Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Semakin Dekat


__ADS_3

Tidak ada yang menyangka sama sekali kalau malam itu, sektor Utara Saint Georgia City yang menjadi area kediaman para bangsawan akan porak poranda.


Itu semua bermula ketika para ksatria yang lalai dalam bertugas dan tewas dalam penyergapan oleh kelompok misterius. Tidak ada saksi mata dalam kejadian itu karena semua Ksatria mati. Namun, ada seorang bangsawan yang secara tidak sengaja melihat sekelompok orang berpakaian hitam melompat dari satu atap ke atap yang lain.


Kematian sekitar 30 Ksatria membuat area bangsawan menjadi terbuka tanpa penjagaan. Alhasil, dini hari, ketika orang-orang masih tertidur, sekelompok budak yang berjumlah lebih dari 150 menyerbu area tempat tinggal para bangsawan.


Dengan cepat, mereka menyerang markas Ksatria dan membakarnya lalu memasuki rumah para bangsawan dan menjarah semua barang yang ada di dalamnya. Tidak hanya itu, mereka juga membebaskan budak lainnya yang ada di rumah para bangsawan dan mengajak mereka untuk ikut menyerbu rumah-rumah lainnya.


Malam yang tadinya sunyi dan dingin, kini menjadi lautan api. Bahkan jika seseorang berdiri di sudut selatan kota, dia akan melihat bagian Utara kota begitu terang dan merah.


Para budak semakin agresif. Mungkin karena merasa posisi mereka semakin unggul. Gerakan mereka makin tidak terbendung. Ksatria pribadi para bangsawan kalah jumlah. Mereka segera tersapu oleh massa yang mengamuk.

__ADS_1


Kekacauan baru bisa reda pada saat Ksatria milik keluarga kerajaan turun tangan. Mereka membantai semua budak yang mengamuk tanpa ampun.


Kepala mereka dipenggal dan dipajang di depan alun-alun kota sementara tubuh mereka diikat dan dibakar sebagai peringatan kepada siapapun yang berani menentang otoritas para arsitokrat dan keluarga kerajaan.


Pada dini hari itu tercatat puluhan orang tewas karena aksi serangan itu. Termasuk satu dari lima Baron dan penerus keluarga Lostov, Joan Lostov, juga tewas. Belum lagi jika dihitung oleh ksatria dan para pelayan yang mati.


Berkat serangan tadi, wibawa dan otoritas kelompok arsitokrat serta keluarga kerajaan Dublin tidak lagi setinggi dahulu. Rakyat jelata masih patuh kepada mereka. Namun perlahan, mereka berani melawan para bangsawan dan keluarga kerajaan. Setidaknya secara diam-diam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Para bangsawan sepertinya juga menikmati hidangan yang dia berikan. Ada yang menangis, ada yang juga mencaci keadaan.

__ADS_1


Untunglah Natasha selamat. Yah, Jean mengaturnya agar Natasha tidak terkena imbasnya sedikitpun. Dia mengirim Nina untuk mengawasi Natasha.


"Selamat karena rencana anda telah berhasil, tuan Jean."


Jean hanya mengangguk. Dia tidak tersenyum puas ataupun tertawa senang. Dia hanya melihat situasi disekitarnya dengan tatapan dingin dan tajam. Mar tidak melihat ekspresi Jean. Tapi Mar yakin dirinya akan tercabik-cabik jika dia melihat tatapan Jean secara langsung.


"Terimakasih Mar. Tapi ini hanya permulaan. Pertunjukan sesungguhnya baru akan dimulai."


Para budak yang menyerbu area bangsawan adalah bekas dari budak yang dipekerjakan oleh para pedagang. Jean bisa memastikan kalau para bangsawan akan menuntut ganti rugi atau semacamnya kepada para bangsawan yang lalai dan membiarkan budak mereka kabur.


Inilah fase ketiga dari operasi Jean. Setelah menghembuskan permusuhan antara kelas jelata dan bangsawan, kini saatnya mengadu domba kelompok saudagar kaya dan kaum bangsawan.

__ADS_1


Biarkan mereka saling bertempur habis-habisan satu sama lain. Beri mereka tempat untuk berebut supremasi. Barulah ketika kedua pihak terlalu lelah karena terjerumus oleh ketamakan mereka sendiri, Jean akan masuk ke dalamnya.


Langkah Jean untuk mengambil kendali atas kerajaan Dublin semakin dekat.


__ADS_2