Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Terkoyak 1


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Keesokan harinya, Recky bangun dan mengetahui Papanya sudah tidak berada di vila. Dia mandi, sarapan dan kembali pulang ke rumah. Dia telah memikirkan semua yang dibicarakan dengan Papanya tadi malam dan ingin menyelesaikan secepatnya.


Sesampai di rumah, Recky tidak melihat mobil Papanya ada di halaman. Dia lalu menanyakan kepada sopir Mamanya, saat keluar dari mobil. "Papa sudah berangkat kerja, Pak?" Tanya Recky sambil mengembalikan kunci mobil Mamanya.


"Tuan Biantra sudah berangkat kerja, tuan muda. Sedangkan Nyonya masih ada di rumah." Jawab sopir Bu Biantra, lalu mengambil kunci mobil dari tangan Recky.


"Baik, terima kasih." Ucap Recky, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Ketika melihat Mamanya sedang duduk di meja makan, Recky mendekatinya dengan wajah dingin dan tanpa sapaan.


"Sekarang silahkan lanjutkan rencanamu. Kau dan keluarga hantu itu silahkan menyiapkan resepsi pernikahan. Tidak ada pemberkatan di Gereja, karena jangan membawa Tuhan untuk menutupi persengkokolan kalian."


"Jika kalian tidak mendengar apa yang aku katakan ini, dengan tetap mengurus pernikahan di Gereja, aku akan membuat kalian semua tidak akan bisa mengangkat muka untuk melihat dunia ini." Recky berkata tanpa memperdulikan wajah Bu Biantra yang berubah-ubah.


"Semua komunikasi denganku untuk melakukan ini semua, hanya lewat kau. Karena aku akan blokir semua nomor telpon masuk yang tidak aku kenal. Jadi jika hantu itu mau melakukan sesuatu untuk acara ini, silakan katakan padamu dan kau hanya kirim pesan untukku. Jangan coba-coba menelponku, kalau tidak ingin aku blokir juga. Walau pun kau menelpon dengan ponsel Papa, aku akan memutuskannya saat mendengar suaramu."


"Respesinya hari sabtu minggu depan. Jadi ada sembilan hari untuk kalian berlomba merencanakannya. Aku tidak akan mengeluarkan satu rupiah pun, untuk acara ini. Siapa yang mau membiayainya, silahkan kau tentukan sendiri dengan keluarga hantu Itu."


"Astaga, Recky. Kenapa harus Minggu depan?" Tanya Mamanya yang tiba-tiba panik, setelah hatinya sedikit senang mendengar keputusan Recky.


"Kalau kau mau lakukan itu besok, silahkan. Itu lebih baik bagiku. Jadi aku tidak perlu lama-lama di sini." Ucap Recky, dingin dan cuek.


"Baiklah, minggu depan saja seperti katamu. Mama akan mengurus semuanya dengan keluarga Tarikkalla dan memberitahukanmu." Ucap Bu Biantra buru-buru, khawatir Recky berubah pikiran.


"Jangan menyebut dirimu Mama di depanku. Sejak tadi malam, aku sudah katakan kau itu hantu bagiku. Jadi jangan berkata manis di hadapanku, karena itu membuatku ingin muntah." Recky berkata dengan perasaan muak.


"Aku mau tidur, jadi silahkan kau kirim pesan tentang semua yang akan kalian rencanakan dan lakukan. Aku tunggu sampai nanti malam. Jika belum ada yang kalian rencanakan, aku akan pergi." Recky berkata tegas, lalu berbalik naik tangga ke kamarnya, meninggalkan Bu Biantra yang tercengang.


Saat bangun untuk makan siang, Recky melihat ada pesan dari Mamanya untuk pergi ke tempat perencanaan pernikahan sekalian dengan alamat dan waktunya. Melihat waktunya tinggal sedikit lagi, Recky segera berganti pakaian dan membawa mobilnya di atas kecepatan rata-rata ke tempat pertemuan.

__ADS_1


Saat tiba di tempat, Liana sudah menunggunya. Melihat kedatangan Recky, hatinya tersenyum senang. Tetapi tiba-tiba hatinya kecut, saat melihat wajah Recky memerah dengan rahang yang mengeras.


Liana mengalihkan pandangannya ke arah orang yang di depannya. "Apakah kami bisa berbicara dengan ownernya?" Tanya Liana pelan dan mencoba ramah.


"Silahkan Mba' bicara dengan saya saja. Jika ada yang kurang jelas dari penjelasan kami, nanti dibantu oleh owner. Sekarang owner kami sedang sibuk." Jawab karyawan dengan sopan.


"Tidak. Saya ingin bicara dengan owner, karena saya mengenalnya. Tolong katakan pada Carren, untuk menemui kami. Aku ingin bicara secara pribadi dengannya." Ucap Liana pelan, namun walaupun duduk berjauhan, Recky mendengarnya.


Rosna segera menghubungi Carren untuk mengatakan ada client yang mengenalnya dan mau bertemu dengannya. Recky yang mendengar nama Carren disebut, membuat dia jadi tegang dan langsung berdiri.


Saat melihat Carren turun dari tangga, Recky langsung melompat dengan langkah panjangnya untuk mendekati Carren yang sedang di pertengahan tangga. "Kau jaga dia di situ. Bilang perlu, paku dia di kursi itu. Jangan biarkan dia melangkah seinci pun. Apalagi sampai naik tangga." Recky berkata dengan wajah memerah dan mata membara ke arah Rosna.


Hal itu membuat Rosna bergidik. Tetapi dia menuruti yang dikatakan Recky, saat melihat kode dari Carren untuk mengikuti apa yang dikatakan Recky.


Recky menarik tangan Carren, lalu menaiki tangga. "Mana ruanganmu?" Tanya Recky setelah mereka di lantai atas. Carren menunjuk ruang kerjanya dengan tangan bergetar, karena melihat kemarahan Recky. Karyawan yang sedang bekerja di lantai atas diam terpaku. Kemudian mereka semua turun, saat membaca pesan Rosna di grup Florens.


"Recky, ada apa ini? Kenapa kau datang ke sini dengan dia?" Carren berpikir cepat, mengingat Recky datang dengan Liana ke tempatnya.


Recky menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sangat terkejut. Recky tidak menyangka akan bertemu Carren dalam suasana seperti itu.


"Duduklah Carren. Sebelum aku menjawabmu, kau harus terlebih dahulu menjawabku." Carren dengan patuh duduk disalah satu kursi di ruangannya. Dia tidak duduk di kursi kerjanya, karena sangat tidak nyaman baginya.


Recky tetap berjalan mondar mandir dalam ruangan Carren sambil menarik kuat rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ini aku sudah duduk, Recky. Bicaralah. Jangan membuatku bingung dengan berjalan mondar mandir seperti itu. Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Carren pelan, karena dia khawatir Recky makin marah. 'Tetapi dia bingung, dan hatinya terus bertanya, kenapa Recky mesti marah padanya.'


"Apa hubunganmu dengan Parry?" Recky bertanya, sambil memandang mata Carren.


"Parry...? Apakah Parry ada hubungan dengan ini semua?" Carren balik bertanya, karena masih belum mengerti maksud pertanyaan Recky.

__ADS_1


"Carren. Tolong kau jawab saja pertanyaanku, jangan kau balik bertanya. Apa hubunganmu dengan Parry." Recky berkata sambil berjalan mendekati Carren.


"Parry, temanku yang sudah seperti saudara. Kau sendiri tau, Parry dan aku sudah berhubungan, berteman semenjak masih di SMP. Dia sudah seperti saudara bagiku." Jawab Carren pelan, tapi dengan yakin menjelaskan.


"Aku bisa percaya, yang kau katakan itu?" Tanya Recky untuk meyakinkannya, saat mendengar penjelasan Carren.


"Iyaaa... Aku tidak bisa katakan yang lain dari itu, karena itu kebenarannya. Tapi ini sebenarnya ada apa, Recky?" Carren menatap Recky dengan wajah bingung.


Tiba-tiba ponsel Carren bergetar. Recky yang berdiri di dekat mejanya, melihat siapa yang telpon. "Bicaralah..." Recky berkata lalu menerima panggilan dengan menyalakan spiker.


Dengan ragu-ragu, Carren menerima ponselnya dari tangan Recky. Ketika melihat nama Parry di layar ponsel, Carren mengambil cangkir di atas meja kerja dan minum air untuk melegakan tenggorokannya.


📱"Allooo, Carren. Carreeeen." Panggil Parry, berkali kali karena tidak mendengar suara Carren.


📱"Alloo, Parry. Maaf, agak telat. Aku minum dulu. Bagaimana?" Jawab Carren setelah merasa tenggorokannya agak lega.


📱"Kau sibuk sekali hari ini?" Tanya Parry lega, setelah mendengar sapaan Carren.


📱"Iya, Parry. Lumayan sibuk. Bagaimana?" Jawab Carren dan balik bertanya, karena merasa tidak enak terhadap Recky yang sedang mendengarnya.


📱"Begini, Carren. Orang tuaku akan adakan perayaan ulang tahun pernikahan. Mereka akan rayakan di salah satu ballroom hotel. Aku mau rekom ke mereka, agar mau menggunakan jasamu untuk menangani acara tersebut. Bagaimana menurutmu?" Penjelasan Parry tentang maksud menelpon Carren.


📱"Begini, Parry. Jangan dulu kau rekom ke orang tuamu. Kau kirim tanggal acaranya, nanti aku cek. Apakah tanggal itu kosong atau tidak. Jangan sampai aku sudah ada client di tanggal itu. Aku tidak enak hati terhadap orang tuamu jika harus menolak." Carren menjelaskan, sambil memegang dada untuk menangkan debaran jantungnya.


📱"Baiklah. Aku mengerti maksudmu. Nanti setelah ini, aku akan kirim tanggalnya dan tolong segera kabari aku. By." Ucap Parry, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah mendengar 'by' diucapkan oleh Carren.


Mendengar pembicaraan Carren dan Parry, Recky langsung berteriak sekeras-kerasnya. Dia langsung memukul tembok diruangan Carren, karena rasa penyesalannya yang tidak bisa di bendung. Carren berdiri dan berlari menarik Recky menjauh dari tembok dan mendudukannya di kursi. Dia segera mengambil cangkir di atas meja dengan tangan bergetar, lalu memberikannya kepada Recky untuk diminum.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡

__ADS_1


__ADS_2