Pseudo-Villain

Pseudo-Villain
Do You Want Power?


__ADS_3

Jeanne dan Hanna kembali ke markas ksatria setelah menyelidiki kasus penyerangan yang dilakukan oleh [Cult Of Savior]. Sebenarnya, penyelidikan ini tidak begitu tuntas. Itu karena ordo ksatria gereja mengambil alih tugas tersebut.


Jeanne tidak memiliki masalah pribadi dengan ordo ksatria gereja Ariana, tetapi nampaknya tidak dengan Hanna dan anak buahnya.


Itu terlihat ketika petinggi gereja datang untuk mengambil alih penyelidikan. Hanna dan ksatria lainnya membuat ekspresi pahit di wajahnya dan menolak untuk berbicara. Jadilah Jeanne yang melakukan pembicaraan pada mereka.


"Jeanne, kenapa kamu memberikan hak untuk melakukan penyelidikan pada mereka? Bukankah kita bisa melakukan hal itu?"


Sesampainya di markas ksatria, Hanna tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak bertanya. Ada nada menuntut dalam pertanyaan itu. Dengan tatapan lembut, Jeanne menepuk pundak Hanna.


"Hanna, otoritas gereja memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kultus keselamatan dibandingkan kita. Mereka memiliki lebih banyak informasi akurat dan jaringan mata-mata yang kuat. Karena itu, menyerahkan tugas penyelidikan kepada mereka akan mengurangi beban tugas kita."


Hanna berpikir apa yang Jeanne katakan masuk akal. Ordo ksatria kerajaan tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengurus masalah ini. Tapi tetap saja, Hanna merasa tidak puas.


Sebagai sahabat, Jeanne tahu persis apa yang Hanna pikirkan. Karena itu, ia berusaha sebisa mungkin untuk menenangkan Hanna.


Saat itu lah, Jean menghampiri Jeanne dan Hanna lalu menyapa mereka berdua.

__ADS_1


"Selamat sore, kak Jeanne, nona Ksatria. Maaf sudah merepotkan kalian berdua."


Jean dengan sopan menundukan kepalanya. Jeanne dan Hanna tersenyum lembut.


"Ah, selamat sore Jean. Tidak, kamu tidak merepotkan kami. Malahan, kami merasa berterimakasih karena tidak ada satu pun korban dari penduduk dan ordo ksatria."


"Ya, kakakmu benar. Kalau bisa, kami mungkin akan memberikanmu penghargaan. Sayangnya, itu mustahil. Ah, bagaimana kalau malam ini kita minum-minum saja? Kami yang akan mentraktirmu."


Jean hanya tersenyum sambil tersenyum tipis. Well, bukan pilihan yang buruk. Tidak ada alasan untuk menolaknya kan?


"Baiklah. Mari kita bertemu malam nanti. Sampai jumpa."


Begitu Jean sudah hilang dari pandangan mereka, Hanna menyikut lengan Jeanne. Jeanne menengok ke arah Hanna yang sedang sumringah.


"Nee~ Jeanne, sudah aku duga adikmu sangat keren! Kamu harus menceritakan lebih banyak tentangnya!"


Jeanne hanya menghela nafas. Dia sangat senang mendengar Jean dipuji. Tapi di saat yang sama juga kesal. Hanna pasti akan mengejarnya!

__ADS_1


Kedua gadis itu bercanda sejenak. Setelahnya, mereka kembali ke pos masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang belum terselesaikan.


***


Sementara itu di mansion count Krzys, seorang pria berusia 40-an sedang duduk di kursi ruang belajarnya. Di wajahnya, ekspresi marah, sedih, kesal, dan murung terlihat jelas di wajahnya. Bercampur menjadi satu.


Nafasnya berat. Kepalanya nyeri. Ini semua karena putra yang akan menjadi pewarisnya, Szymon, lagi-lagi terjangkit penyakit aneh. Sekarang, bocah itu sedang meringkuk di bawah selimutnya sembari meronta ketakutan.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan anak itu? Ini sudah yang kedua kalinya sejak ia kembali dari hutan perbatasan. Para ahli dari istana dan gereja bahkan tidak tahu apa yang menimpanya."


Count Krzys menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Tidak peduli sekeras apa pun upaya untuk mengobati penyakit anaknya, dia tetap tidak menemukan jalan.


Sementara itu, Szymon yang sedang meringkuk di bawah selimut hanya bisa menggigil. Bayangan itu belum menghilang dari kepalanya. Bayangan akan dirinya yang dibunuh oleh ribuan orang dengan cara yang amat keji. Imajinasi tentang dirinya yang mendapatkan kematian dengan cara yang amat pedih.


Pada saat itulah, ada suara yang memanggil dirinya. Suara itu berasal dari kepalanya. Szymon yang takut meringkuk makin dalam. Namun suara itu tidak kunjung hilang. Hingga akhirnya.....


"Wahai Szymon Krzys, orang yang telah dipilih oleh para dewa dan Dewi untuk terlahir kembali. Mau kah kau kekuatan?"

__ADS_1


Pertanyaan itu mengejutkan Szymon. Dia memendam rasa takutnya. Di dalam bayangannya, seorang yang tidak jelas siapa itu dengan kain hitam yang menutupi seluruh tubuhnya datang menemuinya.


Dengan begitu, ini adalah pertemuan pertama Szymon dengan orang misterius yang menyebut dirinya sebagai [Apostle]


__ADS_2