rumah ini." Ucap Bu Nancy menerima yang diusulkan Aaric.


"Tadinya aku juga berpikir begitu, Ma. Tetapi Kak Aaric bilang mau menutup restoran itu untuk acara lamaran itu, aku jadi tidak setuju. Masa untuk segelintir orang makan dan acara lamaran itu, harus keluarkan uang sebanyak itu. Mama tau sendiri restorannya. Untuk makan malam kita bertiga saja, aku sudah tutup mata. Apalagi sampai harus menutup restorannya. Mungkin biayanya bisa lebih dari rapikan rumah ini." Carren mengungkapkan kepada Mamanya, apa yang tidak bisa dia katakan kepada Aaric.


"Mama juga tidak setuju. Kenapa menghambur-hamburkan uang untuk acara yang hanya sebentar. Walaupun uang mereka banyak, tapi jangan biarkan. Pergunakan untuk yang lebih penting, mungkin untuk rumah kalian atau acara menikah nanti. Katakan pada Aaric, Mama setuju untuk adakan direstoran itu, tapi tidak usah ditutup restorannya." Ucap Bu Nancy sedikit lega, karena tidak perlu buru-buru merapikan rumahnya.


Tadinya, aku juga sudah bilang begitu. Tetapi Kak Aaric tidak setuju jika tidak ditutup restorannya. Karena Papa Aaric tidak bisa makan di tempat ramai, Ma. makanya Kak Aaric mau menutupnya saat acara berlangsung." Carren berkata pelan, agar Mamanya bisa membantunya berpikir bagaimana yang baik.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2