Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Lebih Siap Daripada Yang Dipikirkan


__ADS_3

Saat Jean sedang asyik menuangkan rencananya di atas lembaran kertas, pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang. Jean hanya mengatakan orang yang ada di luar untuk masuk tanpa mengalihkannya untuk pandangannya dari kertas dan pena bulu miliknya.


"Maaf atas ketidaksopanan saya, tuan Jean."


Mar masuk ke dalam ruang kerja Jean berdiri di depannya. Sambil asyik menulis, Jean memberi isyarat padanya untuk duduk.


Angin malam berhembus ke dalam ruangannya, sesekali mengayunkan nyala api lilin. Entah kenapa suasana di sini agak....suram.


"Oke, aku sudah selesai. Jadi, Mar, apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"


Mar mengangguk.


"Tujuan kita hampir berhasil. Para pedagang memutuskan untuk tidak lagi mendukung para bangsawan selama mereka masih dituntut untuk membayarkan ganti rugi. Jika dalam forum terakhir para bangsawan masih menuntut sesuatu yang tidak masuk akal, mereka benar-benar memutus hubungan dan membatalkan semua kontrak dan perjanjian yang selama ini mereka jalin dengan mitranya."


"Hehh..... itu pasti akan menjadi pukulan yang sangat berat bagi mereka ya. Kerja bagus Mar. Berkat dirimu, perhatian, waktu, dan tenaga milik mereka teralihkan pada sesuatu yang bodoh."


Mar memiliki jaringan bisnis yang sama besarnya dengan Charlotte karena dia adalah orang yang bertanggung jawab atas keuangan Serigala Putih. Dia memiliki relasi dengan lima saudagar besar yang ada di kerajaan Dublin. Bahkan dia kenal dengan Charlotte. Begitu juga sebaliknya.


Karena itulah Jean menugaskan Mar untuk menjadi 'mata'. Memastikan semua operasi yang Jean lancarkan berjalan dengan baik.


"Ah, aku masih punya sesuatu yang harus saya sampaikan pada anda, tuan Jean."


Mar terlihat haus. Jean tersenyum dan memberikan segelas air untuk Mar. Wajah Mar memerah dan menerima gelas itu dengan senang dan meminum isinya.


"Para pedagang mulai mencari dan menyewa tentara bayaran dalam jumlah besar. Mereka juga merekrut orang-orang miskin untuk menjadi bagian dari sebuah pasukan. Ini seolah-olah kalau peperangan akan meletus."


Hoh? Ternyata mereka juga sudah mulai bergerak. Sepertinya perang dengan kerajaan Bucharest dan kerajaan Vilnius dianggap sebagai prospek yang bagus bagi masa depan mereka.

__ADS_1


Jika kerajaan Dublin menang, mereka akan mendapatkan kendali atas dua pelabuhan penting yang menjadi tempat transit para pedagang dari luar benua Akkadia ataupun bagian tengah dan timur benua.


Kerajaan juga akan memiliki kontrol atas sungai Yalta yang mengalir dari pegunungan Ural di bagian utara kerajaan Dublin dan beberapa kerajaan serta dukedom kecil lainnya hingga laut hitam yang menjadi salah satu rute pelayaran yang ramai.


Tapi jika kalah, kerajaan Dublin akan kehilangan semuanya. Reputasi, wibawa, pamor, dan lain-lain. Dalam skenario terburuk, kekalahan kerajaan Dublin akan mengirim sinyal ke kerajaan lain bahwa kerajaan ini adalah kerajaan yang lemah dan rentan untuk diserang.


"Tu..."


"Tuan..."


"Tuan Jean.... apakah ada masalah!?"


Jean tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke arah Mar yang sedang memandangi dirinya dengan ekspresi khawatir di wajahnya. Jean sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada. Terimakasih untuk beritanya, Mar."


"Mar, tiga bulan lagi, kerajaan Dublin akan mendeklarasikan perang kepada kerajaan Bucharest dan kerajaan Vilnius di selatan. Serigala Putih juga harus melakukan persiapan."


Jean telah memutuskan untuk mengambil tindakan yang terpisah dari para bangsawan, keluarga kerajaan, dan para pedagang besar lainnya. Dia akan berbicara dengan Charlotte mengenai hal ini.


Mar terkejut dengan apa yang Jean katakan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ketika dia melihat tindak-tanduk para saudagar, mereka benar-benar sedang bersiap untuk perang.


Mar memutuskan untuk berkoordinasi dengan Nina nanti. Mar akan mengurus semua kebutuhan anggota kelompok yang akan ikut dalam peperangan seperti ransum, peralatan tempur, kuda, dan lainnya sementara Nina akan mengurus pelatihan para anggota.


Jean tersenyum melihat Mar yang sedang merancang idenya. Seperti biasa, dia memang cepat tanggap.


Jean melanjutkan kegiatannya ketika Mar telah pergi untuk menemui Nina. Dia terus menyusun berbagai rencana dan skenario di atas lembaran kertas hingga matahari menyembul dari arah timur.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"A-a-apa-apaan ini semua!?"


Charlotte dan Jean tercengang ketika mereka pergi ke gudang bawah tanah yang ada di rumah mereka.


Ini semua bermula ketika Jean ingin membicarakan tentang perang yang kemungkinan besar akan terjadi tiga bulan ke depan.


Charlotte ternyata sudah mengetahui hal itu berkat catatan harian yang ditinggalkan oleh paman Hull. Kebetulan, dia juga ingin membicarakan tindakan seperti apa yang harus mereka ambil.


Setelah berdiskusi panjang, keduanya memutuskan untuk tidak mensponsori satupun bangsawan ataupun bergabung dengan persekutuan para saudagar. Keduanya akan membentuk dan mendanai pasukan serta kebutuhan mereka sendiri.


Kemudian muncul masalah lain. Seberapa banyak orang yang bisa mereka rekrut? Bagaimana skema pendanaan? Seberapa banyak baju zirah, pedang, tombak, anak panah, dan senjata lainnya yang harus mereka produksi? Apakah mereka cukup menyewa tentara bayaran sebagaimana lainnya?


"Tenang saja, Charl. Aku sudah menyiapkan hal itu. Mungkin tidak banyak orang yang bisa kita rekrut. tetapi setidaknya, kita bisa mengkompensasi kuantitas dengan kualitas."


Charlotte berpikir sejenak. Wajahnya yang cantik terlihat sangat menggemaskan ketika dia berekspresi seperti itu. Jean tidak bisa menahan diri dan mencubit pipinya. Membuat Charlotte merasa sangat malu.


"Uuuu....sayang! Jangan ganggu aku saat berpikir!"


Charlotte terus berpikir. Dan entah keberuntungan setan mana yang datang, angin berhembus ke ruangan mereka dan menggeser lembaran halaman di buku harian paman Hull. Di halaman tersebut, tertulis bahwa dia telah menyiapkan sesuatu untuk Charlotte dan Jean.


Betapa terkejutnya mereka ketika melihat gudang bawah tanah. Barisan senjata dan baju perang berjumpa lebih dari 300 tertata rapih di sana.


"Sepertinya kita lebih siap daripada yang kita pikirkan ya, Jean."


Charlotte dan Jean bingung harus tertawa atau menangis.

__ADS_1


__ADS_2