Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Keluarga Piltharen.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Riri menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kuat, saat telah duduk di dalam mobil oline yang dipesannya. Serasa dia baru meletakan beban berat yang ada di bahunya.


Ternyata untuk bekerja bukan hanya kemampuan akademik yang dibutuhkan. Tetapi harus memiliki kemampuan pendukung lainnya, yang berhubungan dengan mental dan moral. Apalagi seperti dirinya yang menyamarkan indentitas dan harus bekerja dengan orang yang mempengaruhi pikran, hati dan jantungnya.


Mengingat beberapa jam berada di kantor Hutama, dia merasa heran semua yang dirasakannya saat ini tidak terasa. Yang dia rasakan saat berada dalam satu ruangan dengan Parry hanyalah senang dan bersemangat. Sehingga pekerjaan yang belum pernah dikerjakannya, tidak menjadi beban baginya. Dia mengerjakan semuanya dengan senang hati, termasuk saat mencuci perangkat makan yang belum pernah dilakukannya.


Tidak lama kemudian, dia tiba di Piltharen Building. Dia langsung menuju kantor Leon, karena memiliki akses masuk ke kantor kakaknya. Saat sampai di kantor Leon, sekretaris kakaknya mempersilahkan dia masuk ke ruang kerja Leon untuk mengganti pakaian dan juga mengambil kunci mobilnya.


Leon bersama asistennya sedang meeting di luar kantor, jadi tidak bisa bertemu dengannya. Mereka akan bertemu di rumah, karena Leon langsung pulang dari tempat meeting.


Melihat waktu masih belum terlalu sore dan belum waktu bubar kantor, Riri memakai masker dan membawa mobilnya ke Mall tempat membeli baju untuknya kemarin. Dia membutuhkan beberapa baju dan sepatu lagi, karena telah diterima bekerja di Hutama. Dia tidak hanya membeli rok, tetapi juga celana panjang agar lebih leluasa bekerja.


Kemudian dia juga ke swalayan terdekat, untuk membeli minuman instan untuknya di kantor. Mengingat yang diberikan Nusa sebagai minuman Parry hanya tinggal beberapa sachet, Riri sekalian membeli untuk Parry dan Nusa.


Ketika melihat ada cangkir bertutup yang bagus, unik dan cantik, dia membeli untuknya di kantor. Setelah membawanya ke kasir, dia teringat Parry dan Nusa. Dia kembali membeli cangkir untuk mereka juga. Dia membeli tiga cangkir lagi untuk Kakak, Ayah dan Ibunya di kantor dengan warna yang berbeda-beda.


Setelah merasa sudah cukup, dia meninggalkan swalayan dan pulang ke rumah. Dia sudah rindu bertemu dengan kakaknya untuk menceritakan yang dialaminya hari ini.


Saat tiba di rumah, dia melihat mobil Leon telah parkir di halaman, tetapi mobil kedua orang tuanya belum ada. Ternyata kakaknya sudah pulang, membuat hatinya makin senang. Dia menurunkan semua belanjaannya dan memberikan kepada pelayan yang membukakan pintu rumah untuknya.


Riri langsung ke kamar untuk mandi sebelum bertemu dengan kakaknya. Saat turun, dia membawa semua baju yang baru dibelinya untuk di dry clean. Saat tidak menemukan Kakaknya di bawah, dia kembali naik untuk mencari di lantai atas.


"Ko' baru pulang De'. Bukannya sudah pulang dari tadi?" Tanya Leon yang baru keluar dari kamarnya. Riri tersenyum senang sambil mendekati Leon dan memeluk lengannya.


"Eeh, ada apa ini? Ngga jawab, malah beginian. Mau minta apa lagi? Mau keluar dari Hutama, karena sudah langsung disuruh bekerja?" Tanya Leon sambil mencoel pipi adiknya yang berlaku manja dan menggemaskan.


"Kalian berdua sedang apa di situ?" Leon dan Riri terkejut mendengar suara Ibunya. Terutama Riri, dia khawatir Ibunya mendengar pertanyaan kakaknya.

__ADS_1


"Astaga Bu Linna. Kenapa senang sekali membuat jantung kami ajojing? Kapal saja pakai stom, Bu Linna main tembak langsung. Untung kami lagi pegangan, kalau ngga, bisa ambruk." Leon berkata sambil memegang dadanya.


"Ibu dan Ayah sudah kasih salam di bawah, hanya kalian berdua saja yang asyik sendiri sampai ngga dengar. Ayooo turun, kita mau makan malam. Ayah kalian sudah lapar." Bu Linna mengajak kedua anaknya turun.


"Lain kali mau naik tangga tuh, kasih kode, Bu. Biar kami bisa siap menyambut Ibu. Jangan keseringan begitu, Bu. Jantung kami masih kanak-kanak. Apa Bu Linna ngga kasihan lihat kami? Terutama nih, putri Ibu sampai nempel seperti cicak." Riri melepaskan lengan kakaknya lalu memukulnya sambil tertawa. Mereka turun memgikuti Ibunya ke meja makan, dimana Ayah mereka telah menunggu.


Setelah makan, mereka duduk di ruang keluarga sambil menonton TV dan bercengkrama. "Riri, kenapa kau nempel terus sama Mas mu? Ibu lihat, di atas tadi juga begitu." Bu Linna melihat kedua anaknya yang tidak biasanya duduk nempel seperti itu. Biasanya ada sesuatu dengan Riri, dia akan nempel kepada Ayahnya atau kakaknya.


Mendengar pertanyaan Ibunya, Leon langsung pasang wajah manis. Dia tahu adiknya ingin berbicara tentang pekerjaannya dan butuh dukungannya.


"Begini Bu Linna, kami mau bercerita. Eeh, bukan. Mau menyampaikan beberapa hal untuk Ibu dan Ayah. Jadi mohon sabar mendengar dan sabar juga menanggapinya." Ucap Leon mulai serius.


"Pertama, Riri tidak jadi berangkat kuliah di Amerika. Dia sendiri yang memutuskan itu, tanpa tekanan atau intervensi dari siapapun, termasuk mas nya." Leon menunjuk wajahnya.


"Kenapa kau tidak mau kuliah lagi dan kenapa baru bilang sekarang untuk kami?" Tanya Bu Linna, sambil melihat ke arah Riri dengan serius.


"Sabar Bu. Kenapa Ibu marah kalau Riri tidak jadi kuliah? Apakah Ibu menginginkan dia kuliah di luar sana?" Leon bertanya, dan melihat Ibunya dengan serius.


"Mulutnya ada di Leon sekarang, Bu. Jadi Ibu perhatikan ucapan Leon. Sebelumnya aku tidak setuju dia kuliah di luar, karena dia perempuan sendiri di sana. Tetapi aku tidak bilang itu, karena dia ngotot untuk pergi kuliah. Tetapi saat dia bilang tidak jadi kuliah, yaa... Pucuk dicinta ulam tiba, aku hayoo, dong." Leon membuka kedua tangannya.


"Ibu rela membiarkan putri Ibu di luar sana sendiri? Jangan bandingkan dia dengan Leon. Manis pahitnya masih bisa kutahan karena laki-laki." Leon menyerang pada titiknya, karena dia tahu Ibunya juga was-was kalau Riri kuliah di luar. Melihat Ibunya terdiam, dia melanjutkan.


"Yang kedua, Riri memutuskan untuk bekerja di Jakarta dan sekarang dia sudah bekerja. Mulai besok dia sudah menjadi pegawai kantoran."


"Kau memberikan jabatan apa untuknya di kantormu? Lebih baik dia di kantor Ayah saja. Bagian pengembangan sedang membuka cabang baru, biar dia yang memegangnya." Ayah Riri berkata serius kepada Leon. Riri makin mendunduk mendengar yang dikatakan Ayahnya.


"Maaf, Ayah. Riri tidak bekerja di kantor kita. Dia baru diterima bekerja di Hutama. Dia ..." Ucapan Leon terhenti, karena dipotong oleh ucapan Ibunya.


"Apa maksudmu, Leonardo. Apakah dia pergi melamar kerja di Hutama? Apakah tidak ada pekerjaan di Piltharen sampai dia harus pergi melamar di sana?" Bu Linna terkejut dan kembali emosi.

__ADS_1


"Bu, dia perlu menguji kemampuannya sebelum membantu membangun Piltharen. Dia sudah membuktikan, bisa diterima di Hutama tanpa bantuanku, ayah atau Ibu. Jadi berikan kesempatan baginya, untuk belajar banyak hal di luar kampus."


"Dia bisa belajar di Piltharen. Kenapa harus di perusahan orang lain? Buktinya, kau pulang langsung pegang Piltharen. Dan Piltharen bisa maju seperti sekarang." Ibunya bersikeras, tidak terima Riri bekerja di perusahaan lain.


"Bu, aku bukan tiba-tiba pegang Piltharen. Aku belajar banyak hal di luar sana. Ibu tidak tahu aku bekerja di restoran, cuci piring melayani orang. Yaaa, untuk belajar hal yang tidak aku dapatkan di kampus."


"Astaga, apakah uang yang kami kirim tidak cukup sampai kau melakukan semua itu?" Bu Linna bertanya dengan mata membulat.


"Bukan soal uang, Bu. Tetapi bagaimana kita bekerja bersama orang, berkomunikasi dengan orang dan banyak hal yang berhubungan dengan pekerjaanku sekarang." Leoan menjelaskan.


"Hal itulah yang membuat aku setuju, membiarkan dia ikut interview dan bekerja di sana. Nanti kalau sudah merasa cukup, dia akan bekerja bersama kita." Leon menjelaskan untuk meyakinkan kedua orang tuanya.


"Apakah benar, kau diinterview dan mereka tidak tau kau putri kami?" Tanya Bu Linna melunak dan melihat kearah Riri yang sedang menatapnya dengan rasa khawatir.


"Iya, Bu, Yah. Tadi langsung diterima dan besok sudah masuk kerja. Maafin Riri yang tidak beritahukan Ibu dan Ayah lebih dulu." Riri berucap, lalu menunduk karena merasa bersalah.


"Aku yang melarangnya untuk memberitahukan Ibu, karena nanti seperti tadi. Dia belum tentu diterima, tapi dia sudah dibombardir sama Ibu. Karena sekarang dia sudah diterima, Ibu mau bombardir dia sampai pagi, silahkan." Ucap Leon sambil tersenyum.


"Oooh, iya Bu. Karena di sana dia bukan sebagai putri Ibu dan Ayah, jadi jangan protes kalau dia berpenampilan seperti pegawai pada umumnya. Saat Ibu dan Ayah lagi ada pertemuan di Hutama, terutama Ayah, jangan menunjukan kasih sayang Ayah padanya. Bisa-bisa dia dikeluarkan sebelum belajar sesuatu." Ayahnya hanya bisa mengangguk mengerti, sambil melihat putrinya.


"Ayo, De'. Mari, ikut Mas." Leon mengajak Riri, karena penasaran dengan apa yang terjadi di Hutama, sampai langsung diminta kerja dan dia menjadi sekretaris siapa.


"Kalian mau kemana? Kenapa biarkan kami sepi sendiri di sini?" Bu Linna protes, melihat kedua anaknya berjalan meninggalkan ruang keluarga.


"Bu Linna, biarkan kami anak-anak mojok di tempat aman dan nyaman, ya. Kalau Bu Linna masih coba ikut naik, aku akan pasang alaram tanda bahaya di tangga." Riri langsung memukul lengan kakaknya, sambil tertawa.


"Sudah, biarkan mereka Bu. Mari ikut Ayah supaya ngga sepi." Ayah Riri berdiri, lalu mengulurkan tangannya kearah istrinya.


"Kemana, Ayah?" Tanya Bu Linna, lalu ikut berdiri.

__ADS_1


"Ikut saja." Bu Linna memukul lengan suaminya saat diajak menuju kamar.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2