
Jean memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama lagi di Duchy of Eisen. Meski begitu, dia mengirim Priscillia untuk kembali ke Dublin bersama karavan dagang lainnya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang telah menjadi tanggung jawabnya.
Ada banyak hal yang harus dia selesaikan di Nebelhorn.
Seperti..... membuat kontak dengan kelompok kriminal di kota ini misalnya.
Tapi tidak seperti yang ada di Saint Georgia City ataupun Utah, kota ini tidak memiliki jaringan kelompok kriminal yang kompleks. Setiap orang hanya bertindak sendiri-sendiri dan tidak mementingkan orang lain.
Tapi keuntungannya, mereka mudah dibeli dengan uang dan itu yang Jean inginkan. Dengan informasi yang disediakan oleh para agennya, Jean telah mendapatkan nama-nama dari orang yang telah melakukan aksi kejahatan dalam jumlah yang banyak.
Berkat informasi yang dia dapatkan, serta kemampuan deduksi dan ketelitiannya, Jean dengan cepat mengetahui dimana mereka tinggal, beroperasi, serta bagaimana mereka melancarkan aksinya seperti pencurian, pemerasan, dan lain-lain. Dia juga berhasil mengirimkan surat tanpa nama yang ditujukan pada mereka.
Dan kini, di sebuah bangunan terbengkalai yang hampir ambruk, dia berhadapan dengan 20 orang yang sangat mengintimidasi, setidaknya di mata orang-orang normal.
"Seseorang telah mengirimkan sebuah surat dan sepuluh koin emas. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau yang membawa itu semua padaku adalah seorang bocah."
"Kau lebih baik tidak bercanda nak. Aku tidak segan-segan untuk menghabisi siapapun. Bahkan untuk bocah sepertimu."
"Entah kenapa aku selalu merasa gemetar senang ketika melihat anak-anak sepertimu!"
Ejekan serta intimidasi yang mereka keluarkan mungkin cukup menakutkan setidaknya bagi orang lain. Tapi itu tidak cukup bahkan hanya untuk sekedar menggertak Jean.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun, dia melemparkan sebuah kertas dengan ukuran yang cukup besar. Salah satu dari kriminal itu mengambil dan membuka kertas yang tergulung itu.
Kriminal itu tertegun dengan apa yang dilihatnya. Melihat respon dia, yang lain juga langsung berkerumun di sekelilingnya dan bereaksi sama.
Kertas itu berisi cetak biru kastil Duke Eisen, penguasa negeri ini. Lengkap dengan detailnya.
Tidak hanya sampai di sana, di kertas itu juga tergambar secara lengkap mengenai tempat penting seperti penyimpanan harta berharga, jumlah ksatria yang menjaga area tersebut, dan ruang rahasia lainnya.
"Penawaranku pada Kalian sederhana. Serang mansion Duke Eisen dan kuras seluruh isinya. Aku akan memberikan semua yang kalian butuhkan dan sebagai imbalannya, aku menginginkan sepersepuluh dari harta yang berhasil kalian rampas."
Itu yang Jean tawarkan kepada sekelompok kriminal tersebut. Mereka terlihat cukup tertarik dengan keuntungan yang akan datang pada mereka. Namun, ada beberapa orang yang sangsi dengan Jean. Akan lebih tepat kalau dia sangsi dengan semua orang yang datang ke tempat ini.
"Kalau kalian tertarik, datanglah ke tempat ini dua hari lagi. Aku akan memberikan semua yang kalian butuhkan, termasuk cara untuk menyusup ke mansion milik Duke Eison."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jean tidak memercayai orang-orang itu sama sekali. Semua orang yang Jean kumpulkan adalah mereka yang menikmati kesenangan atas penderitaan dari orang yang telah mereka sakiti. Bukan tipikal dirinya sama sekali.
Toh, entah mereka ataupun dia, tidak ada satupun yang akan menepati janjnya. Mereka pasti juga berpikir seperti itu. Tapi tidak masalah. Hal semacam itu justru memudahkan dirinya.
Jean terus berjalan ke tempat tinggal sementaranya di Nebelhorn sampai kemudian, dia berhenti. Tanpa menoleh ke belakang sedikitpun, mulutnya terbuka.
__ADS_1
"Aku tidak suka ketika ada seseorang yang berjalan di belakangku. Lebih baik segera perlihatkan dirimu sekarang."
Jean mungkin terlihat seperti seorang pria gila yang berbicara sendiri. Tapi ternyata tidak. Saat itu juga, seseorang muncul dari balik gelapnya malam. Tidak perlu melihat wajahnya, Jean tahu kalau dia adalah salah satu dari penjahat yang dirinya kumpulkan tadi. Seorang pria berusia pertengahan 20 tahun.
"Aku terkejut seseorang sepertimu bisa mengetahui keberadaanku ketika sedang menggunakan teknik ini."
"Tidak. Hanya kau yang terlalu lemah sampai-sampai aku bisa mendeteksi keberadaaanmu."
Pria itu mengernyitkan dahinya. Selama ini, kemampuan dia untuk berkamuflase dan berbaur dengan kondisi sekelilingnya telah berkali-kali menyelamatkan hidupnya. Kemampuan ini jugalah yang membuat dia mampu menjalankan semua aksi kejahatannya. Melihat seorang bocah mengetahui tekniknya dengan mudah, itu membuat dia sangat kesal dan waspada.
"Jadi, ada masalah apa sampai kau harus mengikutiku? Sejujurnya, itu mengganggu."
Pria itu nampak sangat kesal. Tapi dia menahan amarahnya dan membicarakan sesuatu pada Jean.
"Apakah kau bisa menjamin kalau semuanya akan berjalan lancar jika aku mengikuti semua arahanmu?"
Jean hanya mengangguk.
"Kalau begitu, bolehkah aku membunuh semua orang yang terlibat dalam aksi ini tanpa menyisakan satu orang pun?"
Jean menoleh ke arahnya dan menatap pria itu. Matanya yang tajam namun tenang seolah sedang berusaha untuk menembus kedalaman jiwa lawannya, membuat pria itu bergetar.
__ADS_1
"Lakukan sesukamu."
Dan hanya dengan itu, Jean pergi. Meninggalkan si pria yang masih bergetar merinding.