
Pegunungan Ural.
Rangkaian pegunungan ini terletak di sebelah Utara Dublin. Membentang dari ujung timur hingga barat, pengunungan Ural berbaris sepanjang ratusan kilometer. Menjadi benteng alami bagi banyak negeri.
Tanahnya keras dan berbatu. Sangat tidak cocok untuk dijadikan lahan pertanian yang produktif. Komunitas petani hanya dapat ditemukan di pinggiran sungai karena hanya di sanalah tanah yang dapat ditanami.
Namun sebagai gantinya, tanah di kawasan ini mengandung berbagai material yang sangat berharga. Alhasil, kebanyakan profesi penduduk di sini adalah penambang bijih-bijih mineral. Mereka menggali tanah dan gua-gua lalu menambang berbagai mineral bernilai tinggi di sana.
Hasil dari kerja keras mereka lalu di jual ke berbagai negeri dan membawa berbagai produk pertanian, pakaian, alkohol dan lain-lain ke wilayah mereka sebagai gantinya.
Jean sedang dalam perjalanan menuju ke sana, bersama dengan salah seorang wanitanya, Priscillia. Dia ikut dalam sebuah karavan dagang milik HuCas yang membawa gerobak kuda berisi karung gandum, Jelai, kacang-kacangan, dan banyak barel berisi anggur.
"Waaahhh..... Kondisi di sini jauh berbeda dengan yang ada di dataran rendah ya. Jenis pepohonan yang tumbuh juga terlihat cukup berbeda jika dibandingkan dengan yang ada di daerah pantai."
Jean tidak menyangka kalau Priscillia akan seantusias ini. Padahal, awalnya dia terlihat enggan. Mungkin karena wanita ini merasa belum terlalu nyaman berada di dekat Jean.
__ADS_1
Tapi Jean sendiri tidak pernah terpikirkan kalau Priscillia sangat senang ketika pergi ke tempat baru. Jean bisa melihat binar-binar yang menyinari Priscillia. Dia hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah Priscillia yang seperti anak kecil.
"Hati-hati atau kau akan jatuh nanti. Ayolah, duduk saja yang tenang. Kau bebas jalan-jalan setelah kita sampai."
Ah, tapi percuma. Priscillia tetap asyik dengan dunianya sendiri tanpa mengindahkan peringatan Jean. Dia hanya takut kalau Priscillia akan jatuh dari gerobak.
'Entah kenapa aku malah terlihat seperti seorang ayah yang sedang meneriaki anak gadisnya yang keras kepala.'
Anak nakal harus dihukum. Karenanya, Jean menarik Priscillia yang sedang berdiri di tepi gerobak ke dalam pangkuannya. Jeritan kecil nan imut keluar dari mulut gadis berambut perak itu. Tapi dia sama sekali tidak melawan. Malahan, dia menyenderkan kepala miliknya ke dada Jean.
Perjalanan terus berlanjut. Beberapa kali gerobak yang mereka tumpangi berguncang karena permukaan tanah yang kasar. Angin dingin nan kering berhembus, menusuk kulit dan memberikan rasa dingin yang menggetarkan.
Perjalanan dari Saint Georgia City menuju salah satu kerajaan terdekat di pengunungan Ural berkisar antara satu hingga dua Minggu. Tergantung pada kondisi jalan yang mereka lalui dan secepat apa mereka berjalan.
Jean, Priscillia, dan karavan dagangnya sampai di tempat tujuan mereka. Ini adalah sebuah kota kecil yang masuk dalam teritorial duchy of Eisen, dukedom independen yang paling dekat dengan (mantan) kerajaan Dublin.
__ADS_1
Meskipun berukuran kecil dan hanya dilindungi oleh tembok yang terbuat dari kayu, kota ini cukup ramai. Ini adalah tempat singgah menuju pusat Dukedom Eisen, wajar saja kalau banyak orang yang transit ke tempat ini.
"Tuan Jean, kita sudah sampai. Saya akan memesan penginapan terbaik untuk anda dan nona Priscillia terlebih dahulu. Tolong tunggu di sini sebentar."
Salah seorang kusir menghampiri Jean. Nampaknya dia tidak asing lagi dengan kota ini karena sering mampir kesini. Jean tersenyum tipis dan memberikan kantung yang berisi koin untuk membayar penginapan.
"Pakai ini untuk membayar penginapan. Sisanya, pakai sepuasmu."
Itu saja cukup membuat sang kusir sumringah. Dia mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Jean dan langsung berlari untuk melakukan reservasi.
Beberapa saat kemudian, sang kusir kembali pada Jean sembari membawa sebuah kunci untuknya. Ini adalah kunci kamar yang akan dia tempati.
Jean menarik tangan Priscillia. Ekspresinya terlihat sangat gembira, tetapi Jean bisa merasakan kalau gadisnya yang ini kelelahan. Mungkin karena dirinya belum terbiasa tidur di luar ruangan.
Hari itu mereka memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Siapa yang tahu kalau sebuah masalah ternyata sudah menunggu mereka. Iya kan?
__ADS_1