Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Babak Penentuan (1)


__ADS_3

BAM! BAM! BAM!


Svetlana sangat kuat. Cukup kuat untuk menghabisi puluhan makhluk aneh yang menghampirinya hanya dengan seorang diri.


Alih-alih menggunakan pedangnya, dia menggunakan tangan kosong untuk membunuh monster yang telah menyakiti anaknya. Kepalan tangannya bersinar hijau dan tidak henti-hentinya membuat para monster terpental.


Entah sudah berapa puluh monster yang dia bunuh, Svetlana tidak menghitungnya. Yang jelas, hanya ada satu yang mereka dipikirannya. Bunuh semua yang menyakiti anaknya!


Tubuhnya sudah penuh dengan darah yang berwarna hijau maupun ungu. Amarah masih membakar dirinya. Bahkan ketika monster-monster itu lari ketakutan, dia masuk mengejarnya dan membunuh sebanyak yang ia bisa.


Meski begitu, Svetlana tetap menjaga kejernihannya. Ada satu hal yang mengganggu pikirannya, monster yang ia lawan memiliki kecerdasan yang sangat tinggi. Mereka tidak hanya bergerak berdasarkan insting namun juga dengan perhitungan.


Ini tidak seperti monster yang pernah ia temui. Bahkan ketika ia melawan monster dengan kecerdasan yang cukup tinggi, mereka masih tetap bergantung pada insting hewaninya.


Tapi tidak dengan monster aneh bermata satu dan berkulit abu-abu yang kini dia lawan. Mereka layaknya manusia, tahu tindakan apa yang harus mereka ambil ketika dalam bahaya. Mereka tahu apa yang mereka lakukan ketika menghadapi lawan yang lebih kuat.


Dan yang terpenting, segerombolan monster ini dapat menggunakan [Earth energy] layaknya manusia. Tidak, mereka menggunakannya dengan jauh lebih baik.


'Mereka jelas bukan dari tempat ini. Pasti ada sesuatu yang membawa mereka ke tempat ini? Tapi bagaimana?'


Total ada 50 yang sudah dihabisi olehnya. Semua dari mereka berada dalam keadaan yang mengenaskan. Tubuh para monster bermata satu hancur seperti bubur. Organ dalam mereka berserakan dimana-mana.

__ADS_1


Svetlana menghela nafas lega. Sejujurnya, dia sudah lelah. Dia menggunakan banyak mananya untuk berteleportasi ke hutan ini. Dia juga sudah memakai sebagian besar kekuatannya yang tersisa untuk membantai para monster.


Tetapi alarm darurat di kepalanya belum berhenti. Sebaliknya, ia berteriak semakin kencang. Svetlana mempersiapkan dirinya. Dia mengalirkan [Earth energy] miliknya ke seluruh tubuh, membuat kulitnya lebih keras dari baja. Dia tidak akan tergores dengan sayatan pedang.


Benar saja. Svetlana merasakan sesuatu datang dari atasnya. Dia menendang tanah dan pergi dari tempat ia berdiri.


BOOOOMMM!!!


Benda aneh tiba-tiba jatuh dari langit. Saking beratnya beban benda aneh itu, tanahnya di sekitarnya sampai hancur. Batu-batu dan kepingan tanah berhamburan ke langit.


Setelah Svetlana lihat lebih fokus, yang jatuh dari langit bukan sebuah 'benda mati'. Mereka adalah makhluk hidup. Svetlana menelan ludahnya. Mereka adalah monster humanoid yang jauh lebih kuat daripada yang tadi ia lawan.


Mereka memiliki ciri yang sama. Hanya saja badannya berwarna merah gelap. Svetlana dengan gesit melayangkan pukulan ke arah monster yang ia anggap belum siap. Namun nyatanya, tinju yang ia layangkan di tahan oleh tinju sang monster.


Tangannya mati rasa. Svetlana segera mengambil jarak dari monster merah tersebut. Sialnya, seperti tahu bahwa Svetlana gagal, ia dan rekan-rekan yang ada di belakangnya menertawai Svetlana.


Svetlana menggertakan giginya. Bukan karena ia takut atau marah karena serangannya gagal. Dia justru geram karena tebakannya benar. Monster-monster ini memilih kecerdasan tinggi layaknya manusia. Mereka bisa berinteraksi satu sama lain layaknya seseorang yang mengobrol satu sama lain.


Mereka dapat mengantisipasi tindakan apa yang mereka harus ambil ketika melihat ancaman dari musuh. Kelihatannya, bekerjasama layaknya tim adalah salah satu dari bukti kecerdasan mereka.


Dalam kondisinya yang sekarang, Svetlana tidak bisa mengalahkan mereka semua. Ketidakberuntungan jelas sedang berpihak padanya. Keberpihakan yang sama sekali tidak ia inginkan.

__ADS_1


"Lebih baik untuk mundur sekarang saja bersama dengan Jeanne, bunda."


"Apa yang kau bicarakan hah!? Mana bisa aku mundur sekarang.... Eh?"


Svetlana dilanda kebingungan. Dia menolehkan kepalanya ke samping kirinya dan tercengang. Matanya terbuka lebar dan mulutnya menganga.


Seorang pemuda yang lebih tinggi darinya berdiri di sampingnya. Rambut hitam dan iris sehitam kelamnya malam. Svetlana jelas mengenali wajah tampannya. Meski dia terlihat lebih dewasa, Svetlana tidak bisa melupakan ekspresinya yang menggemaskan.


"Jean! Ke-kenapa kau ada di sini!?"


Ada rasa senang, marah, sedih, dan lega ketika ia melihat Jean. Namun ini bukan saat yang tepat untuk reuni. Jean juga sedang menggendong Jeanne yang tak sadarkan diri. Meski begitu, keadaan Jeanne menjadi jauh membaik daripada sebelumnya.


Tanpa mengatakan apapun, Jean menyerahkan Jeanne kepada Svetlana. Sebuah lingkaran sihir yang terdiri dari berbagai aksara dan angka yang indah sekaligus rumit muncul di bawah kaki Svetlana yang sedang menggendong Jeanne.


Lingkaran sihir itu bersinar keemasan. Jean tersenyum dan menunduk pada bundanya.


"Bicaranya nanti saja. Aku akan mengirimmu ke sebuah tempat yang aman bersama dengan Jeanne. Aku akan menyusul setelah membereskan kekacauan di sini."


Svetlana ingin mengatakan sesuatu namun Jean keburu menepuk tangannya. Dalam hitungan sepersekian detik, Svetlana dan Jeanne telah menghilang dari pandangannya.


Kini tatapannya berpindah kepada para monster yang masih menyeringai. Namun sesaat kemudian, ekspresi mereka berubah drastis. Raut ketakutan dengan jelas tergambar di wajah mereka dan emosi mereka menjadi tidak stabil. Tubuh mereka bergetar hebat seolah-olah melihat mimpi buruk berada di depan mata.

__ADS_1


"Haruskah kita lanjut ke ronde selanjutnya, teman?"


Pertarungan penentuan akan dimulai.


__ADS_2