Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Surprise 4.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Aaric terkejut mengetahui Recky telah tiba di Bandara Soeta. Sambil berbicara dengan Recky, dia berjalan keluar ruang kerjanya.


📱"Benarkah, kau sudah ada di Soeta?" Tanya Aaric untuk meyakinkan dirinya.


📱"Iya, Kak. Tadi aku agak lama di Imigrasi. Ini baru selesai, jadi baru bisa hubungi Kakak." Ucap Recky lagi.


📱"Kau memang keterlaluan. Dalam kondisi begini, masih buat surprise." Ucap Aaric sambil masuk ke ruang kerja Jekob, lalu menunjukan layar ponselnya kepada Jekob untuk memberitahukan Jekob, bahwa sedang berbicara dengan Recky.


📱"Tunggu di situ, nanti ada yang ke Bandara untuk menjemputmu." Ucap Aaric sambil memberikan kode kepada Jekob untuk meminta seseorang menjemput Recky di Bandara.


📱"Tidak usah jemput, Kak. Di sini ada banyak taksi. Kakak Share loc saja, biar aku bisa lebih cepat bertemu kakak." Ucap Recky masih dengan nada riang, sedangkan Aaric hanya bisa menggelengkan kepalanya.


📱"Baiklah. Setelah ini aku share loc." Ucap Aaric, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.


Aaric menarik nafas panjang, lalu mengirimkan lokasi apartemennya kepada Recky. "Kau lihat apa yang dia lakukan? Kamarin aku baru kirim salinan surat cerai kepadanya, sekarang dia sudah tiba di Soeta tanpa berpikir keluarga itu sudah menyelesaikan dengan pihak Imigrasi atau belum." Aaric berkata sambil menggelengkan kepalanya.


"Mungkin tuan muda Recky sudah tidak sabar untuk datang ke sini, jadi saat terima itu langsung berangkat. Apakah tidak jadi menjemputnya, Pak?" Tanya Jekob mengingat, tadi dia diminta untuk menjemput Recky.


"Tidak usah. Dia tidak mau dijemput. Dia akan naik taksi bandara ke apartemen. Jadi kau urus yang lain, aku akan pulang sebelum dia sampai di apartemen." Jawab Aaric, lalu berjalan meninggalkan ruang kerja Jekob. Melihat wajah dan sikap bossnya, dia tersenyum karena bossnya sebenarnya senang adiknya datang.


Setelah tiba di apartemen, Aaric istirahat sejenak sambil menunggu kedatangan Recky. Dia tidak menyangka Recky akan datang secepat itu, saat mengirim salinan surat cerainya. Dia memeriksa kamar yang akan ditempati Recky dan juga isi lemari. Dia bersyukur, kemarin sore telah meminta Bibi datang untuk membersihkan apartemennya.

__ADS_1


Ketika Recky mengirim pesan, dia sudah dekat dengan apartemennya, Aaric segera turun ke lobby untuk menunggunya.


"Kakaaaa...!" Teriak Recky, saat turun dari taksi dan melihat Aaric sudah berdiri menunggunya di lobby. Dia melepaskan tas yang dibawanya begitu saja di lantai dan langsung memeluk kakaknya. Semua orang di lobby melihat mereka.


"Astagaaa, lepaskan pelukanmu. Orang lagi melihat kita, dikira kita jeruk makan jeruk." Aaric yang balas memeluk Recky, jadi memukul pelan punggungnya sambil tersenyum.


"Biarkan saja, Kak. Mata mereka untuk melihat. Yang penting kita makan apel." Ucap Recky cuek, lalu melepaskan pelukannya. Dia mengambil tasnya di lantai lalu memanggulnya di bahu. Aaric hanya melihat adiknya, sambil mengelengkan kepalanya.


"Kau tidak membawa koper?" Tanya Aaric, melihat Recky hanya membawa tas kecil di bahunya.


"Segini aja. Kakakku cukup berduit untuk membeli keperluanku. Jadi tidak usah repot-tepot membawa banyak pakaian." Ucap Recky cuek, sambil berjalan santai di samping Aaric masuk ke lift. Kembali Aaric hanya bisa menggelengkan kepalanya, tapi hati tersenyum senang melihat sikap adiknya.


"Kau ke kamar Pa ... itu, lalu mandi. Nanti setelah mandi baru kita bicara." Aaric hampir menyebut kamar Papa kepada Recky. Dia mengantar Recky ke kamar yang ditempati Pak Biantra, kemudian menunjukan semua keperluan Recky yang sudah disiapkan di kamar itu.


"Jika ada seperti di rumah Aussie, aku mau minum hot chocolate. Jika tidak ada, kopi instan saja, Kak." Ucap Recky, lalu duduk di kursi meja makan.


"Yang kau maksudkan ini?" Aaric menunjuk sachet hot chocolate kepada Recky untuk menanyakan persetujuannya. Recky mengangkat kedua jempolnya. Aaric tersenyum melihat gerakan tangan, mimik wajah dan mata Recky, saat menyetujui yang ditunjuknya.


"Sekarang sudah suka minum hot chocolate?" Tanya Aaric sambil meletakan dua cangkir hot chocolate di atas meja untuk mereka berdua.


"Hanya yang merek ini, Kak. Kalau yang lain, tidak. Karena yang ini tidak terlalu manis dan rasanya pas. Jadi kalau di rumah habis, aku minta pelayan beli merek yang sama. Jika tidak ada, tidak usah beli merek yang lain." Ucap Recky menjelaskan, tanpa mengetahui itu salah satu produk pabrik Elimus milik kakaknya di Belanda.


Aaric tersenyum dalam hati sambil melihat adiknya dari pinggiran cangkir saat mereka sama-sama minum hot chocolate. "Setelah ini, kau mau tinggal di Indonesia?" Tanya Aaric, mengingat Biantra Group sudah ada di tangannya.

__ADS_1


"Tergantung situasi, Kak." Ucap Recky sambil tersenyum, mengingat Carren. Jika Carren mau menerimanya, dia akan tinggal di Indonesia. Itu yang ada dalam pikirannya selama ini. Apalagi sekarang kakaknya sudah ada di Indonesia.


"Situasi hati, atau situasi pacar?" Tanya Aaric menggoda adiknya. Dia sudah tahu, Recky mencintai seorang gadis di Indonesia. Pasti dia pulang untuk membicarakan hubungan mereka, setelah status pernikahannya sudah jelas.


"Hahaha... Dua duanya, Kak. Nanti setelah aku menemuinya, baru aku kenalkan pada kakak." Ucap Recky sambil tersenyum senang, membayangkan akan bertemu dengan Carren lagi.


"Kalau begitu, segeralah bertemu dengannya agar kita bisa makan malam bersama. Aku akan reservasi tempat, sekalian memperkenalkanmu pada tunanganku." Ucap Aaric tersenyum dalam hati melihat wajah Recky yang senang, akan bertemu dengan orang yang dicintainya.


"Kakak sudah bertunangan? Dengan orang apa? Kenapa kakak tidak memberitahuku?" Tanya Recky beruntun, karena terkejut mengetahui kakaknya sudah bertunangan dan dia tidak tahu.


"Kau kalau terkejut, suka bertanya seperti truk gandeng. Tanyanya satu, satu, supaya mudah jawabnya. Memangnya kau saja yang bisa kasih surprise? Aku juga bisa kasih surprise untukmu." Ucap Aaric, tersenyum melihat wajah Recky.


"Aku belum lama bertunangan. Tunanganku orang Indonesia. Kenapa tidak memberitahumu, karena mencegah yang begini, ini." Ucap Aaric sambil tersenyum dan kembali menggelengkan kepalanya.


"Apa kau tidak terbang ke sini, jika aku katakan mau bertunangan?" Ucap Aaric lagi dengan wajah masih tersenyum.


"Pasti terbanglah, Kak. Masa kakak bertunangan, aku tidak datang." Ucap Recky, tanpa mengerti maksud ucapan kakaknya.


"Itu yang aku cegah, agar masalahmu cepat selesai. Hari ini kau datang saja, membuatku was-was. Aku belum sempat bicara dengan Sapta untuk bereskan masalah di Imigrasi. Kami belum tahu pihak sana sudah bereskan di Imigrasi atau belum, kau sudah datang. Aku kirim salinan surat itu, agar kau tenang dan sudah bisa keluar di sana dengan bebas. Bukan langsung bepergian ke sini." Aaric berkata serius, tapi dengan mimik wajah tersenyum.


"Ooh, iya Kak. Tidak terpikir hal itu. Pantes, tadi aku ditahan lama di Imigrasi. Mungkin mereka cek and ricek dulu dengan keluarga itu." Ucap Recky sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena tidak terpikirkan. Dia berpikir, sudah bercerai, sudah selesai, sudah beres.


"Aku sudah tau sifatmu itu, makanya tidak memberitahumu. Nanti juga kau akan berkenalan dengannya. Carren pasti akan senang bertemu denganmu." Ucap Aaric, membayangkan Carren bertemu dengan Recky, sama seperti bertemu dengan Papanya.

__ADS_1


...~●○♡○●~...


__ADS_2