Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Excited


__ADS_3

Sepanjang sisa perjalanan, semuanya berjalan normal-normal saja. Tidak ada lagi badai, yang ada hanyalah cuaca cerah. Sesekali mendung dan hujan, namun tidak begitu besar.


Ini sudah hari kesembilan Jean berada di atas kapal. Jika semuanya baik-baik saja, dia akan sampai di negeri tujuannya di hari kesepuluh setelah dia berlayar. Sejujurnya, dia menikmati perjalanan ini.


Namun, ada yang mengganggu dirinya selama beberapa hari kebelakang. Entah bagaimana, dia teringat akan Svetlana dan Jean. Ibu dan adiknya. Jean mengetahui kalau mereka masih hidup dan baik-baik saja. Ini bukan deduksi atau apapun. Itu hanya intuisi yang ia miliki.


Jean memang berkelana untuk membuka cakrawalanya, namun alasan lainnya adalah untuk menemukan mereka. Ini sama sekali tidak rasional dan logis. Tidak seperti Jean yang biasanya. Tapi, begitulah dirinya. Dia tidak akan ragu mengambil apapun yang menjadi miliknya, itu berarti bahkan jika dia harus menghancurkan dunia untuk mendapatkannya.


'ternyata aku terlalu sentimental ya? Apakah ini tandanya aku masih menjadi seorang manusia?'


Jean menertawai dirinya sendiri. Dia menggelengkan kepalanya dan berhenti berefleksi. Masih atau tidak lagi menjadi manusia itu tidak penting. Yang harus dia lakukan adalah melakukan sesuatu yang dia inginkan dan dia butuhkan. Tidak lebih, tidak kurang.


Laut terus berlayar menyusuri lautan. Irama deburan ombak dan cahaya matahari yang hangat membuat Jean menjadi lebih tenang. Meski air laut tidak begitu jernih, sesekali ia dapat melihat sekelebat bayangan ikan-ikan yang berenang.

__ADS_1


"Hei nak, apa yang sedang kau pikirkan!? Kau terlihat sedang sedih! Minum ini!"


Kapten Beard muncul di sampingnya secara tiba-tiba. Jean tidak kaget karena dia sudah menyadari keberadaannya sebelum ia muncul di samping Jean. Namun harus diakui, kapten beard memiliki kemampuan mengendap yang sangat bagus.


"Terimakasih kapten. Anda baik sekali."


Kapten Beard tertawa. Dia bilang tidak ada masalah. Mereka punya banyak stok anggur di gudang. Berkat surplus panen anggur di Dublin, para pelaut mendapatkan harga yang bagus. Jadi mereka bisa beli lebih banyak daripada biasanya.


Jean tersenyum kecil dan menggoyangkan gelas kayu yang dia pegang. Anggur yang ada di dalamnya sedikit bergolak lalu kembali tenang. Jean meminum anggurnya lagi.


"Ini bukan pertama kalinya aku menaiki kapal. Namun, ini adalah pertama kalinya aku berpergian jarak jauh menggunakan transportasi ini. Rasanya sangat berbeda."


Kapten Beard tertawa lagi. Tubuhnya besarnya berguncang. Dia menepuk pundak Jean beberapa kali.

__ADS_1


"Kan!? Berpergian dengan jalur laut memang lebih menantang! Jujur saja nak, salah satu alasan kenapa aku menjadi laut adalah karena pekerjaan ini sangat mendebarkan hati!"


Apa yang dikatakan kapten Beard mungkin saja benar. Perjalanan laut memang lebih berbahaya daripada darat. Perompak, badai, tenggelam, dan banyak ancaman lainnya. Tapi, bagi orang-orang yang urat takutnya telah putus seperti kapten Beard, sesuatu seperti ini justru sangat mengasyikkan.


"Baiklah nak, aku akan pergi dulu. Kalau kau butuh sesuatu, katakan saja padaku. Sampai jumpa."


Akhirnya kapten Beard. Jean sendirian lagi. Dia menenggak anggurnya. Kali ini ia habiskan. Rasa manis bercampur sedikit rasa pahit menyentuh lidahnya. Badannya menjadi lebih ringan dan kepalanya terasa segar. Anggur yang dipanen di Dublin memanglah yang terbaik!


Jean diam beberapa saat lagi sambil menikmati senja. Dia merasakan keindahan tersendiri. Kalau bisa, dia ingin menyaksikan ini bersama dengan para kekasihnya. Juga dengan kakak dan ibunya.


Tetapi.....Jean merasakan bahaya akan datang malam ini. Alih-alih panik dan ketakutan atau mencoba mengatakan ini pada kapten Beard, Jean tersenyum. Ini bukan senyum hangat atau senyum tipis seperti biasanya. Senyum yang Jean keluarkan adalah sebuah senyum maniak. Senyum seekor predator yang menemukan mangsanya.


"Malam ini, Semuanya akan menjadi lebih menarik. Aku tidak sabar untuk menantikannya."

__ADS_1


__ADS_2