
...~•Happy Reading•~...
Bu Biantra menguatkan dirinya lalu berdiri dan mengambil tasnya dengan tangan bergetar. Pak Haiman yang berada di sampingnya dan menyadari situasi, ikut berdiri untuk membantu Bu Biantra mengikuti Papanya yang sudah dibawa oleh tim medis dan security.
"Anda mau kemana, tuan Haiman? Duduk di tempat, karena saya belum selesai dengan anda." Ucap Aaric tegas dan dingin, tidak mau dibatah. Dia sudah tidak sabar melihat Pak Haiman yang sejak tadi so' perhatian kepada Bu Biantra. Rasanya Aaric mau melempar mereka dengan kursi.
"Bapak dan Ibu, Rapat ini saya tutup. Saya minta maaf untuk kejadian yang tidak menyenangkan tadi." Ucap Aaric, lalu memberikan kode untuk Jekob.
Jekob mengerti maksud boss nya, lalu meminta sekretaris untuk mendekatinya. "Bagi para pemegang saham yang tidak bekerja di Biantra Group, sudah bisa tinggalkan ruangan ini dan nikmati semua yang telah disediakan di ruangan sebelah." Ucap sekretaris Jekob, setelah di berikan memo oleh Jekob.
"Pak Hutama, terima kasih sudah hadir. Setelah ini, saya akan menghubungi bapak untuk berbicara secara pribadi." Ucap Aaric sambil berdiri dan menyalami Pak Hutama yang akan meninggalkan ruangan.
"Hati-hati mengatur semua ini dan buatlah Pak Biantra bangga padamu. Saya sangat menghormati Papamu sebagai rekan bisnis yang hebat dan baik hati. Jadilah seperti Papamu, jangan mengikuti jejak Mamamu atau Opamu." Pak Hutama bicara pelan sambil menepuk lengan Aaric dengan tangan kirinya. Aaric mengangguk hormat dan menyalami Pak Hutama dengan hangat. Dia bersyukur dalam hati, Pak Hutama tidak membencinya.
Setelah Pak Hutama meninggalkan ruangan, Aaric melihat yang ada dalam ruangan satu persatu. "Pak Jekob, mari kita keluarkan ikan tak bersirip yang sedang berenang bebas di air Biantra." Ucap Aaric sambil memberikan isyarat kepada Jekob, agar memberikan dokumen yang sudah mereka kumpulkan. Jekob mendekati sambil berpikir, apa jadinya jika ikan dikeluarkan dari dalam air?
Sapta telah memperoleh semua informasi yang dilakukan oleh Direktur Keuangan dan juga keluarga Pak Sunijaya. Dia telah melaporkan temuannya kepada Jekob. Semua temuan Sapta telah didata dan disimpan oleh Jekob untuk dilaporkan kepada boss besar mereka.
__ADS_1
Ketika melihat laporan yang diberikan oleh Jekob, Aaric kembali emosi dan menatap semua yang ada dalam ruangan rapat satu per satu. Yang tinggal hanya pemegang saham yang bekerja di Biantra Group dan diantara mereka banyak yang bermasalah.
Semua laporan di tangan Aaric membuatnya geram. "Kalian semua dianggap manusia, makanya diberikan kesempatan untuk bekerja di sini. Tetapi kalian menjadikan diri seperti tikus, dengan menggerogoti perusahaan ini." Ucap Aaric sarkasme sambil memandang Om nya dan kedua anaknya.
"Papaku sudah memberikan kesempatan untuk introspeksi dan membenahi diri di kantor cabang, malah kalian datang ke sini dan menggerogoti juga. Saya bukanlah Danang Biantra yang memiliki kesabaran panjang dan lebar. Sekarang saya tidak akan membiarkan sejengkalpun untuk kalian melangkah mendekati apa yang tersisah." Ucap Aari kepada Om dan juga kedua sepupuhnya yang masih duduk diam, tapi gelisah.
"Sedangkan anda, tikus mondok. Anda dipercayakan dengan jabatan tinggi sebagai Direktur Keuangan dengan gaji besar, tetapi menjadi rakus. Masih mau mencuri dari perusahaan ini. Saya akan mematahkan tanganmu, karena telah berani mencuri dan mengambil yang bukan untukmu." Ucap Aaric, tanpa menyinggung persoalan Mamanya dengan Pak Haiman.
"Pak Jekob, kau sudah siapkan surat penuntutannya?" Tanya Aaric lagi, karena Sapta sudah keluar ruangan. Dia termasuk orang yang memiliki saham, tapi tidak bekerja di Biantra Group. Dia sengaja tidak memperlihatkan dirinya sebagai orang terdekat boss besar.
"Silahkan panggil pengacara dan pihak keamanan untuk membawa orang-orang ini." Ucap Aaric sambil menunjuk Om, sepupuh dan juga Pak Haiman. Ketika melihat polisi yang masuk ke ruang rapat, mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangkah yang datang adalah polisi. Mereka mengira security yang dipanggil oleh Jekob. Ternyata Sapta telah menyiapkan anggota polisi di tempat parkir perusahaan.
Om Aaric yang tidak menyangka dengan situasi tersebut, langsung mendekati Aaric yang hendak keluar ruangan dengan cemas tapi geram dalam hati. "Aaric, apa kau tidak tau aku ini Lepart, Om mu? Kau berani lakukan ini kepada kami, keluargamu sendiri?" Tanya Pak Lepart was-was melihat kedatangan polisi dan juga sikap Aaric.
"Om saya? Keluarga sendiri? Sejak kapan saya ini dianggap keluarga oleh kalian? Keluarga saya manusia, bukan hewan pengerat." Ucap Aaric sarkasme melihat Pak Lepart tiba-tiba menganggapnya keluarga.
"Anda bertanya saya berani lakukan ini untuk kalian? Lalu yang tadi sedang dibawa dengan ambulance ke rumah sakit itu siapa saya? Jika mereka juga tikus, saya akan memberikan gelang besi di kedua tangan mereka, apalagi anda." Ucap Aaric dingin. Wajah Pak Lepart memutih begitu juga dengan anak-anaknya, melihat wajah dingin dan keseriusan Aaric.
__ADS_1
"Pak polisi, bawa mereka semua. Nanti ada yang akan ikut dengan bapak untuk membawa semua bukti kejahatan dan surat penuntutan." Aaric berkata kepada polisi dan memberikan isyarat kepada pengacaranya untuk mendekatinya.
"Pak Jekob, ambil semua ponsel mereka, karena ada lagi yamg akan kita bawa sendiri ke kantor polisi. Kita akan mengumpulkan semua cecurut, kaki tangan para tikus ini." Ucap Aaric lagi, membuat Pak Lepart terkejut dan terhuyung.
"Pak Lepart, hati-hati. Jangan dulu oleng, karena kantor ini tidak menyediakan kursi roda. Dan kita tidak sedang shooting drama di sini, jadi anda tidak perlu akting." Ucap Aaric, melihat Pak Lepart agak terhuyung. Pancingan Aaric mengena, memang mereka ada kaki tangan di Biantra Group.
"Apa yang anda lakukan kepada saya? Apa anda tidak tau kalau Mama anda mencintai saya dan kami akan menikah?" Ucap Pak Haiman yang baru tersadar, Aaric berkata serius ketika Pak Lepart dan anak-anaknya mendekati Aaric untuk protes serta melihat polisi mulai berjalan ke arahnya.
Ucapan Pak Haiman bagaikan membangunkan singa yang sedang tidur. Padahal tadi Aaric tidak mau menyinggung hal itu, tetapi Pak Haiman mencoba menyelamatkan dirinya dengan berlindung di balik Bu Biantra. Aaric melihatnya dengan tatapan tajam dan mimik wajah jijik.
"Hei, ular sawa. Kau katakan apa? Apakah saya sedang shooting drama roman picisan di sini, sehingga kau mengucapkan cinta lumpurmu itu? Simpan itu untuk kalian mainkan di ubin satu kali satu. Rambut sudah mengungsi dari kepala, tapi masih mengumbar cinta comberanmu. Malu sama kerutanmu yang sudah berbaris." Aaric berkata tanpa memandang usia Pak Haiman jauh lebih tua darinya.
"Kau kira saya Danang Biantra yang membiarkan kau menunjukan gatal berbau comberanmu? Pak Polisi, tolong berikan gelang besi kepadanya dan segera bawa tikus mondok itu. Jangan sampai saya mencabut rambut sisanya dan mengeluarkan isi kepalanya." Ucap Aaric kepada Pak Polisi, dengan wajah serius.
Jekob yang mendengar apa yang dikatakan bossnya, tidak bisa menahan tawa. Dia sengaja mengambil sesuatu dari dalam tas untuk menyembunyikan senyumnya. 'Boss ini kebanyakkan main di Sero dengan Sapta, sampai kata-katanya sungguh sadis, tapi juga menggelitik.' Jekob membatin sambil tersenyum. Dia tidak berani terang-terangan tersenyum, karena melihat wajah bossnya serius, dingin dan bisa melakukan yang dikatakannya.
...~●○♡○●~...
__ADS_1